Memberi Kesan yang Berbeda

Oleh: Eko Nurhaji Purnomo. 

Pagi ini adalah hari pertama bertemu dengan murid-murid di sekolah. Setelah beberapa lama tidak memakai sepatu pantofel.

Mulai kulangkahkan kakiku, melewati bebatuan yang licin, jalan yang berlumpur akibat hujan tadi malam. Berjumpa dengan warga penduduk yang berangkat bekerja, mengambil getah karet di kebunnya. Perjalananku masih seratus meter untuk sampai di sekolah.

Dari jauh terlihat sebuah bangunan lama berbentuk rumah panggung dari kayu besar. Di bagian bangunan yang menjorok kedepan bertuliskan pemerintahan kabupaten Bengkayang, SDN 05 Saparan. Melewati sepuluh meter menuju ke tangga sekolah, jalannya berlumut dan licin, hampir saja aku terjatuh. Terlihat anak-anak menyambutku. Berdiri di lorong dan wajahnya mengundang pertanyaan. Salah satu anak kusapa, “siapa namanya?” Jawabnya hanya diam dan berlari menjauhiku. Semua anak-anak terlihat memperhatikan langkahku, ada yang bersembunyi dibalik jendela, mengendap-endap di pintu. Mereka terlihat malu-malu. Pikirku, maklum ini di desa bukan di kota, berbeda kondisinya, maka berbeda juga aku beraksi.

Kulangkahkan kakiku menuju kantor sekolah, terlihat lima guru menyambutku di sana. Aku bersalaman dengan mereka dan menyambutnya dengan senyum kecil. Mereka perkenalkan satu-persatu kepadaku oleh Pak Sarno, Kepala Sekolah SDN 05 Saparan. Setelah itu giliran aku yang memperkenalkan diri. Berbeda dengan biasanya, aku awali dengan guyonan-guyonan kecil sebelum berbicara lama di depan mereka. Tapi retorika bicaraku terasa kaku sekali, mungkin suasana di sini yang masih kaku dan formal sehingga aku pun terbawa. Ah, tak apalah, besok pasti mencair. Masih ada waktu yang panjang untuk mengenal lebih jauh, dan mengakrabkan diri dengan mereka.

Akhirnya, tibalah saatnya aku memasuki ruang kelas. Ya, ini lah muridku. Ada yang berbeda dengan murid-murid di kota, seragam masih sama atasan putih, bawahan merah. Tapi alas kaki, rata-rata mereka tidak memakai sepatu, ada beberapa anak yang memakai sandal jepit, dan tak sedikit yang tak beralas kaki. Aku belum menyempatkan diri untuk menanyakan hal itu, aku kira di sini sudah menjadi sebuah kebiasaan, bukan hanya karena tak punya uang untuk membeli sepatu. Jika hujan satu hari saja, jalan sudah tergenang air, jika hujan tiga hari, maka sudah dipastikan banjir. Jadi mereka sudah terbiasa untuk nyeker ke sekolah. Semua guru sudah paham hal ini dan mereka pun tak akan protes apalagi menghukum seperti sekolah-sekolah di kota.

“Selamat pagi!” sapaku. Sepi, tak ada jawaban. Kuulangi lagi sambil mengeluarkan gerakan lucu. Loncat, jempol tangan kiri menempel di telinga kiri dan jari-jari yang lain melambai-lambai seperti gajah, tangan kanan memegang hidungku dan kuucapkan “celamat pagi!” Yups, aku berhasil, merekapun tertawa. Awal yang baik. Aku bercerita tentang Cinderella dan sepatu kacanya, bagaimana aku berakting seperti pangeran yang mencari permaisuri dan tiba-tiba berubah memerankan Cinderella yang kehilangan sepatu kaca. Di selingi joke-joke yang membuat mereka tertawa terbahak-bahak. Awal yang kocak menjadi sutradara plus pemeran utama. Antusias anak-anak memperhatikannya, terkadang tertawa terbahak-bahak sesambil memukul-mukul meja.

Hari ini mengalir, mereka tidak lagi melihatku orang asing bagi mereka, bahkan seperti sudah seperti mengenalku bertahun-tahun. Bersyukurlah, berbeda dengan menghadapi murid-murid diperkotaan. Di sini mereka terlihat malu-malu, dan takut jika ada orang dari kota masuk ke daerah ini. Aku harus benar-benar dapat menarik hati mereka. Syukurlah, setidaknya hari ini mereka sudah tertawa denganku, mudah-mudahan esok kelak mereka tetap tertawa mengisi hari-hari di sekolah, belajar dan bermain bersamaku di sini.

Komentar

komentar