Dompet Dhuafa Dorong Budaya Literasi di Sekolah

BANDUNG—Literasi merupakan isu penting bagi pendidikan Indonesia. Pasalnya, dari berbagai kajian dan hasil penelitian menempatkan Indonesia sebagai negara yang rendah tingkat literasinya.

Berdasarkan Survei Central Connecticut State University in New Britain menyuguhkan data bahwa tingkat literasi Indonesia berada di rangking 60 dunia. Data lain dari UNESCO 2012 menyebutkan bahwa minat baca di Indonesia hanya sekitar 3 buku per tahun. Artinya, dalam setiap 1000 orang hanya ada 1 orang yang minat baca. Kondisi ini tentu sangat jauh jika dibandingkan dengan negara maju di mana minat baca mereka sangat tinggi, yakni 20-30 buku per tahun.

“Budaya literasi masih menempatkan siswa sebagai objek utama, padahal guru dan sistem di sekolah pun memiliki peranan penting dalam meningkatkan budaya literasi,” ungkap Zainal Umuri, Manager Program Sekolah Literasi Indonesia, Dompet Dhuafa dalam acara Talk Show “Literasi untuk Indonesia” di Aula BPPTK Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Bandung, Sabtu (30/9).
Zainal menambahkan, minat baca dan membaca pemahaman siswa Indonesia perlu dilakukan pengkajian ulang. Ini bertujuan agar bisa memetakan minat baca anak Indonesia serta memetakan kemampuan baca dan memahami bacaan anak Indonesia.

Dalam talk show yang menghadirkan para pegiat literasi di Jawa Barat ini dibahas bagaimana sekolah dan pegiat literasi dalam meningkatkan pemahaman masyarakat tentang literasi.

Acara Talk Show “Literasi untuk Indonesia” merupakan salah satu aktivitas dari program Sekolah Literasi Indonesia (SLI). SLI merupakan model sekolah yang berkonsentrasi pada peningkatan kualitas sistem instruksional (pembelajaran) dan pengembangan budaya sekolah dengan kekhasan literasi.

“Konsep program Sekolah Literasi Indonesia ini diperoleh setelah melalui beberapa proses pengembangan dan penyempurnaan dari konsep-konsep sebelumnya. Antara lain, dalam proses awal program dilaksanakan pelatihan bagi guru-guru dari berbagai sekolah dan dari berbagai daerah mulai dari Aceh sampai Papua, serta pelatihan setiap minggu selama setahun bagi guru-guru terpilih,” ujar Zainal.

Diharapkan dari program ini, sekolah dapat menjadi model bagi sekolah lain dalam meningkatkan prestasi akademik dan non-akademik siswa, juga pembentukan karakter peserta didiknya.

“Di samping itu, program SLI juga membenahi perpustakaan sekolah sebagai pusat sumber belajar, sehingga diharapkan mampu mempermudah akses siswa untuk membaca yang pada akhirnya akan meningkatkan kemampuan dan budaya baca di kalangan siswa,” pungkas Zainal. (YG-Dompet Dhuafa Jawa Barat)

Komentar

komentar