Karena Pejuang Pendidikan (Tidak) Pantas Mengeluh

Karena Pejuang Pendidikan (Tidak)  Pantas Mengeluh

Oleh: Marwan Alex

MI Al-I’tishaam, Tangerang Selatan

 

Guru, menurut pandangan masyarakat adalah profesi yang sangat mulia, karena memiliki tanggung jawab sebagai perencana, pencetak, dan penjaga generasi bangsa.  Pada pundaknyalah harapan dan cita-cita besar bangsa diletakan.

Ironinya, besarnya amanah yang dipikul  belum berbanding lurus dengan capaian materi untuk kelangsungan kehidupan ia dan keluarganya. Ia dituntut untuk selalu dan terus mengembangkan kemampuan pribadinya guna memberikan persembahan  terbaik, tapi capaian materi sebagai  pelipur lelah belum diperbaharui dengan layak oleh pemegang amanah kekuasaan.

Apakah ia mengeluh? Pasti!  Apakah ia menyerah? Tentu saja tidak! Tidak pernah ada dalam benak pejuang pendidikan terbesit kata-kata itu,  pamali (pantangan) baginya. Mengabdi, berbakti dan berserah diri, itulah  mazhab yang ia anut. Mungkin ada sebagian yang menganut aliran lain, tapi bagi pejuang sejati pengabdian adalah ghirah (nyawa) yang tak akan lekang oleh apapun.

Meningkatkan mutu diri adalah hal yang harus dan terus digelorakan, dengan segala keterbatasan materi dan sempitnya waktu, ia harus lihai mensiasati, bermanuver, bergerilya bahkan perang terbuka guna menggolkan hasratnya.

Namun ada yang membuat ia galau hati dan meningkat emosi, yaitu keterbatasan dan kekurangan fasilitas, sarana dan prasarana di “istana” ia berbakti. Kepedihannya  bukan ketika tidak cukup materi, namun saat melihat siswanya harus bergeser berganti posisi,  menghindari hujan yang membuat basah seragam setiap hari. Bingung ia mencari donasi, kepada lembaga mana dan insan mana yang berlebih rizki.

Anugerah disaat rasa lelah menerpa dan menguapnya setengah asa, secercah sinar itu datang menghampiri melalui seorang hamba Alloh Swt., yang dituntun gerak langkah kakinya menuju markas perjuangan kami dengan membawa bendera Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Beliau menawarkan solusi yang mengembalikan semangat juangnya dan pejuang-pejuang lainnya.

Arena latih Gedung P4TK Penjas dan BK, Bogor, tempat yang dipilih sebagai medan pelatihan ia dan rekan seperjuangan. Saat awal bertukar pikiran dengan peserta Konferensi Nasional SLI lainnya, ia masih berkeluh kesah tentang kondisi fisik “istananya” dengan semangat.  Namun setelah satu dua hari dilalui, hinggapan rasa malu lah yang kini menerpanya, pantaskah dia mengeluh? Masih layakah dia cemburu? Masih lazim kah ia kehilangan harapan? Kini ia merasa menjadi pribadi yang tidak mensyukuri akan apa yang telah perolehnya .

Tengoklah pejuang yang sebenarnya (bukan ia), yang musti berjuang keras untuk berjumpa kami di arena latih ini, harus menempuh jarak ratusan kilometer ke bandara melalui jalur hutan, darat, sungai dan laut. Mereka berasal dari pelosok Indonesia perbatasan, mulai dari pulau Kalimantan, berbatasan dengan negara tetangga  Malaysia,  Sumatera, Sulawesi  (sahabat sekamar), Maluku (perbatasan dengan Timor Leste dan terdekat dari Pulau Jawa (Jawa Barat, Banten, DKI)). Ia merasa malu untuk mengeluh!

Malu dan tentunya merasa sangat kecil perjuangan yang selama ini dia sombongkan. Bagaimana seorang rekan wanita yang seharusnya sudah istirahat, harus memegang lebih dari tiga sekolah dalam jarak  ratusan kilometer antara satu sekolah dengan yang lainnya. Bagaimana cara seorang sahabat mendidik siswa dalam kondisi kurang ruangan, bagaimana seorang pejuang sejati harus mendidik anak-anak jalanan yang tentunya mempunyai watak dan karakter yang keras (sementara dia dalam menghadapi satu anak hiperaktif saja sudah mengeluh panjang). Masih pantaskah ia mengeluh?

Luarrr biasa!! Itulah ungkapan yang pantas kita sematkan kepada mereka dalam keseharian menunaikan tanggung jawabnya. Terselip cerita bagaimana cara mereka memperjuangkan anak bangsa untuk bisa sekolah, mereka harus mendatangi rumah-rumah penduduk dan merayu wali murid agar bersedia menyekolahkan anaknya dengan menjamin tidak memungut biaya apapun, bahkan untuk baju seragampun mereka yang menyiapkan. Mereka harus mengubah pola pikir, dan budaya masyarakat sekitar dalam hal pentingnya pendidikan.

Miris. Mendengar curhatan seorang pejuang untuk memperoleh buku pelajaran siswa saja dia harus mencari jauh ke luar pulaunya, bahkan buku pegangan LKS nya pun diperoleh dari pemberian orang yang bekas pakai. Bahkan untuk dana BOS-nya banyak digunakan untuk membeli baju seragam siswa. Lantas,  masih pantaskah ia mengeluh?

Bertukar pikiran, metode yang digunakan pada kegiatan KN SLI ini sangat sangat mengena. Paparan dari pemateri mampu membuat kami merasa terlahir kembali, metode mendampingi bukan menggurui, mengoreksi tidak menghakimi, mencari kekurangan sendiri dengan introsfeksi,  mencari solusi dengan diskusi, sungguh suatu metode yang sangat arif, cerdas dan tepat.

Change your mindset. Sepakat? Narasumber  mampu memberikan suatu pencerahan kepada seluruh peserta konferensi, bagaimana mereka memberikan pemahaman di mana posisi kepala sekolah yang sebenarnya, sebesar apa pengaruh kepala sekolah terhadap  seluruh anggota sekolah, apa risikonya, sanksi apa yang bisa didapat, dan ganjaran apa yang dijanjikan kelak.

Terima kasih seluruh peserta konferensi beserta siswanya akan melakukan perubahan yang besar, bahkan mungkin ada yang memulai dari titik nol lagi. Kami siap berubah, kami siap berjuang dengan semangat yang akan kami tularkan kepada rekan-rekan kami di ISTANA kami.

Komentar

komentar