Karena Allah, Aku Mengabdi

Seorang lelaki terpekur diujung tahajudnya. Hatinya gundah gelisah. Cita-cita tertingginya untuk syahid di medan perang tak jua tergapai. Telah puluhan bahkan ratusan peperangan dia tempuhi, namun tak satu pun musuh yang sanggup mematahkan pedangnya dan merobohkan tubuhnya. Bahkan, tak segoresan bekas luka pedang pun terukir di tubuhnya. Inilah yang membuatnya gelisah.

Terbayang olehnya saat memimpin pasukan menaklukkan Persia dan semua jazirah Syam. Semua peperangan dimenangkannya. Semua musuh Islam takluk di bawah panji-panji Islam. Maka, tak heran bila lelaki itu dijuluki panglima yang tak pernah kalah. Bahkan, Rasulullah sendiri memberikan gelar, syaifullah al-maslul (pedang Allah yang terhunus).  

Saat kekhalifahan Umar bin Khattab, lelaki ini diberhentikan oleh Khalifah Umar sebagai panglima perang dan kembali menjadi prajurit. Semua prajuritnya marah. Mereka mengkritik Khalifah Umar yang dinilai keliru mengambil kebijakan. Namun, lihatlah sikap dan perkataannya ketika itu. Lelaki itu menunjukkan proklamasi keimanan.

“Aku berperang bukan karena Umar, melainkan hanya karena Allah. Tidak ada bedanya aku berperang sebagai panglima atau prajurit.”

Sebuah demonstrasi tauhid. Bahwa ia adalah karyawan Allah, bukan karyawan Umar. Lelaki itu dikaruniai kemampuan terbaik dalam berperang dan strategi perang. Maka, dia gunakan kemampuan terbaiknya untuk membela agama Allah. Dia melamar menjadi karyawan Allah. Dan, mengakhiri masa tugasnya pun sebagai karyawan Allah.

Lelaki itu terus berperang menegakkan agama Allah di muka bumi hingga usia senjanya. Hingga tubuhnya sudah rapuh termakan usia dan tak mampu lagi berperang. Di ujung senjanya inilah, dia sangat gelisah karena syahid tak jua tergapai.

“Kau adalah pedang Allah. Maka, pedang Allah tak akan terpatahkan oleh pedang musuh,” hibur Abu Ubaidah bin Jarrah kala lelaki itu menyampaikan kegundahannya.

Akhirnya, lelaki itu meninggal di rumahnya. Lelaki itu adalah Khalid bin Walid.

Api jihad Khalid bin Walid itu terus menyala dari generasi ke generasi. Salah satu pewaris api jihad itu adalah Jamilah Sampara, mahasiswi SGI (Sekolah Guru Indonesia) angkatan V Dompet Dhuafa.

Memang Jamilah tak berjihad mengangkat pedang layaknya Khalid. Ia tak menebas leher musuh-musuh Islam dengan pedang. Namun, jihad Jamilah insya Allah tak kalah mulia dengan jihadnya Khalid. Ia wakafkan dirinya untuk berjihad di bidang pendidikan dengan menjadi guru di ujung negeri. Ia menebas kebodohan dan menyalakan pelita. Ia memberangus buta aksara. Ia kobarkan asa dan harapan anak bangsa.

Bukan rupiah tujuannya, melainkan ridha Allah semata. Karena, memang tak ada yang menggajinya dengan tumpukkan harta. Bukan pula popularitas yang didamba, melainkan tepuk apresiasi dari para malaikat di atas sana. Karena, memang media pun ogah menyorot kisah pengabdian guru di ujung sana. Bagi Jamilah, biarlah dirinya tidak populer di bumi, asalkan dia populer di langit.

Lelah dan peluh tak dipedulikannya, asalkan murid-muridnya bisa tersenyum dan tertawa. Tak masalah tenaga dan waktu dia korbankan, asalkan murid-muridnya bisa merangkai asa dan harapan. Kelak, semoga murid-muridnya menjadi pelopor yang selalu menebar kebaikan.

Dan, puncak pengabdian itu pun tiba. Kamis, 20 November 2014 pukul 21.30 Jamilah menghembuskan nafas terakhirnya di tempat pengabdian. Jamilah bahkan rela menukarkan nyawanya, untuk pendidikan anak bangsa. Ia rela meski harus meregang nyawa, jauh dari pelukkan keluarga. Mungkin namanya tak tertulis dalam deretan pahlawan negeri ini. Namun, yakinlah dalam catatan malaikat namanya terpatri.

Lihatlah, tujuh lapis langit pun bersuka ria menyambut ruh sucimu untuk menghadap Rabb-mu. Para malaikat pun memanjatkan doa untukmu. Ah, beruntung sekali dirimu. Andai Khalid bin Walid masih hidup, ia pasti iri kepadamu. Ya, kau mendapat kemuliaan sebagai syuhada, cita-cita tertinggi Khalid yang tidak tergapai olehnya. Namun, Khalid dan kau sama-sama karyawan Allah. Ah, memang indah sekali menjadi karyawan Allah.

Sahabat, kami rela kau pergi.
Jihad kita kan terus bersemi.
Jalan ini tak kan pernah berhenti.  

Akhir kata, marilah kita renungkan hadis Rasulullah saw yang sangat inspiratif ini,

‘Kalau Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, niscaya Dia akan mempekerjakannya (menjadi karyawan-Nya).’ (Sahabat bertanya), ‘Bagaimana Allah mempekerjakan seseorang, ya Rasulullah?’ Rasulullah menjawab, ‘Allah memberikan taufik kepada orang tersebut untuk banyak beramal saleh sebelum kematiannya.’ (HR. Tirmidzi).

 
{fcomment}

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.