Gigih untuk Dua Impian

Setiap manusia selalu mempunyai impian dan harapan.

Selalu diawali dengan mimpi karena berawal dari mimpilah kesuksesan dapat diraih. Untuk meraihnya butuh sebuah proses dan waktu yang panjang.

Saya mengawali proses menuju kesuksesan de-ngan menjadi guru honorer di SD Inpres Timika II pada Juni 2012. Setelah diterima di sekolah, saya langsung diarahkan oleh Bapak Adang Kurnia, selaku kepala sekolah, untuk bergabung dengan rekan-rekan guru yang lain mengikuti pelatihan dari Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Jelas saja senangnya hati saya pada saat itu. Sudah diterima di sekolah tersebut, bisa diikutkan dalam pelatihan pula. Bergabung dengan rekan-rekan guru yang sudah banyak pengalaman dalam menjalankan tugas sebuah kehormatan untuk saya. Apalagi setelah mengikuti pendampingan dan pelatihan yang memberikan banyak ilmu, saya bertambah semangat.

Pertama kali saya dipercaya Bapak Kepala Sekolah untuk memegang kelas 2, menggantikan sementara waktu Ibu Christin Rumbino selaku guru kelas yang te-ngah sakit. Sekitar dua bulan lamanya saya mengampu kelas 2. Setelah itu, saya di-minta Bapak Kepala Sekolah untuk memegang kelas 4B. Pada saat itu wali kelasnya, Ibu Dista Teresia, harus kembali ke tugasnya yang semula sebagai staf tata usaha.

Menjadi wali kelas tantangan tersendiri bagi saya karena harus pintar-pintar membagi waktu. Selain sebagai guru, saya harus mengurus suami dan ketiga anak tercinta kami. Saat yang sama, saya tengah menempuh perkuliahan. Demikianlah kesibukan saya setiap hari. Harus saya lalui demi mewujudkan impian dan harapan. Semua itu saya jalani dengan rasa syukur, tanpa ada kata menyerah atau menge-luh.

Setiap pagi, sebelum berangkat ke sekolah, saya sudah harus bangun pagi-pagi. Saya harus mengurus perlengkapan sekolah anak-anak saya, yaitu Hanny dan No-val. Saya juga mengurus sarapan suami saya, seorang pegawai negeri sipil di dinas perkebunan. Biasanya suami saya berangkat ke kantor bersama Hanny dan Noval, sedangkan saya ke sekolah bersama si kecil Ian yang masih berumur 2 tahun 6 bulan.

Selesai dengan tugas mengajar di sekolah, saya dan ketiga buah hati tercinta langsung pulang ke rumah. Hanya tersisa 15 menit dari waktu kepulangan sekolah sebelum saya masuk kuliah pada pukul 12.30. Waktu 10 menit benar-benar saya manfaatkan untuk memasak makanan anak-anak dan suami tercinta. Sebelum meninggalkan anak-anak di rumah dan ke kampus, saya menelepon terlebih dulu suami. Pukul 18.00 saya pulang dari kampus, lalu berkumpul lagi bersama keluarga di rumah.

Begitulah siklus selama hampir 2 tahun 6 bulan saya jalani. Pada Februari saya yudisium di Timika, dan sebulan kemudian diwisuda di Jayapura. Ternyata perjuang-an saya selama ini tidak sia-sia. Tercapai pula impian pertama saya.

Impian pertama sewaktu masuk dunia perkuliahan adalah ingin mencapai prestasi terbaik setelah wisuda. Jelas butuh kerja keras bahkan pengorbanan. Saya senang mampu melaluinya dengan senang hati walau anak-anak tercinta menja-di taruhannya. Akhirnya mimpi itu tercapai. Kebahagiaan saya dilengkapi dengan predikat cum laude.

Selesai wisuda saya langsung kembali ke Timika karena harus menjalankan tugas sebagai guru. Sampai sekarang saya masih melaksanakan tugas ini dengan baik. Semua ini dapat berjalan dengan baik karena ada kerja sama yang baik dari seluruh warga sekolah.

Setelah menjadi wali kelas 4B, saya diberikan kepercayaan menjadi wali kelas 2C menyusul kemudian wali kelas 2A. Saat menuliskan kisah perjalanan ini, saya sudah diminta kembali menjadi wali kelas 2C.

Menjadi seorang guru itu memang sangat mulia karena mengajarkan banyak hal kepada semua anak bangsa kita. Yang belum mengenal huruf sudah bisa me-ngetahui; yang tidak bisa membaca dan menulis sudah bisa semuanya. Mengubah-nya bukanlah sekadar pekerjaan berat, melainkan juga pekerjaan sangat luar biasa dan mulia.

Menjadi guru honorer memang saya harus selalu siap siaga. Diminta masuk ke kelas yang tidak ada gurunya harus saya lakukan. Mau berkata apa, toh itu sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai guru. Saya yakin, banyak cara menuju Roma asalkan sabar dan ikhlas menjalaninya. Selama menjadi guru honor di SD Inpres Timika II, saya berusaha untuk tidak pernah lalai melaksanakan tugas, kecuali saat sakit ataupun ada keperluan pribadi yang sangat penting. Saya sering merasa ber-salah kepada murid-murid apabila tidak masuk sekolah. Saya iba pada mereka yang sudah hadir di sekolah dan menunggu ibu gurunya datang. Maka, mau tidak mau, saya harus selalu hadir di sekolah demi generasi penerus bangsa.

Kalau Tuhan berkenan, saya tidak ingin menjadi tenaga honorer ‘abadi’. Saya ingin diangkat menjadi pegawai negeri sipil, sebagaimana sudah menjadi impian kedua saya. Tetapi, saya sadar, itu semua Tuhan yang atur. Hidup, mati, rezeki se-muanya adalah rancangan Tuhan. Kita manusia hanya merencanakan, tetapi Tu-hanlah yang menentukan. Saya selalu berpegang kepada moto “takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan” dan ora et labora—berdoa dan bekerja. Tidak hanya dengan berdoa semua mimpi akan dicapai, tetapi juga harus kita usahakan terus-menerus.

 

Agustina Kambu

Guru Sekolah Cerdas Literasi SD Inpres Timika II, Mimika (Papua)

Komentar

komentar