PJJ YANG DIALOGIS ATAU PESIMIS

 

 

Arbi zulham

 

Pandemi telah mengubah pola belajar anak dan proses pembelajaran di sekolah, guru-guru “dipaksa” mencari teknik mengajar kreatif dan aplikatif. Tools berbasis digital pun menjadi keniscayaan bagi penerapan proses belajar jarak jauh yang sekarang digadang menjadi opsi unggulan pembelajaran kontributif dalam pemutusan penularan virus Coronavirus Disease (Covid-19). Sekolah sebagai lembaga pendidikan perlu mengambil peran dialogis pada orang tua siswa untuk menciptakan model pendampingan anak dalam penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), sehingga sesuai dengan harapan  yang direncanakan kurikulum sekolah.

 

 

Pandemi mau tak mau membuat  orang  tua terlibat aktif dalam proses belajar anak secara langsung. Perubahan gaya belajar anak yang  baru dan sangat lekat dengan teknologi membuat orang tua dituntut menyesuaikan diri. Dalam proses adaptasi, orang tua mengalami banyak kesulitan dan mengakibatkan proses belajar anak kurang maksimal.

 

Ketidaksiapan orang tua mendampingi anak dalam masa belajar jarak jauh dapat diidentifikasi dari beberapa hal, yakni orang tua mengalami kesulitan memberikan pemahaman kepada anak bahwa rumah adalah pengganti sekolah sebagai tempat belajar, orang tua sulit menyesuaikan jadwal belajar anak dengan jadwal aktivitasnyaa sehari-hari, dan orang tua belum memahami materi belajar anak sehingga sulit membantu anak memahami pelajaran. Kondisi tersebut berimbas pada anak saat menjalani PJJ.

 

 

Sekolah sebagai lembaga yang memiliki sistem dan kurikulum pendidikan secara formal harus mampu melihat situasi ini dan menciptakan strategi dialogis dan sinergis sehingga sekolah dan keluarga dapat menciptakan pola PJJ terukur, aman, dan nyaman. Sekolah memiliki kemampuan membuat strategi-strategi dan modul-modul PJJ terintegrasi dengan sistem belajar sekolah yang ada. Dengan demikian, anak dapat memahami dan merasakan sedang dalam ruang dan waktu belajar sebagaimana di sekolah. Kemudian, orang tua memahami metode-metode apa saja yang digunakan saat mendampingi anak melakukan PJJ sehingga pendampingan orang tua terukur dan dapat meminimalkan kekerasan terhadap anak.

Bu Wiwin yang Selalu Ikhlas dan Tak Pernah Menyerah

 

Oleh: Ayu Astika Sari R.

 

“Mari kita sama-sama berdoa!” seru bu guru dari depan ruang kelas.

 

Anak-anak lalu membaca doa belajar serentak dengan semangat.

 

Pagi itu cerah. Suara langkah kaki memasuki ruang kelas I. Anak-anak murid yang tadinya berhamburan ke sana ke mari langsung sigap duduk di bangku masing-masing. Perempuan yang mereka panggil bu guru kemudian memberikan instruksi untuk berdoa.

 

Perempuan paruh baya itu begitu semangatnya mengajar. Nafas yang sedikit terengah sesekali terdengar. Bagian punggung baju coklat kesayangannya pagi itu masih basah dibasuh keringat. Tangannya begitu telaten memegangi anak-anak murid yang belum terbiasa memegang pensil.

 

Namanya Artawinah, lebih akrab dipanggil Wiwin. Tak terasa, tahun ini sudah genap enam belas tahun ia mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar honorer di SDN 1 Parage Kecamatan Cikulur Kabupaten Lebak, Banten. Perempuan 52 tahun asal Sawarna ini dulu tak pernah membayangkan bisa berprofesi sebagai guru. Namun, baginya semua pekerjaan yang halal tentu akan mendatangkan kebaikan.

 

Bagi Bu Wiwin, kebahagiaan terbesarnya adalah bisa membantu anak-anak muridnya memegang pensil dengan baik, membaca, dan menulis. “Ibu mah senangnya ngajar kelas I. Tadinya anak-anak belum bisa pegang pensil, membaca diajarin tiap hari dengan sabar. Alhamdulillah lama-lama jadi bisa. Senang rasanya,” tuturnya.

 

Bu Wiwin yang sedari dulu bercita-cita menjadi perawat, harus rela mengubur dalam-dalam impiannya karena tidak memenuhi kriteria dari segi (postur badan) tinggi badan dan berat badan. Setelah ditolak dari Sekolah Keperawatan (SPK) -kala itu setara SMA-, ia kemudian mendaftar di SMA PGRI Rangkasbitung dan menamatkan sekolah selama tiga tahun. Di sana, bu Wiwin bertemu sosok guru-guru honorer yang ikhlas mengabdi demi pendidikan. Merekalah yang membuat hati kecil bu Wiwin berucap “suatu hari semoga saya bisa membalas kebaikan guru-guru saya”. Siapa sangka ucapan itu menjadi kenyataan dan takdir mengantarkan bu Wiwin menjadi seorang guru hingga sekarang.

 

Setiap hari setiap pukul 06.30 WIB, bu Wiwin berjalan kaki empat kilometer dari rumah menuju sekolah. Lahan sawah dan jalan aspal bolong adalah makanannya sehari-hari. Jika musim kemarau debu-debu berterbangan dan sinar matahari menjadi teman perjalanan, jika musim hujan banjir menggenang sepanjang jalan.

 

Teu nanaon (tidak apa-apa.red) neng, jalan kaki tiap hari biar sehat,” ujar bu Wiwin.

 

Rupanya sejak SMP ia gemar berjalan kaki. Kala itu ia harus menempuh perjalanan lima belas kilometer ke sekolah, sebab tidak ada kendaraan hingga membuatnya rela berpeluh keringat demi menuntut ilmu.

 

Pada 2013 bu Wiwin memutuskan mengenyam bangku perkuliahan. Ia menempuh pendidikan S1 Keguruan di Universitas Terbuka Rangkasbitung. Ia sadar, ilmu harus terus dicari dan dibagikan kepada anak-anak muridnya. Hanya saja kuliahnya sempat terhenti pada 2018 karena harus mengurus cucu yang menderita kelainan darah selama satu tahun. “Teu nanaon (tidak apa-apa.red), ikhlas ridho neng. Kuliah nanti bisa dilanjutin ada aja kesempatannya, ini kesempatan ngurusin cucu belum tentu ada lagi kalau lagi sakit gini,” tutur bu Wiwin.

 

Bagi bu Wiwin, setiap orang tua adalah teladan untuk anak-anaknya. Walaupun usianya sudah tak lagi muda, ibu dua anak ini tak pernah ingin berleha-leha di rumah. Baginya cara  bersyukur kepada Allah adalah dengan mengabdi. “Ikhlas, rida aja sebagai contoh bagi anak-anak ibu,” seru bu Wiwin.

 

Semester berikutnya, bu Wiwin bertekad melanjutkan pendidikannya dan menyabet gelar sarjana yang sempat tertunda.  Bu Wiwin, terima kasih telah memberi ketulusan dalam pengabdian untuk kemajuan pendidikan di Lebak. Tetap semangat menginspirasi kami ya bu.

Kita Bisa Tiru Nabi Muhammad

Dijuluki Al-Amin (dapat dipercaya) dan As-Saadiq (yang benar), tak membuatnya tinggi hati. Diperlakukan semena-mena, tak lantas membuatnya menjadi pendendam. Sosoknya santun, lembut, tindakannya arif serta bijaksana, dan akhlaknya yang mulia mampu menebarkan Rahmatan lil Alamin; rahmat dan kasih sayang bagi semesta alam.

Dialah Muhammad saw. sang pembawa risalah kebenaran bagi umat manusia. Teladan bagi umat muslim seluruh dunia.

Sang penebar kebaikan, toleransi, dan kebajikan.

Sang pemimpin yang nilai-nilai perjuangannya bagaikan mata air, tidak pernah kering.

Saatnya jadikan momentum Maulid Nabi Muhammad saw. sebagai penyemangat memperbaiki diri dan ajang meningkatkan gairah keislaman kita.

Belajar dari Rumah, Membangun Sikap Positif Anak

 

Oleh: Mawardah

 

Belajar tatap muka konon akan dimulai pada Juli kemarin, seperti yang disampaikan  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam jumpa pers pada 30 Maret lalu. Nadiem Anwar Makarim mengatakan pemerintah memutuskan mengizinkan pembelajaran tatap muka secara terbatas setelah semua guru dan tenaga kependidikan mendapatkan vaksin Covid-19. Sekolah yang melakukan tatap muka juga harus menerapkan protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah.

Perencanaan tatap muka ini dilakukan agar tidak terjadi learning loss di kalangan siswa. Learning loss merupakan menurunnya kompetensi belajar siswa. Menurunnya kompetensi siswa bisa dilihat dari kemampuan anak membaca dan berhitung namun kurang signifikan. Menurut Hasbi, Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset yang dikutip pada artikel kompas.com berjudul ‘Cegah Learning Loss dengan Lakukan Pembelajaran Tatap Muka’ mengatakan learning loss memiliki dampak  sangat besar bukan hanya terhadap peserta didik. Tetapi juga bagi nasib dan majunya bangsa Indonesia. Jika learning loss terus terjadi dan tidak segera diatasi, maka dalam waktu kurang lebih 15 tahun lagi bangsa ini akan mengalami kehilangan generasi penerus yang berkualitas.

Ekspektasi kala itu siswa dapat belajar secara tatap muka. Namun, kenyataan berkata lain sebab angka kasus positif Covid-19 di Indonesia semakin meroket pada Juli-Agustus, sehingga pemerintah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk mencegah terjadinya penularan. Maka, proses belajar siswa pun kembali dilakukan secara daring dari rumah, terutama pada daerah zona merah.

Ada beberapa kendala yang dirasakan oleh siswa, guru maupun orang tua tentang belajar dari rumah. Seperti keterbatasan internet, gawai yang kurang mumpuni, adanya kesenjangan interaksi, siswa yang kurang aktif, memiliki rasa bosan, gangguan kesehatan, dan mengalami kesulitan dalam memahami penggunaan fitur-fitur aplikasi pembelajaran daring, seperti Google Classroom, Zoom Meeting, Google Meet, dan lainnya. Hal ini membuat siswa, guru, dan orang tua harus beradaptasi dengan kondisi belajar secara daring.

Belajar dari rumah tidak hanya menjadi tanggung jawab guru, tapi orang tua juga harus berperan  aktif. Selama ini, kebanyakan orang tua hanya fokus dalam memberikan fasilitas pendidikan, namun lupa tanggung jawabnya dalam mendidik anak. Apalagi masa pandemi mengubah banyak hal. Peran orang tua benar-benar menjadi hal utama dalam menciptakan kebahagiaan, kenyamanan dalam belajar, dan juga kesuksesan anak. Maka, orang tua dituntut menerapkan sistem pola asuh positif dalam mendampingi anak selama 24 jam.

Menurut Psikolog Klinis dan juga Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Brigitta Erlita Tri A, M.Psi., dikutip dari laman kompas.com mengatakan bahwa pembelajaran di rumah yang dilakukan secara daring menyebabkan guru tidak bisa memantau langsung perkembangan muridnya. Oleh karena itu, orang tua atau keluarga berperan penting dalam mendampingi anaknya saat belajar daring.

Menurut Erlita, ada beberapa perilaku anak yang perlu diwaspadai ketika muncul perilaku yang tidak biasa terjadi. Misalnya, anak-anak yang biasanya ceria lalu tiba-tiba menjadi murung dan tampak menarik diri, anak mulai menyakiti dirinya sendiri, nafsu makan yang tiba-tiba menurun, dan menarik diri dari interaksi keluarga.

Kebiasaan itu terjadi akibat anak-anak yang mulai bosan belajar secara daring, tugas yang menumpuk, tidak adanya bimbingan ketika mengerjakan tugas, dan sebagainya. Maka sebagai orang tua perlu membimbing, memperhatikan, menemani dan sekaligus membangun sikap atau perilaku yang positif kepada anak.

Hurlock (2000) berpendapat bahwa perilaku orang tua ke anak akan memengaruhi sikap dan perilaku anak. Kondisi pengasuhan dan komunikasi dalam keluarga memiliki dampak negatif-positif terhadap perkembangan anak. Jika anak sering mendapatkan kritikan, anak akan mudah menyalahkan orang lain. Jika anak sering mendapatkan penghinaan, anak akan tumbuh menjadi pribadi pemalu. Jika anak mendapatkan toleransi, anak belajar menjadi pribadi yang sabar. Begitu juga jika anak hidup dengan pujian, anak akan mengembangkan penghargaan pada diri sendiri maupun orang lain (Kuswanti, dkk 2020).

 

Membangun sikap positif anak

Sikap positif sangat perlu diterapkan, agar tidak terbawa arus negatif terutama pada situasi pandemi. Menumbuhkan sikap positif pada anak sangat penting. Sebab, anak adalah permata yang harus dirawat untuk kebaikan bangsa di masa depan. Maka diperlukan kreativitas orang tua dalam berkomunikasi dan berinteraksi pada anak. Supaya proses tumbuh kembang anak lebih baik, orang tua bisa menerapkan pola asuh authoritative.

Baumrind (dalam jurnal Putu & Husnul, 2020: Pola Asuh Orang Tua pada Anak di Masa Pandemi Covid-19) berpendapat, pola asuh authoritative memberikan dampak positif bagi anak karena orang tua mau mendengarkan pendapat anak, mengarahkan, menghargai, menerapkan standar perilaku dengan jelas dan konsisten serta tetap mengenali kebutuhan penting sang anak. Jika  pengasuhan demokratis diterapkan, anak dapat memiliki pribadi hangat, merasa dihargai, percaya diri, memiliki kematangan emosi, dan sosial yang baik.

Dalam jurnalnya, Putu & Husnul menuliskan, selama pandemi, pola asuh authoritative orang tua kepada anak bisa diwujudkan dalam bentuk menjaga kesehatan anak, mendampingi anak belajar daring, meluangkan waktu untuk melakukan kegiatan bersama, menciptakan lingkungan aman dan nyaman, menjalin komunikasi yang intens dengan anak, dan melakukan variasi dan inovasi kegiatan di rumah.

Pertama, menjaga kesehatan pada anak. Orang tua bisa mengajarkan anaknya menjaga kebersihan dan menerapkan hidup sehat pada masa pandemi Covid-19. Dalam mengajarkan anak, orang tua bisa memberikan contoh bagaimana pola hidup sehat. Sehingga anak bisa lebih cepat memahami, dan menerapkan hidup sehat dalam kegiatan seharinya; contohnya rajin mencuci tangan pakai sabun di air mengalir dan menggunakan masker jika keluar rumah.

Kedua, mendampingi anak belajar daring. Ketika orang tua mendampingi anak belajar daring, anak akan merasa diperhatikan dan disayang. Kemudian, bagi orang tua kegiatan mendampingi bisa menjadi sarana membimbing anak, bila anak mengalami kesulitan dalam memahami materi pembelajaran. Dalam mendampingi, orang tua juga perlu berkomunikasi dengan menggunakan kalimat yang positif, tidak berkata kasar apabila anak kurang memahami materi yang disampaikan oleh guru atau dalam mengerjakan tugas. Sehingga anak akan merasa nyaman bila belajar didampingi orang tua.

Ketiga, meluangkan waktu untuk kegiatan bersama. Di masa pandemi, orang tua memiliki waktu lebih banyak bersama anak. UNICEF mengungkapkan bahwa orang tua perlu membuat waktu yang berkualitas dengan anak, untuk seperti bermain, menanam, memasak, membersihkan rumah, beribadah dan kegiatan lainnya. Jika kegiatan itu diciptakan dengan baik, maka akan terbentuk kebersamaan dan keakraban sehingga menciptakan suasana keluarga positif.

Keempat, menciptakan lingkungan aman dan nyaman. Agar anak tidak merasa bosan ketika belajar dari rumah, maka orang tua perlu menciptakan ruang aman dan nyaman. Menurut Kurniati, dkk, dalam mewujudkan lingkungan aman dan nyaman, orang tua perlu menjalin kelekatan dengan anak untuk membangun suasana belajar menyenangkan, tanpa adanya pemaksaan, dan memahami karakter anak sebagai pribadi unik, agar dapat memberikan dorongan kepada anak lebih percaya diri dan bertanggung jawab.

Kelima, menjalin komunikasi intens dengan anak. dalam menjalin keakraban, orang tua perlu berkomunikasi dengan anak secara intens. Karena dengan melalui komunikasi, orang tua akan memahami kebutuhan anak, dan juga menyampaikan harapan kepada anak tanpa adanya paksaan. Dengan ini dapat mewujudkan rumah yang nyaman, dan menyenangkan karena kehangatan berkomunikasi antar orang tua dengan anak.

Keenam, melakukan variasi dan inovasi kegiatan di rumah. Orang tua perlu menjadi pribadi aktif dan kreatif dalam membuat kegiatan sebagai sarana belajar anak. Aktivitas yang bisa dilakukan di antaranya mendongeng, membaca buku, memasak bersama, bernyanyi dan lainnya. Melalui kegiatan bervariasi dan kreatif, anak dapat mengembangkan minat dan bakatnya karena orang tua membiasakan aktivitas positif.

Orang tua harus memberikan contoh baik kepada anak, maka anak akan mengikutinya. Karena anak adalah cermin. Anak akan cepat meniru dari apa yang dilihat, didengar, dan dirasakannya. Demi mewujudkan belajar anak dari rumah lebih menyenangkan, maka orang tua dan guru harus bekerja sama, misalnya selalu memberikan apresiasi kepada anak atas pencapaiannya, sehingga sikap positif anak dapat terbangun dengan baik.

Menjadi Guru Terbaik

Oleh: Nurina Permatasari

Kisah ini bermula ketika saya pertama kali mengajar sebagai guru baru di sekolah ini, SDN 6 Sungai Danau, Tanah Bumbu (Kalimantan Selatan).

Sebagai guru, saya dilanda rasa pesimis; akankah saya bisa menghadapi hari ini dengan baik ataukah menjadi hari yang paling buruk?

Hari pertama saya mengajar, banyak guru yang bersimpati, tetapi ada pula yang memandang pesimis. Rasa hati ini pun tak karuan jadinya.

Dengan gugup, kaku, dan canggung, saya melangkah masuk ke kelas. Waktu itu saya diberikan kesempatan mengajar kelas 2. Saya tatap wajah heran beberapa siswa yang mungkin bertanya-tanya: siapakah orang asing yang berada di kelas kami ini?

Saya pun memperkenalkan diri. Saya juga menjelaskan bahwa sayalah yang akan menggantikan wali kelas mereka yang sedang sakit. Usai memberian penjelasan, segudang pertanyaan mereka lontarkan kepada saya.

Walau masih merasa canggung, saya terhibur oleh kepolosan wajah siswa-siswa tersebut. Saya pun merasa lebih tertantang untuk mengajar lebih baik lagi saat keesokan harinya. Dan untuk pertama kali, dalam seumur hidup saya, ada beberapa anak yang menghargai saya sebagai seorang guru. Tidak hanya itu, apa pun yang saya katakan, mereka selalu mendengarkan, memerhatikan, bahkan mengkritisi.

Di samping penglaman yang belum terlalu banyak, saya masih kesulitan saat mengondisikan kelas yang ramai. Terkadang suara saya habis hanya untuk menertibkan siswa-siswa yang sering gaduh, berlari ke sana ke mari. Saya mulai kebingungan mencari cara guna menghadapi kelas yang seperti ini.

Alhamdulillah, sekolah memiliki pendamping yang baik. Saya pun sering curhat dengan Pendamping Sekolah mengenai suasana kelas yang sering gaduh. Sedikit titik terang hadir dalam benak saya. Tidak lama kemudian, di sekolah juga diselenggarakan pelatihan manajemen kelas, yang didukung sepenuhnya oleh Sekolah Literasi Indonesia (SLI). Saya berpikir, pelatihan ini pas sekali dengan kesulitan-kesulitan saya.

Hasil pelatihan tersebut saya terapkan sedikit demi sedikit di kelas. Misalnya mengenai penampilan guru di kelas. Saya pun mulai memerhatikan suara, kontak mata, gerak dan mimik, posisi dan kehangatan. Saya juga mulai menerapkan tepuk-tepukan seperti yang diajarkan Pendamping Sekolah untuk mengondisikan siswa. Ada tepuk siswa cerdas, tepuk konsentrasi, dan tepuk senyum.

Selain itu, saya mulai menyentuh siswa dengan tujuan memberikan kedekatan. Misalnya jika ada yang tidak memerhatikan saya, maka saya usap bagian kepala siswa itu agar ia memerhatikan materi yang saya ajarkan. Saya pun sudah tidak berteriak-teriak lagi begitu melihat suasana kelas yang ribut. Siswa-siswa sangat bersemangat sekali apabila diajarkan tepuk-tepuk kreatif.

Saya mulai belajar sebaik mungkin menjadi guru terbaik. Walau berstatus guru baru dan jauh dari pangkat seorang PNS, kini saya lebih bersema-ngat lagi menjadi seorang guru yang dirindukan oleh siswa-siswanya. Ya, menjadi seorang guru yang mampu menginspirasi.

 

Senangnya Melihat Murid di Kelas

Oleh: Nurpawan

Meski hanya berstatus honorer selama bertahun-tahun, saya tetap mengatakan dan menguatkan kalimat ini dalam hati: saya bangga menjadi guru!

Menjadi guru memang pilihan saya; bukan pekejaan pelarian dari kesuntukan sebagai ibu rumah tang-ga. Terkadang ada saja pihak-pihak yang mengarahkan saya untuk mengambil pekerjaan lain, namun saya bergeming. Saya tetap dengan putusan yang sama. Menurut saya, menjadi guru peluang yang sangat besar untuk melatih otak berpikir sekaligus juga mengawetkan wajah. Sebab, guru berusaha tersenyum tiap harinya, bergerak, belum lagi memiliki kolega banyak dari berbagai sekolah, serta tak kalah pentingnya dikenal di kalangan orangtua siswa.

Satu hal yang membuat saya bertahan di sekolah adalah melihat kumpulan wajah anak-anak dengan karakter beragam. Sering kali saya tersenyum bahagia melihat mereka. Namun, terkadang ada pula yang membuat saya emosi akibat permasalahan di kelas. Mulai dari siswa yang kurang mampu berhitung dan membaca hingga siswa yang tidak bisa duduk diam selama pembelajaran di kelas. Inilah ternyata yang menjadi tantangan bagi guru, terutama guru kelas rendah.

Saya sendiri saat ini mengajar di kelas 2. Semua guru tentu tahu kelakuan dan cara belajar siswa kelas 2 SD. Kesabaran dan pandai dalam memerankan diri pada posisi mereka mutlak dimiliki. Singkatnya, profesi guru benar-benar menuntut saya untuk menjadi pemikir cerdas dan pelaku aktif sehingga bisa memberikan daya tarik pada diri siswa. Dengan tantangan seperti ini, menjadi kebahagian tersendiri bagi saya saat mampu menyelesaikan masalah mereka. Ada rasa bangga begitu melihat mereka berubah.

Dalam diri saya berjanji untuk selalu memberikan yang terbaik pada mereka. Banyak hal yang dapat saya lakukan untuk memberikan yang terbaik di kelas, di antaranya membuat proses belajar hidup dan mengasyikkan bagi siswa. Untuk me-narik minat mereka dalam belajar, sesekali saya memberikan hadiah berupa bing-kisan makanan ringan selain juga pujian.

Senang melihat mereka betah di kelas. Belajar dan bermain sambil diselingi bernyanyi. Atau bersama-sama membuat display dan hiasan kelas. Saya bersyukur, praktik pembelajaran yang menyenangkan berjalan baik. Tidak sia-sia ilmu yang saya dapatkan selama mengikuti pelatihan dan pendampingan yang diadakan Sekolah Literasi Indonesia (SLI).

 

 

Perjuangan Belum Berakhir

Oleh: Mediana Sitompul

Dulu Timika merupakan kota kecil yang dikelilingi oleh hutan belantara. Mayoritas penduduknya orang Papua asli.

Tapi sekarang Timika bagaikan Jakarta kedua, pembangunan begitu pesat dan lalu lalang kendaraan tiada hentinya. Penduduk yang kini memadati Timika kebanyakan pendatang dari luar Papua. Salah satunya adalah saya, yang merantau dari Medan mengadu nasib sebagai guru.

Pengalaman pertama mengajar saya di Timika terjadi pada 2007, sebagai tenaga honorer di salah satu sekolah inpres di dekat pelabuhan. Pertama datang ke sekolah tersebut, saya merasa sedih melihat bangunan yang masih jauh dari kata layak. Hingga akhirnya pada 2009 saya diterima di salah satu sekolah di dalam kota Timika. Saya pindah tempat mengajar karena sekolah pertama itu sangat jauh dari tempat tinggal. Ternyata kondisi sekolah yang kedua ini pun hampir sama dengan sekolah pertama, baik dari fisik bangunan maupun kualitas guru-gurunya. Beruntunglah pada 2009 saya diterima sebagai PNS, dan dua tahun kemudian ditempatkan di SD Inpres Timika II.

Awal saya masuk ke sekolah ini, ruangan masih kelihatan kumuh. Sampah di mana-mana karena tidak ada penghijauan. Ruangan belajar juga masih kurang karena jumlah murid yang sangat banyak. Setiap kelas rata-rata terisi 70-75 siswa.

Di balik keterbatasan ruangan, saya justru merasa bangga dengan guru-guru yang begitu hebat bisa mengajar di depan kelas dengan murid yang begitu banyak. Bayangkan, dengan ruangan sebanyak 15 harus diisi oleh murid sebanyak 1000 lebih! Belum lagi ruangan sekolah kami dipakai bergantian dengan salah satu sekolah negeri. Karena itulah, saya menganggap manusiawi saja bila teman-teman guru terkadang emosi dengan ulah beberapa siswa di tengah ruangan yang terbatas dan panas pula. Saya sendiri juga terkadang melakukan respons serupa ketika mendapati anak suka berteriak dalam kelas ataupun keluar-masuk ruangan.

Awal masuk sekolah saya ditempatkan di kelas 3. Ternyata siswa yang saya didik terdiri dari beragam suku. Hampir semua suku yang ada di Indonesia ada di sekolah kami, khususnya di kelas yang saya ajar. Di sini lah saya baru menyadari tantangan yang besar buat saya; bagaimana cara saya sebagai seorang guru menghadapi anak-anak beragam latar belakang itu.

Pertama saya mengajar, manajemen kelas masih kacau-balau. Guru-guru lain juga masih serba terbatas ilmunya sehingga tidak banyak membantu ketika saya ajak berdiskusi. Hingga pada akhirnya doa kami didengar oleh Tuhan Yang Maha Esa melalui kehadiran Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa (LPI DD).

Pada 2011 bangunan sekolah kami mulai direnovasi. Ternyata bukan hanya gedung yang diperbaiki, melainkan juga mutu guru-guru dikembangkan dengan diadakannya pelatihan dan pendampingan. Trainer dan Pendamping Sekolah selalu memotivasi kami untuk terus mengembangkan kemampuan diri. Di sini lah kami mulai yakin bahwa kami pasti bisa. Karena tidak ada yang tidak bisa kalau kita berusaha dan belajar.

Kami juga diajarkan tentang manajemen kelas. Menghadirkan pembelajaran di kelas dengan ceria dan kreatif. Mengganti hukuman sarat ‘kekerasan’ dengan menerapkan kedisiplinan berdasarkan peraturan yang disepakati bersama. Hasil penerapannya, kayu atau pemukul meja yang biasa dibawa guru mulai ditinggalkan.

Tidak hanya guru-guru yang semakin hebat, anak-anak didik kami pun mulai banyak mengukir prestasi, baik di tingkat Papua maupun di luar Papua.

Untuk maju memang selalu ada perjuangan dan rintangan. Tidak setiap pelatihan yang diberikan secara otomatis bisa diterapkan. Bukan karena ilmunya yang salah, melainkan karena manusia yang harus melakukannyalah yang enggan untuk menerapkan.

Pelatihan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) misalnya, sejatinya amat bermanfaat. Sayangnya, ada beberapa guru yang susah untuk diajak terlibat. Saya pun awalnya begitu, masih susah menyambutnya dengan gembira. Setelah berpikir sekian waktu, barulah saya antusias mengikuti pelatihan.

Kelompok Kerja Guru (KKG) dibentuk sebagai wadah tukar pendapat dan ga-gasan guru. Awalnya guru-guru kelas 3 yang memulai. Kami pun membentuk dan menyatukan peraturan dan prosedur di dalam kelas, membuat RPP bersama-sama, dan memulai pembelajaran secara tematik. Hasilnya, begitu banyak kemajuan yang kami capai, baik oleh guru-guru maupun anak-anak. Melihat perkembangan positif di kelas 3, guru-guru yang lain membentuk KKG kelas 4 dan KKG kelas 5. Hingga akhirnya sekolah memutuskan untuk membentuk KKG sekolah yang diadakan sebulan sekali.

Yang juga menarik dari program pendampingan adalah melatih guru-guru menjadi seorang trainer. Awalnya kami dilatih menjadi trainer di hadapan teman-teman guru di sekolah sendiri. Setelah itu, dipilihlah beberapa guru untuk menjadi trainer, yang kemudian dinobatkan menjadi guru model. Saya senang dan bersyukur karena terpilih sebagai salah satu guru model.

Sungguh luar biasa buat saya dan rekan-rekan atas predikat ini. Sebuah tantangan yang berat karena kami harus berusaha sebaik mungkin untuk lebih maju lagi dibandingkan teman-teman guru yang lain. Walau terasa berat, tanggung jawab yang sudah diberikan kepada kami tidak akan kami sia-siakan begitu saja.

 

 

 

Bu Mawar, bunga pendidikan yang Terus Menebar Wangi

“Ini uang untuk membeli bensin,” kata beliau sambil menyodorkan uang dua puluh ribuan begitu kami hendak pamit pulang meninggalkan SDS Surya Bahagia siang itu.

Serentak kami menggeleng, “Tidak usah, Bu.”

Penolakan kami tidak berlaku sama sekali. Beliau keukeuh bahwa uang tersebut adalah rezeki kami dan harus diterima. Uang dua puluh ribuan itu pada akhirnya berpindah tangan pada kami.

Cerita dua orang Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia di atas hanya merupakan salah satu dari sekian banyak kebaikan sang kepala sekolah. Bu Mawar atau Ibu Kelas Enam, begitu beliau biasa dipanggil di lingkungan SDS Surya Bahagia, sebuah SD swasta yang terletak di pinggiran Kota Medan. Sebuah sekolah dasar yang meskipun minim fasilitas, namun tak pernah mau mengalah pada keadaan. Terus berupaya memberantas kebodohan dengan gigih. Tak pernah mau menyerah apalagi kalah. Seakan tak peduli pada minimnya sarpras, semua guru tetap hadir mengajar dengan semangat yang menyala, semangat yang dipantik oleh seorang wanita tangguh yang tak pernah lelah memberi warna pada dunia pendidikan, Bu Mawar.

Bu Mawar adalah salah satu dari pejuang pendidikan Indonesia. Pada tahun 2018 ini beliau menginjak usia 63 tahun. Umur yang tidak lagi muda memang. Sudah senja, begitu istilah lainnya. Namun bila berbicara soal semangat, sedikit pun tak ada keraguan pada sosok beliau. Umur boleh menua, semangat harus selalu muda. Seperti berpedoman pada sebuah hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, “Bersemangatlah kamu terhadap apa-apa yang bermanfaat bagi kamu”. Memang semangat beliaulah yang memunculkan ghirah pada guru-guru lain.

Ketika ditanya mengapa tetap mau mengajar di usia yang seharusnya sudah pensiun, beliau menjawab mantap,

“Saya senang mengajar. Bertemu dengan anak-anak membuat saya merasa lebih muda. Lagipula siapa lagi yang mau peduli pada sekolah ini kalau bukan kita?”

Sebuah jawaban yang sangat menyentil hati siapa pun yang mendengarnya. Bila Bu Mawar yang secara umur sudah tua, namun memiliki semangat yang menyala, lalu bagaimana dengan anak muda yang notabene masih dalam usia produktif? Tentu harus lebih bersemangat lagi, bukan?

Sebagian besar umur beliau dihabiskan untuk mengurusi sekolah dan pendidikan. Sejak tahun 1976 beliau sudah mulai berkecimpung mengurusi SD yang berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Surya Bahagia ini. SD yang mulai berdiri pada tahun 1957 ini mengalami banyak perubahan di tangan seorang Bu Mawar. Sedikit demi sedikit SDS Surya Bahagia mengalami kemajuan, hingga seperti yang dijumpai sekarang. Sekarang SDS Surya Bahagia memiliki tiga ruangan kelas yang berasal dari penyekatan satu ruangan. Ditambah dengan satu ruangan kepala sekolah yang berdiri di depan ruangan kelas, seolah-olah siap menjaga SDS Surya Bahagia dari ancaman dunia. Sama seperti sang kepala sekolah yang terus menjaga SDS Surya Bahagia sepanjang hayat, hingga hari tuanya.

Tidak hanya sekadar baik, Bu Mawar juga dikenal sebagai sosok yang peduli dan penuh perhatian pada sipapun. Setiap tamu yang datang pasti disuguhi makan. Paling tidak tamu-tamu yang datang harus dihidangkan minum. “Hanya ini yang bisa Ibu berikan, tolong diterima, begitu jawaban beliau bila mendapatkan penolakan. Memuliakan tamu, begitulah sifat baik beliau.

Usaha gigih beliau memang patut mendapatkan penghargaan. Beliau yakin bahwa rezeki akan datang dari arah yang tidak terduga. Seperti bantuan donatur misalnya. Terkadang tanpa diduga-duga ada saja donatur yang datang ke Surya Bahagia memberikan bantuan. Pernah datang dua orang lelaki dari sebuah bank mengunjungi sekolah dan meminta list apa saja perlengkapan yang dibutuhkan SDS Surya Bahagia untuk menunjang keberlangsungan pendidikan di sekolah. Memanglah orang baik dengan niat baik selalu dipertemukan dengan orang baik, serta mendapatkan jalan yang baik pula.

Bu Mawar, tetaplah menebar wangi di dunia pendidikan. Semoga Allah senantiasa memberi kekuatan dan kesehatan padamu, wahai pejuang pendidikan.

Guru Hebat Berubah Menjadi Guru Inspiratif

Oleh: Sri Ningsih Pardosi,Ssi.

 

“Guru adalah profesi yang berat, profesi yang bisa membawamu ke surga maupun ke neraka”. Ketika membaca kutipan tersebut saya tersentak sangat menyentuh hati dan sambil mendengar penjelasan beliau tentang bagaimana guru bisa ke surga dan neraka tanpa terasa air mata saya menetes. Sungguh mengena ke hati. Muncul tekad dalam hati bahwa profesi yang sedang saya geluti hari ini adalah harus menjadi salah satu ibadah saya kepada Allah.

 

Kenapa Guru?

Seperti yang disampaikan Syafiie, Direktur Lembaga Pengembangan Insani (LPI DD) bahwa guru merupakan tugas mulia,  saya sangat mencintai pekerjaan Guru. Because Teacher is a great profession. Saya merasa beruntung hari ini karena Allah memposisikan saya sebagai guru. Menurut saya melalui pekerjaan inilah cara saya menuju syurga-Nya kelak.

 

Kenapa Surga?

Karena surga adalah tujuan kita semua. Tiada seorang manusia yang tidak menginginkan surga. Manusia diciptakan dari Allah dan akan kembali pada-Nya dan kita akan menemui-Nya di syurga-Nya kelak. Aamiin ya Rabb.

 

Mengutip apa yang disampaikan Syafie pada Materi Madrasah Islami kemaren bahwa di mana pun kita berada lakukanlah karya terbaik maka kebaikan-kebaikan lain akan kita dapatkan. Begitu juga harusnya kita, bidang pendidikan yang kita tekuni harus kita isi dengan karya-karya terbaik. Prestasi dan perubahan apa yang sudah kita lakukan selama menjadi guru? Sangat lah merugi kita apabila lama masa kerja sebagai guru tidak sebanding dengan pengalaman mengajar. Cara mengajar tahun lalu sama dengan tahun ini tidak ada inovasi dan kreatifitas yang kita lahirkan dalam pembelajaran. Bagaimana kita bisa melahirkan peradaban baru apabila kita sendiri sebagaia guru tidak mau atau sulit untuk berubah.

 

Membangun peradaban baru harus dimulai dari rumah/keluarga. Namun kita adalah mitra orang tua untuk membangun peradaban itu. Apabila rumah yang menjadi tonggak awal pembentukan peradaban itu baik maka sekolah hanya membantu dan memoles saja pembentukan generasi tersebut. Namun apabila rumah/keluarga tersebut bermasalah maka menjadi tugas sekolah untuk membentuk pribadi anak yang menjadi cikal bakal generasi pembentuk peradaban baru.

 

Di sinilah peran kita sebagai guru pembentuk peradaban baru. Tugas ini adalah ladang amal bagi kita. Membangun karakter anak bangsa berdasarkan Al-Qur’an dan hadis hingga terbentuk nantinya generasi-generasi awal pada zaman Rasulullah saw. Generasi yang teguh iman, akhlak yang santun, jujur, disiplin. Insya Allah generasi seperti itulah yang kita didik saat ini.

 

Kita sudah tau bahwa salah satu amal yang tak terputus sampai kapanpun adalah ilmu yang bermanfaat. Ketika kebaikan yang kita sampaikan kepada siswa diamalkan serta diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari  maka pahala yang kita dapatkan akan mengalir terus kepada kita selama mereka masih mengamalkan ilmunya. Itu masih satu siswa, bagaimana pula pahala yang kita dapat dengan jumlah siswa dan guru yang banyak. Bisa dibayangkan apabila semua warga sekolah mengamalkan apa yang kita ajarkan.

 

Nah, karena inilah saya ingin mengajak bapak/ibu guru hebat untuk berubah menjadi guru inspiratif. Guru yang memberi teladan bukan hanya bagi siswanya namun seluruh warga sekolah bahkan  masyarakat. Guru yang dihargai karena keluasan ilmunya dan ke-istiqomah-an beribadahnya. Guru yang dikagumi karena kemuliaan akhlak dan semangat belajarnya. Mari kita raih kembali kejayaan kita dengan berpijak pada sumber peradaban kita yaitu Al-Qur’an dan Sunah.

 

Berkatalah dengan Ilmu Makmalian

Oleh: Susilowati, S.Pd. 
Anggota Komunitas Media Pembelajaran (KOMED)

 

Nyinyir dalam kamus besar bahasa Indonesia mengandung kata kerja sekaligus kata sifat. Nyinyir adalah kata kerja yang artinya mengulang-ngulang pembicaraan sambil membebek, ngenye, atau mencibir. Bisa kita simpulkan bahwa nyinyi\r adalah kata atau kalimat-kalimat yang memiliki kesan nada sinis dan merendahkan lawan bicara kita baik secara individu maupun kelompok.

 

Fenomena bahasa nyinyir ini sedang hangat, mengeliat, dan membaur dalam setiap space kalimat yang dipos oleh teman-teman kita di media sosial. Biasanya tulisan bernada nyinyir ini betah membenam di saat kejadian-kejadian terhangat yang terjadi di negeri ini. Sebagai contoh nyata adalah gelombang aksi damai yang telah terjadi di tiga putaran yang diselenggarakan di ibu kota negara. Aksi damai yang dilakukan jutaan ummat Islam dari berbagai penjuru daerah di Indonesia. Ada pro ada kontra itu sudah pasti. Dari pro dan kontra inilah undangan kata–kata nyinyir menghambur keluar begitu saja. Tak peduli norma atau etika. Yang terpenting melalui kalimat-kalimat tersebut terekspresikan syahwat bicara (syahwatu qoola) untuk melemahkan lawan bicara baik dari pihak yang pro maupun yang kontra. Dapat dipastikan bahwa kalimat nyinyir menjadi kendaraan terkuat dalam perang opini di tengah problematika ummat saat ini, tanpa terkecuali.

 

Bagaimana Islam memandang fenomena ini?  Mari kita renungkan kembali beberapa hadis berikut ini: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklan bicara yang baik-baik atau diam (HR. Bukhari)”

 

“Seorang mukmim bukanlah pengumpat, pengutuk, berkata keji atau berkata busuk (Hr. Bukhari dan Al Hakim).”

 

“Kebanyakan dosa dari anak Adam karena lidahnya (HR. Ath-Thabrani dan Al-Bihaqi)”

 

“Yang paling aku takutkan dari ummatku adalah orang munafik yang pandai bersilat lidah (HR. Abu Ya’la)”
Risalah Islam memerintahkan kaum muslim agar menjaga lisan (lidah), gunakan lisan untuk berbicara hal-hal yang baik saja atau lebih baik diam, tidak mengumpat, tidak menyakiti , bahkan berkata keji. Atau bicara dalam kepura-puraan.

 

Islam memberi perhatian khusus tentang lisan. Kalimat-kalimat yang diucapkan oleh seorang muslim baik yang menyangkut urusan pribadi maupun orang banyak hendaknya berasaskan  sumber atau ajaran Islam yang benar. Karena lengkapnya ajaran Islam meliputi seluruh persoalan hidup ummatnya. Jangan berbicara atau jangan mengikuti jika kita tidak mengetahui tentangnya atau janganlah bertaqlid (mengekor) buta tanpa risalah yang benar baik sumber maupun asalnya. Kelak apa-apa yang kita lisankan akan mengundang pertanggungjawaban dihadapan-Nya. Nasihat dan seruan dalam Islam tidaklah menyakiti. Nasihat atau kata dalam Islam yang bersumber dari ajaran Islam mengandung kebenaran sejati yang dapat memuaskan akal dan menentramkan hati karena bersumber dari pemikiran yang cerdas dan cemerlang (Fikrul mustaniir).

 

Kita kembali ke kalimat-kalimat nyinyir tadi, apakah kalimat-kalimat tersebut bisa dipertanggungjawabkan? Atau malah memicu pertengkaran antar pribadi atau kelompok. Kita sudah bisa menilai dan bila itu terjadi tentunya menjadi pertanggungjawaban masing-masing baik di hadapan manusia maupun di hadapan Sang Khalik. Kalimat atau pernyataan baik itu muncul dari pribadi cerdas, cerdas karena isi kepalanya memiliki sumber perkataan yang berasal dari kajian ilmu yang ia miliki. Ia tidak membebek atau pun nyinyir bahkan sekadar ikut-ikutan. Mulutmu harimaumu itu adalah benar. Bagaimana jika kita ingin memiliki harimau yang jinak? Maka carilah ilmu untuk menjinakan harimau tersebut. Begitu pula dengan kata. Jika kita ingin memiliki kata atau kalimat yang baik, menentramkan, menunjukan kebaikan kepada orang lain berdasarkan pandangan agama, maka carilah ilmunya.

 

Mari bijak dalam berkata, karena kekuatan sebuah kata adalah ilmu. The power of  the speech is  knowledge. Mari kita berikan setiap kata adalah inspirasi, bukan menyakiti. Berkatalah dengan ilmu. Wallahu’alam.