Inovasi Alat Peraga: “Mobil Kura-Kura Dari Tepi Pantai”

Oleh : In Amullah, S.Si (Relawan Pendidikan Sekolah Guru Indonesia penempatan Halmahera Utara/ kang.amroelz@gmail.com)

“Bersungguh-sungguh dalam belajar, maka saya akan berhasil. Berhasil…! Berhasil…! Berhasil…!” teriak anak-anak kelas 6 SDN Fitako sambil mengepalkan tangan saat menjawab yel-yel “kelas 6….”. Aktivitas  tersebut menjadi pembuka di awal pembelajaran sebelum memasuki apersepsi. Itulah jargon kelas yang saya berikan di setiap kelas yang saya ajar dari kelas 3-6. Masing-masing kelas memiliki yel-yel yang berbeda. Tujuan jargon tersebut adalah untuk memotivasi sekaligus memantik semangat anak dalam belajar setiap harinya. Kali ini di pertemuan perdana semester II saya memberikan kejutan pada siswa kelas 6, yaitu pengumuman bintang prestasi. Semua anak terlihat tegang, dan memasang muka penasaran. Sesekali ada yang menebak-nebak, dan ada juga yang terdiam fokus menanti nama yang akan saya umumkan kepada mereka.

Usai pengumuman peraih bintang prestasi, siswa-siswi kembali bertanya-tanya saat benda-benda yang saya bawa diletakkan di atas meja. Di atas meja sudah ada beberapa alat peraga seperti jungkat-jungkit, ketapel, mobil-mobilan serta sebuah bola kasti yang saya pegang. Saya melempar bola kasti ke atas lantai dan ke tembok. Lalu saya kembali menjatuhkan spidol dan pena. Anak-anak tampak penasaran dengan kegiatan yang saya lakukan di depan kelas. “Kenapa benda-benda tersebut jatuh ke bawah?” tanyaku. “Karena Bapak yang menjatuhkan ke bawah” ujar salah seorang siswa. Kenapa jatuhnya ke bawah, tidak ke atas atau ke samping? Tanyaku lagi. Beberapa anak tampak diam. Tiba-tiba ada suara, “karena gaya gravitasi Pak” Jawab Muhaimin.

Saya kembali menantang siswa dengan pertanyaan lain. Anak-anak saya minta berdiri semua di samping meja. Orang yang di kanan tugasnya mendorong dan yang sebelah kiri menarik meja. Apa yang terjadi dengan meja tersebut?. “Mengeluarkan bunyi Pak” jawab salah seorang siswa. “Berpindah tempat Pak” jawab siswa yang lain. “Mengapa mejanya bisa berbunyi? Dan kenapa berpindah posisi pula?” tanyaku lagi. “Karena didorong pak oleh saya” jawab salah seorang siswa. Siapa yang mendorong? Dan berbagai pertanyaan lain saya ajukan ke siswa dalam aktivitas apersepsi ini. “Dorongan dan tarikan itulah yang dinamakan gaya” jawabku mengakhiri rasa penasaran anak-anak. Gaya tersebut yang menyebabkan benda bergerak, tambahku.

Selanjutnya, saya membagi siswa ke dalam 3 kelompok. Baru pada tahap inilah saya mengenalkan ketiga alat peraga yang sudah ada di atas meja guru. Perwakilan kelompok maju ke depan dan silahkan pimpa. Yang menang pimpa, boleh memilih alat peraga lebih dulu. Masing-masing kelompok sudah mendapat alat peraganya dan saya memberikan waktu kepada mereka untuk berdiskusi dan memperagakan alat peraga tersebut. Jelaskan hubungan gaya dan gerak yang diakibatkan oleh alat peraga tersebut, itulah pertanyaan pertama yang saya lontarkan kepada mereka. Faktor apa saja yang mempengaruhi gerak pada alat peraga tersebut? Kelompok 1 dapat tugas model mobil kura-kura, kelompok 2 dapat tugas model jungkat-jungkit dan kelompok 3 dapat tugas model ketapel. Setelah berdiskusi, masing-masing kelompok diminta untuk presentasi di depan kelas secara bergantian. Guru mendampingi dan menyampaikan konsep materi yang sesuai. Setelah itu siswa mengerjakan lembar kerja. Itulah sekilas gambaran suasana pembelajaran IPA Kelas 6 pada materi gaya dan gerak.

Mengajar dengan alat peraga memang menyenangkan. Terlebih apabila alat peraga tersebut unik dan menarik bagi siswa. Karena dengan alat peraga akan memudahkan siswa untuk menerima konsep materi pelajaran yang berkaitan. Apalagi pelajaran IPA, harus banyak menggunakan alat peraga sesuai dengan materi yang akan diajarkan. Alat peraga tidak harus mahal dan ribet. Alat peraga bisa kita buat sendiri dengan menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitar kita. Tentunya harus disesuaikan juga dengan materi yang akan diajarkan. Seperti dalam pembelajaran ini, saya menggunakan 3 alat peraga dengan peralatan untuk membuat alat peraga berasal dari tepi pantai dan bahan-bahan bekas yang ada di rumah. Bahan-bahan untuk membuat mobil kura-kura adalah botol bekas (sebagai badan), tutup botol (sebagai roda), botol lem (sebagai kepala) dan sedotan sebagai poros roda. Benda-benda tersebut saya dapatkan di tepi pantai. Konsep materi dari mobil kura-kura tersebut adalah gerak pada mobil-mobilan tersebut disebabkan oleh gaya berupa tarikan atau dorongan.

Alat peraga kedua adalah model jungkat-jungkit yang dibuat dari bahan-bahan yang ada di rumah, yaitu bekas tempat teh, kertas origami, kertas HVS, karton dari kardus, potongan bambu kecil, dan sedotan. Konsep materi gerak pada jungkat-jungkit dipengaruhi oleh gaya. Besarnya gaya dipengaruhi oleh jarak beban ke titik tumpu dan berat beban. Alat peraga ketiga adalah model ketapel, yang terbuat dari batang kayu berbentuk huruf Y, karet gelang, kertas warna dan kalep (dari potongan bekas alas meja). Konsep materi yang diajarkan adalah gerak pada ketapel dipengaruhi oleh gaya pegas (dari karet yang bersifat elastis). Itulah sedikit inovasi model pembelajaran yang saya terapkan di kelas dengan menggunakan alat peraga yang murah dan mudah dibuat.

(Seperti yang dimuat di http://kantorberitapendidikan.net/inovasi-alat-peraga-mobil-kura-kura-dari-tepi-pantai/#sthash.DFq1b2pV.dpuf)

{fcomment}

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.