Guru Agung: Kepala Sekolah Harus Mengembangkan Diri

 

Ciri sekolah baik ialah sekolah tersebut bisa berkembang dan mampu menghadapi tantangan zaman. Hanya saja tak semua pihak di dalam sekolah menginginkan perubahan, ada saja keluhan ketika sekolah ingin melakukan perubahan. Jika hal tersebut terjadi maka kepala sekolah sebagai pemangku kebijakan tertinggi dituntut mampu mengakomodasi keadaan tersebut.

 

Guru Agung, sapaan akrabnya, memaparkan bahwa jika ingin mewujudkan sekolah mumpuni maka guru harus memiliki tiga kunci penting dalam pendidikan.

 

“Ada tiga kunci penting yang harus dimiliki seorang guru. Pertama, seorang guru harus menguasai ilmu sedalam-dalamnya. Karena jika tak mampu menguasai ilmu yang diajarkan maka siswa tak mendapatkan apa-apa. Kedua, guru harus pandai berkomunikasi karena komunikasi merupakan satu dari banyak cara penting untuk masuk ke dalam dunia mereka yang dinamis. Ketiga, seorang guru harus membuang buang ego dari dalam diri, ini penting agar guru mampu menyelami kondisi siswanya.

 

Di zaman serba modern di mana teknologi menguasai hampir seluruh aspek kehidupan, eksistemsi guru kembali dipertanyakan. Mengutip kata-kata Jack Ma, jika sekarang para pendidik berada pada masa tidak dapat mengalahkan mesin.  “Mungkinkah siswa masih membutuhkan guru?” tanya Guru Agung. Para kepala sekolah tergugu dan terdiam seakan takjub dengan pertanyaan yang ia lontarkan.

“Walaupun guru dianggap kalah bersaing dengan mesin, tapi ternyata siswa masih membutuhkan guru. Mesin tidak dapat mengajarkan budaya sekolah dan memberikan empati, simpati, serta keteladanan pada mereka,” jawab Guru Agung penuh semangat.

Ia menambahkan jika inti budaya sekolah ada di dalam hati para pengajar, dari hati mereka akan tercipta hal baik ke arah pengembangan nilai-nilai yang diusung.  “Guru mau tidak mau, suka tidak suka, HARUS mengubah paradigma mereka supaya lebih modern. Apa yang dikuasai murid kudu bisa dikuasai oleh gurunya,” timpalnya.

Guru adalah inti dari sekolah, posisinya tak akan tergantikan oleh apapun. Namun guru tak bisa hanya sekadar diam tanpa melakukan perubahan karena zaman terus berubah begitupun dengan pola pikir siswa. Guru dianggap bukan lagi sebagai sumber belajar melainkan pemimpin. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan guru dalam menghadapi tantangan zaman diantaranya menghilangkan paradigma murid lebih rendah dari guru, karena sejatinya guru harus mengakui jika dirinya butuh upgrading dari para siswanya. Kedua, guru dapat memaksimalisasi kemampuan siswa dengan memberi mereka kesempatan untuk mengajar di dalam kelas, fungsinya agar tercipta suasana kelas yang kondusif dan tidak monoton.

“Ketika kita menjadi pemimpin, maka kita dapat memberikan kepercayaan kepada siswa untuk mengajar teman-temannya. Jangan jadikan siswa hanya sebagai siswa, mari kita jadikan siswa sebagai mitra,” tutup Agung. (AR)

 

Komentar

komentar