Skip Challenge dan Disorientasi Hidup Generasi Muda

Oleh: Zayd Sayfullah (Manajer Peningkatan Mutu Pendidikan - Dompet Dhuafa Pendidikan)

Video permainan yang dilakukan para pelajar baru-baru ini menyebar secara viral lewat social media YouTube, Instagram, dll. Nama permainan tersebut adalah Skip Challenge. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy melarang para siswa melakukannya. Untuk bisa mencegah para siswa mencontoh hal tersebut, para guru dan kepala sekolah diminta memberi perhatian terhadap kegiatan siswa di lingkungan sekolah. (www.cnnindonesia.com, 11/03/2026)

Permainan ini sebenarnya sudah dikenal sejak tahun 2005 di Inggris, yang disebut Choking Game, sedangkan di AS dikenal dg Pass Out Challenge. Walaupun namanya berbeda dan dilakukan dengan beberapa cara yang tidak sama, namun permainan ini memiliki kesamaan tujuan, yakni secara sengaja dan sementara memotong pasokan oksigen ke otak.

Orang yang melakukannya akan pingsan selama beberapa saat dan merasakan euforia. Permainan ini berbahaya karena dapat menyebabkan kerusakan otak, bahkan kematian. Permainan ini marak dilakukan oleh anak-anak muda yang sebagian besar adalah pelajar SMP sampai SMA. Permainan ini juga bahkan diikuti oleh anak yang masih usia SD. Di negara asalnya, permainan ini telah merenggut korban jiwa. Pada tahun 2016 yang lalu, sekitar 250-1000 orang anak meninggal di Amerika Serikat karena memainkan tantangan game ini. (www.tribunnews.com, 10/03/2026)

Maraknya remaja dan pelajar yang melakukan permainan ini menunjukkan ada orientasi hidup yang salah pada generasi muda sekarang. Disorientasi hidup tersebut menunjukkan adanya konsep diri yang salah pada diri mereka. Karenanya tidak mengherankan saat ada hal-hal baru, seperti Skip Challenge, klitih, tawuran antar pelajar dll, mereka dengan mudah terbawa arus.

Konsep diri yang salah tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni faktor keluarga (terutama orang tua), pendidikan, dan lingkungan. Semua faktor tersebut akhirnya bermuara pada sistem yang diterapkan negara dalam mengatur seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Kesalahan orientasi hidup itu tentu tidak akan terjadi manakala mereka hidup dalam sistem yang baik, yakni Sistem Islam. Sistem yang baik akan mengkondisikan masyarakat, termasuk generasi muda, untuk menata hidupnya berorientasi pada ridho Allah SWT. Karenanya mereka akan menyibukkan dirinya dengan kegiatan-kegiatan positif sesuai dengan hakikat hidupnya. Mereka akan memprioritaskan kegiatan yang hukumnya wajib dan sunnah dalam seluruh aspek kehidupan, sesekali mereka mengerjakan yang mubah. Dalam kamus kehidupan mereka, hal-hal haram dibuang jauh-jauh, dan yang makruh dihindari. Sehingga mereka tidak akan terjebak dalam kegiatan tawuran, atau kegiatan yang sia-sia apalagi yang membahayakan seperti permainan Skip Challenge.

Maka, tidak mengherankan saat Islam diterapkan, para generasi muda memiliki kesibukan dan orientasi kegiatan yang berbeda dengan generasi yang hidup dalam kungkungan sistem sekuler saat sekarang. Generasi muda dalam sistem Islam sibuk dengan budaya belajar, meningkatkan kualitas diri, dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

Sebagai contoh, pada masa Khilafah, sejak anak-anak memasuki usia 7 tahun, mereka sudah sibuk mempelajari kitab Alfiyah Ibnu Malik, kitab nahwu yang dalam pesantren-pesantren saat ini dianggap level tertinggi dan berat. Karenanya, dalam sistem Islam generasi muda bisa lebih cepat mencapai segudang prestasi dalam usia yang lebih muda.

Kalau dismpulkan, secara sistemik sistem Islam telah berhasil mengkondisikan generasi penerus mengikuti urutan perjalanan sebagai berikut: usia 5 sampai 10 tahun sudah berhasil hafizh al-Qur’an 30 juz. Usia 10 sampai 19 tahun sudah hafal kitab hadits, belajar fikih, ilmu kehidupan, dan ilmu-ilmu lainnya. Dan saat usia 20 tahunan sudah menjadi orang besar di masyarakat dengan prestasi gemilang, bahkan ada yang lebih cepat lagi.

Sebagai contoh Imam Syafi’i hafal Al-Quran pada usia 7 tahun dan sudah bisa memberikan fatwa saat usia 15 tahun. Ibnu Sina hafal Al-Qur’an di usia 5 tahun, dan menjadi dokter saat usianya genap 17 tahun. Dan banyak lagi generasi emas lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu selevel Imam Bukhori, Ibnu Khaldun, Shalahuddin Al-Ayyubi, Muhammad al-Fatih, dll.

Itulah gambaran umum kematangan konsep diri para generasi yang dibesarkan dalam naungan aturan Islam. Coba bandingkan dengan generasi muda yang saat ini dibesarkan dalam sistem kehidupan kapitalisme-sekulerisme. Mereka baru lulus pendidikan formal (S1) sekitar usia 23 tahun, itupun belum tentu sudah hafal Al-Quran, memiliki keahlian dan berhasil. Karena umumnya setelah usia itu mereka baru berpikir untuk berkarya dalam dunia nyata. Ada yang akhirnya berhasil, tetapi tidak sedikit yang masih gamang dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Jadi, apabila kita menginginkan generasi muda penerus bangsa ini memiliki kematangan konsep diri dan segudang prestasi dan pencapaian, serta jauh dari hal-hal yang sia-sia dan membahayakan hidup di dunia maupun di akhirat, maka sistem kehidupan harus dikembalikan kepada yang sempurna, yakni sistem kehidupan berlandaskan Islam.

 

Sekolah Tercinta yang Kini Berubah

Nama saya Eva Maulindah. Saya kelas 5. Saya bersekolah di SDN 014 Gunung Belah Tarakan. Saya akan menceritakan tentang perubahan yang ada di sekolah saya, dari belum ada Pendamping Sekolah sampai ada pendamping dari Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa.

Dulu plafon dan atap sekolah saya banyak yang sudah rusak. Temboknya juga sudah banyak yang jelek. Fasilitas sekolah banyak yang harus diganti tapi tidak kunjung terganti. Sudah begitu, metode pembelajarannya juga membosankan dan jarang dapat dipahami.

Sekarang berkat bantuan dari Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa, sekolah saya menjadi lebih baik. Kondisi fisik sekolah saya menjadi lebih cantik dan indah. Selain itu, di sekolah saya terdapat program Green School yang membuat sekolah saya bersih, hijau, dan asri.

Metode pembelajaran yang ada di sekolah saya juga sudah tidak membosankan lagi.

Saya sangat senang dengan perubahan yang ada di sekolah saya. Saya sangat berterima kasih kepada Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa yang telah membantu sekolah saya, sekaligus memberikan bantuan berupa beasiswa kepada murid yang tidak mampu tetapi berprestasi.

 

Eva Maulindah

Siswa Kelas 5 Sekolah Cerdas Literasi SDN 014 Gunung Belah, Kota Tarakan, Kalimantan Timur

Senangnya di Sekolahku

Namaku Anisa Sahra Mutiara Putri. Panggilanku Anisa. Saat aku membuat tulisan ini, aku duduk di kelas 6 SDN 35 Pao-pao. SDN 35 Pao-pao ini beda dengan sekolah lain. Saat memasuki perkarangan sekolah, kita akan bertemu dengan indahnya alam.

Banyak pepohonan yang hijau, bersih, sejuk, dan asri. Aku pindah ke sekolah ini saat kelas 3. Saat itu Bapakku pindah tugas ke Makassar, berarti aku juga harus pindah sekolah dan pindah rumah dari Luwu Timur. Rasanya sangat berat meninggalkan teman-temanku di sana.

Aku masuk ke SDN 35 Pao-pao pada saat semester II. Jadi, aku tidak terlalu lama di kelas 3. Guru wali kelas pertamaku bernama Ibu Suriani, lalu digantikan oleh Ibu Hj. Harianti. Mereka semua baik. Beliau mengajar kami hingga bisa. Saat masuk ke kelas 4, kami merasa ibu guru itu galak. Tapi, setelah mengajar, ternyata beliau sangat baik. Guru kami bernama Ibu Hj. Andi Jaizah. Terima kasih guruku atas semua jasa yang Ibu berikan.

Kami sangat semangat untuk belajar, apalagi kelas-kelas telah direnovasi oleh Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Kelas 5 yang berada di samping kelas kami (dulunya tanah kosong yang digunakan untuk bermain dan berolahraga) juga disulap menjadi kelas yang indah. Begitu pula dengan kantin sekolah, kantin kami bernama ‘kantin kejujuran’, itu semua berkat kerja sama dua pihak tadi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Maros dan juga PT Angkasa Pura.

Setelah semua kelas dan juga kantin direnovasi, akhirnya diresmikan. Peresmian saat itu diisi dengan pidato oleh Bupati Maros. Sejak persemian itulah nama sekolah kami yang dulunya SDN 15 berganti menjadi SDN 35 Pao-pao

Sejak diresmikan, semua kelas berlomba-lomba untuk membuat display. Display kami pun dinilai untuk mendapatkan juara. Sambil membuat display kami membuat gerakan-gerakan yang membantu kami untuk menghafal lebih mudah.

Kami sangat senang belajar di SDN 35 Pao-pao. Kami juga pernah kedatangan tamu dari Makmal Pendidikan. Mereka mengajar kami matematika, kami sangat senang. Saat istirahat, kami diberikan bubur kacang hijau yang enak, hangat dan lezat.

 

Sahra Mutiara Putri

Siswi Kelas Sekolah Cerdas Literasi 6 SDN 35 Pao-pao, Mandai, Maros, Sulawesi Selatan

Senangnya Bersekolah

Saya sangat senang sekolah karena dengan sekolah saya bisa meraih cita-cita saya. Di sekolah saya mempunyai banyak teman dan ibu guru, terutama Ibu Guru wali kelas saya. Namanya Ibu Neneng. Tapi, yang paling saya sukai adalah Ibu Guru yang mengajari saya di sekolah hanya setiap Sabtu siang. Namanya Ibu Mida. Beliau adalah Pendamping Sekolah kami. Ibu Mida adalah guru saya yang paling baik dan sabar mengajari murid-muridnya. Walaupun murid-muridnya belum mengerti, Ibu Mida tetap terus mengajarinya dengan penuh kasih sayang dan tak kenal putus asa.

Saya juga sangat senang dengan kedatangan Bapak-bapak dan Abang-abang dari Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa ke sekolah kami. Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa banyak sekali memberi bantuan kepada sekolah kami. Keduanya juga mengajari kami mengenai banyak ilmu.

Saya juga sangat senang dengan kegiatan di sekolah, seperti membuat bingkai dari bahan bekas, membuat undangan tidak resmi untuk pembuatan display, dan sebagainya. Saya juga sangat menyukai pelajaran-pelajaran di sekolah. Saya paling suka dengan pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia. Pelajaran Matematika menceritakan mengenai pecahan, bangun datar, dan bangun ruang sehingga membuat saya mengetahui ketiganya. Kalau Bahasa Indonesia menceritakan tentang membuat puisi, mengarang, dan lain-lain sehingga saya bisa membuat puisi dan mengarang dengan baik.

 

Susanti

Siswa Kelas 5 Sekolah Cerdas Literasi SDN 060932 Bangun Mulia, Medan, Sumatera Utara

Pendampingan untuk Inovasi

Seorang guru tidak boleh pasif. Dia harus selalu kreatif menambah wawasan dan inovasi baru agar kaya khasanah ilmu pengetahuan; agar ia selalu energik dalam membimbing serta mengarahkan peserta didiknya. Saat ini banyak inovasi untuk memperbaiki metode dalam proses pembelajaran yang dapat diakses oleh para guru, baik melalui multimedia, lingkungan, maupun potensi yang dimiliki oleh guru untuk memberdayakan dirinya. Jadi, guru tidak boleh berpuas diri dengan hasil yang diperoleh dalam waktu sesaat.

Saya bersyukur memperoleh penyegaran kembali sebagai seorang guru setelah dua dekade lebih menekuni profesi ini. Banyak persoalan dan pernik-pernik permasalahan sebagai guru yang saya alami. Kadang permasalahan tersebut ada yang dapat saya selesaikan dengan baik, namun tidak sedikit pula persoalan yang sangat sulit saya selesaikan lantaran karakter siswa dan latar belakang budaya berbeda serta kurangnya kepedulian lingkungan terhadap dunia pendidikan.

Dengan pengalaman-pengalaman yang diperoleh, lambat laun permasalahan bukan menjadi hambatan bagi saya. Justru sebaliknya, menjadi suatu tantangan yang menarik untuk mengembangkan kreativitas jati diri saya sebagai seorang guru untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan bijak.

Saya berprinsip bahwa guru bukan hanya untuk para siswa di sekolah, namun lebih dari itu guru harus dapat menjadi suri teladan di lingkungan masyarakat luas.

Saya bersyukur bisa mengikuti Program Pendampingan Sekolah yang diadakan oleh Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Saya memetik banyak pengetahuan dan pengalaman untuk pembelajaran di kelas dan masyarakat. Sebuah suplemen baru bagi saya yang mungkin telanjur menikmati metode lama.

Adanya pendampingan menjadikan saya optimis bahwa ke depan saya mengajar siswa bukan hanya dalam mengejar keberhasilan pengetahuan semata, tapi juga membimbing, melatih, dan mengarahkan mereka agar menjadi manusia yang seutuhnya, yakni anak yang berpengetahuan, cerdas, terampil, dan berakhlak mulia. Dengan demikian, mereka kelak berguna bagi dirinya, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara ini.

Saya sangat berterima kasih kepada Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa yang telah memberikan fasilitas-fasilitas dan pelatihan-pelatihan berikut pendampingnya sehingga menambah banyak pengalaman bagi saya pribadi. Sekali lagi, semuanya akan saya jadikan sebagai motivasi agar saya tetap bersemangat dan selalu eksis dalam berkreasi dan berinovasi untuk perubahan yang lebih baik.

 

Imam Safi’i

Guru Sekolah Cerdas Literasi SD Inpres 44 Klamalu, Sorong, Papua Barat

Jaket Kuning

Karya M.Ikrom Azzam*
Duta Gemari Baca Makmal Pendidikan Makmal Pendidikan

Lihatlah!
Segumpal benang menyertaimu
Berwarna kuning
Lembut dan lugas
Melambangkan kedamaian
Impian yang jadi kenyataan

Dulu!
Ketika abu-abu masih menyertaimu
Harapan kuning itu
Selalu membayangi
Mengintai di setiap benih
Benih doa, benih harapan

Dan mungkin saat ini,
Semua itu masih fana
Karena sejatinya
Perjuanganmu belum usai
Menitih jalanya harapan
Meraih impian jaket kuning
Yang insya Allah menjadi nyata

#SemangatjadiMahasiswaUI2017
*Azzam saat ini duduk di kelas XII IPS SMART Ekselensia Indonesia

Menjadi Murid dan Guru

Ketika seorang guru dapat memberikan roh pada sebuah mata pelajaran, spirit itulah yang kelak menulari murid-muridnya. Di sisi lain, seorang guru harus bisa mengolah emosi murid, sekaligus mampu menciptakan suasana kelas yang hidup. Peran terpenting bagi seorang guru ialah sanggup menghidupkan jiwa, semangat dan menyalakan pelita dalam diri muridnya.

Mendapatkan perlakuan semena-mena dari sebagian guru mungkin dialami sebagian kita. Akibatnya, kita tidak nyaman menjalani proses belajarnya. Kesalahan siswa melahirkan label ‘bandel’ untuk disandangnya. Pengalaman masa lalu inilah yang mestinya jadi bahan renungan para guru. Cukup sudah kita yang pernah merasakan, jangan sampai anak didik tercinta mendapatkan perlakuan serupa dari kita, yang di masa lalu berada sebagai pihak korban.

Pergulatan semacam itu pun saya rasakan dalam posisi tidak sekadar menjadi guru. Ya, saya seorang Pendamping Sekolah, atau juga Konsultan Pendidikan. Saya tidak boleh meluapkan emosi begitu mudah di hadapan siswa. Padahal, kenyataan di lapangan sering berkata lain. Saya menghadapi situasi berbeda. Misalnya, murid-murid sulit diatur atau keinginannya selalu berlawanan dengan keinginan saya. Masih banyak lagi ulah mereka yang ‘wajar’ membuat para guru marah.

Masalahnya, apakah saya harus marah menghadapi itu? Saya dilema. Sebab, dahulu ketika menjadi siswa, saya paling tidak menyukai kemarahan guru. Apa pun alasannya. Saya ingin kemarahan itu ditiadakan, atau paling tidak kemarahan tidak diungkapkan dengan gerak tangan. Cukuplah redam dengan pandangan dan diam karena cara ini jauh menghunjam di jiwa siswa dengan tetap membuatnya nyaman.

Lantas, apakah yang saya lakukan? Apa yang saya inginkan dahulu, seperti itulah yang saya lakukan sekarang. Menatap mereka dengan diam. Menyalurkan dan memahamkan keinginan saya lewat tatapan. Sejauh ini, Alhamdulillah, mereka paham, mungkin karena dilakukan dengan penuh harapan, penghayatan, dan keikhlasan. Selain itu, saya selami pula kehidupan para siswa lebih dalam. Saya harus melakukan pendekatan personal. Saya harus mengetahui seluk-beluk kehidupan mereka. Memahami latar belakang keluarga mereka. Memahami cara dan kesulitan belajar mereka. Juga tentang lingkungan mereka tumbuh.

Selain itu, saya harus berpikir ekstra. Selain memikirkan sesuatu kebaikan yang ingin ditanamkan ke diri siswa, saya juga memikirkan langkah-langkah yang bisa dilakukan oleh siswa itu untuk mencapai kebaikan itu. Bukankah pada hakikatnya mengajar berarti memberikan solusi?

Salah satu solusinya adalah mengajar dengan smart teaching. Smart teaching merupakan cara efektif dan efisien untuk mengajar. Sulitkah? Tidak karena hanya dibutuhkan kesadaran bahwa kita sedang membangun sesuatu yang menarik. Ketika sesuatu sudah menarik, bagian yang lainnya akan mengikuti dengan mudah dan dengan sendirinya. Para guru dan pengajar harus menjadi sosok yang menarik, dikagumi, penuh karisma dan kehadirannya selalu ditunggu.

Yang juga tidak kalah pentingnya adalah positive words. Sampaikan ucapan dengan kalimat positif. Kalimat positif akan memacu otak untuk bekerja dengan senang, nyaman, dan bahagia. Otak kita sebenarnya tidak bisa menerjemahkan atau memproses kalimat negatif.

Kita sebagai guru memang mesti menyiapkan alternatif-alternatif sarana menuju tujuan yang diinginkan. Bukan hanya mematok tujuan, dan meninggalkan siswa kebingungan untuk mencapai tujuan yang kita kehendaki.

 

Sarmidayani Yusuf

Pendamping Sekolah Cerdas Literasi SDN 060932 Bangun Mulia, Medan, Sumatera Utara (Periode 2012-2013)

Surat buat Ibu Mida

Sewaktu Ibu belum ada, dulu Ibu Guru kami namanya Ibu Hani. Ibu Hani keluar dari sekolah dan digantikan dengan Ibu. Ibu Mida.

Ibu baik, mau membimbing kami dan mengajar kami hingga pintar sampai sekarang ini. Ibu ingat tidak, waktu Ibu menyuruh kami mengangkat lemari Ceruk Ilmu ke setiap kelas? Sesudah mengangkat lemari, Ibu mentraktir kami minum PopIice. Ibu sangat baik.

Ibu, jika kami nanti sudah tidak ada (di sekolah), tolong Ibu mendoakan kami. Sebentar lagi kami akan menghadapi Ujian Nasional (UN), Bu. Kami berharap kami akan lulus. Semoga Ibu mendoakan kami. Kalau suatu saat nanti Ibu sudah tidak di sini lagi dan kami pun sudah tidak sekolah di sini lagi, surat inilah kenangan dari kami kelas 6 A untuk Ibu Pendamping Sekolah kami.

Semoga Ibu selalu ingat dengan kami. Semoga kami lulus ya, Bu, dan mendapatkan sekolah yang bagus nantinya. Amin.

 

Dogma Antonius Rumapea

Siswa Sekolah Cerdas Literasi Kelas 6 SDN 060932 Bangun Mulia, Medan, Sumatera Utara

Pendamping Sekolah Tersayang

Nama saya Andriani. Umur saya 11 Tahun, saya duduk di kelas 5. Di sini saya akan menceritakan tentang Pendamping Sekolah saya. Pendamping Sekolah saya bernama Bu Mida, umurnya 22 tahun. Saya pernah bertanya kepada beliau tentang cita-citanya. Beliau mengatakan kepada saya bahwa cita-citanya adalah menjadi seorang psikolog. Saya tidak mengerti apa itu psikolog. Kemudian Bu Mida menjelaskannya kepada saya sampai saya mengerti. Saya berdoa dalam hati semoga cita-cita Ibu Mida dikabulkan oleh Tuhan.

Ibu Mida adalah orang kedua yang mendampingi sekolah kami. Saya sangat senang sekolah saya punya pendamping. Hati saya juga sangat gembira karena banyak orang-orang hebat datang ke sekolah kami. Orang-orang hebat itu mengajari kami dengan ilmu yang sangat tinggi.

Hari Sabtu Ibu Mida mengajari kami les dari pukul 11.00-13.00 WIB. Belajar sama Ibu Mida sangat mengasyikkan karena mendapat ilmu lebih. Supaya dapat ilmu lebih, saya rajin les supaya menjadi anak yang pintar bagi nusa, bangsa, juga agama.

Pendamping Sekolah saya sangat baik. Setiap murid bertanya kepadanya, beliau selalu memberikan jawaban dengan bagus. Pendamping Sekolah kami selalu menyayangi kami. Sangat indah rasanya mempunyai Pendamping Sekolah.

 

Andriani

Siswa Sekolah Cerdas Literasi Kelas 5 SDN 060932 Bangun Mulia, Medan, Sumatera Utara

Pendamping Sekolahku

Oh, Pendamping Sekolahku
Engkau yang memberi ilmu tambahan kepadaku
Engkau mengajariku dengan bercanda sambil bersenyum-senyum Engkau mengajarkan ilmu-ilmu yang berguna bagi hidupku

Oh, Pendamping Sekolahku
Engkau tidak pernah letih mengajariku
Engkau mengajariku ilmu alam maupun ilmu buatan Engkau memberitahuiku yang mana baik dan yang salah

Oh, Pendamping Sekolahku
Jika aku ada kesalahan, engkau memaafkanku dengan tulus
Engkau selalu sabar jika mengajariku
Mudah-mudahan engkau selamat dunia dan akhirat, amin.

Rahmadi Sulaiman
Siswa Sekolah Cerdas Literasi Kelas 5 SDN 014 Gunung Belah, Tarakan, Kalimantan Timur