Guru Memang Profesi yang Berat. Ganjarannya Surga atau Neraka

Guru Memang Profesi yang Berat. Ganjarannya Surga atau Neraka

Oleh: Sri Ningsih Pardosi, Ssi

Kepala MIS Al-Hidayah Medan

 

 

“Guru adalah profesi yang berat, profesi yang bisa membawamu ke surga maupun ke neraka,” ujar Zayd Syaefullah pada Konferensi Nasional Sekolah Literasi Indonesia kala itu. Ketika mendengar kalimat tersebut saya tersentak sangat menyentuh hati dan sambil mendengar penjelasan beliau tentang bagaimana guru bisa ke surga dan neraka tanpa terasa air mata saya menetes. Sungguh mengena ke hati. Muncul tekad dalam hati bahwa profesi yang sedang saya geluti hari ini adalah harus menjadi salah satu ibadah saya kepada Allah.

Kenapa Guru?

Seperti yang disampaikan Syafii General Manager Sekolah Model Dompet Dhuafa Pendidikan bahwa guru merupakan tugas mulia,  saya sangat mencintai pekerjaan Guru. Because Teacher is a great profession. Saya merasa beruntung hari ini karena Allah memposisikan saya sebagai guru. Menurut saya melalui pekerjaan inilah cara saya menuju syurga-Nya kelak.

Kenapa Surga?

Karena surga adalah tujuan kita semua. Tiada seorang manusia yang tidak menginginkan surga. Manusia diciptakan dari Allah dan akan kembali pada-Nya dan kita akan menemui-Nya di syurga-Nya kelak. Aamiin ya Rabb.

Mengutip apa yang disampaikan Syafie pada Materi Madrasah Islami kemaren bahwa di mana pun kita berada lakukanlah karya terbaik maka kebaikan-kebaikan lain akan kita dapatkan. Begitu juga harusnya kita, bidang pendidikan yang kita tekuni harus kita isi dengan karya-karya terbaik. Prestasi dan perubahan apa yang sudah kita lakukan selama menjadi guru? Sangat lah merugi kita apabila lama masa kerja sebagai guru tidak sebanding dengan pengalaman mengajar. Cara mengajar tahun lalu sama dengan tahun ini tidak ada inovasi dan kreatifitas yang kita lahirkan dalam pembelajaran. Bagaimana kita bisa melahirkan peradaban baru apabila kita sendiri sebagaia guru tidak mau atau sulit untuk berubah.

Membangun peradaban baru harus dimulai dari rumah/keluarga. Namun kita adalah mitra orang tua untuk membangun peradaban itu. Apabila rumah yang menjadi tonggak awal pembentukan peradaban itu baik maka sekolah hanya membantu dan memoles saja pembentukan generasi tersebut. Namun apabila rumah/keluarga tersebut bermasalah maka menjadi tugas sekolah untuk membentuk pribadi anak yang menjadi cikal bakal generasi pembentuk peradaban baru.

Di sinilah peran kita sebagai guru pembentuk peradaban baru. Tugas ini adalah ladang amal bagi kita. Membangun karakter anak bangsa berdasarkan Al-Quran dan hadist hingga terbentuk nantinya generasi-generasi awal pada zaman Rasulullah saw. Generasi yang teguh iman, akhlak yang santun, jujur, disiplin. Insya Allah generasi seperti itulah yang kita didik saat ini.

Kita sudah tau bahwa salah satu amal yang tak terputus sampai kapanpun adalah ilmu yang bermanfaat. Ketika kebaikan yang kita sampaikan kepada siswa diamalkan serta diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari  maka pahala yang kita dapatkan akan mengalir terus kepada kita selama mereka masih mengamalkan ilmunya. Itu masih satu siswa, bagaimana pula pahala yang kita dapat dengan jumlah siswa dan guru yang banyak. Bisa dibayangkan apabila semua warga sekolah mengamalkan apa yang kita ajarkan.

Nah, karena inilah saya ingin mengajak bapak/ibu guru hebat untuk berubah menjadi guru inspiratif. Guru yang memberi teladan bukan hanya bagi siswanya namun seluruh warga sekolah bahkan  masyarakat. Guru yang dihargai karena keluasan ilmunya dan ke-istiqomah-an beribadahnya. Guru yang dikagumi karena kemuliaan akhlak dan semangat belajarnya. Mari kita raih kembali kejayaan kita dengan berpijak pada sumber peradaban kita yaitu Al-Quran dan Sunnah.

Harapan saya setelah mengikuti Konferensi Nasional Sekolah Literasi Indonesia Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa adalah Memantaskan diri untuk mengemban amanah pendidikan yang saya pegang dan menyatukan visi misi bersama guru dan stakeholder sekolah lainnya agar bisa bersama-sama mewujudkan sekolah yang berlandaskan Literasi serta mampu menciptakan peradaban yang Madani.

 

Komentar

komentar