Kendala Guru Baru

Saya mengawali profesi sebagai guru pada awal 2014, tepatnya akhir Januari.

Sebelum memutuskan untuk mengabdi di SDN Inpres 44 Klamalu, Sorong (Papua Barat) sebagai guru bantu, saya pernah menjadi tenaga pendidik di salah satu sekolah dasar yang ada di pedalaman Kabupaten Sorong. Kurang lebih tiga bulan lamanya dengan sta-tus saya saat itu mahasiswa PPL.

Di sekolah tempat mengabdi kini, saya merasakan perbedaan yang cukup banyak. Mulai dari sarana dan prasarana, lingkungan, masyarakat, dan juga peserta didiknya.

Di awal bertugas, saya dipercaya untuk memegang kelas 5B oleh Kepala Sekolah. Saya menikmati tugas tersebut meski sesekali ada satu-dua anak yang membuat saya kesal dan ‘mengharuskan’ main tangan.

Walau begitu, saya hanya berniat membuat efek jera untuk mereka yang bisa dikatakan ‘nakal’.

Pada tahun ajaran 2014/2015 ini saya memegang kelas 4B. Kebetulan guru kelas 4A sedang berada di luar kota sehingga kedua kelas ini digabung. Jadilah saya yang mengajar kedua kelas gabungan tersebut. Pada saat itulah saya merasakan kesulitan dalam mencapai tujuan pembelajaran setiap harinya. Ditambah lagi tuntutan Kurikulum 2013 agar setiap siswa harus tuntas dalam setiap pembelajaran setiap harinya. Maka, selalu terpikirlah di benak saya pertanyaan tentang cara menuntaskan pembelajaran dalam satu hari dengan jumlah siswa yang sebanyak itu.

Belum selesai soal pembelajaran, ada lagi masalah lain. Yang saya hadapi se-hari-hari di kelas kebanyakan siswa yang terbiasa berperilaku tidak sopan. Selain itu, mereka juga sering absen di kelas.

Meski menghadapi kendala-kendala tersebut, saya harus jujur menilai. Saya salut, anak-anak didik saya itu kompak dan bertanggung jawab. Pada akhirnya sa-dar, menjadi guru bukan tanpa tantangan, tetapi dari tantangan itulah saya belajar untuk menjadi guru yang lebih baik.

 

Ali Mahrusi

Guru Sekolah Cerdas Literasi SD Inpres 44 Klamalu, Sorong (Papua Barat)

Komentar

komentar