Di Ujung Negeri Ku Perbaiki Pendidikan Negeriku

Oleh: Hani Karno 

Natuna adalah sebuah kabupaten di bagian Utara Indonesia. Natuna merupakan daerah yang banyak mencuri perhatian dengan potensi gas yang tercatat merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. Sudah sepatutnya daerah ini memiliki kesejahteraannya sendiri. Pada 1999 seiring dengan euforia desentralisasi sebagai berkah dari angin reformasi, rakyat Natuna menyuarakan aspirasinya dengan memilih untuk memekarkan diri menjadi daerah tingkat II, kelahiran Kabupaten Natuna menjadi angin segar bagi masyarakat Natuna, mekarnya daerah ini banyak memunculkan ketersediaan untuk berbenah, bersolek, dan senantiasa memperbaiki kesejateraan masyarakatnya.

Natuna adalah daerah yang memiliki bentang laut dan daratan dalam perbandingan yang jauh, yaitu 99,01% lautan dan 0.99%daratan. Tercatat luas daerah Natuna 264.788,51 Km2 dengan perairan 261.567,35 Km2 sisanya adalah daratan. Natuna tumbuh dengan permasalahan dan kebaikannya sendiri. Kabupaten Natuna, sejak dimekarkan menjadi daerah otonom pada tahun 1999 terus mengembangkan diri. Menurut data Lespena 2009, percepatan pembangunan infrastruktur di berbagai sektor terus dilakukan, termasuk pemekaran kecamatan di daerah. Hal ini dimaksudkan dalam rangka memangkas rentang kendali, karena pada kenyataannya banyak daerah di kabupaten Natuna secara geografis sangat jauh antara satu dengan lainnya. Rentang jarak antar daerah yang tercakup dalam kabupaten Natuna sebenarnya tidak akan terlalu menjadi masalah andai transportasi bisa dijumpai kapanpun masyarakat membutuhkan, selama ini untuk menyelesaikan masalah administrasi, penduduk harus menempuh perjalanan selama 4-5 jam. Transportasi massal yang merakyat berupa perjalanan laut, tetapi kapal yang dijadikan sarana angkut tersebut hanya tersedia beberapa kali perjalanan dalam satu minggu. Di luar itu, Natuna seakan-akan menjadi pulau “terkucil” karena coast, jarak dan waktu yang dikeluarkan untuk bersosialisasi dengan daerah lain.

Akan tetapi, hal itu seakan terbayar lunas dengan ketersediaan energi gas sebagai sumber daya alam yang bahkan tercatat sebagai yang terbesar di wilayah Asia tenggara. Kabupaten Natuna terkenal dengan penghasil minyak dan gas. Cadangan minyak bumi Natuna diperkirakan mencapai 14.386.470 barel, sedangkan gas bumi 112.356.680 barel.

Dengan limpahan sumber daya alam yang melimpah itulah Natuna sudah sepatutnya menyiapkan diri dalam segala lini. Sudah sepatutnya pula warga Natuna menjadi primadona di tanahnya sendiri, bersemangat membangun mewujudkan visi pembangunan Kabupaten Natuna yaitu Mewujudkan Masyarakat Adil Sejahtera – Natuna MAS 2020. Tidak bisa dinafikan bahwa hal yang paling fundamental dalam sebuah pembangunan adalah ketersediaan Iron Stock yaitu sumber daya manusia yang berkualitas cerdas secara intelektual, emosi, dan spiritual.

Sejauh ini, pendidikan humanis yang mampu melahirkan pribadi-pribadi handal dan solutif masih menjadi barang mahal bagi hampir seluruh wilayah, apalagi bagi daerah perbatasan yang relatif terisolir karena rentang jarak dan coast tadi. Dinamika kebijakan yang silih berganti seakan kembali membentangkan jarak yang tak sedikit antara pendidikan di pusat dan daerah, rentang jarak yang memposisikan pusat sebagai ordinat dan daerah sebagai subordinat. Tetapi tentunya hal tersebut selayaknya tidak –melulu– disikapi dengan nada minor, kondisi geografis yang sulit tersebut hendaknya dijadikan sebuah tantangan karena sejatinya, jika tekad berbenah dan memperbaiki diri sudah mengakar maka bukan tidak mungkin Natuna MAS bisa mewujud dalam tingkatan yang lebih baik dalamkurun waktu yang tidak seberapa lama.

Pendidikan di Utara Indonesia

Pendidikan dan kesehatan diakui menjadi hal yang tidak bisa diabaikan dalam sebuah pemerintahan. Karena dari dua hal pokok tadi pemimpin mampu meraih legitimasinya. Kesadaran stakeholder dalam ranah pendidikan bisa dilihat dari output kebijakan yang ditelurkan. Natuna sendiri dengan anggaran pendapatan asli daerah yang cukup sudah menjadi sebuah kewajaran jika masyarakat Natuna berlepas dari masalah kesejahteraan. Di lapangan, hampir sulit mengindra kesulitan finansial untuk mewujudan pendidikan yang lebih baik. Berbeda dengan daerah lain yang umumnya justru sulit di masalah budgeting, Natuna dalam hal ini berada satu langkah lebih maju. Berbagai kebijakan provinsi dan kabupaten banyak disediakan untuk pendidikan dana Bagus (Bantuan Gratis Untuk Siswa), transportasi gratis, beasiswa prestasi, membuka kerja sama dengan berbagai universitas, menjadi semacam indikator awal bahwa stakeholder juga mempunyai kepedulian terhadap dunia pendidikan di kabupaten Natuna.

Secara kasat mata kita bisa melihat bahwa seluruh sektor di Natuna umumnya bedenyut karena suntikan pemerintah. Jadi, untuk meningkatkan kinerja diseluruh sektor termasuk didalamnya sektor pendidikan, pemerintah daerah banyak mengambil peran sebagai fasilitator berbagai pelatihan dan upgrading untuk memperbaiki kinerja dan pengetahuan pejabat struktural dan fungsional. Sebagai bahan telaahan, berikut catatan beberapa upgrading yang sifatnya untuk peningkatan keahlian dan manajemen dilakukan oleh pemerintah Natuna untuk Dinas Pendidikan bagi profesi guru.

Idealnya, berbagai ketersediaan yang didapat karena kemudahan dari sisi budgeting berbanding lurus dengan kualitas yang didapat. Akan tetapi, karena berbagai dinamika hal tersebut tetap masih belum bisa terwujud seratus persen. Kesejahteraan yang selalu diupayakan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan yang bersinggungan dengan dunia pendidikan diharapkan mampu meningkatkan profesionalisme terhadap profesi yang disandang sehingga mampu memberikan pelayanan yang terbaik.

Di lingkup pelaksana penyelenggaran pendidikan terkecil yaitu lingkup sekolah, untuk Natuna sendiri yang yang harus dijadikan catatan bersama adalah kesadaran akan tanggung jawab profesi. Karena sejatinya hal tersebutlah yang menjadi pondasi dasar. Dengan kesadaran dan tanggung jawab, seluruh komponen yang bersinggungan dengan dunia pendidikan akan terus berupaya memberikan yang terbaik dari hati. Dalam hal ini, penyelenggara pendidikan yaitu sekolah bisa benar-benar memaknai tanggung jawab profesinya, kesadaran bahwa elemen pendidikan sejatinya adalah ruh terbesar bagi terciptanya peradaban bangsa yang gilang-gemilang. Sejauh ini sebagai daerah yang masih muda, terhitung masih berusia 12 tahun, Natuna masih berkutat pada logika-logika administratif, seremonial dan masih dalam tahapan konsolidasi.

Sekolah Beranda Indonesia merupakan salah satu program yang lahir dari rahim Dompet Dhuafa Pendidikan sebagai sebuah wujud kepedulian akan kualitas pendidikan Indonesia. Melalui program ini DOMPET DHUAFA PENDIDIKAN memfasilitasi bagi ujung tombak utama pendidikan Indonesia yaitu guru untuk senantiasa mengoptimalkan potensi terkait profesi yang diembannya. Melalui Sekolah Beranda Indonesia DOMPET DHUAFA PENDIDIKAN memfasilitasi pelatihan untuk empat sekolah yaitu SDN 004 Ceruk, SDN 006 Bukit Liman, SDN 003 Sungai Ulu, dan MI Darul Ulum. Selain itu, DOMPET DHUAFA PENDIDIKAN juga menyediakan pendampingan sekolah untuk SDN 004 Ceruk. Program triwulanan berupa training bagi guru. Training bertajuk Shifting Education Paradigm untuk menyadarkan guru bahwa pikiran positif akan profesi, profesionalisme, dan kreatifitas hendaknya mampu dijalin dengan indah dan menjadi modal untuk memfasilitasi lahirnya generasi muda Indonesia yang berkualitas. Training kedua bertajuk Display Kelas, disediakan untuk menciptakan

suasana kondusif bagi pembelajaran di kelas. Ketiga training bertajuk Ceruk Ilmu sebuah varian usaha untuk mendekatkan anak pada dunia literasi, disini guru dituntut untuk mengenalkan anak pada buku dan menjadikan buku sebagai jembatan untuk mengenal dunia. Adapun training keempat bertajuk PAIKEM dilaksanakan dengan harapan guru mampu menyajikan pembelajaran yang mampu menstimulan kemampuan anak secara optimal.

Dalam perjalanan pendampingan setahun kita bisa melihat bahwa yang paling penting adalah Istiqomah-Konsisten dan Istimror-berkesinambungan dalam imlementasi seluruh program, pengawasan yang intensif, dan pendampingan yang riil dilapangan. Hal ini akan banyak membantu ujung tombak pendidikan guru untuk terus belajar. Dari proses pendampingan satu tahun, kita bisa melihat banyak titik cerah untuk mewujudkan pendidikan ideal, diantaranya semangat guru dilapangan cukup tinggi untuk terus belajar walaupun tidak sedikit juga yang selalu bernada sumbang dan skeptis terhadap upaya apapun. Di lapangan kita bisa melihat ketauladanan senior, berupa semangat mencari ilmu yang tidak pernah padam hal ini menjadi sesuatu yang positif dan perlu diapresiasi. Indikator awalnya tentu saja adalah kehadiran Kepala sekolah dalam pelatihan. Kehadiran Kepala sekolah secara full dalam setiap pelatihan harusnya mampu semacam lecutan bagi rekan sekerjanya.

Komentar

komentar