Menapaki Tanah Bengkayang

Oleh: Nurdin Kadir
Pendamping Sekolah Cerdas Literasi SDN 05 Saparan

Perjalanan yang panjang, berliku-liku, banyak tantangan dan melelahkan namun menyenangkan serta menyimpan segudang cerita unik dan lucu. Itulah kesan dan pengalaman pertama saya selama melakukan perjalanan tugas kerja dari Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa untuk melakukan sosialisasi program pendampingan sekolah beranda ke SDN 05 Saparan, yang terletak di Desa Kumba, Kec. Jagoi Babang, Kab. Bengkayang yang merupakan kabupaten paling ujung di Kalimantan Barat, berbatasan dengan Serawak-Malaysia Timur.

Perjalanan saya dimulai dari sebuah rumah sederhana yang terletak di Perumahan Bukit Cirendeu Ciputat. Saya menuju Bandara Soekarno Hatta menggunakan Taksi Blue Bird yang sudah dipesan malam harinya oleh salah seorang teman dekat, Suardin. Di sepanjang

perjalanan menuju bandara, saya terlibat obrolan ringan dengan supir taksi dan teman yang mengantar saya, membahas macam-macam topik, dari cerita yang lucu, aneh, unik sampai mendiskusikan teknis melakukan perjalanan lewat udara, sambil sesekali tertawa dan tersenyum karena obrolan yang menggelikan, khususnya bila obrolan kami mengarah pada pengalaman pertama seseorang melakukan perjalanan melalui udara atau naik pesawat. Kebetulan, saya juga baru pertama kali ini akan melakukan perjalanan udara atau naik pesawat. Jadi boleh dibilang perjalanan ini adalah perjalanan berharga dan istimewa bagi saya.

Pukul 11.35, taksi berhenti di depan terminal IA Lion Air di Bandara Soekarno Hatta, saya segera membayar ongkos taksi sebesar Rp 205.000, tak lupa saya meminta tanda tangan sang sopir di atas selembar kuitansi yang telah saya siapkan sebelum berangkat sebagai tanda bukti pengeluaran dana transportasi. Sepengetahuan saya, dalam aturan administrasi keuangan semua penggunaan dana harus dilaporkan secara rinci dan benar, bukan?

Setelah taksi keluar halaman bandara, saya segera menghampiri troli pengangkut barang untuk membawa semua barang-barang bawaan yang beratnya melebihi batas kuota bagasi yang ditentukan oleh pihak penerbangan menuju pintu masuk ruang Lion Air. Di depan pintu masuk ruangan itu, saya berpamitan dengan sahabat yang mengantar saya sambil mengucapkan salam dan mengucapan terima kasih banyak atas segala bantuannya. Saat itu juga mata saya tertuju ke arah jarum panjang jam dinding yang tertempel di salah satu sudut ruangan bandara yang sudah menunjukan pukul 12.10 WIB, saya segera antri masuk ruang pemeriksaan dan melakukan chek in tepat pukul 12.15 WIB.

Di tengah-tengah barisan antrian menuju meja petugas check in, sempat terlintas dalam otak saya pikiran-pikiran aneh dan khawatir kalau-kalau saya begini dan begitu, tapi syukur Alhamdulillah, akhirnya semua pikiran itu bisa di atasi dengan jurus “Sok PD”

Oya, ada sebuah cerita, menurut saya cerita ini konyol, tapi entah apakah Anda juga menilai ini sebuah cerita yang konyol? He…he… Disaat petugas chek in menimbang semua barang bawaan yang di letakan di meja pemeriksaan, petugas memberitahu kalau barang bawaan saya overbagasi, ia meminta saya untuk membayar ongkos lebih dari barang bawaan saya ke loket pembayaran yang letaknya tak jauh dari meja pemeriksaan itu, tapi saya tak mau tunduk dengan permintaannya, karena teringat dengan nasihat Tuan Guru di Makmal Pendidikan (namanya tak usah disebutkan), dengan jurus “Sok PD” tadi, saya katakan ke petugas chek in, “Mbak, barang-barang ini adalah sumbangan kemanusiaan untuk masyarakat di daerah perbatasan Kalbar-Malaysia!” Sambil menunjukan SPK (Surat Perjanjian Kerja). Spontan petugas tadi langsung percaya dan membebaskan kelebihan barang-barang bawaan saya dari bayaran. Padahal, kalo petugas tadi jeli, tak ada satu pun barang bantuan kemanusiaan dan entah apa jawaban saya bila sampai mereka tahu kalo barang-barang itu bukan bantuan kemanusiaan. Syukur Alhamdulillah, ternyata ilmu Tuan Guru  mujarab.

Pukul 12.40 WIB, saya mulai memasuki Gate A5, ruang tunggu penumpang penerbangan ke Pontianak. Saya melihat beberapa calon penumpang mulai sibuk mengemas barang-barang bawaan mereka. Dalam kebingungan sempat saya bertanya pada diri sendiri, kenapa mereka mulai bersiap-siap berkumpul di depan pintu keluar? Padahal, jadwal take of pukul 13.35. Apakah jadwal penerbangan ke Pontianak berubah? Akhirnya, saya memberanikan diri bertanya kepada salah seorang petugas bandara, ternyata mereka yang bersiap-siap adalah calon penumpang penerbangan ke Batam.

Selama 30 menit berada di ruang tunggu Gate A5, saya asyik ngobrol dengan salah seorang kenalan yang berprofesi sebagai prajurit TNI yang akan bertugas ke Singkawang, ia satu penerbangan dengan saya. Awalnya, saya menduga teman yang baru saya kenal itu adalah seorang pendiam dan serius, namun setelah 5 menit perkenalan kami, ia banyak melucu. Sepanjang obrolan, saya hampir tak kuasa menahan geli tawa karena cerita leluconnya, sehingga keakraban ini seolah-olah menunjukkan bahwa kami sudah lama mengenal satu sama lainnya. Obrolan kami berhenti, ketika terdengar suara informasi lewat pengeras suara yang memberitahukan kepada calon penumpang penerbangan ke pontinak agar berpindah ke gate A2. Kami berdua dan calon penumpang lainnya segera menuju pintu gate A2. Lima menit kemudian, kami dipersilahkan masuk ke badan peswat Lion Air, flight!

Dari pintu masuk depan pesawat, terlihat sosok pramugari berparas ayu dan cantik tersenyum manis menyambut kedatangan kami dan mempersilakan duduk di kursi yang sudah ia siapkan. Saya menyempatkan diri menanyakan seat 29F kapada pramugari tersebut, dengan ramahnya ia mengantar saya sampai ke nomor seat tersebut. Hmm… dalam pikiranku, hari ini saya seperti raja yang sedang di layani dayang-dayang.

Waktu di handphone saya sudah menunjukkan pukul 13.35 WIB. Beberapa pramugari mulai nampak sibuk merapikan barang-barang penumpang dan memberikan aba-aba kepada kami untuk memasang seatbelt. Saya mulai mematikan HP dan memperagakan semua instruksi pramugari yang berdiri tak jauh dari seat saya. Selang beberapa menit, suasana dalam pesawat menjadi hening tak ada satu pun suara yang keluar dari mulut penumpang kecuali suara berisik dari mesin pesawat. Dari jendela pesawat, saya melihat posisi pesawat sedang bergerak cepat dan semakin cepat sampai akhirnya saya merasakan badan pesawat terangkat yang membuat mual dan pusing. Oh, nampaknya pesawat sedang meluncur ke awan.

Saat posisi badan pesawat sampai pada ketinggian tertentu dan mulai stabil, saya mulai merasa lega dan menikmati perjalanan. Namun, beberapa menit kemudian saya dikejutkan dengan suara tangis anak-anak kecil. Mereka saling bergantian menangis seoalah sedang merasakan sesuatu. tiba-tiba badan pesawat terasa berjalan di atas jalan yang tak rata, seperti mobil yang sedang berjalan di atas jalan bebatuan atau jalan berlubang. Di dalam benak saya, sempat terlintas macam-macam pikiran buruk, apalagi setelah mendengar informasi pramugari lewat pengeras suara pesawat yang memberitahukan bahwa cuaca sedang buruk. Sepanjang perjalanan itu, mulut saya tak henti-hentinya berkomat-kamit memabaca doa seperti mbah dukun yang sedang membaca mantra untuk menyembuhkan pasiennya. Tapi alhamdulillah mantra-mantra/doa-doa itu tak sempat disemburkan seperti Mbah Dukun dalam video klip lagunya Alam he…he…he.

Suasana tegang mulai mencair setelah terdengar informasi berikutnya dari pengeras suara, bahwa 15 menit lagi pesawat akan mendarat. Saya menyempatkan diri menoleh ke dinding sebelah kiri pesawat sekedar melihat pemandangan daratan pulau kalimantan. Dari jauh, nampak terlihat gedung dan rumah-rumah warga berjejer yang diselimuti kabut awan. Dan tak lama kemudian, pesawat mendarat di bandara Supadio, Pontianak. Setelah penumpang dipersilakan turun, saya keluar lewat pintu bagian belakang pesawat menuju mobil jemputan bandara yang sudah menunggu dan akan membawa kami ke ruang tunggu penumpang bandara Supadio. Dalam perjalanan, saya mengaktifkan kembali HP saya dan melihat waktu telah menunjukan pukul 15.42 WIB.

Di ruang tunggu bandara Supadio tak banyak aktifitas, kecuali beberapa orang terlihat sibuk menawarkan bantuan troli barang kepada saya dan penumpang Lion Air yang sedang menunggu barang-barang bawaan mereka di keluarkan dari bus angkutan barang bandara. Sambil menunggu giliran barang saya dikeluarkan, saya berpura-pura bertanya kepada salah seorang petugas yang tak jauh dari tempat saya berdiri tentang bagaimana bisa mendapatkan troli pengangkut barang gratis. Petugas tersebut menunjukkan saya ke arah pintu keluar ruangan kemudian menyarankan menuju ke suatu tempat di mana troli-troli terkumpul di situ. Segera saja saya meluncur ke tempat tersebut dan mengambil sebuah troli barang berwarna merah. Setibanya di tempat pengeluaran barang-barang Lion Air, saya memasukkan dan membawa semua barang bawaan saya menuju area parkir mobil. Tak lama kemudian, mobil jemputan bermerek xenia, warna silver KB1577SE yang sudah disediakan oleh Pak Sahrul, seorang karyawan Dompet Umat (DU) Pontianak, mendekat persis di samping troli barang-barang bawaan saya dan membawa kami ke kantor DU di Jln. Karimata No.2A, Kec. Pontianak Kota.

Di kantor DU Pontianak, saya disambut oleh teman-teman dan pengurus DU dengan penuh keramahan dan keakraban. Saya dipersilakan masuk di ruang kerja mereka dan berbincang-bincang, sesekali mereka menanyakan pengalaman perjalanan saya dari Jakarta menuju Pontianak sambil menikmati makanan ringan yang saya beli di salah satu tokoh kue di Jakarta. Syukur alhamdulillah, di kantor ini juga saya bertemu dan reuni dengan teman-teman saya yang baru saja selesai mengisi pengajian di salah satu masjid tak jauh dari kantor DU.

Usai shalat maghrib, saya bersama Pak Sahrul meninggalkan kantor DU menuju rumah salah seorang karyawan DU, Hasan Idris, namanya. Di rumah beliaulah kami beristrahat dan menginap. Sebelum tidur malam, kami bertiga menyempatkan diri keliling kota Tanjung Hulu dengan menggunakan kendaraan roda dua, menyantap makan malam di salah satu warung nasi padang dan membeli snack di salah satu mini market untuk keperluan dan persiapan selama perjalanan menuju Seluas. Oiya, biaya makan di sini masih sama dengan biaya makan di Jakarta. Hal itu dibuktikan dengan biaya porsi makan kami bertiga hanya sebesar Rp 35.000.

Rabu pagi, pukul 05.00 WIB, Saya dan Pak Sahrul meninggalkan rumah Pak Hasan, menuju kecamatan Seluas menggunakan mobil carteran bermerek xenia, warna hitam. Jarak tempuh dari Pontianak ke Seluas menggunakan mobil pribadi rata-rata memakan waktu 7-8 jam bila tidak sedang dan habis turun hujan. Sebaliknya, bila hujan turun deras, jarak tempuh ke Seluas bisa melebihi dari waktu tersebut. Maklumlah, kondisi jalan raya dekat kecamatan Seluas rusak berat karena terbuat dari tanah lempung yang mudah digenangi air dan sebagian belum beraspal. Namun, berkat kelihaian dan kemahiran sang sopir menyetir mobil kami dengan kecepatan tinggi, kami tiba di Seluas pukul 11.45 WIB, sejam lebih cepat dari jarak tempuh rata-rata.

Dalam perjalanan menuju seluas, saya berkesempatan melihat panjangnya sungai Kapuas dan sungai Siding dari balik kaca mobil. Keduanya menjadi sarana transportasi alternatif masyarakat Kalimantan Barat. Di sungai-sungai ini saya juga melihat kapal-kapal besar yang sedang berlabuh dan sampan-sampan yang empunya sedang melakukan aktivitas bongkar muatan di tepi sungai. Mobil kami terhitung dua kali berhenti. Pertama, mampir sarapan pagi di warung nasi padang di depan terminal kota Pinyuh dengan harga rata-rata per porsi Rp85.000 (lauknya ikan, tahu, dan tempe+krupuk). Kedua, berhenti di desa Jagoi Babang untuk memfotokopi draft MOU LPI dengan Diknas Bengkayang, membeli pulsa dan mengisi bensin sebesar Rp.100,000,-. Setibanya di Kec. Seluas, kami disambut Pak Robi, pengurus DU Seluas. Beliau sangat ramah, bersahabat dan baik hati. Beliaulah yang banyak membantu kami selama proses pengurusan dan sosialisasi program kami.

Setelah kurang lebih sejam kami ngobrol sambil menyantap makan siang bersama Pak Robi dan kawan-kawannya di warung makan pojok pasar Seluas, kami menuju penginapan yang terletak di belakang pasar tak jauh dari rumah Pak Robi. Kondisi penginapan ini sangat sederhana yang terdiri 4 kamar inap dan 1 kamar mandi. Setiap kamar hanya difasilitasi sebuah tempat tidur tidur ukuran kecil, kipas angin, cermin gantung dan dua buah lubang aliran listrik. Kami menyewa 2 buah kamar untuk 3 orang dengan hitungan sewa per kamar seharga Rp. 50.000,- per malam. Di sini biaya makan pun sama seperti di Jakarta. Siang itu, kami tak sempat menikmati suasana penginapan, karena harus segera melanjutkan perjalanan ke SDN 05 Saparan. Jalan menuju ke sana hanya dapat ditempuh menggunakan sepeda motor atau jalur sungai. Jalan daratnya pun tidak dapat ditempuh apabila dalam keadaan hujan, karena terbuat dari tanah lempung yang dikelilingi perkebunan sawit. Di beberapa ruas jalan, kanan-kiri merupakan rawa yang kedalamannya mencapai 5-6 meter. Berhubung kondisi jalan darat saat itu tak dapat dilewati, kami terpaksa memilih jalur sungai, menggunakan sampan kecil yang hanya bisa memuat 5 orang yang ongkos sewanya sebesar Rp 500.000 untuk pulang-pergi (PP).

Pukul 12.40 sampan sewaan kami mulai berlayar mengikuti aliran sungai yang deras. Di daratan tampak beberapa orang melambai-lambaikan tangannya untuk memberi tanda selamat jalan kepada rombongan kami. Kami pun membalasnya dengan lambaian tangan dan senyum. Lima menit berlalu, saya sendiri masih tertegun di atas sampan kecil itu sambil memandang tepi kiri kanan sungai yang dipenuhi hutan bakau, tak terlihat rumah-rumah penduduk kecuali sesudah mendekati dusun Saparan. Di sini, saya setengah sadar seolah-olah sedang berada di tengah-tengah sungai Amazon dan seperti seorang aktor Hollywood yang sedang syuting UNTUK menaklukan hewan-hewan air yang ganas (seperti buaya, ular, dll) yang sering disiarkan di stasiun televIsi swasta. He..he…he…. (Astaghfirullahaladzim, jangan sampe deh!)

Di tengah perjalanan, sampan kami tak berjalan mulus lantaran mesin sampan sering mati karena tersandung kotoran sungai dan menabrak potongan-potongan kayu yang terapung. Selama mesin mati, sampan kami tak jarang terombang-ambing dibawa arus sungai bahkan beberapa kali sampan kami terdampar di tepi sungai yang ditumbuhi rawa-rawa. Saya mencatat ada 12 kali mesin sampan kami mati. Setiap mesin sampan mati, jantung saya selalu berdebar-debar, mulut saya tak henti-hentinya berkomat-komit membaca doa seperti mbah dukun yang sedang berkomat-kamit menyembuhkan pasiennya. Syukur Alhamdulillah, kami sampai di tujuan tepat pukul 14. 43 dengan selamat.
Kami di sambut hangat oleh beberapa orang guru SDN 05 Saparan. Mereka sangat ramah dan baik hati. Mereka menyuguhi kami minuman, snack dan makan sore. Sambil menungggu kepala sekolah yang sedang melakukan perjalanan pulang dr tugas di kota Bengkayang, kami bersama guru-guru terlibat obrolan ringan. Sesekali kami mengangkat HP mencari titik-titik sinyal. Sinyal hp di dusun ini tak bagus, bahkan sering kali sinyal tak ada sama sekali. Satu-satunya cara mendapatkan sinyal bagus harus keluar jauh dari dusun ini, jaraknya kurang lebih 6 km dan jalan menuju kesana tak mulus alias rusak berat yang melewati hutan.

Sudah sejam kami menunggu, kepala sekolah SDN 05 Saparan tiba di sekolah dengan kondisi lelah dan capek. Maklum, jauhnya perjalanan dari Bengkayang-SDN 05 Saparan memakan waktu 3-4 jam dan melewati kondisi jalan yang tidak mulus. Apalagi, Ia menempuh jarak itu menggunakan sepeda motor. Jadi bisa dibayangkan, seperti apa capeknya. Meskipun dalam kondisi lelah yang sangat, beliau sangat semangat menerima kedatangan kami. Saya yang pertama diberi kesempatan untuk memaparkan maksud dan tujuan kami ke SDN 05 Saparan. Kesempatan kedua diberikan kepada Kepala Desa Kumba, yang kebetulan dapat hadir di pertemuan tersebut. Selanjutnya, kepala sekolah tersebut memberikan tanggapannya mengenai program yang baru saja saya jelaskan tadi, dan alhamdulillah mereka menyambut dan menerima program pendampingan ini dengan senang.

Di akhir pertemuan, saya menanyakan tempat tinggal yang akan saya tempati selama setahun, namun karena keterbatasan dan ketiadaan tempat tinggal di dusun tersebut, akhirnya kepala sekolah menawarkan kepada saya tinggal di rumahnya untuk sementara waktu. Saya pun menyanggupi untuk tinggal sementara di rumahnya sambil mencari tempat tinggal yang ada di sekitar sekolah. Jarak rumah kepala sekolah dengan sekolah SDN 05 Saparan sekitar 6-7 km, yang hanya bisa dilewati motor dengan kondisi jalan yang sangat memprihatinkan. Bila hujan turun, kondisi jalan ini sangat membahayakan dan terkadang tak bisa dilewati motor. Jadi bisa dibayangkan, betapa besar tantangan dan perjuangan untuk bisa ke SDN 05 Saparan ini.

Pertemuan kami berakhir pukul 16.35 yang ditutup dengan makan sore bersama. Lauk yang disuguhkan kepada kami adalah khas makanan dusun tersebut. Kami sangat lahap menyantap makanan yang dihidangkan, sampai tak malu untuk menambah. Tenaga kami yang habis terkuras dalam perjalanan tadi pun kini mulai pulih. Tapi perjuangan belum berhenti karena kami akan pulang ke penginapan di Seluas menggunakan sampan kecil tadi dengan medan yang lebih berat, melawan arus sungai dan menembus kegelapan malam. Dalam hati, saya bertekad harus mengabadikan kisah ini dalam sebuah tulisan. He…he…he.

Suara adzan maghrib terdengar sangat jelas dari pengeras suara surau di dusun ini. Sampan kecil kami mulai bertolak dari tepi sungai dengan harapan kami tidak akan kemalaman di sungai dan bisa shalat maghrib di penginapan nanti. Sudha pasti, tantangan berat ada di depan mata. Saya memperhatikan baling-baling mesin sampan kecil kami berputar cepat membawa badan sampan melawan arus sungai. Beberapa menit kemudian baling-baling sampan mati (tidak berputar) karena menabrak tumpukan kotoran yang luput dari jangkauan mata kami. Maklum, pandangan mata kami mulai terbatas. Keadaan di sekitar berubah menjadi gelap gulita, tak ada lampu penerang kecuali satu-satunya lampu HP salah seorang teman kami yang menjadi penerang perjalanan kami. “Ya Allah, selamatkan kami selama perjalanan ini agar bisa sampai tujuan. Jauhkan kami dari gangguan makhluk jahat. Kepada-MU kami berserah diri, tiada Tuhan selain Engkau ya Allah.” Demikian salah satu potongan doa yang sempat terucap dari mulutku.

Suasana semakin menegangkan tatkala baling-baling kembali tidak berputar karena menabrak benda keras, saya sendiri tidak tahu benda apakah itu. Air semakin banyak yang masuk dalam sampan kami. Sang ‘nahkoda’ berteriak keras memanggil salah seorang dari kami untuk mengeluarkan air yang sudah memenuhi bagian belakang sampan. Segera saja, kami saling bahu membahu mengeluarkan air tersebut. Kebetulan posisi saya di bagian depan sampan, jadi saya hanya mengimbangi badan kapal agar tak berat di belakang. Badan sampan sedikit demi sedikit hanyut terbawa arus hingga terdampar di tepi. Saya segera mengulurkan tangan kanan saya memegang rerumputan yang ada di tepi sungai itu agar badan sampan tidak hanyut lagi. Kami mulai lega dan tenang setelah mesin hidup kembali. Perlahan tapi pasti sampan kami terus bergerak sampai berhasil menepi di daratan Seluas pukul 19.55 WIB. Selama perjalanan tadi, saya sempat menghitung baling-baling mesin sampan kami mati sebanyak 12 kali karena tersandung tumpukan sampah atau menabrak benda keras.

Setibanya di Seluas, kami langsung menuju penginapan tak jauh dari tempat sampan kami berlabuh. Di kamar no. 2 yang telah kami sewa, saya bersama Pak sahrul dan Pak Robi sebagai tokoh masyarakat di situ, menyempatkan untuk mengevaluasi hasil pertmeuan kami dengan pihak sekolah tadi dan membicarakan rencana agenda esok harinya untuk bertemu dengan UPT Kec. Seluas dan Kepala Dinas Pendidikan Kab. Bengkayang. Selesai evaluasi, saya menelpon kedua orang tua saya, menceritakan keaadan saya yang sehat. Sudah menjadi kebiasaan saya selalu berusaha menjalin komunikasi dengan kedua orang tua saya meskipun semenit atau hanya sekedar kirim pesan lewat SMS. Tak lupa pula saya sempatkan buka facebook sebelum tidur, sekedar ngobrol dengan teman-teman di Jakarta.

Malam pun berlalu. Ketika terbangun, seluruh tubuh saya terasa kaku dan pegal karena kelelahan. Waktu menunjukan pukul 05.34, matahari mulai bersinar di ufuk Timur, saya mencoba membuka notebook untuk menulis kisah perjalanan kami semalam sambil menunggu warung makan di buka. Ttiga puluh menit berlalu, tulisan saya baru setengah halaman, Pak Robi mengajak kami bertemu dengan UPT Kec. Seluas yang sudah dihubunginya terlebih dulu. Kamis pagi, pukul 09.13, kami bertemu dengan UPT Kec. Seluas. Kami disambut dengan penuh keakraban. Seperti biasa, saya diberi kesempatan menjelaskan program yang saya bawa dari LPI. Mereka menyambut baik dan senang dengan adanya program ini. Hanya saja saya mendapatkan saran dari beliau, jika di setiap acara pelatihan nanti, semua guru-guru sekecamatan Jagoi Babang diikutsertakan agar mereka juga bisa mendapatkan ilmu dari trainer-trainer Makmal Pendidikan LPI. Saya pun mengiyakan sarannya itu. Dalam pertemuan ini ikut hadir bersama kami kepala Sekolah SDN 05 Saparan.

Tak terasa saya merasakan sesuatu yang tidak beres dengan perut saya, ooh… nampaknya saya baru sadar kalo kami semua belum sarapan pagi. Meminjam istilah anak-anak muda di Jakarta, “tidak pake lama”, kami menyerbu sebuah warung nasi yang terletak di ujung pasar Seluas. Harga makanan di warung ini sama dengan harga makanan di Jakarta. Saya makan 1 porsi soto daging harganya sebesar Rp 12.000,-

Setelah merasa kenyang, kami melanjutkan perjalanan menuju kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkayang. Perjalanan kami ke sana memakan waktu kurang lebih tiga jam. Tanpa banyak hambatan kami bisa bertemu langsung dengan Kepala Dinas Pendidikan yang nampaknya sudah lama menunggu kedatangan kami, meskipun saat itu sudah jam istrahat. Alhamdulillah, setelah saya menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan saya, beliau sangat tertarik, mendukung dan berterimakasih atas kepedulian Makmal Pendikan terhadap guru-guru di Bengkayang khususnya di Kecamatan Jagoi Babang. Kami semua merasa senang. Pertemuan ini berlangsung kurang lebih tiga puluh menit.

Waktu sudah hampir sore, kami pulang ke penginapan. Namun, sebelum sampai di penginapan, kami sempatkan makan siang di salah satu warung lesehan di Kabupaten Bengkayang. Harga makanan di sini masih terjangkau meskipun lebih mahal dari harga makanan di salah satu warung di Seluas. Kami sempatkan pula mengisi bensin mobil kami di satu-satunya pom bensin yang ada di desa itu. Harga bensin di sini tak sesuai dengan jumlah standar isi bensin yang masuk dalam kantong bensin mobil, karena sudah dikurangi oleh petugasnya. Menurut cerita sang sopir, dari situlah laba atau keuntungan mereka dapatkan.

Menjelang azan maghrib kami mampir di salah satu masjid di Seluas untuk melaksanakan salat jamak qashar (Zuhur dan Ashar). Sambil menunggu azan maghrib dikumandangkan, kami mengevaluasi hasil pertemuan kami tadi, baik dengan Kepala Dinas Pendidikan Bengkayang maupun dengan UPT Kecamatan Seluas. Nampaknya, tak ada masalah serius, kecuali mempertimbangkan saran dan masukan dari UPT tentang mengikutsertakan semua guru-guru sekecamatan Jagoi Babang. Diskusi kami berkahir, ketika sang muadzin mengumandangkan adzan maghrib.

Seusai Salat Maghrib, kepala sekolah SDN 05 Saparan pamit, dan kami pun pulang menuju penginapan. Saya segera melanjutkan tulisan yang sempat terputus tadi pagi, hingga akhirnya tertidur pulas.

Jumat pagi, pukul 06.00, saya berpisah dengan rombongan DU. Mereka akan kembali ke kantor DU di Pontianak kota. Mereka sangat baik dan ramah. Merekalah yang banyak membantu saya selama proses sosialisasi program pendampingan sekolah ini. Sebelum berangkat, saya ajak mereka makan terakhir bersama di salah satu warung di belakang penginapan. Tak lupa saya menyampaikan rasa terimakasih banyak atas bantuan mereka. Merekalah orang-orang yang berjasa selama proses perjalanan saya ke SDN 05 Saparan.

Rasa sepi di kamar penginapan mulai terasa. Saya pun berusaha tetap enjoy dengan suasana baru ini. Saya meneruskan tulisan yang sempat tertunda-tunda tadi sambil sesekali membuka facebook dengan menggunakan modem yang saya bawa dari Jakarta. Kegiatan ini berlalu sampai masuk waktu Salat Jumat.

Usai Salat Jumat saya bertemu kembali dengan Pak Robi. Saya banyak menerima saran dari beliau tentang suasana baruku ini. Saya harus semangat dan tetap semangat. Beberapa jam kemudian, saya ditelpon oleh kepala sekolah SDN 05 Saparan, bahwa saya akan segera dijemput oleh dua orang guru untuk diantar ke rumahnya, dan selanjutnya mulai menginap di rumah beliau.

Komentar

komentar