Mengabdi untuk Tingkatkan Pendidikan

NUNUKAN – Deta Wijayanti, biasa di panggil Deta adalah anak kedua dari Wahyu Eko Prasetyanto dan Winarti. Lahir tanggal 26 Agustus 1994 di Yogyakarta. Dia tinggal dan besar di Yogyakarta. Deta merupakan lulusan tahun 2016 dari Universitas Gadjah Mada jurusan Sosiologi.

Dia bercerita, keberadaannnya di Pulau Sebatik karena berkat Dompet Dhuafa melalui program Sekolah Literasi Indonesia (SLI). SLI merupakan salah satu program Divisi Makmal Pendidikan yang melakukan inisiasi dan pendampingan sekolah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di suatu wilayah.

Peningkatan kualitas pendidikan dapat dilihat melalui sistem intruksional dan budaya sekolahnya. Jenis sekolah yang menjadi sasaran program SLI adalah sekolah urban, sekolah kota, sekolah desa dan sekolah beranda.
Sebelum sampai di Pulau Sebatik, dia bersama 16 konsultan relawan lainnya menjalani pembekalan intensif selama 1 bulan di Lembaga Pengembangan Insani Bogor.

Terhitung tanggal 31 Januari lalu, Deta ditugaskan sebagai Konsultan Relawan program SLI Makmal Pendidikan di Sebatik.

“Penetapan penempatan tugas di Sebatik murni keputusan pengelola. Dilihat dari kebutuhan di Sebatik, khususnya sekolah dampingan dan juga hasil evaluasi selama pembekalan di Bogor. Pada akhir pembekalan, diumumkanlah penempatan bagi semua konsultan relawan termasuk saya,” ungkap Deta Wijayanti.

Pada waktu itu ada yang memprediksi, Deta ditempatkan di Jawa, ada juga yang memprediksi ditempatkan di Kalimantan.

“Saat itu, saya belum punya bayangan akan ditempatkan dimana. Hingga pada akhirnya, menerima hasil pengumuman bahwa saya ditempatkan di Sebatik, Kalimantan Utara, suatu wilayah yang berbatasan darat dan laut dengan Malaysia,” katanya.

Sebenarnya dia tidak terlalu asing dengan nama Sebatik. Sebab beberapa teman kampus pernah melakukan kegiatan pengabdian KKN di Sebatik.

“Tetapi, saya belum mempunyai gambaran yang pasti. Bayangannya pada saat itu adalah, Sebatik merupakan daerah perbatasan yang aksesnya menuju pusat kota cukup jauh. Untuk sampai di Sebatik perlu menggunakan kendaraan laut,” katanya.

Kondisi geografisnya dekat dengan laut dan hutan – hutan. Setelah menginjakkan kaki di Sebatik, perasaan Deta sangat bersyukur karena yang paling utama adalah warga – warganya yang bisa menerima “orang baru”.

“Di samping itu, saya merasa nyaman dan tentram. Sebab tinggal di Desa Tanjung Karang yang cenderung jauh dari hiruk pikuk suasana kota. Kondisi geografisnya di sini hampir penuh dengan perkebunan kelapa sawit dengan jalan yang berkelok dan naik turun. Satu hal lagi yang membuat saya bersyukur adalah adanya sinyal telephone bahkan internet,” ungkap dia.

Sumber: http://www.korankaltara.co/read/news/2017/22006/mengabdi-untuk-tingkatkan-pendidikan.html

Komentar

komentar