Mengembalikan Marwah Guru

IMG-20161125-WA0005

(Memaknai Hari Guru Nasional 2016)

Oleh: Muh. Shirli Gumilang, Konsultan Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa
____________________
Istilah Guru. Tidak ada informasi yang menyebutkan secara tepat kapan sebetulnya istilah guru itu ada. Di Indonesia sendiri istilah guru mengalami beberapa pergeseran makna. Dahulu, sebelum adanya agama masuk ke Indonesia, setiap orang yang mendalami ilmu kebatinan melalui cara bertapa atau bersemedi di dalam gua atau hutan itulah disebut guru. Kemudian saat Agama Hindu-Budha masuk ke Indonesia, istilah guru mulai bergeser menjadi orang yang mengajarkan kepercayaan agama Hindu-Budha serta mengajarkan bahasa sangsekerta itulah yang disebut guru. Pada saat agama Islam masuk ke bumi Indonesia, salah satunya adalah melalui jalur pendidikan serta dakwah. Melalui jalur pendidikan, para ulama menciptakan para guru melalui serangkaian pendidikan di pesantren. Tidak hanya pesantren saja, ada lembaga pendidikan yang lain seperti surau. Model pendidikan pada pesantren tersebut juga memakai sistem sekolah berasrama yang menjadi cikal bakal sekolah saat ini.

Berdasar sejarah, bahwasannya tujuan utama guru  adalah menanamkan akhlak serta nilai kebaikan. Guru mengajarkan tentang memaknai kehidupan, ketentraman keimanan, serta  menambah keyakinan akan ketuhanan. Sehingga sosok guru mendapatkan drajat sangat istimewa dalam tatanan masyarakat, karena ia memberikan keteladanan. Keberadaan guru sangat dihormati, perkataannya digugu, perbuatannya ditiru, itulah marwah guru.

Memasuki zaman kolonial Belanda, pendidikan tradisional melalui pesantern terus berjalan walaupun banyak kerajaan di Indonesia yang sudah dikuasai oleh penjajah. Pemerintah kolonial Belanda mulai peduli dengan nasib pendidikan masyarakat Indonesia setelah diberlakukannya Politik Etika atau Politik Balas Budi. Hal itu juga dikarenakan kebutuhan Pemerintah Kolonial akan tenaga profesional. Saat itulah, sekolah-sekolah mulai didirikan dan banyak merekrut guru. Tujuannya adalah untuk mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang siap bekerja menjadi tenaga profesional Pemerintahan Kolonial. Mulailah pergeseran makna guru serta sekolah.

Pemaknaan guru serta sekolah saat pemerintahan penjajahan Belanda-lah yang saat ini penulis rasakan masih dianut oleh Indonesia. Para peserta didik, diarahkan untuk dapat bersaing atau berkompetisi untuk menjadi tenaga profesional. Mereka yang gagal harus rela dikorbankan dan akhirnya menjadi produk gagal pendidikan, karena tidak mampu bersaing.

Peranan guru akhirnya hanya sebatas menjalankan kurikulum. Sekolah hanya sebatas sebagai ruang persaingan. Bahkan sekolah satu dengan sekolah lainnya bukan untuk saling menunjang dan mendukung peningkatan kualitas pendidikan tetapi dirasa menjadi sebuah rival, satu sama lain saling menjatuhkan. Padahal ketika kita berkaca dari sejarah, kemuliaan, keikhlasan serta konsistennya guru dalam memberikan keteladanan itulah menjadi kunci keberhasilan guru. Sehingga guru memiliki marwah dihadapan siswanya.

Perubahan itu tidak bisa dihindarkan. Pergeseran makna guru itu sudah terjadi, namun tujuan utamanya tidak bisa digantikan. Bahwa guru adalah orang yang menanamkan akhlak, mengajarkan nilai kebaikan, memberikan ketentraman rohani, serta menambah keyakinan akan ketuhanan. Dan tentunya guru harus menjadi teladan dalam  setiap aktivitas.

Zaman sudah berubah, tantangannya pun berubah. Dahulu guru pernah mendapatkan posisi terpandang sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”. Kendati bergaji sedikit, ketika itu guru mendapat posisi mulia di masyarakat. Guru juga menjadi panutan dan rujukan untuk mencari solusi berbagai macam permasalahan. Bahkan diibaratkan ketika guru lewat semua orang menghampiri dan memberikan salam, itulah marwah guru.

Dewasa ini, yang terjadi malah guru sering­kali dianggap dan diterjemahkan sebagai “pembantu” dan “pelanggar HAM” yang seenaknya bisa diperlakukan dengan sembarangan, baik oleh peserta didik, orang tua peserta didik dan pemerintah. Guru seolah-olah jadi gampang didikte, dibatasi dan dikerangkeng keguruannya. Guru mencubit dilaporkan dan dipenjarakan. Masalahnya, apakah hanya dengan alasan yang demikian guru pantas dijadikan sebagai pelaku kriminal dan pelanggaran HAM yang lantas diadukan ke kepolisian? Hilangnya marwah guru.

Kondisi lainnya memperparah kehormatan guru. Diakui atau tidak, saat ini citra guru perlahan-lahan mulai terkikis. Materialistis menjadi salah satu penyebab mengikisnya citra guru. Apalagi, semenjak terjadinya peningkatan kesejahteraan guru dengan adanya tunjangan sertifikasi. Berbagai cara seringkali ditempuh untuk mendapatkan sertifikasi, meskipun tak sedikit para oknum bermain curang dalam melancarkan ambisinya. Lebih parahnya berdasarkan isu yang berkembang, langkah awal yang ditempuh untuk menjadi guru (pegawai negeri sipil) oleh sebagian orang melalui jalan suap-menyuap. Hal ini secara jelas, telah mencedrai citra guru dari awal mula menitikan karirnya sebagai seorang guru.

Secara Sistem. Mulai dari proses pembinaan calon guru, proses rekrutmen guru, sampai kepada pendistribusian guru. Pembinaan calon guru, saat ini masih belum ada kesamaan tujuan serta perbedaan kualifikasi lulusan dari kampus A dan kampus B. Dalam proses rekrutmen guru, siapapun dapat dan berhak menjadi guru, selain itu banyak kecurangan dalam proses pengangkatan sebagai guru. Itu sudah menjadi rahasia umum. Belum lagi berkenaan dengan proses pendistribusian guru yang masih belum merata.

Secara Budaya. Budaya persaingan masih dirasa masih kental dalam proses pendidikan di Indonesia. Mulai dari siswa dituntut untuk satu sama lain bersaing menjadi yang terbaik, kenapa tidak dibudayakan untuk satu sama lain untuk saling membantu dan berkolaborasi. Kemudia dari guru, satu sama lain juga bersaing untuk mendapatkan jam mengajar. Kemudian sekolah, satu sama lain bersaing untuk mendapatkan siswa dengan harapan semakin banyak siswa semakin besar bantuan operasional untuk sekolah. Hal ini menimbulkan pemaksaan jumlah siswa.

Untuk mengembalikan marwah guru, cara yang dilakukan adalah secara sistem dan secara budaya. Secara sistem artinya membenahi sistem pembinaan calon guru, rekrutmen serta distribusi guru, sedangkan secara budaya membudayakan guru atau sekolah untuk saling membantu dan saling berkolaborasi dalam upaya peningkatan profesionalisme guru.

Bukan suatu yang tidak mungkin kehormatan atau marwah guru kembali seperti dulu. Guru begitu istimewa dalam tatanan masyarakat. Hal ini dapat terwujud jika kita sebagai guru, pemerintah dan masyarakat bekerjasama dalam mewujudkan impian tersebut. #MengembalikanMarwahGuru
__________________

SELAMAT HARI GURU NASIONAL 2016
25 November 2016

Komentar

komentar