Jadi Guru Jangan Kudet

Untuk memberi tahu, maka harus tahu ilmunya dulu. Agar bisa memberikan keterampilan, maka kudu terampil dulu. Resiko jadi guru harus mau berguru.

Seorang anak perempuan, sekitar kelas 5 SD sedang duduk manis di angkot. Kepalanya menunduk sedangkan jarinya lincah menyentuh gawai yang dipegangnya. Dari awal masuk angkot, tampaknya anak ini khusyuk memainkan games yang ada di gawainya, ia luput memperhatikan lingkungan sekitarnya, tidak peduli ada bahaya disekitarnya.

Fenomena semacam ini bukanlah hal asing lagi, hampir setiap orang memiliki ponsel pintar yang disimpan di saku baju, tas atau bahkan menempel terus di jarinya, seolah sudah menyatu dengan kehidupan. Mulai dari usia SD hingga yang kakek nenek, ponsel pintar tampak lebih manarik untuk digunakan. Pun di dunia per-sekolah-an, ada peraturan pun tak membuat gentar, para siswa menyembunyikan ponselnya dari razia guru. Daripada kucing–kucingan lebih baik mencarikan solusi bagaimana memanfaatkan ponsel pintar sebagai media belajar.

Namun tidak semua guru mahir atau terbiasa menggunakan teknologi, dalam banyak kasus para siswa lebih pintar menggunakan teknologi daripada gurunya. Ketika guru memberikan informasi pembelajaran dengan cara monoton, maka siswa memilih asik berkelana di dunia teknologi yang menyajikan beragam informasi dan games menarik. Di sinilah tantangannya, Jadi Guru jangan Kudet alias jangan mau ketinggalan zaman. Memaksimalkan teknologi terkini mau tidak mau harus dilakukan.

Masalahnya, terkadang guru juga tidak tahu caranya memaksimalkan teknologi untuk kepentingan pembelajaran. Padahal salah satu faktor yang menunjang keberhasilan proses KBM di sekolah formal adalah pemanfaatan dan penggunaan media dalam proses pembelajaran. Itulah mengapa pemilihan media sangat penting dengan mempertimbangkan sasaran, penggunaan dan relevansi situasi dan perkembangan zaman. Media yang paling mutakhir dan cepat perkembangannya saat ini adalah Teknologi Informasi dan Komunikasi. Berangkat dari masalah tersebut, maka KOMED (Komunitas Guru Pembuat Media Pembelajaran) mengumpulkan para anggotanya yang terutama masih awam dengan ICT (Information Communication Technology) untuk belajar bersama di PSB pada 26 Februari 2016 di Pusat Sumber Belajar (PSB) Dompet Dhuafa dalam pelatihan “Media Pembelajaran Digital”.

Pelatihan pun dimulai dengan ice breaking dan dilanjutkan dengan memberikan pemahaman apa itu ICT (Information, Communication and Technology). ICT merupakan sebagai bagian dari ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) secara umum adalah semua bagian diantaranya yang berhubungan dengan pengambilan, pengumpulan (akuisisi), pengolahan, penyimpanan, penyebaran, dan penyajian dari sebuah informasi (Kementerian Negara Riset dan Teknologi, 2006). Pak Iwan Sahrudin yang lebih akrab disapa kang Iwan membuat gerakan unik untuk menghafal pengertian ICT. Iwan Sahrudin adalah praktisi yang fokus menggeluti bidang media pembelajaran digital.

Untuk mempersempit bahasan serta menambah keterampilan para guru, Kang Iwan mengajarkan membuat media pembelajaran menggunakan Microsoft Power Point. Mengapa memilih aplikasi ini? Aplikasi ini sering digunakan oleh guru dan dapat ditemukan pada setiap laptop atau PC, yang biasanya hanya digunakan untuk kepentingan presentasi.

Dengan menggunakan 4 prinsip penyajian informasi, kang Iwan Sahrudin mulai mendampingi masing–masing guru membuat media pembelajaran menggunakan power point. Empat prinsip tersebut adalah: unity, di mana gambar, warna dasar dan font harus relevan dan seragam dengan tema. Composition, berkaitan dengan tata letak teks dan pengaturan gambar, mulai dari pengaturan urutan baca hingga meminimalisasi ruang kosong. Emphasis, memberikan penekanan pada teks yang menjadi inti bahasan dengan mengatur besar, jenis dan warna font. Balancing, yaitu pengaturan warna backround dengan teks, teks dengan gambar.

Tidak hanya 4 prinsip tersebut yang diajarkan pada pelatihan ini, teknik pengambilan gambar, video, suara hingga memberikan efek–efek lainnya pada power pointpun diajarkan pada pelatihan ini. Jelas sekali guru tertantang membuat presentasi yang bagus. Ketika pelatihan selesai, beberapa di antara para peserta bahkan masih asik mengotak – atik saking penasaran.

Terlihat ada optimisme bahwa guru – guru ini tidak akan mengabaikan teknologi lagi untuk dipakai dalam pembelajaran. Butuh dampingan dua hingga empat kali lagi, maka guru akan mampu memanfaatkan media pembelajaran digital.

IMG_0762 IMG_0789 IMG_0792 IMG_0838

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.