Konferensi SLI, Konferensi Peradaban

Oleh: Mutia Khairani

 

Berbicara mengenai konferensi, hal yang pertama kali muncul di benak saya adalah Konferensi Meja Bundar. Ketika Konsultan Relawan (KAWAN) Sekolah Literasi Indonesia (SLI) yang ditugaskan oleh Dompet Dhuafa Pendidikan menginformasikan tentang Konferensi Nasional Sekolah Literasi Indonesia (KN-SLI). Bayangan di awal berupa pertemuan yang membicarakan sekelumit persoalan kompleks yang kemudian digojlok oleh masing-masing utusan guna dicari solusi terbaik. Ternyata ada begitu banyak manfaat yang saya terima. Mulai dari perkenalan dengan rekan seprofesi dari 36 sekolah yang masing-masing berasal dari wilayah yang berbeda; ilmu dari pengalaman rekan-rekan tersebut; serta ilmu yang dibagikan oleh para tutor dan tim pengelola. Semua itu merupakan nikmat Allah yang tidak terduga buat saya.

Program SLI sampai di MI AL-IHSAN, Mabar, Medan, bermula dari informasi yang saya terima melalui fasilitator School of Master Teacher (SMT) kepada saya. Saat itu statusnya saya telah menjadi alumni SMT, SGI angkatan-17. Bahagia sekali ketika tim survey untuk wilayah Medan (mba Yulia dan mba Dini) datang ke sekolah saya. Apalagi ketika mba Yulia juga menawarkan bantuan rehab ketika melihat pintu kamar mandi sekolah yang masih rusak meski telah diperbaiki berulang kali. Namun kebahagiaan tadi tidaklah sebanding dengan kebahagiaan saya ketika mba yulia mengabarkan bahwa sekolah saya lulus dan layak mengikuti program SLI tahun 2017. Bagai angin segar di tengah badai yang menerpa sekolah kami.

Begitu banyak persoalan yang saya hadapi selama mengemban amanah dari ibu saya, selaku pembina Yayasan Perguruan Al-Ihsan. Cukup sering saya merasa menyerah karena saya menyadari bahwa semua persoalan yang muncul mungkin disebabkan diri saya selaku kepala madrasah yang masih jauh dari kata ‘mumpuni’. Mulai dari persoalan rendahnya disiplin guru dan murid, rendahnya semangat belajar murid, rendahnya komitmen guru dalam bertugas yang pada akhirnya menimbulkan penurunan jumlah murid yang cukup drastis. Malu dan sedih rasanya melihat keadaan ini. Malu karena saya sendiri yang notabene merupakan anak pemilik yayasan tidak mampu memajukan sekolahnya sendiri. Sedih karena belum mampu mengaplikasikan ilmu yang saya miliki di sekolah saya sendiri. Namun saya juga menyadari bahwa persoalan tidak akan terpecahkan jika yang ada hanya rasa malu dan sedih. Lulusnya sekolah untuk mengikuti program SLI memberikan saya semangat baru. Semangat menuju perbaikan, insya Allah.

Kedatangan 2 orang konsultan relawan (mba Febri Reviani dan mba Yuni Marsela) membawa perubahan yang cukup besar bagi performa sekolah. Runtutan program yang mereka canangkan cukup membuat warga sekolah terbangun. Dimulai dari studium general SLI di aula kankemenag Medan, dilanjutkan dengan School Strategic Discussion (SSD) dengan metode MPC4SP 2.0, pembuatan MOu oleh seluruh civitas MI AL-IHSAN, program Sabtu Bersih, program 1 Anak 1 Pohon, program optimalisasi peran komite lewat parenting training, optimalisasi fungsi perpustakaan, pelatihan pembuatan RPP, supervisi performa guru merupakan sederet program yang telah berjalan sejak awal tahun 2017. Dilanjutkan pula dengan program KN-SLI bagi saya, kepala madrasah.

Selama mengikuti KN-SLI, alhamdulillah pemahaman saya mengenai metode MPC4SP semakin bertambah. Ternyata semua persoalan yang muncul di sekolah saya berujung pada satu titik, yaitu ‘keteladanan’. Dari penjelasan Dr. Zaim Uchrowi pada saat studium general di hari pertama menyadarkan saya bahwa kehadiran saya sebagai kepala madrasah serta para guru harus mampu memberikan keteladanan. Keteladanan merupakan poin utama pendidikan. Melalui penjelasan Pak Zaid Sayfullah mengenai metode MPC4SP 2.0 yang kemudian direvisi menjadi Metode Uswah semakin menguatkan keutamaan prinsip keteladanan di sekolah. Kunjungan ke divisi Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa membuat saya terkagum karena begitu hidup suasana yang tercipta disana. Kekayaan sumber belajar yang ditawarkan oleh divisi Makmal pasti menumbuhkan semangat yang membara bagi para pengunjungnya, termasuk saya. Harapan yang timbul setelah program KN-SLI ini insya Allah ingin saya implementasikan sekembalinya saya ke sekolah. Saya akan berusaha sedaya upaya untuk mengaplikasikan semangat dan ilmu yang telah KN-SLI tukarkan dengan dukungan semangat dan ilmu dari para konsultan relawan yang ada. Semoga MI AL-IHSAN mampu berubah menjadi lebih baik. Semoga MI AL-IHSAN mampu menjadi madrasah model bagi sekolah disekitarnya. Semoga akhirnya, perbaikan yang tercipta mampu memperbaiki peradaban yang ada. Aamiiin

Komentar

komentar