Langit Jingga Ramadan di Muratara

Langit Jingga Ramadan di Muratara

Oleh: Andri Yulian

Hari masih gelap, suara lolongan anjing terdengar bersahutan memecah  suasana desa yang hening dan dingin. Tak berselang  lama, terdengar suara dari surau di seberang rumah mengajak warga untuk mempersiapkan  menu untuk makan sahur.

Aku bergegas untuk bangun dan berusaha mencari senter yang memang sengaja telahku persiapkan  sebelum menjelang tidur. Bukan perkara takut, tapi memang di penempatanku listrik belum masuk, dan untuk penerangan sehari-hari kami biasa menggunakan PLTD yang  hanya menyala dari pukul 18.00 hingga pukul 24.00 WIB dan menyala  kembali pukul 03.00 WIB saat bulan ramadhan, tapi entah hari ini kenapa tidak menyala, mungkin penjaga PLTD masih terlelap nyaman di balik selimutnya . Dengan masih meraba-raba, mencari senter  aku sedikit kesal, mana bukti  janji-janji kampanye pemerintah, disaat seperti ini masih ada saja desa yang belum  teraliri listrik.

Namaku Andri, aku dan seorang temanku saat ini menjadi Konsultan Relawan (KAWAN) utntuk peningkatan performa sekolah dari Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Dan di sini lah kami ditempatkan, sebuah desa yang telah 36 Tahun berdiri tapi belum merasakan kesejahteraan listrik dan terletak di pedalaman Sumatera Selatan.

Ramadan tahun ini terasa berbeda sekali bagiku, betapa tidak yang biasanya hari-hari Ramadan aku lalui bersama keluarga di rumah, tetapi tahun ini aku lalui bersma keluarga baru di penempatan. Sungguh suatu hal yang tidak terpikir sebelumnya. Setelah berhasil mendapatkan senter kubangunkan rekan satu penempatanku untuk mempersiapkan makan sahur. Suara lelaki tua terdengar kembali dari surau seberang rumah, ya aku kenal dengan suara itu, sangat kenal beliau adalah Pak Sucipto, atau lebih akrab aku panggil Mbah Cip.

Seusai makan sahur kami bersiap untuk melaksnakan Salat Subuh berjamaah di surau. Selang beberapa menit suara Mbah Cip terdengar kembali, tapi kali ini bukan untuk membangunkan orang sahur tapi mengumandangkan Azan Subuh. Sayup-sayup suaranya terdengar merdu, mengalun memecah keheningan fajar. Ada rasa damai di dalam hati saat mendengar Azan Subuh.

Ditemani dengan temaram senter dan kabut yang membeku kami berjalan menuju surau.

Mbah Sucipto, atau lebih akrab kami memanggilnya Mbah Cip, beliau adalah salah satu tokoh masyarakat di daerah penempatanku. Mbah Cip merupakan satu dari beberapa orang pertama yang datang ke desa ini 36 tahun yang lalu, saat desa ini pertama kali dibangun. Beliau sudah tidak muda lagi, terlihat jelas dari wajah dan perawakannya, rambutnya yang telah berubah warna menjadi putih seakan menunjukan bahwa telah banyak hal yang beliau lalui. Namun meski demikian kami yang masih muda ini sering dibuat malu oleh semangat beliau dalam beribadah.

Usia senja bukanlah menjai alasan untuk Mbah Cip bersantai-santai. Langkahnya yang sudah tidak sigap lagi tidak membuatnya untuk berlambat-lambat datang ke surau. Jauh sebelum Azan Subuh beliau sudah berada di masjid, melakukan Salat Tahajud dan dilanjutkan dengan tilawah Al-Quran ditemani  senter kesayangannya.

Tidak hanya waktu subuh, tapi beliau tetap menjadi orang pertama di salat-salat wajib lainnya. Terlebih di Bulan Ramadan ini, Sering terlihat beliau lebih banyak menghabiskan waktunya di surau, entah untuk mengaji atau membaca kitab Riyadhus Shalihin.

Setiap sore usai Salat Asar, tak jarang kami melihat beliau berjalan-jalan santai di jalan desa dengan baju gamis lengkap dengan peci dan sorban yang melingkar di leher beliau bersilaturhami ke beberapa rumah warga untuk mengajak mereka berjamaah di masjid, baru setelah menjelang Magrib beliau menuju surau.

Sore ini kami dikejutkan beliau, saat tengah asyik menyiapkan hidangan berbuka. Seperti biasa beliau mengajak kami berbincang tentang makna kehidupan. Pesan utama beliau kepada kami yang masih muda adalah, jangan sekali-kali meninggalkan Allah, karena di dunia ini kita dipandang hebat karena Allah selalu menolong setiap aktivitas kita. Kita tanpa Allah bukanah siapa-siapa. Jagalah Allah, maka Allah akan mejaga kita. Selagi masih muda manfaatkan waktu kita untuk beribadah kepada Allah. Terlebih di bulan Ramadan ini, banyak orang-orang yang telah meninggal meminta kepada Allah untuk diberikan kesempatan beribadah di malam-malam bulan Ramadan. Manfaatkanlah waktu, karena mati tidak mengenal usia.

Beliau menutup perbicangan sore ini dengan baik. Tiba-tiba ada yang berdesir di relung hati mataku mengembun, Ya Allah bagaimana dengan Ramadanku kali ini? Sudahkan aku maksimalkan? Atau masih saja aku terlena dengan kefanaan dunia? Allah maafkan hamba.

Langit jingga sore ini begitu menawan, bayangan Mbah Cip semakin menghilang, Allah terimkasih untuk Ramadhan kali ini, meski jauh dari keluarga, tapi Engkau pertemukan dengan mereka para perindu syurga.

Allah terima kasih untuk langit jingga sore ini. Begitu menawan.

***

Mari bergabung dan bergandengan tangan bersama Dompet Dhuafa Pendidikan untuk menyalakan pelita harapan anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomi melalui program-program pendidikan berkualitas. Salurkan zakat, infak, dan sedekahmu melalui nomor rekening: 2881 2881 26 BNI Syariah a.n. Yayasan Dompet Dhuafa Republika.

Komentar

komentar