Jadilah Guru Bukan Jadi Gurulah

Oleh: Amal Lubis – Aktivis Sekolah Literasi Indonesia

Awal Aku mengenal profesi ini, pemahamanku tentang seorang guru itu adalah suatu profesi yang sangat rumit, sulit dan dituntut dengan banyak hal oleh masyarakat. Seiring dengan perjalanan waktu, baru kusadari profesi guru sebenarnya sudah kusandang sejak lama walau hanya sebagi guru ngaji – TPQ dan semua orang sebenarnya bisa menyandang gelar tersebut tanpa harus terlebih dahulu menyandang gelar sarjana, asalkan dapat menyesuaikan dengan makna guru itu sendiri yakni “mengajarkan, mengamalkan, dan memberi keteladanan”.

Bukankah Rasulullah dan para Sahabat adalah guru terbaik sepanjang zaman? Beliau tak pernah bergelar sarjana. Di era sekarang ini mulai bermunculan lembaga-lembaga pendidikan modern alternatif dengan berbagai macam nama dan menjanjikan banyak hal. Ada yg menyebut dirinya sekolah terpadu, ada juga boarding school dengan biaya pendidikan yang tidak sedikit, sebenarnya semuanya positif bagi kemajuan pendidikan itu sendiri.

Semua orang berlomba lomba menyekolahkan anak-anaknya di lembaga pendidikan bergengsi tersebut, yang menjadi masalah adalah ke mana kah perginya si fakir miskin dan orang-orang susah menyekolahkan putra putrinya? Bukankah mereka juga berhak mendapatkan pendidikan berkualitas? Bagaimana nasib anak-anak yang dicap “bodoh” jika semua sekolah akhirnya menerapkan seleksi dengan sistem gugur tanpa ampun, mereka semua pasti tersisih. Padahal dihadapan Allah tidak ada manusia bodoh, kecuali yang tak menuruti perintah-Nya dan orang terbaik dihadapan Allah adalah yg paling bertaqwa. Lalu bagaimanakah nasib orang-orang yang sudah “terlanjur” jadi guru tapi mereka tak punya gelar sarjana, apakah mereka harus “pensiun dini” dari guru? Bukankah Rasulullah mengatakan ajarkan walau satu ayat dan ayat pertama dlm Al Qur’an adalah Iqra (baca)?

IMG-20170523-WA0000

Terkait dengan ini semua, kami dari team manajemen Sekolah Peduli Ummat Waspada bekerjasama dengan Dompet Dhuafa Waspada – Medan mencoba menghadirkan sebuah lembaga pendidikan alternatif yang jauh dari nilai komersil, MIS Peduli Ummat Waspada dan MTs Bintang, sebuah lembaga pendidikan gratis tanpa mengabaikan kualitas dengan nilai-nilai sekolah AKSI (Akhlakul Karimah, Cerdas Intelektual). Semakin hari lembaga pendidikan ini berbenah dengan banyak kegiatan unggulan khususnya dalam praktik ke-Islam-an yang langsung dirasakan para orangtua dan masyarakat karena niat awal lembaga ini didirikan adalah untuk menyelamatkan aqidah ummat dan sebagai alternatif pendidikan keislaman.

Di awal 2017 lembaga ini mendapatkan satu anugrah dengan terpilih sebagai salah satu sekolah yg mendapat pendampingan dari Program Sekolah Literasi Indonesia (SLI) – Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Semoga dengan adanya pendampingan ini, harapan kami dapat terwujud yaitu menjadi tempat berlabuhnya anak-anak yang tidak memiliki kemampuan ekonomi tetapi tetap mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Semoga lebih banyak lagi lembaga pendidikan serupa hadir di negeri ini, sehingga cita cita pendahulu bangsa ini yang tercatat dalam pembukaan UUD 45 “mencerdaskan kehidupan bangsa” bisa terwujud.

Komentar

komentar