Jemput Bola demi Perubahan Guru

Oleh: Satriaugust Pottando
Guru Sekolah Cerdas Literasi SDN 264 Wawondula, Towuti, Luwu Timur, Sulawesi Selatan

Menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan mudah. Diperlukan suatu kesabaran dan kemauan serta kerja keras yang kuat. Walaupun awalnya memang sangat sulit, dengan kemauan dan kerja keras semuanya menjadi sangat menyenangkan dan akhirnya saya bisa menikmati pekerjaan saya saat ini. Pekerjaan inilah yang mengantar saya bisa menginjakkan kaki di Ibu Kota.

Sekolah tempat saya mengajar sekolah unggulan yang ada di kabupaten kami. Meskipun sekolah unggulan, masih ada saja kekurangannya, baik itu dari segi siswa maupun dari segi guru. Namun, titik balik perbaikan sekolah kami sebagai sekolah unggulan hadir seiring kehadiran Program Pendampingan Sekolah oleh Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa.

Program Pendampingan Sekolah tersebut berperan penting bagi sekolah kami. Perubahan tahap demi tahap pun terjadi. Setelah mengikuti pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan, ada beberapa perubahan yang langsung saya rasakan. Antara lain cara-cara memulai proses belajar-mengajar yang tidak menjenuhkan siswa, menggunakan gerakan tubuh dalam proses pembelajaran sehingga anak-anak lebih mudah mengingat dan memahami pelajaran yang diajarkan, membuat display kelas, dan masih banyak lagi.

Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa membuka kesempatan kepada kami untuk mengikuti studi banding yang akan diadakan di Jakarta. Utusan masing-masing sekolah hanya dua orang. Syukurlah, setelah mengikuti tes, saya salah seorang yang terpilih untuk mengikuti kegiatan tersebut. Betapa senangnya karena inilah kali pertama saya menginjakkan kaki di Jakarta.

Pengalaman yang saya rasakan selama di Jakarta tidak akan terlupakan. Di antaranya bertemu dengan rekan guru dari berbagai daerah di Indonesia dan kami berbagi pengalaman terutama pengalaman dalam hal mengajar dan bagaimana menghadapi siswa kami yang mempunyai karakter berbeda. Yang lebih berkesan lagi adalah ketika berkunjung ke SDN 12 Bendungan Hilir dan SD Lazuardi. Di

SDN 12 Bendungan Hilir saya mendapatkan pengalaman Sekolah Hijau (Green School), membuat kompos, dan membentuk kelompok kerja untuk melatih anak-anak menjadi seorang pemimpin dari kecil (the leader in me).

Pada tahun kedua pendampingan, kami terus dipacu dengan adanya pelatihan-pelatihan dari Makmal Pendidikan. Di antaranya adalah menulis kreatif, mendongeng, dan menjadi trainer yang andal. Walaupun tidak semudah yang dibayangkan, kami harus bisa dan harus mencoba. Terlebih lagi anak-anak didik saya sangat tertarik ketika saya mengawali pembelajaran dengan mendongeng. Antusias mereka sangat tampak dan akhirnya mereka terpancing untuk memasuki pembelajaran. Antusiasme mereka ini membangkitkan semangat saya untuk terus belajar.

Saya berterima kasih kepada Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Dengan adanya program pendampingan ini saya akhirnya bisa menuliskan berbagai pengalaman saya selama menjadi guru, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Satu hal yang bisa saya petik adalah bahwa bila guru ingin maju, guru jangan hanya tinggal diam menunggu bola. Tapi, marilah menjemput bola tersebut untuk membuat perubahan-perubahan yang lebih hebat lagi. Sekali lagi, terima kasih kepada Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa yang sudah membantu sekolah kami selama dua tahun ini untuk menjadi sekolah yang lebih baik lagi.

Hidup Guru Indonesia! Maju terus menjadi guru hebat!

Komentar

komentar