Lihat Muridku Disiplin

Oleh: Eko Nurhaji Purnomo.

Inilah kondisi sekolah kami. Jika pagi hari, kamu akan melihat para siswa secara bersama-sama membersihkan sekolah. Beberapa anak membersihkan WC guru dan murid, menyikat lantai, mengisi air untuk bak mandi. Ada beberapa anak yang mengelap meja di ruang guru, membuang sampah, dan mengepel lantainya. Mungkin kebiasaan ini jarang, bahkan tidak ditemukan di kota-kota. Tetapi, disini sudah menjadi kebiasaan yang telah lama diterapakan, bahkan terjadwal piketnya. Ini kami lakukan, sebab kami tidak memiliki penjaga sekolah yang biasanya melakukan kegiatan-kegiatan ini.

Menurut kami, kebiasaan ini membawa dampak yang luar biasa, memberikan pendidikan bagi siswa-siswa kami. Bekerja sama dengan teman-temannya dalam membagi tugas. Sebuah rutinitas yang mengajari mereka untuk peduli dengan lingkungannya. Bukankah belajar tidak hanya di kelas, menghafal dan mengerjakan rumus matematika saja, tetapi inilah sebuah pelajaran yang terbentuk dari sebuah keterbatasan.

Kebiasaan anak-anak untuk masuk sekolah tepat waktu. Sudah terbiasa, ketika jam sudah menunjukan pukul 07.00. Mereka duduk manis dibangkunya masing-masing. Berdoa dipimpin oleh ketua kelas, biasanya sembari menunggu guru datang mereka membaca buku-buku pelajaran. Tetapi ada juga yang bercanda-canda kecil dengan temannya.

Sekolah kami juga memiliki kebiasaan yang mungkin dimiliki oleh sekolah-sekolah yang lain, ada kegiatan semacam Jumat Sehat. Kegiatan yang dilakukan mulai dari pemeriksaan kuku, rambut. Sampai pada acara sikat gigi bersama-sama. Kegiatan ini membiasakan siswa untuk peduli dengan kesehatan mereka.

Ini merupakan sebuah kegiatan kecil yang membangkitkan kami untuk selalu belajar disiplin dari murid-murid kami, belajar tepat waktu dari mereka. Belajar untuk peduli dengan lingkungan, peduli dengan diri sendiri. Sebuah inspirasi untuk kami selalu berusaha menjadi lebih baik.

Kami selalu berusaha untuk memperbaiki diri, meski ada beberapa dari kami untuk menempuh jarak lebih dari lima kilometer dengan jalan berbatuan, jika hujan tiba akan berubah menjadi jalan bubur kapur. Cerita yang lainnya adalah harus berpisah dengan keluarga, dan hanya bisa berjumpa di hari libur saja dengan mereka. Semua yang kulakukan di sini hanya untuk menjadi guru yang profesional. Ini sebenarnya hal terberat yang harus kami korbankan, berpisah dengan keluarga, orang-orang terkasih, untuk berada di sini sendiri, menanti pagi bersama murid-murid, tetapi saya yakin dengan apa yang saya lakukan, sekolah kecil ini akan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Komentar

komentar