Dinamika Sekolah “Guru Terbang”

Dinamika Sekolah “Guru Terbang”

Oleh: Shirli Gumilang

Tujuan Pendidikan Nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. (UU Nomor 20 Tahun 2003, Pasal 3)
Sungguh mulia Indonesia merancang tujuan pendidikannya. Tidak hanya menyentuh elemen akal saja, tetapi juga jasad dan spiritualitas. Tujuan tersebut jika terlaksana dengan baik, maka sudah bisa dipastikan Indonesia menjadi negara yang bermartabat dan dipandang oleh dunia. Tidak seperti saat ini, Indonesia “dihinakan” dalam sebuah buku karangan tokoh Amerika yang memprediksi Indonesia akan bubar dan hilang konsep namanya pada 2030 nanti. Ini bukan soal buku fiktif tersebut atau soal sebuah penghinaan negara. Tetapi ini soal pandangan dunia terhadap Indonesia. Hal ini juga menjadi bahan refleksi, khususnya bagi kita yang bergerak dalam dunia pendidikan.
Tujuan besar tersebut akan tewujud jika setiap lembaga atau institusi sekolah memiliki tujuan yang sama. Diibaratkan bahwa saat ini, sekolah seperti hilang tujuan, entah ia akan bergerak ke mana, ia bingung. Saat ini yang dipikirkan sekolah adalah rutinitas tanpa batas, kehilangan ruh tanpa jiwa. Itulah yang menyebabkan Indonesia saat ini belum sampai pada titik Tujuan Pendidikan Nasional yang diamanahkan Undang-Undang.
Dinamika yang terjadi di sekolah begitu kompleks. Mulai dari manajerial, finansial, pengembangan profesionalisme guru, hubungan sekolah dengan orangtua, guru yang sering keluar masuk, berkubu-kubunya status PNS dan non-PNS, kepala sekolah yang jarang masuk, “guru nyubit dipenjarakan”, guru honor memprihatinkan. Masih banyak lagi, termasuk salah satunya yang akan dibahas saat ini adalah fenomena “guru terbang”.
Tidak adanya ketentuan yang jelas tentang mekanisme rekruitmen guru menjadi akar masalah dari adanya guru terbang. Jadi guru (honor, kalau jadi PNS bersaing ketat) di negeri ini sangat mudah, cari sekolah kemudian daftar kalau ada sanak saudara atau “orang dalem” lebih mudah lagi untuk masuk jadi guru. Itu yang akhirnya membuat guru di sekolah kelebihan muatan. Dengan adanya ketentuan jam mengajar per minggu, akhirnya banyak diantara mereka yang memilih untuk menjadi “guru terbang”. Mengajar ke sana ke mari untuk “kejar setoran”
Kembali ke topik awal. Fenomena “guru terbang” sudah tidak asing di sekolah, hampir di setiap sekolah memiliki “guru terbang” yakni guru yang tidak hanya mengajar di satu sekolah, ia mengajar di dua, tiga atau lebih dari empat sekolah. Setelah mengajar di satu sekolah, ia “terbang” ke sekolah lainnya untuk kejar setoran jam mengajar. “Huh… Ini sangat melelahkan” itu yang ingin sekali dikatakan oleh “guru terbang”. Betul?
Akhirnya hal seperti ini sangat mengganggu bagi pembudayaan di sekolah. Karena sebuah budaya seharusnya dilakukan secara bersama dan berkelanjutan. Sekolah adalah rumah kedua untuk siswa, namun sepertinya istilah tersebut tidak lagi cocok digunakan. Karena orangtua (guru.red) nya cerai berai, punya banyak rumah. Tidak ada lagi perhatian untuk melihat perkembangan siswa secara hati ke hati. Pendidikan akhirnya berjalan hanya sebatas hubungan transaksional, guru jam mengajarnya selesai, selesai juga tanggungjawabnya. Itu sungguh sangat tidak baik untuk budaya sekolah.
Hubungan kekeluargaan di sekolah tersebut tidak terjalin dengan baik. Guru guru akhirnya hanya sekadar kenal nama tok. Bahkan bisa jadi satu sama lain ada yang tidak saling mengenal. Jangankan untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman mengajar, untuk saling ketemu saja harus banyak mengatur waktu. Sekolah unggul adalah sekolah yang mampu mengatur semua gurunya untuk ikut terlibat dalam proses pembudayaan sekolah dan itu sangat sulit bagi sekolah jika memiliki guru terbang.
Bagi sekolah yang berencana untuk menjadi sekolah unggul, maka lakukanlah hal berikut:
1. Membuat standar calon guru
2. Lakukan seleksi terhadap calon guru
3. Lakukan pembinaan terhadap guru, termasuk guru terbang.
Bersambung…..

Komentar

komentar