Langit Jingga Ramadan

Oleh: Andri Yulian

Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa
Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan 2016-2017

Hari masih gelap, suara lolongan anjing terdengar bersahutan memecah suasana desa yang hening dan dingin. Tak berselang lama, terdengar suara dari surau di seberang rumah mengajak warga untuk mempersiapkan menu makan sahur.

Aku bergegas untuk bangun dan berusaha mencari senter yang telah dipersiapkan sebelum tidur. Bukan perkara takut, tapi memang di penempatanku listrik belum masuk. Untuk penerangan sehari-hari, kami biasa menggunakan PLTD yang hanya menyala dari pukul 18.00-24.00 WIB dan menyala kembali pukul 03.00 WIB saat bulan ramadan. Akan tetapi, entah hari ini tidak menyala, mungkin penjaga PLTD masih terlelap nyaman di balik selimutnya. Dengan masih meraba-raba mencari senter, aku sedikit kesal, mana bukti janji-janji kampanye pemerintah, di saat seperti ini masih ada saja desa yang belum teraliri listrik.

Namaku Andri, aku dan seorang temanku saat ini menjadi Konsultan Relawan (KAWAN) Sekolah Literasi Indonesia (SLI) utntuk peningkatan performa sekolah dari Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Di sini lah kami ditempatkan, sebuah desa yang terletak di pedalaman Sumatera Selatan dan telah 36 tahun berdiri tetapi belum merasakan kesejahteraan listrik.

Ramadan tahun ini terasa berbeda sekali bagiku. Betapa tidak, biasanya hari-hari Ramadan aku lalui bersama keluarga di rumah, tetapi tahun ini dilalui bersama keluarga baru di penempatan. Sungguh, suatu hal yang tidak terpikir sebelumnya. Setelah berhasil mendapatkan senter kubangunkan rekan satu penempatanku untuk mempersiapkan makan sahur. Tiba-tiba suara lelaki tua terdengar kembali dari surau seberang rumah. Rasanya aku seperti kenal dengan suara tersebut. Ternyata beliau adalah Pak Sucipto, atau lebih akrab aku panggil Mbah Cipto.

Seusai makan sahur kami bersiap untuk melaksanakan salat subuh berjamaah di surau. Selang beberapa menit, suara Mbah Cipto terdengar kembali. Akan tetapi, kali ini bukan untuk membangunkan orang sahur melainkan mengumandangkan Azan Subuh. Sayup-sayup suaranya terdengar merdu, mengalun memecah keheningan fajar. Ada rasa damai di dalam hati saat mendengar Azan Subuh Mbah Cipto.

Sucipto atau yang lebih dikenal dengan Mbah Cipto merupakan salah satu tokoh masyarakat di daerah penempatanku. Mbah Cipto merupakan satu dari beberapa orang pertama yang datang ke desa ini 36 tahun lalu, saat desa ini pertama kali dibangun. Beliau sudah tidak muda lagi, terlihat jelas dari wajah dan perawakannya, rambutnya yang telah berubah warna menjadi putih seakan menunjukan bahwa telah banyak hal yang beliau lalui. Akan tetapi, meski demikian kami yang masih muda sering dibuat malu oleh semangat beliau dalam beribadah.

Usia senja bukanlah menjai alasan untuk Mbah Cipto bersantai-santai. Langkahnya yang sudah tidak sigap lagi seakan-akan tidak membuatnya berlambat-lambat datang ke surau. Jauh sebelum Azan Subuh beliau sudah berada di masjid, melakukan salat tahajud dilanjutkan dengan tilawah Al-Quran ditemani senternya.

Tidak hanya saat waktu subuh beliau bersemangat ibadah, melainkan diwaktu-waktu lainnya. Terlebih di bulan Ramadani, sering terlihat beliau lebih banyak menghabiskan waktunya di surau. Entah untuk mengaji atau membaca kitab Riyadhus Shalihin.

Setiap sore usai melaksanakan Salat Asar, tidak jarang kami melihat beliau berjalan-jalan santai dengan baju gamis lengkap dengan peci dan sorban yang melingkar di leher. Beliau bersilaturahim ke beberapa rumah warga untuk mengajak mereka salat berjamaah di masjid. Barulah menjelang Magrib beliau menuju surau.

Sore ini kami dikejutkan oleh beliau saat tengah asyik menyiapkan hidangan berbuka. Seperti biasa, beliau mengajak kami berbincang tentang makna kehidupan. “Jangan sekali-kali meninggalkan Allah karena di dunia ini kita dipandang hebat karena pertolongan Allah dalam setiap aktivitas kita. Kita tanpa Allah bukanah siapa-siapa. Jagalah Allah, maka Allah akan mejaga kita. Selagi masih muda manfaatkan waktu kita untuk beribadah kepada Allah. Terlebih di bulan Ramadan ini, banyak orang-orang yang telah meninggal meminta kepada Allah untuk diberikan kesempatan beribadah di malam-malam bulan Ramadan. Manfaatkanlah waktu, karena mati tidak rmengenal usia,” kata Mbah Cipto memotivasi kami para generasi muda.

Beliau menutup perbicangan sore itu dengan sendu. Tiba-tiba ada yang berdesir dalam relung hati. Mataku mengembun dan berkata dalam hati, “Ya Allah, bagaimana dengan Ramadanku kali ini? Sudahkan aku maksimalkan? Atau masih saja aku terlena dengan kefanaan dunia? Allah maafkan hamba”.

Langit jingga sore ini begitu menawan, bayangan Mbah Cipto semakin menghilang.Terima kasih Ya Allah untuk Ramadan kali ini, meski jauh dari keluarga tapi Engkau pertemukanku dengan mereka para perindu syurga.

***

Mari bergabung dan bergandengan tangan bersama Dompet Dhuafa Pendidikan untuk menyalakan pelita harapan anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomi melalui program-program pendidikan berkualitas. Salurkan zakat, infak, dan sedekahmu melalui nomor rekening: 2881 2881 26 BNI Syariah a.n. Yayasan Dompet Dhuafa Republika

 

Komentar

komentar