Diam-Diam

Oleh: Kitty Andriany.

Anak-anakku
Terkadang aku merasa seperti pohon paruh baya yang hobinya belajar bersama kalian
Pun sesekali memainkan peran nenek lampir yang menyeramkan dengan pupil yang kukembang kempiskan
Bukankah aku tak pantas bertingkah kekanakan?

Maka ketika kalian memanjat puncakku
Kurebahkan setiap sel, memasung segala gerak yang kumampu
Menyisakan mata yang bergerak kejauhan
Menyulam makna dengan pandangan yang berbahasa
Memaksa takluk detak di jantungmu
Hingga kau membisu padu
Saling berisik mengingatkan pada yang lupa bahwa langitku mulai temaram

Anak-anakku
Kau pernah menjamuku dengan karakter usiamu yang lucu lugu
Lalu kusantap hingga perutku serupa perutmu
Kita bermain seakan aku dan kamu lahir di tahun satu
Betapa seru, membacamu adalah madu

Tapi aku sering meninggalkanmu menebar dedaunan putih
Yang tertitip di dahanku
Kau jadi pilu, menunggu

Lalu kau menemukan pohon baru
Di pagi yang tak bersamaku

Nak, bacalah
Bahwa pohon tak satu pun juluran dahannya mengarah pada bentuk, arah dan panjang yang serupa
Meski buah sama-sama menjadi idaman

Maka biarlah aku menunggu pertemuan di lain waktu

Meski rindu selalu laju menderu
Aku senyum pada punggungmu
Biar kupandangi
Hingga jadi berarti
Diam-diam aku…
Aku… diam-diam
Diam-diam menyaksikan mekarmu
Setelah kupindah semai
Di dalam tanah gambut pada sebuah wadah di hatiku

Diam-diam, aku merindumu

Komentar

komentar