Coachee Jadi Coach Bersama Iis Susilawati

DSC_0053

Pada Rembug Nasional Pendidikan dan Kebudayaan pada 2015 lalu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerangkan kerangka strategis lima tahun yang  di dalamnya terdapat tiga strategi utama yang akan ditempuh pemerintah dalam proses perbaikan pendidikan antara lain meningkatkan mutu serta akses, bagaimana mengembangan efektivitas birokrasi, dan penguatan pelaku pendidikan serta kebudayaan.

Namun proses perbaikan pendidikan tersebut tidak mungkin dilepaskan dari peningkatan kualitas pendidik, kepala sekolah, dan pengawasnya. Salah satu cara meningkatkan mutu pendidik tersbut yakni dengan membekali mereka dengan pelatihan-pelatihan mumpuni demi mengasah kemampuan para pendidik, terutama pendidik di daerah.

Makmal Pendidikan menjawab itu semua dengan menginisiasi Asosiasi Konsultan Sekolah Literasi Indonesia (SLI). Setelah melewati beragam seleksi ketat, 25 peserta terpilih bergabung dengan Asosiasi Konsultan SLI, para peserta Asosiasi Konsultan SLI ialah para pegiat pendidikan (guru, kepala sekolah, pengawas, trainer pendidikan, konsultan pendidikan, dll)  dari delapan belas kota serta kabupaten di Indonesia yang bersedia tergabung menjadi Asosiasi Konsultan Sekolah.

Kemarin (24-08) para peserta mengikuti Studium Generale bersama Asep Sapaat, praktisi pendidikan; Hari ini (25-08) 25 peserta terpilih mengikuti Trainsetter  (Training Sekolah Literasi Indonesia untuk Asosiasi Konsultan) bersama Iis Susilawati, NLP  Certified Practitioner, yang diadakan di P4TK Penjas dan BK Pemagarsari Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat,

Dengan tema “Coaching for Teacher” Iis mengajak peserta untuk mengemukakan masalah yang ada di sekolah masing-masing dan menyelami masalah tersebut untuk dicari solusinya. Karena menurutnya coaching lebih berbasis kepada solusi. Iis juga menekankan pada pentingnya menggali potensi diri melalui coaching, karena coaching sendiri adalah proses memfasilitasi diri melalui pertanyaan powerfull agar mampu mengeluarkan potensi terdalam sehingga pencapaian efektif dapat diraih.

“Yang perlu bapak ibu ingat, coachee tak terpengaruh pada konten. Seorang coachy harus mampu mencari solusi yang ada di depan mata,” tegas Iis.

Iis mengemukakan jika guru merupakan punggawa sekolah yang setiap harinya berinteraksi dengan warga sekolah, para guru dituntut untuk bisa mencari cara untuk memperbaiki masalah yang mereka temui. Dilansir dari Iis, coaching terbukti mampu menggali diri seorang guru, asalkan mereka  mempersiapkan dirinya being coachable: seorang coach lahir dari coachy bukan tiba-tiba menjad coach; ia memahami  esensi masalah, memahami contract dengan coachee, memiliki coach position, dan memiliki kemampuan building trust.

“Kita harus melihat ke dalam diri sendiri, sehingga nantinya dunia luar mengikuti apa yang kita lihat. Semua hal akan ada sisi positifnya jika kita melihat ke dalam diri kita terlebih dahulu karena kita in-control,” ucap Iis. “ketika sudah melakukan itu semua, maka coaching yang kita lakukan akan lebih mudah dilakukan dan dipahami,” tambahnya.

Para peserta tak hanya diberikan materi, tetapi juga ditantang menjadi coach tangguh di depan peserta lain dengan tujuan  agar peserta mampu melakukan bimbingan terhadap guru, memahami  teknik melakukan coach terhadap guru, dapat  mempraktikan langsung cara memberikan coach terhadap guru, dan mampu menerapkan ilmu coaching pasca kegiatan dan menerapkannya di sekolah yang menjadi sasaran pendampingannya.  (AR)

 

Komentar

komentar