Guru: Digugu lan Ditiru atau Diguyu lan Ditinggal Turu

Guru: Digugu lan Ditiru atau Diguyu lan Ditinggal Turu

Oleh: Inda Dwi Septianingrum

 

Sekolah Literasi Indonesia (SLI), merupakan program optimalisasi sekolah dengan kekhasan literasi. Program tersebut yang mengantarkan saya berada di tempat ini. Tempat yang biasa disebut dengan Bumi Pengembangan Insani (BPI), tempat di mana para peserta diharapkan berkembang menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dan di Sekolah Literasi Indonesia ini, kami dibimbing dan diberi bekal untuk menjadi seorang konsultan, trainer, dan coach di sekolah di berbagai wilayah Indonesia.

KAWAN (Konsultan Relawan) SLI adalah sebutan bagi kami, 24 peserta dari sepuluh provinsi di Indonesia yang nantinya akan mengabdikan dirinya selama satu tahun di 19 wilayah di Indonesia. Untuk bekal di penempatan selama satu tahun, rasanya pembekalan dua bulan masih kurang. Pada pembekalan ini, kami diberikan materi terkait desain pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, penyusunan program, manajemen sekolah, dan teknik-teknik menjadi seorang konsultan, trainer dan coach.

Pembinaan KAWAN SLI di sini diawali dengan kegiatan literasi pagi, kemudian materi lokakarya ditutup dengan literasi sore. Pemateri kompeten didatangkan untuk membimbing kami. Selain itu, terdapat program-program pengembangan seperti salat berjamaah, mengaji bersama, menjadi imam salat secara bergantian, dll. Saya percaya, saat ini saya sudah berada di tempat yang tepat. Dan saya percaya pula, mungkin ini bagian dari hidayah yang Tuhan berikan bagi saya agar bisa menjadi pribadi lebih baik lagi.

Berbagai kompetensi dikembangkan baik dari segi kesiapan materi maupun kepribadian yang mantap. Hal tersebut diharapkan agar kami bisa menjadi model bagi sekolah-sekolah dampingan untuk mengoptimalkan kegiatan pembelajaran di sekolah. Meskipun amanat dalam Pasal 31 Undang-Undang Dasar 1945 mengatakan bahwa “setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”, namun tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan di Indonesia masih belum merata. Sebenarnya berbagai masalah yang menyebabkan tidak meratanya pendidikan di Indonesia, namun apabila ditarik benang merahnya permasalahan pendidikan di Indonesia saat ini adalah pendidikan yang kurang bermakna. Beberapa guru masih banyak mengajar tanpa perencanaan yang matang. Dampaknya, peserta didik cenderung kurang termotivasi untuk belajar lebih maksimal.

Guru yang ketika mengajar cenderung monoton dapat menyebabkan peserta didik bertindak seenaknya sendiri, kurang bergairah dalam belajar bahkan terkadang bertidak kurang sopan. Misalnya ketika guru hanya memberikan materi dengan metode ceramah, maka beberapa peserta didik ada yang bosan di dalam kelas. Istilah Jawa mengatakan bahwa guru adalah “Digugu lan Ditiru”, yang artinya guru harus bisa menjadi teladan agar bisa dicontoh oleh peserta didiknya. Namun seiring dengan dinamika kehidupan khususnya di bidang pendidikan, istilah guru yang seharusnya bisa “Digugu lan Ditiru” diplesetkan menjadi “Digugu lan Ditinggal Turu”.

Sebelumnya saya juga pernah mengikuti program SLI, dan kurang lebih saya mengerti kondisi pendidikan di pelosok Indonesia itu seperti apa. Sangat miris ketika melihat kesenjangan pendidikan antara di pusat kota dan pelosok. Maka dari itu saya ingin berkontribusi untuk negara tercinta ini. Apa yang saya lakukan di sini adalah bagian dari tugas dan menjalankan amanat Undang-Undang Dasar 1945 bahwa pendidikan adalah hak warga negara Indonesia. Mereka berhak mendapatkan pendidikan yang sama dengan kita. Untuk itu kami ingin merangkulnya. Kami ingin mengembalikan istilah guru yang seharusnya memang bisa menjadi sosok yang bisa Digugu lan Ditiru, bukan Diguyu lan Ditinggal Turu. SLI ini adalah wadah, dan apapun programnya itu hanyalah soal nama, sejatinya tujuan kita tetap sama, yaitu merangkul saudara-saudara kita di bidang pendidikan khususnya di daerah-daerah pelosok.

Komentar

komentar