Madrasah (Bukan) Pilihan

Oleh: Rina Fatimah, Direktur Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa

SEBANYAK 725 gedung madrasah di wilayah provinsi Banten dalam kondisi rusak berat, sementara ada sekitar 520 unit gedung madrasah dalam kondisi rusak ringan. Demikianlah penggalan berita yang dituliskan di laman media online, antarabanten.com, 19 Januari 2015.

Selang tiga bulan berikutnya, indopos.co.id menuliskan berita “Akibat dana BOS tersendat, fasilitas madrasah kian memburuk”. Dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang seharusnya diturunkan setiap tiga bulan sekali, namun setelah tiga bulan dana tersebut tak kunjung cair. Akibatnya bukan hanya masalah fisik sekolah yang dirugikan, namun kinerja guru pun terkena dampaknya. Sebagian besar dana BOS juga digunakan untuk membayar honor guru.

Dua pemberitaan di atas menempatkan madrasah sebagai sekolah yang terpinggirkan. Mengapa demikian? Sudah menjadi hal yang lumrah di Indonesia, banyak orang tua menyekolahkan anak-anaknya, pertama yang dilihat lebih dulu adalah bangunan sekolahnya. Apakah cukup nyaman buat anak-anaknya sekolah?

Kedua, kualitas gurunya dengan melihat metode pembelajaran yang diberikan. Namun biasanya, point kedua ini tidak terlalu dipedulikan oleh sebagian besar orang tua kelas menengah. Alhasil, madrasah sebagai lembaga formal pendidikan yang kurang mendapatkan apresiasi dari masyarakat. Karena kurangnya apresiasi dari masyarakat, akhirnya madrasah pun lekat dengan sekolah bagi anak-anak yang terpinggirkan.

Madrasah dari Masa ke Masa

Sistem pendidikan nasional membedakan antara sekolah dan madrasah. Sekolah dikenal sebagai lembaga pendidikan tingkat dasar dan menengah yang kurikulumnya menitikberatkan pada mata pelajaran umum, dan pengelolaannya berada di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional.

Sedangkan Madrasah dikenal sebagai lembaga pendidikan keagamaan tingkat dasar dan menengah yang lebih menitikberatkan pada mata pelajaran agama, dan pengelolaannya menjadi tanggungjawab Kementrian Agama. Kata Madrasah sendiri diambil dari bahasa Arab yang merupakan isim makan dari darasa-yadrisu. Madrasah mengandung arti tempat, wahana anak mengenyam proses pembelajaran.

Pendidikan agama Islam di Indonesia sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Sejak pemerintah Belanda menyatakan politik etis maka masyarakat Indonesia yang disebut pribumi memiliki kesempatan yang luas untuk bersekolah, terutama di sekolah pendidikan rendah. Pada tahun 1907 atas perintah Gubenur Jenderal Van Heutz, didirikanlah sekolah-sekolah desa. Memasuki abad ke 20, lahirlah sekolah kelas satu, sekolah kelas dua, dan sekolah desa.

Sayangnya, sekolah-sekolah yang dibangun oleh Kolonial Belanda pada masa itu belum seimbang dengan populasi penduduk di Indonesia. Ditambah lagi dengan rendahnya penghasilan masyarakat Indonesia pada masa itu, sehingga sangat sedikit kalangan bumiputera untuk melanjutkan sekolah-sekolah yang didirikan oleh Belanda.

Adanya kondisi yang seperti itu, maka masyarakat pribumi pada masa itu memerlukan pendidikan alternatif, egaliter, dan merakyat. Lahirlah pendidikan di pesantren, surau dan dayah. Sebagian masyarakat Indonesia adalah muslim, maka banyak anak-anak pada masa itu disekolahkan melalui pendidikan tersebut. Metode belajar yang digunakan masih individual, ceramah dan hafalan. Sarana belajar seperti meja, kursi, papan tulis dan ruangan kelas belum ada.

Disimpulkan bahwa abad ke 19, terdapat dua lembaga pendidikan yakni sekolah umum (milik Belanda) dan pesantren. Sekolah umum mengajarkan ilmu umum, Pesantren mengajarkan ilmu agama. Akhirnya, kedua lembaga ini memiliki output yang berbeda. Menjelang akhir abad ke 19 muncullah sistem pendidikan umum dan sistem pendidikan agama. Hingga kini kita mengenalnya sekolah dan madrasah.

Seiring dengan berjalannya waktu, melalui SKB menteri tahun 1975 madrasah mulai diakui sebagai lembaga pendidikan yang setara dengan sekolah umum. Selain itu, UU Sisdiknas Nomor 2/1989. madrasah diakui sebagai sekolah umum berciri khas agama Islam. Atas kedua momentum tersebut madrasah hingga kini masih eksis. Pertanyaan kritisnya, sejauh manakah eksistensi madrasah saat ini? Terutama madrasah tingkat dasar atau disebut madrasah ibtidaiyah. Bicara eksistensi, ada dua point utama yang perlu disoroti yakni kualitas dan fasilitas.

Menepis Label Buruk Madrasah

Label madrasah sebagai sekolah bagi anak-anak terpinggirkan jauh lebih lekat. Terpinggirkan dari sekolah-sekolah umum dengan berbagai sebab. Daripada anaknya tidak sekolah, akhirnya orang tua memilih madrasah. Hal ini pun sejalan dengan ungkapan seorang pemangku kepentingan di Jurangmangu, Tangerang Selatan “Madrasah sebagai tempat bagi anak-anak yang tidak diterima di sekolah negeri”.

Ungkapan di atas memberi kesan, madrasah bukanlah sekolah pilihan utama bagi para orangtua untuk menyekolahkan anak-anaknya. Madrasah dipilih bukan karena pembelajaran agama lebih banyak. Madrasah dipilih agar anak-anaknya tidak putus sekolah. Hal ini terjadi bisa saja karena kualitas madrasah yang kalah bersaing dengan sekolah umum. Atau bisa saja karena fasilitas yang dimiliki madrasah lebih minim dibandingkan dengan sekolah umum. Lalu, bisakah madrasah bersaing dengan sekolah umum terbaik di negeri ini? Bagaimana cara madrasah meningkatkan kualitasnya?
Laporkan iklan?

Kementerian Agama baru-baru ini launching program 24 T untuk peningkatan mutu madrasah. Program tersebut menetapkan 3 komponen utama untuk menguatkan mutu pendidikan. Pertama, peningkatan kompetensi 1.200.000 guru madrasah, staf pendukung, manager, dan personil penjamin mutu. Kedua, memberi bantuan kepada 45.000 madrasah untuk memenuhi standar nasional pendidikan dan standar pelayanan umum. Ketiga, melakukan rehabilitasi lebih dari 110.000 ruang kelas yang rusak, fasilitas khusus untuk pendidikan inklusif, dan bantuan teknis yang berkualitas tinggi. Program ini diharapkan 5 tahun mendatang madrasah berkembang menjadi lembaga pendidikan yang dipilih masyarakat karena bermutu dan lebih baik.

Ikhtiar Madrasah Memikat Masyarakat

Apa yang dipaparkan oleh kemenag diatas tentulah perlu diapresiasi. Hanya saja kita juga perlu mengkritisi untuk memastikan desain tersebut tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan madrasah saat ini. Komponen pertama kemenag fokus pada peningkatan kompetesi guru dan kepala sekolah. Umumnya peningkatan kompetensi dilakukan melalui pelatihan guru. Akan menjadi sia-sia, apabila pasca pelatihan tidak dilakukan pendampingan intensif.

Sudah banyak kegiatan pelatihan yang diberikan, sampai-sampai guru mendapat julukan “pemburu sertifikat” karena sertifikat pelatihan menjadi salah satu dokumen penting dalam perolehan sertifikasi guru. Banyaknya pelatihan yang diselenggarakan, namun nyatanya belum cukup meningkatkan kompetensi guru? Menguap kemanakah materi pelatihan tersebut?

Agar tidak sampai menguap jauh maka pendampingan intensif untuk guru dari kepala sekolah dan pengawas juga perlu dilakukan. Pastinya dalam membuat desain pelatihan, sudah jelas tujuan kompetensi yang ingin dicapai. Sebelum desain pelatihan dibuat, tidak ada salahnya tim dirjen pendidikan Islam melakukan assessment di beberapa madrasah. Tujuan assessment untuk mencari sejauh manakah kompetensi saat ini yang dimiliki oleh guru-guru madrasah. Dan seberapa besar gap antara kompetensi ideal dan kompetensi yang dimiliki. Maka materi-materi pelatihan fokus pada kesenjangan tersebut.

Lanjut, materi-materi pelatihan tersebut diklasifikasikan kemudian dibuatkan masa kadaluarsanya. Maksud kadaluarsa disini yakni berapa lama pasca pelatihan, materi tersebut diimplementasikan? Selama guru mengimplementasikan pengetahuannya pasca pelatihan, kewajiban kepala sekolah dan pengawas untuk melakukan monitoring dan evaluasi berkala terhadap guru tersebut sehinggapeningkatan kompetensi guru pasca pelatihan dapat terdefinisikan.

Optimalisasi peran kepala madrasah menjadi point penting perubahan madrasah. Selama ini tugas utama kepala madrasah tergerus oleh tugas-tugas administratif. Kepala madrasah melupakan bahwa tanggung jawab utama setelah educator yakni manajer baru terakhir administrator. Ingat rumusan P-O-A-C-E: Planning, Organizing, Actuating, Controlling, dan Evaluating.

Inilah tugas utama seorang manajer. Harus handal dalam membuat perencanaan, lalu rencana tersebut dikelola dengan baik melalui distribusi tugas, pembagian tanggung jawab kepada tim, dikomunikasikan dan dikoordinasikan dengan baik kepada semua guru. Kemudian dikontrol proses berjalannya aktivitas tersebut melalui rapat rutin, RPP guru diverifikasi dan ditandatangani, observasi kelas, dan memberikan penilaian perfoma guru. Tugas terakhir yakni melakukan evaluasi berkala minimal 2 kali per semester.

Tidaklah sulit bagi kemenag untuk “melahirkan kembali” kepala madrasah yang bagus apabila tim penjamin mutu madrasah juga ditingkatkan kompetensinya. Saran terbaik agar mutu madrasah meningkat, kemenag perlu melakukan analisa tahapan. Apakah guru-gurunya yang diberesi kompetensinya terlebih dahulu atau kepala madrasahanya lebih dulu atau tim penjamin mutunya terlebih dahulu atau ketiganya dilakukan bersamaan. Apapun teknis implementasinya, yang paling penting adalah pendampingan intensif jangka panjang dan terukur untuk guru dan kepala madrasah juga perlu didesainkan.

Tidak bisa dipungkiri, bangunan fisik beserta sarana penunjangnya tetap menjadi daya pikat para orang tua untuk menyekolahkan anaknya. Komponen kedua ketiga yakni memperbaiki ruang kelas yang rusak dan melengkapi sarana penunjang belajar juga perlu diapresiasi. Pastinya, kemenag membutuhkan dana yang tidak sedikit. Andaikan satu ruang kelas yang rusak dana yang dibutuhkan sebesar 150 jutaan, maka 110.000 ruang kelas yang rencananya akan diperbaiki membutuhkan 16 T. Kebutuhan dana yang besar ini, kemenag mengajak kontribusi pemerintah daerah untuk membiayai fasilitas madrasah baik negeri maupun swasta.

Memperbaiki bangunan sekolah yang rusak baiknya juga memperhatikan nilai kenyamanan siswa dalam belajar. Contohya ventilasi udara. Ruang kelas yang panas mengakibatkan siswa menjadi tidak fokus belajar. Maka diperlukan sirkulasi udara yang baik agar suasana kelas tidak terasa panas. Selain itu, tidak ada salahnya cat dinding ruang kelas dipilihkan warna-warna cerah namun tetap nyaman di mata seperti biru laut, hijau daun.

Sarana pelengkap di setiap ruangan yang tidak boleh ketinggalan yakni papan display dan lemari buku beserta buku bacaannya. Papan display digunakan untuk memajang hasil karya siswa agar motivasi belajar siswa meningkat. Lemari buku dan buku bacaannya digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan baca siswa. Jadi tidak ada salahnya di dalam desain perbaikan mutu madrasah, kemenag membuatkan modul standar bangunan fisik dan sarana pelengkapnya khas madrasah.

Eksistensi madrasah yang sudah ada sejak penjajahan Belanda menandakan keberadaannya memiliki peran serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Tidak sampai di situ, dimasa penjajahan Belanda pula, madrasah turut serta menanamkan rasa kebangsaan ke dalam jiwa rakyat Indonesia. Namun kini madrasah kehilangan mutunya. Masyarakat menilai rendah performa madrasah sehingga anak-anak yang sekolah di madrasah adalah anak-anak yang terpinggirkan, anak-anak marginal yang tidak layak di sekolah umum. Semoga semangat perbaikan yang dilakukan oleh kemenag berbuah hasil sehingga madrasah pun kembali mendapat kepercayaan dari masyarakat. Bismillah….[]

Sumber: https://www.islampos.com/madrasah-bukan-pilihan-205125/

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.