KAWAN SLI: Coaching Agar Guru Makin Terlatih

KAWAN SLI: Coaching Agar Guru Makin Terlatih

Oleh: Hairunnisah KAWAN SLI Angkatan 3 penempatan Kabupaten Asahan

 

Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI) penempatan Kabupaten Asahan mengadakan pelatihan coaching di SDN 013701. Pelatihan yang bertujuan agar kepala sekolah/madrasah memahami pentingnya coaching untuk meningkatkan kinerja guru, mengetahui kapan waktu yang tepat untuk mengunakan keterampilan coaching, mentoring, training dan konseling serta mampu melakukan praktik coaching dengan baik. Praktik coaching akan dilakukan di setiap sekolah dampingan dan setelah supervisi pembelajaran dilakukan. Ketika praktik coaching kepala sekolah/ madrasah akan bertindak sebagai coach yang akan meberikan coaching kepada guru dengan didampingi oleh KAWAN SLI.

Menurut International couch federation coaching adalah kegiatan kemitraan dengan klien melalui proses memprovokasi pikiran secara kreatif sehingga menginspirasi mereka untuk memaksimalkan potensi pribadi dan professional mereka.  Dalam coaching terdapat istilah coach dan coachee yang memiliki makna yang berbeda. Coach merupakan orang yang menberikan coaching sedangkan coachee merupakan orang yang menerima coaching. Panduan dalam melakukan coaching cukup beragam karena terdapat beberapa model. Salah satu model yang cukup sering digunakan adalah coaching model GROW.

 

Coaching model GROW inilah yang dijelaskan oleh KAWAN Luthfia sebagai pelatih. Kawan Luthfia menjelaskan bahwa terdapat 11 kompetensi inti yang harus dimiliki oleh couch. Namun terdapat dua kompetensi yang sangat pening untuk dimiliki oleh seorang coach yaitu kemampuan mendengar untuk memahami dan bertanya. Mendengar untuk memahami lebih dari sekadar mendengarkan. Coach harus melibatkan mata, telinga, hati dan fokus agar mampu melakukan pegamatan, pemetaan dan pemahaman dari keutuhan makna sebuah pembicaraan. Selain kemampuan mendengar untuk memahami, kemampuan bertanya juga tidak kalah penting. Kepala sekolah/ madrasah ketika melakukan coaching harus mampu meberikan pertanyaan yang powerfull. Pertanyaan yang powerfull diawali dengan kata apa, kapan, di mana, dan bagaimana serta menghindari pertanyaan mengapa.

Menyadari bahwa coaching penerapan teori saja tidak cukup, maka KAWAN SLI Asahan menambahkan simulasi dengan memilih salah satu dari sebelas kepala sekolah/madrasah secara acak untuk dijadikan sebagai coachee.  Simulasi berlangsung selama lima belas menit. Setelah melakukan simulasi sebelas kepala sekolah dibagi dalam empat kelompok yang terdiri dari tiga anggota perkelompok. Ketiga anggota tersebut memiliki peran masing-masing yaitu sebagi coach, couchee ,dan observer. Setiap lima belas menit para peserta saling berganti peran.

Komentar

komentar