Doa Sapri

Sapri-Agung

Oleh: Agung Rakhmad Kurniawan, KAWAN SLI Penempatan Kapuas, Kalimantan Barat

 

Salah satu waktu terbaik untuk berdoa ialah ketika jeda antara azan dan iqomah dikumandangkan. Tangan kecilnya menutup muka, tertahan lama, entah apa yang ia ucap dibalik jari-jari mungilnya. Lampu surau yang tak mau terang, remang ,dan setenang doa yang mengalir mengiringi alir Sungai Kapuas di bawah surau. Tersandar ia di bawah tiang belakang, khidmat melanjutkan doa. Sampai akhirnya ia melepaskan jari-jari yang menutup mukanya, berucap aamiin setelahnya.

Aku masih terpana melihatnya, malaikat kecil dengan doa yang di-aamiin-kan berjuta malaikat. “Sapri, ke sini nak,” ucapku. Seperti biasa ketika sudah salat berjamaah, ia duduk di pangkuanku, duduk bersandar sambil kadang kuusap kepalanya. “Sapri berdoa apa nak?” ia menoleh ke arahku, pindah dari pangkuan ke sajadah. “Pengen pak bait agik pak (ingin pak sehat lagi, pak,” ia tertunduk, aku hanya menatapnya, meng-aamiin-kan ucapannya. Kami sama-sama tertunduk, kuusap lagi kepalanya, “insya Allah, pasti pak bait agik, nak, berdoa selalu ya (insya Allah pak pasti sehat lagi nak, berdoa selalu ya)”. Ia mengangguk perlahan. Rasa rindu kepada orangtua di rumah langsung menyergap, Sapri membuat mata gurunya ini mengembun.

“Pak kenapa?” dengan gigi ompongnya ia tersenyum. Aku hanya menatapnya. Berdoa terbaik untukknya. Lengan kecil yang sudah berotot, anak tujuh tahun yang sudah mengayuh sampan, menyeberangi sungai, dan yang paling membuatku terkadang malu, ia selalu mendahuluiku berada di surau.

Sapri berjuang dengan ibu dan kakak perempuannya memenuhi kebutuhan hidup sepulang sekolah, tapi mereka bertiga tak pernah absen berada di surau, terkadang aku melihat hanya mereka bertiga duduk membaca Yasin, berdoa yang terbaik untuk kehidupan yang sementara ini. Ayah Sapri lumpuh beberapa tahun lalu, saat Sapri belum lahir. Betapa anak sekecil ini sudah harus berjuang.

“Pak, hayuu maju,” kebiasaan Sapri mendorongku untuk menjadi imam di surau, aku kadang tersenyum melihat tingkahnya. Senyum Sapri memberi arti, permintaan kecilnya yang menguatkan untuk terus berdiri memimpin umat di sini. Melantunkan doa-doa terbaik untuk semua harapan yang ada di desa ini. Sapri, anakku, semoga bapakmu cepat pulih kembali, berbesar hatilah nak, Allah bersamamu.
Cerita dari surau dipinggir sungai Kapuas, Kalimantan Barat.

 

***

 

Mari bergabung dan bergandengan tangan bersama Dompet Dhuafa Pendidikan untuk menyalakan pelita harapan anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomi melalui program-program pendidikan berkualitas. Salurkan zakat, infak, dan sedekahmu melalui nomor rekening: 2881 2881 26 BNI Syariah a.n. Yayasan Dompet Dhuafa Republika

Komentar

komentar