(Ke)Candu(an) Belajar

Oleh: Deta Wijayant

Sebagai seorang pendidik tentu saja menginginkan anak-anak terbiasa dengan belajar, mencari tahu tentang apa yang belum dimengerti dalam materi pembelajaran. Hal itu berlaku pada semua jenjang dari PAUD hingga sekolah menengah atas sekalipun. Demi menumbuhkan budaya dan semangat belajar anak, guru tentu harus memberikan stimulus yang tepat dan menarik. Layaknya seorang marketer yang sedang menawarkan sebuah barang dagangan. Begitupula dengan guru, bagaimana meyakinkan siswa bahwa belajar merupakan kebutuhan yang menyenangkan. Dengan demikian, dengan sendirinya akan muncul kesadaran pada anak.

Beberapa pekan ini saya tengah mengajar Kelas 1. Pun dengan Kelas 1, saya juga berharap anak-anak  senang untuk belajar. Secara historis –singkatnya saja— pendidikan di daerah Sungai Batang belum merata. Alhamdulillah sekarang sudah ada madrasah, namun untuk taman kanak-kanak (TK) belum tersedia hingga tahun lalu. TK terdekat berada di desa sebelah yang harus ditempuh kurang lebih 15 menit menggunakan sepeda motor. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika anak-anak murid baru Kelas 1 rata-rata belum mengenyam TK, sehingga dapat dikata sekaligus masuk SD sekaligus baru mengenal huruf dan angka. Tentu saja hal ini mempengaruhi keberlangsungan pembelajaran di Kelas 1.

Di Madrasah kami terdapat budaya literasi pagi, yaitu kegiatan membaca buku bacaan 10 menit sebelum pelajaran di mulai. Alhamdulillah hal itu sudah terlaksana khususnya untuk kelas tinggi. Lalu bagaimana dengan Kelas 1? sedangkan membaca saja belum bisa. Oleh sebab itu, spirit literasi yang mencoba saya tawarkan kepada Kelas 1 adalah senang terhadap buku. Setiap anak yang sudah selesai atau cepat menulis materi, saya persilakan untuk meminjam buku yang disukai di ceruk ilmu. Alhamdulillah dengan demikian anak-anak berkompetisi untuk menulis cepat agar bisa meminjam buku. Meskipun anak-anak belum bisa memahami apa cerita yang tertera pada teks, namun ada gambar yang bisa dilihat oleh anak-anak. Setelah anak-anak mulai senang dengan buku, maka anak-anak akan terpancing untuk belajar membaca agar bisa mengetahui jalan cerita yang ada. Sehingga yang terpenting setelah itu adalah mnumbuhkan rasa senang pada anak untuk mengenal huruf, suku kata lalu kata.
Anak-anak Kelas 1 memang gampang-gampang susah. Untuk tingkat kedisplinan dan ketaatan pada guru memang luar biasa. Namun kalau bicara soal mood, MasyaAllah sekali rasanya. Seperti yang saya katakan bahwa spirit literasi yang ditawarkan kepada Kelas 1 adalah senang untuk mengenal huruf, suku kata dan kata. Sehingga budaya yang mencoba dikembangkan adalah belajar mengenal huruf dan membaca setiap hari. Setiap paginya selain presensi kehadiran dan sarapan, anak-anak juga ditanya apa yang dipelajari semalam. Namanya juga kelas 1, kebanyakan dari mereka menjawab, “Belajar A – B – C, buu” kecuali anak-anak yang sudah pandai membaca kata, mereka akan menjawab belajar membaca. Untuk mengecek dan mengonfirmasi apakah anak-anak benar-benar belajar, maka ada program yang namanya setor bacaan.

image1
Meylani, salahsatu siswa Kelas 1 sedang setor bacaan dengan buku panduan.

Setiap harinya, satu persatu anak-anak membaca buku panduan yang sudah saya rancang sendiri. Mulai dari mengenal huruf, kemudian suku kata. Buku panduan tersebut dibuat se-sistematis mungkin –polanya seperti buku iqra pada taman pendidikan al-qur’an—agar anak-anak mudah memahami dan cepat untuk bisa membaca. Masing-masing anak yang masih dalam taraf belajar mengenal huruf dan suku kata, maju ke dekat saya di meja guru. Anak-anak dipersilakan dan dibimbing untuk membaca satu persatu, kemudian diulang-ulang hingga tingkat kesalahan yang minim. Setiap selesai membaca, akan ditandai batas akhir dengan menuliskan nama masing-masing anak. Hari selanjutnya akan diteruskan pada tanda yang sudah ada. Anak-anak yang belajar di rumah pasti akan mengalami peningkatan pada setiap setor bacaan. Apresiasi dan motivasi insyaAllah selalu diberikan pada setiap pembelajaran terutama pada saat setor bacaan.

image2

Batas akhir setiap setor dengan menuliskan masing-masing nama pada bagian kiri bacaan.

Berbeda dengan anak-anak yang masih belajar mengenal dan menghafal huruf, anak-anak yang sudah lebih lancar membaca kata akan dipersilakan dan dibimbing untuk membaca buku cerita sederhana. Alhamdulillah, dengan adanya buku bacaan dari ceruk ilmu memperlancar anak dalam membaca –beberapa anak yang cenderung sudah lancar membaca meminjam buku bacaan dan berlatih membaca setiap hari di rumah—

image3

Zaskia, salah satu murid Kelas 1 yang sudah pandai membaca sedang membaca buku bacaan.

Dengan adanya setor bacaan, maka anak-anak secara tidak langsung memiliki tanggungjawab untuk menambah pengetahuan membacanya. Hal yang paling menggembirakan bagi seorang orangtua adalah melihat anak-anaknya berkembang menjadi lebih baik, terlebih lagi memiliki kesadaran dalam pengembangan dirinya.

Suatu pagi, setelah anak-anak selesai menulis tiba-tiba murid termuda di Kelas 1 berkata pada saya, “Bu, saya mau baca bukunya Ibu”. “Oh, Ambil saja, Nak” jawabku kepada Sirham yang pada waktu itu aku pikir dia hendak meminjam buku bacaan yang ada di ceruk ilmu. Dengan nada semangat Sirham justru menjawab, “Bukan bu..Bukunya Ibu yang A – I – U – E – O” “Oooh yang ituu” jawabku girang sambil sedikit tertawa.

image4

Sirham sedang membaca huruf.

Jujur saya saya terkejut sekaligus terharu meihat murid yang paling kecil ini sudah “kecanduan belajar”. Dengan adanya sistem setor bacaan yang dilakukan secara konsisten insyaAllah dan dibarengi dengan apresepsi anak-anak merasa dihargai. Selain itu yang terpenting juga motiviasi agar anak-anak tertantang untuk menambah pengetahuannya setiap hari.

Ketika sistem yang dibuat sudah bisa membuat anak-anak candu belajar, insyaAllah anak-anak akan mampu mengembangkan potensi dirinya sendiri. (DetaWy)

Komentar

komentar