Madrasah Kami Tercinta

Sejak berdirinya pada 2007 lalu, Madrasah Ibtidaiyah As ‘Adiyah Filial yang terletak di lereng gunung ini belum pernah mengalami perubahan fisik sama sekali. Terdapat satu bangunan dengan kondisi setengah terbuka (sehingga apabila dilihat dari jalan, akan terlihat bagian kepala kita). Satu bangunan tersebut dibagi menjadi dua ruang kelas, di mana masing-masing kelas dipakai tiga jenjang yaitu jenjang  1-3 di ruang satu dan 4-6 di ruang satunya. Madrasah sederhana ini benar-benar hanya terdapat satu bangunan, jangankan perpustakaan kantor guru pun tidak ada. Bahkan toilet masih menumpang dengan toilet umum yang berada di depan madrasah. Sungguh kondisi yang cukup memprihatinkan.

Selama berdirinya, murid-murid hanya diampu oleh seorang guru dan ditambah seorang guru lagi pada 2014. Mungkin bisa kita bayangkan bagaimana setiap harinya kegiatan belajar mengajar di madrasah ini, satu ruangan dihuni tiga jenjang yang berbaur menjadi satu denga diampu satu orang guru. Betapa hari-hari pejuang pendidikan di perbatasan ini patut kita apresiasi.

Kondisi MI As ‘Adiyah Filial mulai berubah sejak awal 2017. Alhamdulillah ada penambahan guru dari madrasah Induk sebanyak dua guru sehingga total ada empat guru. Awal tahun 2017 MI As ‘Adiyah Filial ini menjadi sekolah dampingan Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa dan seorang konsultan relawan dikiirmkan untuk medampingi madrasah demi mencapai peningkatan kualitas pendidikan. Beberapa program telah dirancang dan dijalani bersama antara Konsultan Relawan Deta Wijayanti dengan pihak madrasah dan masyarakat demi meningkatkan kualitas pendidikan setempat.

Salah satu program yang dijalankan bersama adalah pembentukan komite madrasah filial. Hal ini berfungsi untuk menampung aspirasi dan membantu madrasah dalam hal pembangunan fisik non fisik melalui partisipasi masyarakat. Alhamdulillah Komite Madarasah Filial terbentuk pada April 2017. Melalui pertemuan komite yang dilaksanakan Mei lalu, maka dibahas beberapa hal yang dapat menunjang proses pembelajaran melalui pembangunan fisik sekolah.

Dalam proses pembahasan masukan dari pihak sekolah maupun masyarakat ditampung demi kebaikan bersama. Dari pihak sekolah khususnya guru menginginkan adanya tambahan papan tulis dan sikat ruangan (hal ini juga disampaikan oleh Hisam Mansur selaku Konsultan Senior Makmal Pendidikan pada saat monitoring proses kegiatan belajar di madrasah), dari pihak masyarakat menginginkan agar bangunan sekolah yang terbuka setengah dapat ditutup agar anak-anak tidak terkena air hujan pada saat hujan, kemudian adanya pintu sekolah agar orang ataupun anjing tidak sembarangan dapat masuk ke dalam gedung. Setelah melalui diskusi disepakati bahwa komite akan; membuat papan tulis, membuat skat ruangan, menutup gedung yang setengah terbuka, membuat pintu darurat.

sek1

Sebelum dan sesudah pembangunan sekolah.

Kegiatan pembangunan dilakukan secara swadaya masyarakat baik secara finansial maupun tenaga. Dengan mangandalkan sumbangan dan juga gotong royong, maka madrasah yang ‘baru’ pun berdiri. Gotong royong dilaksanakan pada bulan Juni dengan harapan tahun ajaran baru madrasah yang baru sudah dapat ditempati.

sek2

Proses gotong royong.

sek3

Kondisi sekolah yang baru, sudah terdapat kaki lima untuk berteduh.

Alhamdulilah atas berkat Allah, madrasah yang ‘baru’ pun dapat ditempati pada tahun ajaran baru. Sekarang sudah terdapat dua ruangan yang ‘disulap’ menjadi empat ruangan berkat skat ruangan lengkap dengan empat papan tulisnya. Proses pembelajaranpun menjadi lebih nyaman sebab antar kelas sudah tidak saling terganggu, satu ruangan dengan satu papan tulis dan satu guru. Meskipun ruangan dua masih ditempati empat jenjang; yaitu ruang tiga ditempati kelas 3 dan 4 serta ruangan empat ditempati kelas 5 dan 6 namun hal tersebut tetap perlu disyukuri mengingat keterbatasan jumlah guru juga.

Selain kebermanfaatan skat serta papan tulis dalam proses pembelajaran, pembangunan sekolah menjadikan madrasah ini lebih layak disebut sebagai sekolah ketimbang bentuk bangunan yang sebelumnya. Menurut Sulpaisa yang sekarang sudah berada di kelas 6 dirinya mengaku sekolah yang sekarang lebih nyaman karena gurunya sudah 4 dan juga kelas bersekat. Menurut Ibu Asifa selaku guru kelas 2  mengatakan bahwa proses pembelajaran menjadi lebih kondusif dikarenakan ada skat antar kelas. Selain itu, Bapak Sadarullah selaku penggagas dan pendiri sekolahpun merasa senang beliau mengatakan bahwa sekolah yang sekarang sudah lebih ‘terlihat berbentuk sekolah’. (Deta)

Komentar

komentar