Menggugat Label Sistem Pendidikan Terbaik

Oleh: Zayd Sayfullah

Mendengar cerita dan berita tentang kehebatan sistem pendidikan yang diterapkan di Finlandia membuat sebagian orang terpesona. Pemerintah, tokoh-tokoh pendidikan, para guru dan berbagai kalangan akhirnya menjadikan Finlandia sebagai kiblat pendidikan. Bahkan ada sebagian orang yang konon memberikan label pendidikan di Finlandia sebagai “pendidikan Islami”.

Berdasarkan tabel liga global yang diterbitkan oleh firma pendidikan Pearson,  Finlandia menempati posisi pertama negara yang memiliki sistem pendidikan terbaik, lalu diikuti oleh Korea Selatan, Hongkong, Jepang, dan Singapura (www.kompas.com, 27-11-2012). Dalam Global Competitiveness Report yang setiap tahunnya dikeluarkan oleh World Economic Forum menempatkan negara yang ber-Ibu Kota Helsinki tersebut di nomor pertama sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik dunia (www.liputan6.com, 26-11-2016). Walaupun dari hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh The Social Progress Imperative, Finlandia hanya mampu menduduki peringkat kelima sistem pendidikan terbaik dunia, sedangkan posisi pertama diraih Korea Selatan, disusul Jepang, Singapura dan Hongkong (www.edunews.id, 6-12-2016).

Terlepas dari negara mana yang memiliki sistem pendidikan terbaik, pertanyaan yang penting kita jawab adalah benarkah sistem pendidikan Finlandia, Korea  Selatan dan negara-negara tersebut termasuk yang terbaik?

Suatu sistem dibuat tentu memiliki maksud, sedangkan maksud suatu sistem adalah untuk mencapai tujuan. Demikian juga sistem pendidikan. Suatu sistem pendidikan dapat dikatakan terbaik ketika mampu menjawab tujuan pendidikan secara utuh, lalu dengan tercapainya tujuan pendidikan tersebut mampu melahirkan peradaban agung bagi sbeuah negara. Karena itu, berkaitan dengan sistem pendidikan di Finlandia dan Korea Selatan yang konon hebat, tidak serta-merta disebut sebagai sistem pendidikan terbaik. Ia harus bisa mewujudkan tujuan dari sistem itu sendiri.

Untuk melihat apakah sistem pendidikan di kedua negara tersebut telah mencapai tujuan atau tidak, maka -agar berlaku secara universal- kita pakai tujuan pendidikan yang digariskan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui lembaga UNESCO (United Nations, Educational, Scientific and Cultural Organization). UNESCO merumuskan tujuan pendidikan dengan empat pilar pendidikan, yakni:

  1. Learning to know. Belajar untuk mengetahui dalam prosesnya tidak sekadar mengetahui apa yang bermakna tetapi juga sekaligus mengetahui apa yang tidak bermanfaat bagi kehidupan.
  2. Learning to do. Pendidikan membekali manusia tidak sekadar untuk mengetahui, tetapi lebih jauh untuk terampil berbuat atau mengerjakan sesuatu sehingga menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi kehidupan.
  3. Learning to be. Penguasaan pengetahuan dan keterampilan merupakan bagian dari proses menjadi diri sendiri (learning to be). Menjadi diri sendiri diartikan sebagai proses pemahaman terhadap kebutuhan dan jati diri. Belajar berperilaku sesuai dengan norma dan kaidah yang berlaku di masyarakat, belajar menjadi orang yang berhasil, sesungguhnya merupakan proses pencapaian aktualisasi diri.
  4. Learning to live together. Belajar memahami dan menghargai orang lain, sejarah mereka dan nilai-nilai agamanya. (https://ibaad.wordpress.com/2011/10/05/empat-pilar-tujuan-pendidikan-menurut-unesco/, diakses pada 25 April 2017)

Di tengah pandangan bahwa Finlandia dan Korea Selatan adalah negara dengan gelar pendidikan terbaiknya, ternyata menyimpan banyak masalah mulai dari kriminalitas, konsumsi alkohol sampai bunuh diri yang terjadi di tengah masyarakatnya. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas kepribadian lulusan pendidikannya—yang itu merupakan salah satu tujuan pendidikan learning to be—rapuh dan rusak.

Data statistik yang dihimpun Institusi Eropa untuk Pencegahan dan Kontrol Kriminal menempatkan Finlandia sebagai negara urutan ke-7 dengan jumlah pemerkosaan tertinggi dengan kasus pemerkosaan terjadi untuk 0,141 perkapita (www.republika.co.id, 10-01-2013). Sementara itu, dalam Jurnal “Imagining the Victim of Crime” karya Sandra Walklate, dipaparkan bahwa sebanyak 40% perempuan di Finlandia telah mengalami kekerasan seksual dan fisik oleh laki-laki dari usia 15 tahun (www.kompasiana.com, 17-6-2014).

Budaya menenggak minuman beralkohol di Finlandia juga begitu memprihatinkan. Berdasarkan data WHO (World Health Organization), Finlandia termasuk negara terbesar ke-13 di dunia dalam hal konsumsi alkohol, yakni rata-rata penduduk yang telah berumur lebih dari 15 tahun mengkonsumsi sebanyak 11,9 liter per tahun (www.databoks.katadata.co.id, 28-09-2016), dan lebih tragis lagi, laporan “Human Development” 2014 dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan bahwa Finlandia menduduki peringkat atas dalam hal bunuh diri, dengan tingkat bunuh diri sekitar 18 orang per 100 ribu orang (www.cnnindonesia.com, 19-08-2015).

Hal yang serupa juga terjadi dengan Korea Selatan. Sebuah data yang dikeluarkan oleh Euromonitor menyatakan bahwa rata-rata konsumsi minuman keras per satu orang di Korea Selatan per minggunya adalah 13,7 gelas. Angka ini bahkan mengalahkan Rusia yang berada di posisi kedua, yaitu 6,3 gelas. (www.viva.co.id, 4-2-2014)

Warga negeri ginseng juga ternyata memiliki kepribadian yang rapuh. Data yang dilansir oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2016 memperlihatkan negeri tersebut menempati urutan pertama sebagai negara dengan kasus bunuh diri tertinggi, yaitu 36,8 dari 100.000 penduduk (www.kompas.com, 9-9-2016). Dalam data lainnya, Korea Selatan menempati posisi pertama, sedangkan Finlandia keenam (www.the-dailyjapan.com, 02-01-2016).

Bahkan menurut laporan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) tahun 2015, selama 11 tahun berturut-turut negeri K-Pop itu menjadi negara dengan angka bunuh diri tertinggi di dunia. Pada tahun 2012 saja angka bunuh diri di Korea Selatan mencapai 29,1 per 100 ribu orang. (www.poskotanews.com, 1-9-2015)

Kebanyakan penyebab bunuh diri tersebut karena dihantui suatu permasalahan (depresi) yang dianggap akan selesai jika mereka mengakhiri hidupnya. Kondisi tersebut tentu merupakan bukti kegagalan sistem pendidikan negara-negara yang diklaim “terbaik” tersebut.

Sebenarnya hal yang wajar jika pendidikan di Finlandia dan Korea Selatan gagal seperti itu. Di Finlandia hal tersebut dikarenakan pendidikan hanya fokus pada grafik-grafik standar PISA (Programme for International Student Assessment). Karenanya pula dalam buku Wake Up School!, Maarit Korhonen mengkritik sistem pendidikan Finlandia dengan sebutan myopic and old fashioned (rabun dan kuno). Sedangkan di Korea Selatan, kegagalan tersebut di antaranya dikarenakan ketatnya persaingan masuk universitas menjadikan tujuan pendidikan hanya sebagai sarana masuk universitas yang ngetop, akibatnya pengembangan kepribadian dan kreativitas tidak diperhatikan lagi.

Sehingga bagi orang-orang yang menganggap sistem pendidikan di Finlandia atau di Korea Selatan sebagai sistem pendidikan yang terbaik di dunia, harus berpikir ulang dengan data-data tersebut.

 

Menemukan Kembali Sistem Pendidikan Terbaik

Apabila kita membicarakan tentang pendidikan terbaik, maka sejatinya kita harus kembali pada tujuan hakiki dari pendidikan itu sendiri. Tujuan hakiki pendidikan itu akan dapat diwujudkan apabila sistem pendidikan yang diimplementasikan itu sahih dan terbukti.

Keberhasilan pendidikan di Finlandia dan Korea Selatan ternyata tidak sebaik yang kita sangkakan. Karena di balik julukan hebat tersebut, kepribadian generasi dan rakyatnya ternyata rusak dan rapuh. Hal ini berbeda dengan sistem pendidikan Islam dalam naungan Khilafah.

Dalam Islam, tujuan pendidikan adalah untuk membekali peserta didik tsaqofah Islam (ilmu pengetahuan/ pemikiran Islam), ilmu kehidupan, dan juga membentuk mereka agar memiliki kepribadian Islam, sehingga menjadi hamba Allah yang cerdas, salih dan mushlih. Pendidikan Islam dalam Khilafah telah mampu melahirkan generasi terdepan yang bukan hanya cerdas dalam ilmu sains teknologi dan keterampilan, namun juga memahami secara mendalam ilmu agama. Tidak hanya itu, sistem pendidikan Islam juga mampu membentuk kepribadian yang khas dan tangguh, yang tidak bisa diwujudkan oleh sistem pendidikan Finlandia maupun Korea Selatan.

Sejarah membuktikan, saat pendidikan Islam diterapkan oleh Khilafah, semua tujuan pendidikan tersebut dapat diwujudkan secara utuh. Hal ini terbukti dengan tangguhnya generasi Islam dalam mengarungi samudera kehidupan dan tercapainya peradaban gemilang dalam ilmu agama, sains dan teknologi. Kejayaan pendidikan Islam pada masa Khilafah Islam diakui secara objektif oleh sejarawan barat yang bernama Jacques C.Reister. Ia mengatakan bahwa selama 500 tahun Islam telah menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradabannya yang tinggi.

Keberhasilan sistem pendidikan Islam memang betul-betul mampu melahirkan peradaban agung. Kejayaan yang dicapai oleh sistem pendidikan Islam pada masa Khilafah melahirkan cendekiawan di bidang agama, filsafat, sains dan teknologi yang karya-karyanya tidak hanya diakui secara internasional, namun juga menjadi dasar pengembangan ilmu dan pengetahuan dunia hingga saat ini. Cendekiawan muslim tersebut seperti Imam Syafi’i, Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Al-Biruni, Al-Kindi, Ibnu Firnas, dll. dan yang lebih keren lagi, ilmuwan-ilmuwan tersebut juga memahami ilmu agama dan tergolong ilmuwan polymath (ahli dalam banyak bidang ilmu). Keunggulan-keunggulan lulusan sistem pendidikan Islam tersebut tidak bisa diwujudkan dengan sistem pendidikan Finlandia, Korea Selatan maupun sistem pendidikan lainnya selain Islam.

Sistem pendidikan Islam juga terbukti berhasil melahirkan generasi yang berkepribadian hebat dan tangguh sekaliber Umar Bin Abdul Aziz, Shalahuddin Al-Ayyubi, Thariq bin Ziyad, Muhammad Al-Fatih dan lain-lain.

Sistem pendidikan Islam juga telah mampu melahirkan negara dengan peradaban yang gilang-gemintang. Saking gemilangnya peradaban Islam, menurut catatan sejarah dari Universitas Malaya Malaysia, angka kejahatan yang terjadi dalam pemerintahan Khilafah Islamiyah pada masa Utsmani sepanjang kurun pemerintahan lebih dari 6 abad, hanya ada sekitar 200 kasus yang diajukan ke pengadilan. Bahkan menurut beberapa ahli sejarah, selama 13 abad lebih Daulah Khilafah berjalan, hanya terjadi ribuan tindak pidana saja.

Maka, sungguh terlalu rendah dan salah kaprah apabila umat Islam tergila-gila dengan sistem pendidikan Finlandia ataupun Korea Selatan. Karena sebenarnya kaum muslimin sendiri memiliki sistem pendidikan terbaik yang saat ini mereka lupakan, yaitu sistem pendidikan Islam. Di samping memang sistem pendidikan Finlandia maupun Korea Selatan tidak ada seujung kuku pun keunggulan dibandingkan sistem pendidikan Islam.

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa sistem pendidikan Finlandia adalah pendidikan Islami, itu adalah pernyataan yang terlalu gegabah. Pendapat tersebut cacat, karena bagaimana mungkin suatu sistem dapat disebut Islami jika tidak bersumber atau berasas pada aqidah Islam. Bahkan sistem tersebut nyata-nyata bertentangan dengan aqidah dan syariah Islam.

Kehebatan sistem pendidikan Islam yang tadi dipaparkan tentu tidak terpisahkan dari sistem Islam secara utuh, sedangkan sistem Islam itu tidak bisa dilepaskan dari institusi yang menerapkannya, yaitu Khilafah. Sejarah emas pendidikan, keilmuan dan peradaban seperti yang telah dipaparkan menjadi bukti nyata bahwa kunci kejayaan Islam dan umatnya hanya akan terwujud manakala syariah diterapkan secara total dengan tegaknya kembali institusi yang menerapkannya. Itulah Khilafah.

Komentar

komentar