Kita Semua Penerus Hamka, Kita Tak Boleh Menyerah

Secara nasional, mutu pendidikan kita saat ini memang harus diakui masih di bawah beberapa negara jiran, seperti Singapura dan Malaysia. Ketertinggalan tersebut sudah cukup lama dirasakan di daerah-daerah, seperti di Sumatera Barat, tempat murid-murid dari negeri jiran justru menimba ilmu pada masa lampau. Kini semuanya terbalik.

Kondisi yang ada itu diperparah dengan terjadinya bencana alam. Gempa bumi Sumatera Barat, khususnya di Padang Pariaman, pada 30 September 2009, amat mengganggu jalannya proses pendidikan. Kami bersyukur, masih ada pihak-pihak yang membantu dunia pendidikan di daerah penerus Buya Hamka. Sekolah kami, SDN 09 Ulakan Tapakis, termasuk di antara sekolah yang mendapatkan bantuan dan pendampingan dari Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa.

Setelah bangunan sekolah direnovasi, kami juga mendapatkan Pendamping Sekolah, yakni Saudari Andika Rozalina. Tugas Pendamping Sekolah adalah membantu kami agar mutu pendidikan di sekolah bisa membaik. Masih pada tahun yang sama, kami mendapatkan pelatihan Sekolah Cerdas Literasi, dan Paradigma Pendidikan.

Melalui kegiatan pendampingan, banyak berkah dan manfaat bagi diri saya, yang ketika itu baru saja ditempatkan di sana. Pendampingan dan pelatihan-pelatihan yang diberikan kepada majelis guru membuat perubahan terhadap pendidikan di sekolah kami. Sejujurnya, sekolah kami selama ini kurang mendapat perhatian dan terkesan agak diabaikan oleh pengampu kebijakan. Semenjak kedatangan Makmal Pendidikan, kami serasa diperhatikan. Pelatihan rutin diberikan kepada para guru setiap tiga bulan sekali.

Mulai tahun ajaran baru, saya melihat ada titik terang bagi para siswa dan guru yang akan mengharumkan nama sekolah. Titik terang itu dimulai setelah siswa kelas 6 menempuh Ujian Nasional yang berhasil dengan nilai cukup memuaskan dan mendapat peringkat pertama di kecamatan. Tiga di antara siswa itu juga berhasil mewakili Kabupaten Padang Pariaman untuk sekolah di Bogor, yaitu SMART Ekselensia Indonesia, sekolah di bawah jejaring Dompet Dhuafa Pendidikan. Setahun berikutnya, seorang siswa juga bersekolah di tempat yang sama.

Keberhasilan siswa itu juga diikuti oleh para guru yang mengamalkan semua materi yang diberikan setelah pelatihan. Rekan kami, Ibu Wiwik Krismita Dewi, meraih juara dongeng, sedangkan Ibu Fatmawati berhasil menjadi juara menulis, masing-masing tingkat kecamatan.

Semua prestasi itu saya anggap sebagai karunia dari Allah yang dikirimkan melalui Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Saya merasa bahwa selama pendampingan berjalan terlihat sekali sekolah kami selalu mendapat sanjungan dari sekolah yang ada di kecamatan, terutama dalam Kegiatan Kerja Guru (KKG). Kepercayaan yang selalu diberikan oleh rekan-rekan kami di kecamatan memang tidak disia-siakan oleh para penerus jejak dari Buya Hamka.

Saya mengatakan penerus Buya Hamka karena berkat pendampingan dari Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa ini, empat orang yang sekolah di Bogor itu akan membawa para siswa yang ada di Ulakan untuk mengikuti jejak dari tokoh pejuang Sumatera Barat. Insya Allah SDN 09 Ulakan Tapakis akan mencetak tokoh-tokoh pendidik dan membangkitkan penerus-penerus Buya Hamka.

Aswil Indra
Kepala Sekolah Sekolah Cerdas Literasi SDN 09 Ulakan Tapakis, Padang Pariaman, Sumatera Barat

Komentar

komentar