Guru Tipe 3 R

img_20150606_201323.jpg

Masalah pendidikan memang belum ada habisnya di negeri ini, begitu banyak masalah sehingga memerlukan begitu panjang waktu untuk diselesaikan.

Dari sekian banyak masalah, umumnya berakar dari sosok Guru di sekolah. Begitu pentingnya peran guru, sehingga guru sering disebut sebagai ujung tombak pendidikan. Wajarlah bila masalah seputar pendidikan selalu bersinggungan dengan guru.

Maraknya kasus kejahatan kekinian yang didalangi oleh orang berpendidikan, mulai dari kasus teroris, korupsi, narkotika,  asusila, kenakalan remaja, dan berbagai kejahatan kriminalitas lainnya, tersangka umumnya adalah orang yang pernah mengenyam pendidikan, dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, bahkan ada yang bergelar doktor hingga profesor.

Fenomena inilah yang mencoreng dunia pendidikan yang guru adalah ujung tombaknya.

Menjadi guru bukanlah tugas gampang, untuk itu tidak boleh digampang-gampangkan. Menjadi guru sama dengan berjuang untuk merawat Indonesia. Menjadi guru berarti sedang menjaga stabilitas Nasional masa sekarang dan terlebih masa yang akan datang lewat kelas-kelas kecil yang sedang di kelolah saat ini.

Umumnya ada tiga jenis tipe guru di tanah air saat ini:

Guru Nyasar

Guru tipe ini umumnya mereka yang tidak memiliki Passion menjadi guru. Menjadi guru hanya karena belum menemukan pekerjaan yang lebih layak. Sambil menunggu peluang kerja waktu diisi dengan menjadi guru honorer. Berharap suatu saat akan ada pengangkatan dan sertifikasi.

Guru nyasar biasanya mengajar hanya untuk menggugurkan tugas. Datang saat ada jam mengajar pulang saat tidak lagi ada jam mengajar. Guru nyasar hanya mengajar tetapi enggan untuk mendidik, apalagi ikut membuat inovasi baru untuk kemajuan sekolahnya. Guru nyasar akan sangat senang bila tidak mengajar karena libur atau siswa dipulangkan lebih awal.

Ini karena umumnya guru nyasar akan tidak betah di dalam kelas menghadapi pola tingkah anak-anak yang sangat variatif dan merisaukan, jam mengajar yang singkat akan terasa sangat lama bagi seorang guru nyasar. Guru nyasar akan mudah sekali memarahi siswanya apabila ada yang tidak paham atau bisa juga tidak peduli sama sekali siswa mau paham atau tidak, masak bodoh.

Guru Bayar

Tipe kedua adalah guru bayar. Guru bayar bisa saja merupakan guru yang menguasai ilmu tentang pendidikan dan sangat memungkinkan seorang yang sudah sarjana. Hanya saja orientasi mengajar seorang guru bayar adalah pada bayaran sewaktu mengajar. Bila dia guru honorer berapa per jam pelajaran dia digaji. Guru bayar tidak akan mau bekerja di luar jam kerjanya jika tidak ada bayarannya.

Guru bayar juga enggan berinovasi apabila tidak ada bayaran. Kalau gaji mandek guru bayar juga akan mandek, tidak peduli siswa ada yang mengajar atau tidak guru bayar akan selalu menyesuaikan dengan bayarannya.

Guru Sadar

Beruntungnya negara kita saat ini, di saat kehidupan serba pragmatis, hedonisme melanda ke berbagai lapisan masyarakat, modernisasi membuat manusia bersaing untuk menjadi yang termodern, masih saja ada guru-guru yang bertipe Guru Sadar.

Guru sadar merupakan tipe guru yang didambakan setiap orang. Guru sadar merupakan guru-guru yang sadar dengan perannya sebagai guru, guru yang mencintai pekerjaannya, sekolahnya dan siswa-siswanya. Guru sadar tidak menganggap mengajar sebagai sebuah pekerjaan yang berorientasi pada materi.

Guru sadar akan selalu dirindukan oleh siswa-siswanya, karena guru yang sadar dengan perannya sebagai guru akan selalu menjadi orang tua dan sahabat bagi siswa-siswa di sekolah. Guru sadar paham betul dengan semboyan “Digugu dan ditiru”. Guru sadar akan terus memberikan contoh yang baik bagi anak-anak didiknya tidak hanya di sekolah akan tetapi hingga di masyarakat.

Guru sadar sangat sadar bahwa peran guru tidak hanya sebagai pengajar akan tetapi juga mendidik dan menjadi teladan. Guru sadar akan mengamalkan falsafah pendidikan yang sampaian Bapak Pendidikan Indonesia “Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani”.

Semoga guru-guru kita kekinian senantiasa berada pada guru tipe Sadar. Mengingat Indonesia yang semakin tua sangat memerlukan guru-guru ulung untuk merawatnya.

Komentar

komentar