Kelas Keaksaraan; Secercah Harapan di Tanah Perbatasan

Kelas keaksaraan bagi orangtua di Sungai Batang Sebatik sudah berjalan sejak Maret lalu. Berarti sudah sekitar lima bulan kegiatan belajar mengajar berjalan, dan Alhamdulillah semangat para murid masih bertahan. Kelas keaksaraan orangtua ini merupakan program inisiasi Konsultan Relawan (KAWAN) Sekolah Literasi Indonesia (SLI) Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa beserta pemerintah setempat dalam rangka menghapuskan buta huruf dan melek literasi. Melalui musyawarah bersama akhirnya disepakati jika kelas akan diadakan setiap Rabu mulai pukul 14.00 hingga 16.00 waktu setempat. Jumlah murid kelas ini ada sekitar tiga puluh siswa yang diampu oleh tiga tutor atau guru yaitu Deta (KAWAN SLI), Ibu Asifa, dan Ibu Anti (Guru MI As ‘Adiyah Filial).

Murid-murid kelas keaksaraan sedang menulis.

Murid-murid kelas keaksaraan sedang menulis.

Bulan demi bulan telah dijalani murid dan juga guru keaksaraan hingga tidak terasa lima purnama telah berlalu. Meskipun berjalan sudah cukup lama, namun semangat para siswa tetap prima padahal mereka rata-rata telah berusia lima puluh hingga enam puluh tahun. Semangat mereka menuju sekolah bukan tanpa hambatan, setiap hrinua mereka harus melewati bukit, kebun sawit dan panas terik; bahkan ada yang tinggal di pantai dan membutuhkan lebih dari tiga puluh menit untuk berjalan kaki. Betapa perjuangan para siswa sungguh harus diapresiasi.

Bapak Jupri, murid kelas keaksaraan sedang mengikuti lomba membaca pada acara perkemahan.

Bapak Jupri, murid kelas keaksaraan sedang mengikuti lomba membaca pada acara perkemahan.

Pelajaran yang diajarkan dalam kelas keaksaraan adalah mengenal huruf, membaca dan menulis kata hingga kalimat, serta menghitung. Pada awalnya para siswa merasa sangat kesusahan untuk mengikuti kelas, terlebih lagi bagi para bapak-bapak bahkan untuk memegang pensil saja sangat tidak terbiasa apalagi ketika disuruh untuk menulis. Beberapa dari bapak-bapak sering berkata, “Susah bu tangannya bergeregar (gemetar), biasanya pegang tombak sekarang pegang pensil”.  Namun di samping itu semua, para murid selalu ingin menghasilkan yang terbaik. Tidak jarang dari mereka bertanya, “Cantik kah sudah bu? Betulkah sudah tulisan saya?” tanyanya. “Cantik sudah pak, yang penting semangat belajar terus pak” jawabku memotivasi dan mengapresiasi agar mereka selalu penuh semangat.

Setelah berjalan selama lima bulan Alhamdulilah tidak hanya semangat yang bertahan, namun kualitas pengetahuan dan tulisan murid-murid pun bertambah. Murid yang tadinya tidak tahu huruf samasekali sekarang sudah mengenal huruf, yang tadinya tulisannya besar-besar sekarang sudah bisa lebih rapih, yang tadinya belum bisa menulis namanya sekarang sudah hafal, yang tadinya belum bisa membaca satu suku katapun sekarang sudah mulai membaca kalimat sederhana. Bahkan murid perempuan sudah bisa membaca buku cerita untuk anak-anak kelas 1, Alhamdulillah. Tidak jarang guru memberikan PR agar tetap belajar di rumah, hal yang menggembirakan adalah tidak sedikit para murid yang bukunya sudah habis untuk berlatih menulis di rumahnya.

Selama kelas keaksaraan berjalan beberapa kegiatan telah dilalui selain belajar mengajar. Para murid keaksaraan pernah mengikuti perkemahan yang diadakan bekerjasama dengan MI As’ Adiyah Filial. Tidak hanya mengikuti perkemahan, namun beberapa murid mengikuti perlombaan membaca yang diadakan oleh pembina. Pada saat penutupan perkemahan, Kepala Desa Tanjung Karang Bapak Andi Anir memberikan apresiasi bagi siswa yang mau di tes lisan secara langsung.

Bapak Jupri, murid kelas keaksaraan sedang mengikuti lomba membaca pada acara perkemahan.

Bapak Jupri, murid kelas keaksaraan sedang mengikuti lomba membaca pada acara perkemahan.

aksara4

Kondisi pembelajaran kelas keaksaraan kelas putri (kiri) dan kelas putra (kanan) pada 09 Agustus 2017.

Selain mengikuti perlombaan membaca pada kegiatan perkemahan, kelas keaksaraan turut serta memberikan suport dan sumbangsih pada Desa Tanjung Karang yang sedang mengikuti lomba desa. Pasalnya, salah satu program yang cukup “dilirik” oleh tim penilai adalah program pemberantasan buta huruf. Bapak kepala Desa pun sangat mengapresiasi kelas keaksaraan yang masih berlangsung hingga sekarang, sebab hal itu sesuai juga dengan program Desa. Hal yang menggembirakan ketika Desa Tanjung Karang mampu mewakili Kaltara untuk presentasi di Jakarta.

Dukungan bagi kelas keaksaraan pun muncul dari berbagai pihak. Dukungan yang pertama adalah dari donatur Toko MBM (Maju Bersama Masyarakat) yang memberikan sumbangan berupa alat-alat tulis serta kain untuk dibuatkan seragam. Selain itu ada pemerintah setempat yang dalam hal ini termasuk Pemerintah Desa Tanjung Karang. Pihak Desa memberikan apresiasi dan dukungan berupa alat-alat tulis juga sebagai pendukung program pembinaan. Instansi lain yang turut mendukung adalah SKB (Sanggar Kegiatan Belajar Masyarakat) Sebatik. Dimana SKB merupakan intasnsi di bawah dinas pendidikan yang menangani pendidikan non formal. Melalui kerjasama dengan SKB, kelas keaksaraan mendapatkan bantuan buku paket dan ijazah ketika lulus nanti.

Kondisi pembelajaran kelas keaksaraan kelas putri (kiri) dan kelas putra (kanan) pada 09 Agustus 2017.

Kondisi pembelajaran kelas keaksaraan kelas putri (kiri) dan kelas putra (kanan) pada 09 Agustus 2017.

Melalui kelas keaksaraan ini diharapkan tidak ada lagi warga khususnya Desa Tanjung karang yang buta huruf, harapan lebih lanjutnya adalah agar warga dapat melek literasi. Sebab membaca dan menulis merupakan kebutuhan utama sebagai seorang individu. Di mana seluruh lini kehidupan akan berkaitan dengan membaca dan menulis. Sehingga ke depannya diharapkan para orang tua dapat membimbing anaknya untuk belajar, memahami undang-undang pemerintah setempat maupun yang lebih tinggi, serta tidak lagi tertipu oleh penandatanganan surat menyurat yang dapat merugikan warga.

Komentar

komentar