KAWAN SLI: Ada Amanat Kemajuan Pendidikan Bagi Umat di Negeri Ini

KAWAN SLI: Ada Amanat Kemajuan Pendidikan Bagi Umat di Negeri Ini

Oeh: Nurcahyaning Samsi Pertiwi, KAWAN SLI Angkatan 3, penempatan Bima

 

Senin, 4 November 2019 merupakan hari bersejarah bagi kami. Pasalnya hari itu merupakan hari pertama kami menginjakkan kaki di Kota Bima. Aku, Naya, dan Darfin merupakan Konsultan Relawan (KAWAN) Sekolah Literasi Indonesia (SLI) angkatan 3. Kedatangan kami ke Bima didampingi oleh Mas Ari. Turun dari pesawat kami langsung disambut teriknya matahari yang membakar pori-pori kulit. Kami bergegas menuju lobi Bandara Sultan M. Salahuddin. Setelah mengambil seluruh barang kami yang dikeluarkan oleh petugas bandara kami bergegas menuju kos dengan menyewa taksi. Disepanjang perjalanan keringat mengalir disekujur tubuh.

 

 

 

Hari kedua kami melakukan mediasi ke Dinas Dikbudpora dan Kemenag Kota Bima. Alhamdulillah bak gayung bersambut kedua dinas tersebut mendukung niat baik kami. Sepulang dari sana kami menikmati ikan dan cumi-cumi bakar di tepi pantai. Pada sore harinya kami berjalan kaki menuju SMPN 1 Woha untuk memastikan keadaan aula yang akan kami tempati untuk melaksanakan lokakarya pendidikan.

 

 

 

Kami mengadakan lokakarya di hari Rabu, sebelum acara dimulai kami bahu membahu mengerjakan tugas bersama dengan saling membagi tugas; Mas Ari bertugas sebagai trainer, Darfin sebagai fasilitator, Naya dan aku bertugas sebagai seksi administrasi sekaligus dokumentasi. Darfin yang terkenal humoris mampu mencairkan suasana yang mengudang gelak tawa dari seluruh peserta. Workshop yang kami laksanakan berlangsung dengan meriah. Di akhir kegiatan kami juga membagikan doorprize dan berfoto bersama.

 

 

 

“Fin, sehat?” tanyaku singkat ketika melihat Darfin sedang mengelap keringatnya yang bercucuran. “Ya saya baik-baik saja,” jawab Darfin. Padahal ketika itu aku melihatnya dalam keadaan pucat.

 

 

 

Empat hari berselang barulah Darfin bercerita bahwa dia merasa tak enak badan sejak awal keberangkatan kami dari Bandara Soekarno Hatta. Dia merasa pusing dan dari perutnya terdengar suara seperti gemuruh ombak. Ditambah lagi dengan cuaca Bima yang panas membuat keadaannya semakin memburuk. Berbagai macam upaya telah kami coba untuk memulihkan kesehatannya. Sampai tulisan kubuat Darfin masih berbaring di kamarnya.

 

 

 

Darfin adalah salah satu inspirasiku, semangatnya yang membara seakan tiada pernah padam. Sakit tak menghalangi niatnya untuk terus melangkah. Dia selalu tampil prima dan mampu membuat orang lain tertawa dengan candaannya. Bangkitlah kawanku. Semoga Allah selalu menyertai jalan kita.

 

 

 

KAWAN SLI harus memiliki semangat tinggi. KAWAN SLI harus kokoh berdiri karena di pundak kami ada amanat kemajuan pendidikan bagi seluruh umat di negeri ini.

Komentar

komentar