Cinta Kasih Kepada Sesama

Kegelisahan terhadap realitas pendidikan di Indonesia mendorong Andi Angger Sutawijaya untuk mengambil inisiatif membangun Komunitas Filantropi Pendidikan. Lulusan Jurusan Agrobisnis di Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, tersebut pada 2012 langsung bergerak dengan sejumlah program filantropi.

Program-program tersebut lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. Organisasi sosial Dompet Dhuafa, tempat sebagian teman-teman Andi sudah lebih dahulu bergabung, turut membantu pada masa-masa awal itu.

Mereka sepakat bahwa persoalan pendidikan yang relatif kompleks, seperti infrastruktur sekolah, ketersediaan buku, dan keberadaan guru, membutuhkan perhatian serius dari seluruh masyarakat. Masalah pendidikan merupakan tanggung jawab semua pihak, baik pemerintah, organisasi nonpemerintah, maupun masyarakat.

“Maka, mengapa tidak kita bikin saja gerakan yang lebih luas,” ujar Andi menjelaskan tentang latar belakang dibentuknya Komunitas Filantropi Pendidikan.

Maka, kemudian ditahbiskanlah Komunitas Filantropi Pendidikan sebagai kerangka gerakan yang lebih universal dan tidak partisan. Filantropi, atau cinta kasih kepada sesama.

Kabupaten Kepulauan Sangihe di Sulawesi Utara menjadi tujuan awal mereka pada mula-mula komunitas itu berdiri. Pada masa itu, mereka masih berada dalam satu program bersama Dompet Dhuafa, sebelum kemudian benar-benar mandiri sebagai gerakan yang berdiri sendiri.

Bagi Andi dan sebagian rekannya, melakukan gerakan tersebut tidaklah benar-benar baru. Pasalnya, sejak dia kuliah, mereka memang kerap dirangsang untuk membuat sejumlah program guna memecahkan persoalan di tengah masyarakat dengan basis agrobisnis.

Buku bacaan

Pada masa mengawali Komunitas Filantropi Pendidikan itulah Andi dan rekan-rekannya melihat bahwa kebutuhan buku bacaan di wilayah kepulauan sungguh sangat besar. Ia menyaksikan tatkala seorang anak menangis dan menagih buku yang dijanjikan salah seorang relawan, tetapi lupa terbawa.

Ia juga baru mengetahui bahwa ternyata sumber pengetahuan andalan bagi anak-anak di wilayah kepulauan itu memang hanya buku. Mereka mengetahui sejumlah satwa di wilayah daratan. seperti harimau, dari buku.

Hal ini bisa dimaklumi mengingat keterbatasan akses informasi. Untuk bisa mengakses lampu penerang listrik pun masih terbatas. “Inilah yang membuat saya percaya bahwa buku masih menjadi kebutuhan utama di daerah kepulauan,” kata Andi.

Hal itu yang kemudian mendasari lahirnya program Gemari Buku atau Gerakan Mencintai Anak Negeri Melalui Buku. Lewat gerakan yang berfokus pada keberadaan anak-anak di wilayah terluar batas geografis Indonesia, diharapkan terjadi transfer pengetahuan secara luas. Program ini diharapkan bisa memunculkan inspirasi, mimpi, dan cita-cita yang beragam bagi anak-anak.

Dalam perkembangan selanjutnya, Andi melihat persoalan untuk bisa memiliki cita-cita, mimpi, dan berjuang untuk menggapainya ternyata butuh perhatian serius. Ia menyaksikan sendiri pada tahun 2013 ada semacam fenomena di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sebagian anak-anak merasa bingung saat ditanya tentang cita-cita masa depannya.

Sebagian besar mereka menjawab tidak tahu dan sama sekali tidak memiliki gambaran akan menjadi sosok seperti apa nanti kalau sudah besar. Ketiadaan referensi dan contoh nyata untuk mengejar cita-cita dalam hidup menjadi pangkal sebabnya.

Itulah yang kemudian melahirkan program Kelas Cita-cita. Program ini dilakukan dengan mendatangkan sejumlah relawan dengan profesi tertentu. Misalnya fotografer atau seniman. Selama satu hari, para relawan itu akan datang ke sejumlah sekolah dan menceritakan di dalam kelas tentang segala hal yang mereka kerjakan.

Selain itu, terdapat pula program Satu Asa yang merupakan kependekan dari Sejuta Alat Tulis untuk Anak Indonesia. Dukungan terhadap kualitas pendidikan bagi anak-anak pengungsi di daerah bencana dan terpinggirkan di Indonesia menjadi tujuannya. Ini berupa gerakan untuk mengumpulkan alat tulis dan perlengkapan sekolah yang nantinya akan didistribusikan ke lokasi-lokasi bencana atau terpinggirkan tadi.

“Hal tersebut diawali dari letusan Gunung Sinabung di Sumatera Utara. Belakangan ada peristiwa letusan Gunung Kelud di Jawa Timur dan kemudian disusul dengan banjir bandang di Manado,” kata Andi.

Kebutuhan terhadap alat-alat tulis dikenali berdasarkan diskusi dengan sejumlah anggota komunitas relawan lain. Sebelum Komunitas Filantropi Pendidikan memutuskan untuk menjalankan program di sejumlah lokasi tertentu, sangat diperlukan adanya diskusi dengan anggota relawan.

“Harus ada relawan lain yang sebelumnya telah melakukan program dan orang setempat untuk membantu menjalankannya,” ujar Andi. Ia menambahkan, hal itu menjadi penting untuk menjaga keberlanjutan program dan memberikan jaminan tentang apa yang bakal dilakukan.

Saat ini, komunitas tersebut beranggotakan sekitar 30 orang. Mereka berdomisili di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) dengan rentang usia 18-35 tahun. Sebagian besar pekerja profesional, dengan komposisi relatif imbang antara jumlah perempuan dan laki-laki.

Nyaris seluruh kegiatan dan hubungan komunikasi di antara mereka dilakukan lewat jejaring sosial, seperti Instagram, Twitter, dan Path. Markas Komunitas Filantropi Pendidikan di daerah Parung, Bogor. Sementara domisili sejumlah anggota relawan tersebar di Jabodetabek. Oleh karena itu, jejaring sosial menjadi penting untuk mengoordinasikan sekaligus menyebarkan informasi kepada masyarakat.

Informasi yang didistribusikan lewat kanal-kanal media sosial menjadi sedemikian penting mengingat upaya penggalangan dana atau donasi barang, seperti buku dan alat tulis, juga dilakukan lewat kanal tersebut.

Saat ini, sejumlah program kegiatan yang dilakukan berfokus pada sejumlah daerah yang terpinggirkan. Seperti yang baru mereka lakukan di Kaledupa, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, dengan menggandeng salah satu raksasa di bidang industri teknologi informasi.

Selama sepekan, sekitar 2.000 warga suku Bajo yang tinggal di laut yang sulit dalam mendapatkan air bersih menjadi sasaran sejumlah program pendidikan untuk meretasnya. Pada saat-saat seperti itulah, Andi dan anggota Komunitas Filantropi Pendidikan merasakan bahwa cinta kasih dan kedermawanan kepada sesama dengan fokus di bidang pendidikan memang sangat dibutuhkan.

Sumber: http://print.kompas.com/baca/2015/06/20/Cinta-Kasih-kepada-Sesama-Lewat-Pendidikan

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.