Kesan Bersama Tiga Pendamping

Tiga tahun mendapat pendampingan dari Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa, sebanyak tiga kali pula saya mendapatkan Pendamping Sekolah.

Awal program berjalan pak Ahmad Mulyono mendampingi sekolah kami. Umurnya sangat muda dan masih jejaka pula, tapi ilmu dan pengetahuannya cukup mumpuni. Dari dialah saya lebih tahu banyak tentang Dompet Dhuafa. Pak Ahmad juga yang pertama kali mengawal guru-guru untuk aktif mengikuti pelatihan setiap tiga bulan seiring perbaikan fisik sekolah atas dukungan Trakindo.

Satu tahun masa berbakti, Pak Ahmad tidak mem-perpanjang kontraknya sebagai pendamping. Konon, katanya, lebih tepat bila yang menjadi Pendamping Sekolah kami sosok perempuan mengingat mayoritas guru SDN 01 Padang Panjang, Tabalong (Kalimantan Selatan) juga perempuan. Penggantinya memang pe-rempuan, bernama Ibu Mahfudah.

Serah terima pun terjadi pada tahun kedua pendampingan. Dengan berat hati dan diiringi isak tangis guru, kami melepas kepergian Pak Ahmad Mulyono. Kami percaya, Ibu Mahfudah pun tidak kalah kualitasnya dengan beliau.

Pada saat bulan dan tahun kedua pendampingan, Ibu Mahfudah menyampaikan kabar penting kepada guru. Bakal ada dua orang guru yang terpilih mewakili sekolah untuk diberi pelatihan dan studi banding ke Jakarta selama lima hari. Saat hari pengumuman, saya terkejut dan tidak menduga. Bersama Ibu Lasmiani, saya terpilih sebagai guru yang akan diberangkatkan ke Jakarta.

Sejujurnya saya masih merasa banyak kekurangan dalam soal pendidikan, ter-lebih lagi usia saya kian tua. Penghargaan Satyalancana Karyasatya untuk dedikasi saya selama 20 tahun mengajar, juga bukan sesuatu yang patut saya sombongkan. Tepat pada 1 Oktober 2012 saya dan Ibu Lasmiani berangkat ke Jakarta

Banyak ilmu yang kami dapat selama berada di Ibu Kota. Saya dan Ibu Lasmiani diminta oleh Kepala UPT Dinas Pendidikan Tanjung agar bisa berbagi pengalaman dengan teman-teman guru dari berbagai sekolah.

Masa bakti ibu Mahfudah tanpa terasa berakhir. Penggantinya seorang lelaki terampil, bijak, ulet, dan sudah berkeluarga. Namanya Ainur Rahman, atau akrab dipanggil Haris.

Bersama beliau, nyaris setiap hari saya berkonsultasi. Menariknya, tidak hanya satu arah. Ilmu beliau saya minta; begitu pula sebaliknya, dari saya beliau minta. Kami berdua bergaul akrab. Di tahun akhir program pendampingan ini saya terus menggiatkan diri menggali ilmu.

Dari ketiga pendamping tersebut, banyak ilmu yang saya terima. Tidak sedikit juga ilmu yang saya peroleh dari para trainer yamg didatangkan ke sekolah kami. Sebagai guru saya akhirnya memiliki pemahaman baru. Guru tidak cukup sekadar datang pagi pulang siang untuk memberi pelajaran yang biasa-biasa saja kepada para siswa. Yang lebih penting lagi adalah bagaimana setiap harinya guru mampu menjadikan pelajaran secara mengesankan dan menginspirasi siswa. Dengan demikian, siswa akan terus bersemangat dalam menggapai prestasi di masa depan. Bagaimanapun juga setiap siswa berhak untuk berprestasi, dan setiap siswa juga memiliki peluang untuk berprestasi.

Banyak sekali materi pelatihan yang sudah didapat dari program pendam-pingan. Untuk bisa menerapkannya dengan baik memang tidak mudah.

Tapi selama ada usaha dari para guru, dibarengi dengan semangat mendidik yang tulus, insya Allah tidak ada kendala untuk sukses menjadi guru hebat, guru yang akan dikenang sepanjang masa.

 

Hudari

Guru Sekolah Cerdas Literasi dan Kepala Sementara SDN 01 Padang Panjang, Tabalong (Kalimantan Selatan)

 

Komentar

komentar