Kacamata SGI pada Pendidikan di Indonesia

Oleh: Siti Sahauni.

Geliat komunitas yang peduli pada pendidikan di Indonesia kian menjamur kini. Seperti latah. Program yang dibentuk pemerintah pun ikut meramaikannya. Yang juga ikut mewarnai dunia pendidikan.

Tugas yang diemban oleh komunitas dan pemerintah sejauh ini mungkin hanya sebatas mengajar dan melakukan pelatihan. Berbeda dengan program di Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Sejak 2009 lalu Sekolah Guru Indonesia sudah berjalan. Itu artinya Sekolah Guru Indonesia lebih dulu eksis dibanding dengan program yang dirintis oleh pemerintah dan komunitas lainnya.

Kehadiran Sekolah Guru Indonesia memberikan napas baru pada dunia pendidikan di tiap masanya. Dan untuk sekolah-sekolah yang terkena imbasnya. Tetapi yang paling diutamakan oleh Sekolah Guru Indonesia adalah memperbaiki kompetensi guru, dan mutu pendidikan itu sendiri.

Sekolah Guru Indonesia terus melakukan perubahan pada tiap angkatannya. Tahun ini misalnya. Kacamata Sekolah Guru Indonesia semakin luas menyoroti dunia pendidikan di Indonesia. Melalui program Professional Class angkatan 16 tercetuslah sebuah tema. Yang kekinian. Sebut saja Sekolah Literasi Indonesia. Tema baru ini akan menjadi penyempurna dari tema-tema yang pernah digulirkan oleh Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa.

Sembilan belas garuda yang datang dari berbagai daerah akan menyebar di 10 titik di Indonesia. Menjadi garuda terdepan. Mengubah paradigma pendidikan yang turun temurun masih mengabadi di tubuh tiap sekolah dan di masyarakat.

Penyebaran 19 garuda dibagi sesuai penilaian wilayah dan kemampuan dari masing-masing individu. Pembagian jenis sekolah pun tak luput dari penilaian pada masa pembinaan. Dari 5 jenis sekolah yang telah ditentukan yaitu sekolah Beranda, Sekolah Urban, Sekolah Desa dan Sekolah Kota telah disesuaikan dengan tempatnya berasal. Angkatan tahun ini memang diharapkan dapat membangun daerah asalnya.

Selama satu tahun ke depan 19 garuda akan menjadi seorang konsultan pendidikan. Mendampingi semua elemen yang berkaitan dengan sekolah. Memberi keleluasaan bagi guru dan kepala sekolah agar dapat keluar dari masalah yang dihadapi. Agar tidak terkesan menggurui, coaching menjadi tehnik yang dapat diandalkan.

Ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di sekolah pelan-pelan akan dibenahi. Hingga yang paling sentimental terhadap peran seorang guru. Yang menciderai dunia pendidikan sampai kini.

Seperti yang diungkapkan oleh Amru Asykari. Yang menjabat di dua instansi berbeda sekaligus. Ia menyoroti tugas seorang guru tidaklah semudah yang kita kira.

Amru Asykari direktur di Nurul Fikri English Course sekaligus supervisor di Sekolah Guru Indonesia menegaskan bahwa menjadi seorang guru banyak tantangannya. Penyebutan tipe-tipe guru pun tak luput disinggung. Tipe-tipe guru itu diantaranya guru bayar, guru nyasar dan guru sadar. Tipe-tipe yang disebutkan mencerminkan betapa peran seorang guru masih perlu diperhatikan. Dan diperbaiki. Meluruskan lagi niat kita menjadi seorang guru. Yang tidak hanya digugu tapi juga ditiru.

Dari beraneka macam guru yang disebutkan. Sampai detik ini, masih dapat ditemui tipe guru-guru yang mengajar di sekolah yang seperti itu. Yang masih belum sadar akan perannya sebagai seorang guru, belum apa-apa minta dibayar dan ujung-ujungnya yang penting ngajar alias nyasar. Pada kondisi yang carut marut seperti ini, peran kepala sekolah sangat dibutuhkan. Karena dialah yang mempunyai andil besar dan memiliki hak penuh untuk memajukan sekolahnya. Sungguh sebaik-baiknya guru adalah guru yang mulia.

Ini akan menjadi tugas bersama. Tidak hanya konsultan pendidikan. Meluruskan masalah yang sudah mendarah daging di tubuh sekolah. Dimana sistem instraksional dan budaya sekolah keduanya error. Sehingga ketidakmungkinan pun akan muncul. Seperti siswa sudah kelas 6 masih belum bisa membaca. Karena tidak adanya ketersediaan perpustakaan atau ceruk ilmu di ruang kelasnya.

Setelah satu tahun masa penempatan. Aku dan 18 garuda mendapat kesempatan membangun kota kelahiran masing-masing. Meskipun beberapa ada yang terpental. Tetapi, kita sama-sama memiliki mimpi mengangkat derajat pendidikan Indonesia pada dunia. Yang dari tahun ke tahun masih jauh tertinggal dengan negara-negara maju lainnya di dunia.

Kelak entah waktu itu akan tiba kapan. Tetapi, muncul sebuah harapan terhadap sekolah-sekolah yang didampingi oleh Makmal Pendidikan. Sekolah pendampingan itu akan menggebrak kualitas pendidikan dunia. Yang dilansir UNESCO bahwa Kualitas pendidikan di Indonesia tahun 2012 berada di peringkat ke-64 dari 120 negara di seluruh dunia. Semoga. *

Siti Sahauni

Penulis adalah Guru Konsultan Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa #SekolahLiterasiIndonesia #SekolahGuruIndonesia penempatan di Bantarwaru Kec. Cinangka Kab. Serang-Banten

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.