Literasi untuk Bangsa

Oleh: Emil Supriatna

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI

“Peduli Literasi! Majukan Bangsa, Ceriakan Hari….” Sebuah tagline yang mampu menyetrum hasrat nasionalisme setiap pendengarnya. Bagaimana tidak? Budaya literasi kian memudar dalam wajah bangsa ini. Padahal, bangsa yang maju sejatinya merupakan bangsa yang peduli akan literasi sebagai jiwa pendidikan.

Pesantren Literasi (21-23/6) dalam momentum ulang tahun Dompet Dhuafa dihadirkan sebagai tonggak kepedulian berliterasi kepada masyarakat Indonesia. Program yang dilaksanakan di SMART Ekselensia sebuah sekolah binaan DD ini dikemas secara unik dan menarik sehingga peserta mudah mencerna dan mengembangkan materi yang diberikan. Sebanyak 20 peserta dari beragam latar pendidikan digodok dengan kemampuan dan pengetahuan literasi. Nantinya, mereka diharapkan mampu menggemakan semangat literasi ke seantero Nusantara.

Era literasi sebenarnya pertama kali menetas pada era ketika manusia mulai mengenal aksara (tulisan). Inilah yang menjadi penanda awal peradaban umat manusia. Sebab melalui aksara, ilmu pengetahuan lahir dan tersebar luas pun bertransformasi secara turun temurun melalui peningalan-peninggalan sejarah seperti Yupa, contohnya. Pengetahuan tersebut kemudian menunjukkan perkembangan sangat pesat setelah penggunaan kertas dimasifkan oleh bangsa Arab pada masa Abbasiyah tahun 751 Masehi. Pun seiring dengan itu, kecerdasan manusia terus mengalami kemajuan pesat akibat kemampuan memodifikasi pengetahuan dari dan melalui tulisan-tulisan. Inilah awal perkembangan literasi.

Literasi itu sendiri merupakan serapan dari bahasa Inggris, literate, yang berarti kemampuan membaca dan menulis. Namun demikian, makna literasi sudah tidak lagi sesederhana itu. Perubahan zaman telah menjadikan dewasa makna literasi bagi umat manusia. Tidak lagi sekadar baca-tulis, melainkan harus memuat proses intelektual dalam berliterasi.

Proses tersebut menjadi penting apabila disandingkan dengan fenomena globalisasi saat ini. Sebuah fenomena yang mampu mengkerdilkan dunia menjadi sebuah ruang sempit yang disebut desa global. Ini merupakan kondisi dimana manusia, berbagai informasi dan ideologi, mengalir deras melintasi batas-batas geografis. Juga melalui konsep desa global ini manusia dapat saling terhubung meski berada di sudut bumi sekalipun.

Keterhubungan tersebut tidak dapat dilepaskan dari peran teknologi yang semakin canggih dari masa ke masa. Satu yang populer adalah dunia maya (internet). Manusia melalui dunia maya dapat menjalin komunikasi meskipun mereka tidak saling bertemu. Bahkan, banyak di antara mereka tidak saling mengenal ketika berinteraksi di dunia maya. Mereka, baik yang berada di pusat maupun sudut bumi, dapat saling bertukar informasi dengan lancar.

Pada dunia inilah terjadi kilatan informasi yang sangat cepat dan luas antar masyarakat bumi. Celakanya, informasi-informasi yang tersebar saat ini tidak melulu membawa kebermanfaatan bagi kehidupan manusia. Banyak kerusakan yang ditimbulkan karenanya. Lupakah kita tentang propaganda terorisme yang dimediasi oleh dunia maya? Sebuah propaganda yang mencuci akal sehat banyak orang dengan menebar informasi-informasi keliru tentang agama sehingga memicu praktik radikalisme.

Apabila literasi hanya dipahami sebatas baca-tulis saja, dampak negatif dari informasi yang tersebar di internet akan semakin luas mewabahi masyarakat dunia. Kerusakan moral, kriminalitas, bahkan aksi terror dapat terus menerus terjadi di bumi ini. Oleh sebab itu, penting memahami dan menjalankan proses intelektual dalam dunia literasi.

Proses intelektual secara sederhana dapat dilakukan dengan tidak serta merta menerima taburan informasi yang tersedia. Masyarakat harus pandai menyaring data sehingga meminimalisir pengaruh dari informasi-informasi yang merusak. Pemerintah pun lembaga sosial dan agama harus membekali masyarakat dengan pengetahuan literasi yang mencakup kemampuan menangkap informasi secara kritis. Selain itu, nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan menjadi signifikan ditanamkan kepada masyarakat secara luas. Tujuannya agar mereka tidak mencerna secara mentah informasi-informasi yang ada di sekitar. Inilah yang disebut proses intelektual dalam literasi.

Ketika masyarakat telah mampu melakukan proses intelektual. Selanjutnya, literasi dengan sendirinya akan menunjukkan sejumlah kebermanfaatannya. Mengutip pendapat Adam (2009:1) bahwa manfaat literasi di antaranya: 1) Membantu mengambil keputusan; 2) Menjadi manusia pembelajar; dan 3) Menciptakan pengetahuan baru.

Kehidupan manusia saat ini sudah sangat kompleks dengan beragam permasalahan mulai dari segi ekonomi, politik, sosial hingga budaya. Di sinilah pentingnya literasi. Literasi berperan dalam membantu masyarakat dunia memecahkan sejumlah persoalan di bumi ini, bukan malah memperkeruh. Melalui proses intelektual, manusia akan mampu memahami dan mengkritisi segenap wacana yang tersedia sebagai bahan pengambilan keputusan peuntasan masalah.

Kedua, kemamuan literasi memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan kemampuan seseorang menjadi manusia pembelajar di era informasi ini. Semakin terampil dalam mencari, menemukan, mengevaluasi dan menggunakan informasi. Kesemptan untuk selalu melakukan pembelajaran semakin besar sehingga dapat belajar secara mandiri.

Ketiga, literasi yang dikelola dengan baik akan mampu mencetuskan pengetahuan-pengetahuan baru. Ini akan berdampak bagi kemajuan suatu negara. Sebab, negara dikatakan berhasil apabila mampu menciptakan pegetahuan baru. Seseorang yang memiliki kemampuan dan pengetahuan literasi akan mampu mengomposisikan informasi menjadi sebuah inovasi  yang bernilai guna bagi kemaslahatan masyarakat luas.

Pesantren literasi merupakan satu dari banyak cara memasifkan wacana literasi ke tengah masyarakat. Oleh karena kompleksitas permasalahan bangsa saat ini, kemampuan dan pengetahuan literasi menjadi sangat signifikan. Pemerintah dan lembaga kemasyarakatan harus saling membahu membentuk masyarakat yang peduli literasi. Akhirnya melalui cara demikian, perwujudan bangsa yang berpengetahuan bukan lagi sebuah mitos.

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.