Disiplin Tonggak Kemajuan Sekolah (1)

Oleh : Riza Rusanti, Guru SDN 004 Ceruk

Salah satu tujuan penyelenggaraan pendidikan adalah untuk membentuk sikap moral dan watak dalam masyarakat agar berbudi luhur. Hal tersebut bisa dimulai dari generasi muda khususnya murid. Murid Sekolah Dasar merupakan usia yang efektif bagi pendidikan disiplin, diharapkan dengan disiplin, murid mampu memiliki penghargaan akan diri dan lingkungannya, berkepribadian dan bermoral.

Disiplin adalah perilaku yang sangat positif, oleh karena itu layak untuk terus dikembangkan terutama di lingkungan sekolah. Dengan disiplin anak diharapkan bisa memahami peraturan dan tata tertib yang diberlakukan di sekolahnya. Tentu dalam hal ini anak juga tetap diasah kekritisannya agar tidak begitu saja dikenakan sebagai objek dari sebuah peraturan. Hendaknya anak juga memiliki pemahaman yang utuh kenapa sebuah aturan diterapkan. Kepatuhan siswa terhadap berbagai aturan dan tata tertib yang berlaku dikenal dengan istilah disiplin siswa. Sedangkan peraturan, tata tertib dan berbagai ketentuan lainnya yang merupakan perilaku siswa disebut disiplin sekolah. Adapun disiplin sekolah merupakan sebuah upaya sekolah untuk memberikan rambu bagi siswa agar tidak melakukan perbuatan yang menyimpang dari norma, peraturan dan tata tertib yang berlaku di sekolah.

Dari Wikipedia, penulis menemukan bahwa disiplin sekolah merupakan sebuah aturan. Aturan tersebut bisa berupa aturan standar berpakaian, ketetapan waktu, perilaku sosial, dan etika belajar. Pengertian disiplin sekolah kadang kala diterapkan melalui sebuah reward dan

punishment. Sanksi merupakan sebuah konsekuensi dari pelanggaran terhadap peraturan. Kadang di berbagai jenjang pendidikan kita masih mendapati banyaknya kontroversi dalam menerapkan metode kedisiplinan, dan tidak sedikit pula yang terjebak pada perlakuan fisik dan menciderai secara psikologis.

Sejatinya disiplin sekolah bertujuan untuk :

  1. Memberi dukungan bagi terciptanya perilaku yang tidak menyimpang
  2. Mendorong siswa untuk selalu melakukan kebaikan
  3. Membantu siswa untuk memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungannya dan menjauhi melakukan hal-hal yang melanggar norma atau lebih khususnya lagi tidak melanggar aturan sekolah.
  4. Siswa belajar hidup dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan bermanfaat bagi lingkungannya.

Penulis memberikan perhatian pada poin keempat yaitu bahwa dengan disiplin bisa diajarkan untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan bermanfaat bagi lingkungannya. Dengan begitu kita bisa berlepas dari suasana horor yang selalu datang beriringan dengan kata disiplin. Ketika berbicara tentang kedisiplinan kita tidak lagi berbicara tentang sanksi tapi kebaikan apa yang akan dituai dari penerapan sebuah aturan.

Dalam hal sekolah, disiplin sekolah bertujuan untuk menciptakan keamanan dan lingkungan belajar yang nyaman. Jika di dalam kelas seorang guru tidak mampu menerapkan disiplin dengan baik maka suasana menjadi kurang kondusif dalam mengoptimalkan hasil belajar siswa, hal ini tentu sejalan dengan Keith Devis yang mengatakan bahwa

Discipline is management action to enforce organization standard.

Hal yang perlu dicermati dalam penerapan disiplin adalah bukan hanya dilakukan pasca sebuah kesalahan dilakukan tapi hendaknya disiplin ini bersifat preventif, yaitu upaya menggerakkan siswa untuk mengikuti dan mematuhi aturan yang berlaku dengan sebuah kesadaran sehingga siswa paham tanpa harus melakukan kesalahannya terlebih dahulu. Adapun begitu, ruh lain dari disiplin tetap harus bersifat korektif, sehingga siswa yang melakukan kesalahan dikenakan sanksi dan senantiasa didorong terus untuk memperbaiki dirinya sehingga dengan kesadaran mampu mengikuti norma yang berlaku.

Penerapan disiplin memang selalu menjadi sebuah alat kontrol yang paling sering ditemukan untuk mengendalikan perilaku negatif siswa yang sudah sangat mengakhawatirkan. Penggunaan narkoba, pornografi, seks bebas, bulliying, dan perilaku lainnya yang mempunyai kecenderungan merusak-destruktif. Disiplin selalu dipercayai sebagai alat preventif sebagai upaya penanggulangan bagi tindak negatif.

Akan tetapi outcomes pendidikan berupa siswa yang memiliki karakteristik positif tidak bisa dibentuk secara instan hanya di lingkungan sekolah. Selain sekolah, ada faktor lingkungan dan keluarga. Masyarakat sendiri tentunya memiliki kearifan moralitas alamiah yang lahir dari persamaan-persamaan hak asasi manusia yang ada dan adanya persamaan dalam menunaikan kewajiban-kewajiban moral. Berangkat dari hal tersebut, individu dan masyarakat bersepakat menciptakan kontrak sosial dalam mengabsahkan formasi-formasi sosial yang eksis menjamin kohesi sosisal. Jadi, disini kita bisa sederhanakan bahwa ruh dari sebuah aturan adalah kesepakatan bersama yang tidak pernah sama antara satu tempat dengan tempat lainnya dan aturan itu merupakan aturan yang disepakati untuk menjaga keharmonisan.

Untuk skala sekolah, kedisiplinan siswa akan terasa melangit – utopis- jika melulu menuntut anak, sebuah langkah bijaksana jika kedisiplinan itu sendiri dicontohkan oleh kepala sekolah, dan guru. Sehingga kita akan lebih bisa mempertanggung jawabkan apa yang kita ucapkan kepada anak, karena kita sendiri sudah melakukannya. Profesi guru dengan sendirinya menuntut kita untuk menjadi pribadi yang disiplin, mendisiplinkan mulut agar dari sana yang keluar hanya perkataan yang positif, mendisplinkan perilaku agar senantiasa jujur, mendisiplinkan hati agar terhindar dari emosi dan bisa tumbuh sebuah pengendalian diri yang baik.

Komentar

komentar