Kurangkai Alat Peraga untuk Siswa Cerdasku

Oleh : Almuna, Guru SDN 004 Ceruk

Sebagai guru, saya merasa sangat bangga dengan pelatihan yang diselenggarakan oleh DOMPET DHUAFA PENDIDIKAN. Pelatihan yang banyak membantu saya dalam proses belajar-mengajar di kelas. Awalnya saya tidak begitu mengerti cara mengoptimalkan alat peraga, umumnya alat peraga yang ada saya simpan di gudang begitu juga yang saya lakukan pada hasil karya anak. Dengan bantuan Ibu Hani Karno akhirnya saya bisa kembali memanfaatkan alat peraga tersebut untuk difungsikan sebagai pajangan yang edukatif. Alat peraga yang saya dan anak-anak buat umumnya tidak hanya berfungsi untuk membantu anak memahami sebuah materi akan tetapi dengan perencanaan matang alat peraga juga bisa di display dengan cantik di kelas, sehingga kelas lebih menarik dan memberi semangat dalam proses belajar – mengajar tidak saja bagi siswa akan tetapi juga bagi guru yang bersangkutan, dalam hal ini saya sendiri.

Saya sangat berterima kasih sekali kepada Ibu Hani Karno yang selama kurang lebih satu tahun membimbing, membina, memberi petunjuk agar seorang guru itu harus banyak berbuat, tidak boleh menunggu terus. Ternyata benar, mengajar dengan menggunakan alat peraga itu sangat menyenangkan dan mengasyikan, contohnya pelajaran Bahasa Indonesia tentang “percakapan” saya sebagai guru memfasilitasi anak dengan Handphone. Dua orang siswa maju ke depan kelas dengan memegang Handphone tersebut, satu siswa satu Handphone, hasilnya siswa yang masih duduk ingin cepat maju di depan kelas agar dapat melakukan percakapan dengan gawai tersebut atau di lain waktu saya sengaja melakukan pengamatan bersama dengan anak-anak untuk memahami peribahasa “Bagai Air di Daun Talas “, saya mengajak anak-anak untuk bisa memahami mengapa peribahasa itu muncul. Kala itu saya menugaskan anak-anak untuk membawa daun Talas-Keladi ke sekolah dan melakukan pengamatan dengan menaruh air diatas daun tersebut, hasilnya mereka lebih paham mengapa orang yang tidak memiliki pendirian teguh sering dikaitkan denga air diatas daun talas. Jadi saya merasakan bagaimana semangat siswa dalam belajar apabila guru bisa lebih kreatif dalam kegiatan belajar mengajar, salah satunya dengan menggunakan alat peraga. Siswa menjadi lebih cepat ingat dibandingkan dengan menggunakan catatan di buku tulis.

Sekali lagi ucapan terima kasih saya kepada Ibu Hani yang telah begitu susah payah mengadakan pelatihan untuk guru-guru SD yang menjadi binaan beliau. Dalam pelatihan ini juga banyak sekali ilmu yang kami dapat untuk kemudian kami amalkan. Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa telah banyak membantu SDN 004 Ceruk. Contohnya, SDN 004 Ceruk tidak hanya mendapatkan ilmu dari trainer-trainer DOMPET DHUAFA PENDIDIKAN tetapi kami juga difasilitasi dengan aneka ATK untuk membuat alat peraga dan display kelas. Hal ini jelas lebih mempermudah guru-guru untuk membuat suatu alat peraga di dalam kelas sehingga siswapun dapat mengikuti KBM dengan senang hati.

Alat peraga yang digunakan untuk proses belajar mengajar harus sesuai dengan tujuan pembelajaran dan diselaraskan dengan metode yang akan dipakai sehingga dengan Guru yang kreatif siswa jadi cerdas.

Hanya itu saja yang dapat saya sampaikan, mohon maaf jika ada salah kata yang kurang berkenan seperti kata pepatah “Pilihlah beras buanglah antahnya- Perahlah santan ambillah Patinya “

Komentar

komentar