Membentuk Karakter Anak lewat Sekolah Hijau

Program Green School yang digagas oleh Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa telah memotivasi stake holder SDN Kamojang untuk lebih memerhatikan dunia pendidikan yang terintegrasikan dengan Sekolah Hijau.

Green School adalah sebuah sekolah yang berkonsen-trasi dalam menjaga alam dan lingkungan sekitarnya mela-lui edukasi di lingkup sekolah. Harapannya, setelah para siswa mendapatkan edukasi di sekolah, bisa diimplementasikan dalam ruang lingkup yang lebih luas, yakni rumah dan masyarakat.

Isu global warming atau pemanasan global adalah fe-nomena alam yang diakibatkan oleh meningkatnya gas ru-mah kaca (karbon dioksida [CO2], sulfur dioksida [SO2], nit-rogen oksida [NO], nitrogen dioksida [NO2], gas metan [CH4], kloro floro karbon [CFC]) yang ada di atmosfer. Adanya emisi karbon yang berlebih di angkasa akan menyulitkan panas memantul kembali ke luar angkasa. Oleh karena itu, suhu di Bumi saat ini menjadi lebih panas dari biasanya. Hal ini diperparah dengan minimnya area hijau yang dapat meng-hasilkan oksigen. Efek konkretnya, cuaca kian sulit dide-teksi sehingga kegiatan manusia yang bergantung dengan cuacanya sedikit-banyak terganggu karenanya.

Hal ini menimbulkan keprihatinan dari berbagai ka-langan di dunia—juga di Indonesia—akan kelangsungan hidup dunia ke depan. Banyak acara dan pertemuan yang digagas para petinggi dunia untuk mencari solusi dari dam-pak pemanasan global ini. Seperti Protokol Kyoto Jepang dan Bali yang merupakan salah satu respons masyarakat dunia terhadap isu pemanasan global ini.

Di Indonesia pun demikian. Ada beberapa langkah strategis dalam mengantisipasi pemanasan global, salah sa-tunya adalah dengan penanaman sejuta pohon, semiliar po-hon, dsb. Namun, acara seperti ini terkesan hanya seremo-nial belaka. Oleh karena itu, melalui pemikiran yang jernih dan cerdas, atas inisiatif stake holder sekolah, Makmal Pendidikan untuk menggagas sekolah yang berbasiskan lingkungan di SDN Kamojang.

Dasar pemikirannya sederhana, yakni susahnya mengedukasi orang-orang yang sudah tua akan penting-nya menjaga lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan. Dengan mengedukasi para guru dan anak-anak diharapkan akan lebih mempermudah pelaksanaan program tersebut. Sebuah peribahasa menyebutkan bahwa “belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu”. Arti-nya, anak-anak akan sangat ingat akan petuah para guru yang diberikan kepada mereka terkait usaha untuk selalu menjaga kelestarian lingkungan di sekitarnya.

Menjaga sekolah dari kerusakan lingkungan bukan merupakan pekerjaan yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Mengedukasi para siswa untuk sadar akan lingkungan pun tidaklah mudah. Namun, berkat kerja keras para guru dan dukungan dari semua pihak, halangan dan rintangan yang menghadang bisa dilewati dengan baik. Sekarang, kami tinggal menikmati hasilnya, yaitu sekolah yang bersih, rapi, indah, dan rindang.

Sebenarnya pendidikan lingkungan hidup itu berkait-an dengan pendidikan karakter anak. Dalam pendidikan lingkungan hidup banyak sekali hal-hal yang erat kaitannya dengan pembentukan karakter siswa. Salah satu contohnya adalah penanaman pohon. Para siswa tidak hanya diajarkan bagaimana cara menanam pohon yang benar, namun juga diajarkan cara merawat dan menjaganya dari serangan hama dan penyakit yang akan menyebabkan pohon terse-but mati. Ketika hal ini dikaitkan dengan karakter, proses ini akan masuk dalam karakter mencintai alam sekitar.

Ketika mencintai alam sekitar sudah menjadi sebuah karakter dalam diri setiap siswa, akan timbul efek luar biasa di kemudian hari. Mereka akan selalu menjaga dirinya, ke-luarganya, alamnya, dan negaranya dari serangan musuh, baik dari dalam maupun dari luar. Rasa cinta alam sekitar menjadikannya sebagai seorang siswa yang peduli dengan masa depan alam sekitarnya. Oleh karena itu, masalah pembalakan liar, perburuan satwa langka, ataupun sampah yang hari-hari ini menjadi momok masyarakat bisa mereka atasi di masa mendatang.

Ada juga kegiatan Opsih (Operasi Bersih) yang nota-bene untuk menjaga lingkungan dari kekurangrapian dan kekotoran. Kegiatan ini berusaha memberikan pesan karak-ter kepada siswa untuk melakukan gotong-royong, bahu-membahu dalam mengerjakan sebuah pekerjaan. Kegiatan-kegiatan tersebut ternyata memberikan efek yang sangat positif, yaitu terbentuknya karakter siswa yang selalu cinta dan peduli pada lingkungan dan alam sekitarnya.

Walhasil, inisiatif dari Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa untuk mencanangkan gerakan sekolah hijau di SDN Kamojang, telah berdampak positif bagi pembentukan karakter siswa ke arah yang lebih baik. Rasa terima kasih juga patut kami sampaikan kepada para guru di SDN Kamojang. Sungguh, program itu tidak akan berjalan baik tanpa kepedulian para pejuang peradaban (baca: para guru) yang tidak pernah bosan membimbing dan mengarahkan para siswa agar le-bih peduli akan dirinya, keluarganya, lingkungannya, serta bangsanya. Inilah yang menjadi kunci kesuksesan program sekolah hijau di SDN Kamojang.

 

Ita Rosita

(Guru Sekolah Cerdas Literasi Kelas 6 SDN Kamojang)

Komentar

komentar