Jalan Guru Inspiratif

Kisah ini bermula ketika saya pertama kali mengajar sebagai guru baru di sekolah ini, SDN 6 Sungai Danau, Tanah Bumbu (Kalimantan Selatan).

Sebagai guru, saya dilanda rasa pesimis; akankah saya bisa menghadapi hari ini dengan baik ataukah menjadi hari yang paling buruk?

Hari pertama saya mengajar, banyak guru yang bersimpati, tetapi ada pula yang memandang pesimis. Rasa hati ini pun tak karuan jadinya.

Dengan gugup, kaku, dan canggung, saya melang-kah masuk ke kelas. Waktu itu saya diberikan kesem-patan mengajar kelas 2. Saya tatap wajah heran be-berapa siswa yang mungkin bertanya-tanya: siapakah orang asing yang berada di kelas kami ini?

Saya pun memperkenalkan diri. Saya juga men-jelaskan bahwa sayalah yang akan menggantikan wali kelas mereka yang sedang sakit. Usai memberian penjelasan, segudang pertanyaan mereka lontarkan kepada saya.

Walau masih merasa canggung, saya terhibur oleh kepolosan wajah siswa-siswa tersebut. Saya pun merasa lebih tertantang untuk mengajar lebih baik lagi saat keesokan harinya. Dan untuk pertama kali, dalam seumur hidup saya, ada beberapa anak yang menghargai saya sebagai seorang guru. Tidak hanya itu, apa pun yang saya katakan, mereka selalu mendengarkan, memerhatikan, bahkan mengkritisi.

Di samping penglaman yang belum terlalu banyak, saya masih kesulitan saat mengondisikan kelas yang ramai. Terkadang suara saya habis hanya untuk menertibkan siswa-siswa yang sering gaduh, berlari ke sana ke mari. Saya mulai kebingungan mencari cara guna menghadapi kelas yang seperti ini.

Alhamdulillah, sekolah memiliki pendamping yang baik. Saya pun sering curhat dengan Pendamping Sekolah mengenai suasana kelas yang sering gaduh. Sedikit titik terang hadir dalam benak saya. Tidak lama kemudian, di sekolah juga diselenggarakan pelatihan manajemen kelas, yang didukung sepenuhnya oleh Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Saya berpikir, pelatihan ini pas sekali dengan kesulitan-kesulitan saya.

Hasil pelatihan tersebut saya terapkan sedikit demi sedikit di kelas. Misalnya mengenai penampilan guru di kelas. Saya pun mulai memerhatikan suara, kontak mata, gerak dan mimik, posisi dan kehangatan. Saya juga mulai menerapkan tepuk-tepukan seperti yang diajarkan Pendamping Sekolah untuk mengondisikan siswa. Ada tepuk siswa cerdas, tepuk konsentrasi, dan tepuk senyum.

Selain itu, saya mulai menyentuh siswa dengan tujuan memberikan kedekatan. Misalnya jika ada yang tidak memerhatikan saya, maka saya usap bagian kepala siswa itu agar ia memerhatikan materi yang saya ajarkan. Saya pun sudah tidak berteriak-teriak lagi begitu melihat suasana kelas yang ribut. Siswa-siswa sangat bersemangat sekali apabila diajarkan tepuk-tepuk kreatif.

Saya mulai belajar sebaik mungkin untuk menjadi guru cerdas literasi. Walau berstatus guru baru dan jauh dari pangkat seorang PNS, kini saya lebih bersema-ngat lagi menjadi seorang guru yang dirindukan oleh siswa-siswanya. Ya, menjadi seorang guru yang mampu menginspirasi.

 

Nurina Permatasari

Guru Sekolah Cerdas Literasi SDN 6 Sungai Danau, Tanah Bumbu (Kalimantan Selatan)

Komentar

komentar