Guru Profesional Butuh Langkah Jitu Di Bawah Ini Agar Siswa Selalu Giat Belajar

Guru Profesional Butuh Langkah Jitu Di Bawah Ini Agar Siswa Selalu Giat Belajar

Oleh: Hernia Marianti

Guru Sekolah Cerdas Literasi SDN 264 Wawondula, Luwu Timur (Sulawesi Selatan)

Menjadi seorang guru menjadi tantangan tersendiri buat saya. Menghadapi anak dengan berbagai macam watak maupun kecerdasan yang berbeda

Masalah yang saya hadapi di kelas adalah anak malas belajar, baik saat belajar di rumah maupun di sekolah. Anak lebih suka bermain daripada belajar; lebih senang menonton televisi daripada mengulang pelajaran di rumah.

Menurut saya, ada dua faktor yang menyebab-kan anak malas belajar. Pertama, faktor internal, yakni penyebab dari dalam diri anak tersebut. Anak dengan inteligensi yang kurang menyebabkan anak tersebut minder dengan temannya yang pintar sehingga menjaga jarak dengan teman sehingga motivasi belajarnya kurang. Kedua, faktor eksternal, yakni faktor dari luar anak. Kemajuan teknologi menghadirkan beragam permainan anak yang menarik sehingga anak lebih tertantang dan betah bermain ketimbang belajar. Faktor eksternal juga bisa berupa pembelajaran di kelas yang kurang menarik. Diperparah oleh adanya hiburan permainan yang memikat, anak akhirnya enggan ke sekolah bila sekadar berhadapan dengan guru yang membosankan.

Sebagai guru, saya dituntut untuk mengubah perilaku malas siswa. Bila siswa malas belajar, sia-sialah mereka ke sekolah. Ke sekolah hanya tanpa hasil, sementara orangtua di rumah begitu berharap banyak pada mereka. Oleh karena itu, saya berusaha meningkatkan minat belajar siswa, dan itu saja jadikan tolak ukur saya dalam mendidik. Cara-cara yang saya lakukan adalah menjalankan dengan baik tugas-tugas selaku guru profesional berikut ini:

Pertama, melakukan pendekatan secara individual kepada anak tersebut. Ber-tanya kepada anak tersebut kenapa malas belajar. Juga bertanya kegiatannya di rumah selepas sekolah. Karena bisa terjadi anak malas belajar lantaran ‘terpaksa’ ia membantu pekerjaan orangtuanya di rumah. Bertanya juga tentang jumlah sau-daranya, karena siapa tahu ia jadi malas belajar karena diharuskan menjaga sang adik atau anggota keluraga yang lain.

Setelah melakukan pendekatan kepada anak, saya pun berkomunikasi dengan orangtuanya. Setelah tahu alasan sang anak malas belajar, saya berdiskusi dengan orangtuanya. Saya pun meminta andil orangtua untk memerhatikan belajar anak di rumah.

Kedua, membuat buku belajar. Saya memberikan tugas kepada setiap anak un-tuk membuat buku belajar yang di dalamnya berisi tanggal, nama siswa, jam belajar (belajar dari jam berapa sampai jam berapa), mata pelajaran yanag dipelajari, ke-simpulan dari mata pelajaran yang telah dipelajari, tanda tangan orangtua, dan tanda tangan guru kelas. Setiap hari siswa menuliskan kesimpulan materi yang mereka pelajari di rumah dan telah ditandatangani oleh orangtuanya. Di sekolah saya me-meriksa buku tersebut dan memberikan nilai. Bagi anak yang tidak menyetor buku belajarnya, saya memberikan informasi kepada orangtua mereka.

Ketiga, memberikan pertanyaan pada saat anak selesai baris-berbaris dan menyanyi di depan kelas. Sebelum masuk ke kelas, terlebih dahulu saya memberikan pertanyaan seputar pelajaran yang telah mereka pelajari. Jawabannya ditulis di buku tulis khusus mereka.

Pertanyaannya dibuat dua sesi. Apabila siswa benar menjawab, mereka men-dapatkan nilai 100 dan boleh masuk lebih dulu ke kelas. Adapun bagi siswa yang

jawabannya belum tepat saat sesi pertama, maka saat sesi kedua saya memberikan soal yang berbeda. Bila jawaban mereka benar, mereka mendapatkan nilai 90 dan boleh masuk ke kelas. Bila dalam dua sesi ini jawabannya tidak tepat, maka siswa akan diberikan hukuman menyiram bunga atau membersihkan halaman kelas.

Keempat, memberikan motivasi kepada anak pada saat ia aktif belajar di kelas atau saat menjawab pertanyaan yang saya berikan. Bentuk motivasinya dengan memberikan arahan kepada seluruh siswa untuk memberikan tepuk tangan, tepuk keren, dan lain sebagainya.

Kelima, di kelas saya selalu memberikan pujian kepada siswa. Walau nilai anak tersebut rendah atau tidak memenuhi kriteria ketuntasan minimal, saya tetap memberikan pujian. Misalnya dengan berkata, “Mantap nilainya, Nak. Sudah naik ya, kalau lebih giat lagi pasti bisa dapat nilai yang lebih tinggi dari yang kamu dapat sekarang.”

Keenam, sewaktu anak mendapatkan nilai 100 pada saat ujian, saya memberikan bintang senyum di samping angka 100 tersebut. Dengan cara ini, siswa yang lain juga ingin mendapatkan penghargaan serupa sehingga mereka pun termotivasi belajar di sekolah maupun di rumah.

Ketujuh, memberikan les tambahan di luar jam belajar. Les ini saya lakukan pada sore hari sekitar pukul 13.30 hingga 16.00.

Saya selalu memberikan semangat kepada anak bahwa kalau kita rajin belajar maka kita akan pintar dan berprestasi. Hasilnya tidak mengecewakan, anak didik saya pernah mewakili Sulawesi Selatan dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) di Jakarta tahun 2012, dan pada 2014 ini ikut dalam OSN dan The International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) tingkat Provinsi. Saya selalu berprinsip, tak ada yang tak mungkin kalau kita berusaha dan berdoa. Kuncinya adalah tekun belajar.

Itulah cara yang saya lakukan dalam menghadapi anak didik saya yang malas belajar. Tentu tak henti-hentinya saya sebagai guru selalu memberikan wejangan kepada siswa agar mereka bisa menjadi generasi yang bermanfaat bagi diri, keluarga, bangsa dan agamanya.

Komentar

komentar