LENTERA ISLAM untuk Suku Akit (Animisme)

IMG-20170505-WA0002

Pancasila adalah sebagai lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia, dalam panca ke satu sudah jelas bahwa Ketuhanan yang Maha Esa. Dan Indonesia sudah mengatur bahwa setiap warganya berhak beragama dan ada 5 agama yang diakui oleh Negara. Namun bagaimana jadinya jika masih ada diantara kita yang masih menganut animisme? atau tidak berketuhanan? Mungkin diantara kita masih tidak percaya bahwa Suku Animisme ada di Indonesia. Tapi nyatanya memang ada.

Suku Akit namanya. Konon suku ini adalah suku asli daerah Riau yang menempati daerah pedalaman hutan sagu. Mereka memang tidak meyakini adanya Tuhan, tetapi setiap perayaan hari besar setiap agama mereka ikut merayakan. Hari Raya Nyepi, Idul Fitri, Natal, dan perayaan lainnnya tetapi tidak meyakini satu agamapun. Mereka “dibodohi” petugas pencatatan sipil saat pendataan warga utk data KTP (Kartu Tanda Penduduk). Mereka dipaksa menuliskan identitasnya sebagai Agama Budha. Turun temurun dan akhirnya saat ini mereka menganggap bahwa agama mereka adalah Budha, tapi mereka tidak paham bagaimana ajaran agama tsb.

Kurang lebih saat ini sudah berjalan sekitar satu setengah tahun kami melaksanakan program pendidikan untuk merintis sebuah sekolah dasar di daerah tersebut. Suka Duka pun dialami, mulai dari kurangnya akses informasi karena tidak tersedia sinyal HP, akses perjalanan yang hanya mengandalkan transportasi air, serta situasi di daerah seperti sumber air bersih, bahan pokok, listrik belum masuk dll. Tanahnya dari gambut, membuat sumber air tanahnya berwarna coklat. Iya coklat, seperti warna air teh pekat. Dapat dibayangkan bagaimana kehidupan disana.

Dalam program yang kami lakukan adalah menempatkan kader yang siap mengabdi di daerah tersebut. Tugasnya adalah memberikan akses Pendidikan kepada masyarakat Suku Akit, karena mereka tidak sekolah. Seiring berjalannya program banyak juga pihak lain yang turut membantu, ada yang mendirikan lokal kelas, karena awalnya masih menumpang di balai pertemuan (itupun sangat kotor) ada juga yang memberikan bantuan berupa masjid karena diawal tahun kedua program, mereka mulai minat untuk belajar Islam.

Akhirnya masyarakat sangat antusias untuk belajar Islam. Setiap sore kami berkumpul di sekolah untuk belajar Ilmu umum, serta keterampilan-keterampilan lainnya. Setiap sore kami berkumpul di Masjid untuk belajar Sholat dan belajar Islam. Sungguh tidak ada paksaan, mereka sangat antusias mengikuti itu semua.

IMG-20170505-WA0001

Sekitar enam bulan lalu, saya berkunjung ke lokasi tsb untuk melakukan monitoring program sekolah dan memastikan pendamping melakukan tugasnya. Saat itu saya merasa tersentuh, ketika ada dua orang anak yang datang menghampiri saya dan menanyakan “Bapak boleh tidak kami masuk Islam?” sungguh suasana hati yang sangat jarang saya rasakan. Tapi saat itu kedua orang tua mereka masih melarang, mereka takut diakui lagi sebagai Suku Akit. Yah… Memang dalam agama tidak ada suatu paksaan. Akhirnya setelah enam bulan berlalu, saya merasa terharu ternyata sudah ada sembilan anak yang bersungguh sungguh untuk masuk Islam sebagai mualaf. Alhamdulillah… Tiada hentinya saya mengucapkan syukur. Dan saya berdo’a semoga sembilan anak ini dapat menjadi *LENTERA ISLAM untuk Suku Akit* yang lainnya. Indahnya Islam yang mereka rasakan, Nikmatnya menjalankan syariat islam yang membuat mereka memilih Islam sebagai pedoman.

Dalam kesempatan ini saya juga mengucapkan terimakasih kepada semua donatur / amil zakat DompetDhuafa / para pengelola serta pelaksana program di lapangan. Semoga Allah yang akan membalas semua amal baik.

@ShirliGumilang
Pengelola Program Sekolah Literasi Indonesia

 

Komentar

komentar