KAWAN SLI: Perlu Tahu Jika Tata Nilai Sekolah Dapat Membentuk Karakter di Sekolah

KAWAN SLI: Perlu Tahu Jika Tata Nilai Sekolah Dapat Membentuk Karakter di Sekolah

 By: Yuyun Kurniawati, KAWAN SLI Angkatan 3 Penempatan Kota Semarang

 

Melalui Perpres Nomor 87 Tahun 2017, pemerintah mengeluarkan peraturan tentang penguatan pendidikan karakter. Peraturan ini dibuat dengan pertimbangan bahwa Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya merupakan negara yang  menjunjung tinggi akhlak mulia, nilai-nilai luhur atau berkarakter.

 

Berdasarkan peraturan itulah, Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI) Kota Semarang menyelenggarakan Pelatihan Tata Nilai Sekolah, yang dilaksanakan di Aula Atas Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, dan dihadiri dua belas kepala sekolah/madrasah dan dua guru model dari setiap sekolah. Menurut Yuyun, sebagaimana disampaikan Kemendikbud, proses pembentukan karakter biasanya diawali dengan pembiasaan. Proses pembiasaan inilah yang kenal dengan budaya atau pembudayaan. Maka dalam rangka membentuk karakter yang dituju atau diharapkan perlu dibangun budaya positif di lingkungan sekolah. Budaya sekolah dimaknai dengan tradisi sekolah yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan nilai spirit dan nilai-nilai yang dianut di Sekolah. Artinya, budaya sekolah ini berisi kebiasaan-kebiasaan yang disepakati bersama untuk dijalankan dalam jangka waktu yang lama. Jika kebiasaan positif ini sudah membudaya, maka nilai-nilai karakter yang diharapkan akan terbentuk.

 

“Tujuan diadakannya Pelatihan Tata Nilai Sekolah ini agar para peserta mampu memahami konsep dasar tentang tata nilai. Selain itu juga agar bisa melakukan komitmen internal serta agar mampu melaksanakan pembinaan tentang tata nilai. Pada saat melakukan pelatihan Tata Nilai Sekolah, kepala sekolah/madrasah  mampu mengembangkan nilai-nilai karakter di sekolahnya masing-masing yang diaplikasikan dalam kegiatan sehari-hari dilingkungan sekolah,”kata Yuyun.

 

Yuyun menambahkan jika ada delapan belas karakter yang ingin digapai dalam salah satu program SLI yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat dan kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan bertanggung jawab.

 

 

“Ke delapan belas karakter ini, menurut Yuyun, nantinya akan dikristalisasi menjadi lima nilai utama, yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotong royong dan integritas.

 

Ada tiga hal yang ingin dicapai melalui kegiatan Pelatihan Tata Nilai Sekolah yang dilaksanakan oleh KAWAN SLI. Pertama, program yang diberikan kepada Kepala Kepala Sekolah/Madrasah terutama sekolah dampingan kami SLI di Kota Semarang, mengenai penerapan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin) yang didalamnya dimuat tata nilai sekolah yang baik untuk perubahan di sekolah maupun di Madrasah agar lebih maju dan unggul dalam mendidik siswa-siswinya. Adapun tata cara yang telah diberikan kepada siswa dan siswi oleh bapak dan ibu guru di sekolah dengan keteladanan yang baik, yang mampu diadopsi oleh warga sekolah. Berdasarkan hal itu, salah satu program yang dicanangkan adalah kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu pelajaran dimulai, sedangkan untuk dampingan Sekolah Literasi Indonesia (SLI) di Kota Semarang ini memberikan beberapa program diantaranya ‘Pojok Baca/Ceruk Ilmu’, ‘Program Perpustakaan’ yang didalamnya terdapat beberapa program lagi, diantaranya program FRA (4 aktivitas membaca), Reading respon, FLA (Fun Literacy Activity).

Kedua, menetapkan kegiatan pembiasaan diawal dan diakhir kegiatan belajar mengajar (KBM).Kegiatan ini bertujuan untuk membentuk kebiasaan harian yang bersifat rutin. Bentuknya tidak terlalu berat hanya memerlukan konsistensi, karena rutin cenderung disepelekan. Oleh sebab itu guru sebagai pananggung jawab kegiatan ini memegang peran penting dalam menjaga keterlaksanaan program ini, kegiatan yang bisa dilakukan antara lain, mengikuti upacara bendera, menyanyikan lagu kebangsaan, menyanyikan lagu nasional dan berdoa bersama. Diakhir pembelajaran, kegiatan serupa perlu dilakukan. Antara lain refleksi, menyanyikan lagu daerah dan berdoa bersama. Tentu bukan di dalam kelas, kegiatan lain bisa dilakukan diluar kelas bisa juga dilakukan seperti menyambut kedatangan anak di depan gerbang sekolah sambil berjabat tangan.

Ketiga, menetapkan Tata Tertib Sekolah. Tata tertib menjadi benteng pembatas antara yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan, antara yang baik ataupun tidak baik. tidak mungkin sebuah organisasi tidak memiliki tata tertib, termasuk sekolah yang menjadi tempat kumpulnya peserta didik dalam menimbah ilmu disekolahnya masing-masing.

 

“Tidak cukup roda organisasi sekolah hanya dijalankan begitu saja, melainkan dengan anjuran demi anjuran. Karena sikap seseorang bisa kapan saja mudah berubah, apalagi yang menyangkut kebiasaan, dengan adanya aturan, seseorang akan terikat. Dengan begitu, kebiasaan positif akan terus berkembang menjadi karakter yang positif,” tegas Yuyun.“Ha rapan dari dampingan Sekolah Literasi Indonesia, 12 Kepala Sekolah/Madrasah mampu menerapkan tata nilai sekolah dengan mengambil unsur dari kristalisasi nilai karakter, yang mampu diadopsi oleh semua warga sekolah, sehingga membentuk budaya sekolah yang berkarakter positif,” tambahnya.

Komentar

komentar