Anak Nakal, ini sumbernya sekolah literasi indonesia

Mendisiplinkan Siswa? Ikuti Cara Bu Aman Ini.

Saya sudah mengajar di sekolah ini sudah hampir sepuluh tahun. Banyak suka duka mewarnai hidup saya dalam mendidik siswa yang punya berbagai macam karakter dan

keunikan. Kelas 3C menjadi tanggung jawab saya selama setahun ini.

Belajar dari tahun sebelumnya, saya tidakingin berulangnya lagi kegagalan mendisiplinkan anak didik. Berbekal pengalaman mengikuti pendampingan sekolah yang diadakan Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa, saya terinspirasi untuk membuat strategi mendisiplinkan anak yang terbiasa datang terlambat ke sekolah.

Guru-Guru di sekolah memang sering bilang, “Kalau ada ibu Agustina Aman, semuanya pasti aman”. Saya dan guru-guru pun tertawa dengan selorohan yang membawa-bawa nama saya. Maklumlah nama saya Agustina Aman. Berbekal nama ini, saya harus membuktikan bahwa kelas saya juga harus aman, utamanya ‘mengamankan’ siswa yang sering datang terlambat ke sekolah.

Pada mulanya saya memberi hukuman memungut sampah sebanyak 50 lembar. Setelah saya perhatikan beberapa minggu, hanya sedikit perubahan yang ada. Siswa yang dihukum juga tidak terlalu jera karena memungut sampah di halaman sekolah memang sudah menjadi kebiasaan warga SDN 264 Wawondula, Luwu Timur (Sulawesi Selatan).

Meski gagal, saya tidak berhenti putus asa. Mulailah saya mengeluarkan senjata kedua, yakni memberikan hukuman lari keliling lapangan sebanyak sepuluh kali putaran. Saya berharap, bentuk hukuman kali ini lebih mengefek. Sayangnya, anak-anak yang dihukum masih saja mengulangi perbuatannya. Besar kemungkinan, mereka menganggap hukuman ini ringan karena lapangan di halaman sekolah kami memang tidak terlalu luas. Alih-alih menyesal, mereka justru senang berlari-lari di halaman sekolah saat jam istirahat.

Saya pun merenung. Tak selamanya hukuman (punishment) bisa membuat guru berhasil dalam mendidik. Apalagi dalam kasus yang lain, hukuman yang saya berikan justru berakhir menyedihkan hingga membuat hati kecil ini menangis. Saya pun berniat mengubah bentuk hukuman pada semester II. Saya memilih memberikan hadiah sebagai cara untuk membuat kedisiplinan siswa bisa stabil. Saya kemudian mengkreasikannya dengan minat saya yang senang mencoba hal unik.

“Anak-anak, besok semua harus membawa botol bekas ya?”

“Untuk apa, bu?” Tanya mereka penasaran.

“Mulai besok, yang duluan datang ke sekolah akan mengisi botol itu dengan empat biji batu kerikil kecil untuk yang paling pertama. Yang datang pada urutan kedua berhak mengisi botolnya tiga biji batu kerikil. Yang datang pada urutan ketiga akan mengisi dua biji kerikil. Untuk urutan keempat dan seterusnya hingga pukul 06.50 berhak mengisi botolnya masing-masing satu biji kerikil”.

Siswa-siswa masih serius mendengar penjelasan saya.

“Setiap habis semester, ibu guru akan menghitung siapakah tiga orang dari kalian yang paling banyak mengisi botolnya dengan batu kerikil itu, yang berhak mendapat hadiah dari ibu guru. Bisa dipaham anak-anak?”

“Bisaaaa, bu….” Jawab mereka dengan penuh semangat.

Keesokan harinya, saya pun dengan semangat 45 menunggu kehadiran mereka satu per satu beserta botol air mineral bekasnya masing-masing. Betul-betul semangat mereka itu. Ada siswa yang tiba di sekolah pagi-pagi sekali demi untuk empat biji batu kerikil.

Siswa yang selama ini ‘langganan’ terlambat ke sekolah memang awalnya belum 100 persen berubah. Tapi, setelah melihat botolnya selalu kosong, beberapa minggu kemudian ia pun mulai terlihat rajin ke sekolah, dan tidak terlambat pula. Sehingga, ia pun bisa seperti temannya yang lain: mengisi botolnya dengan satu biji kerikil.

Sekarang usaha saya sudah berbuah manis, tak lagi tragis, karena sukses mendisiplinkan anak-anak yang selama ini cukup sulit diatur. Saya hanya bisa berdoa semoga tak hanya tahun ini, bahkan selamanya mereka bisa disiplin meski tak ada reward maupun punishment.

Memilih-Sekolah-untuk-Anak-Berkebutuhan-Khusus

Penting untuk Tak Mengabaikan Anak Berkebutuhan Khusus

Sejak memegang kelas 1B SD Inpres Timika II, Mimika (Papua), saya terfokus kepada siswa bernama Aulia Wardani.

Aulia tergolong anak berkebutuhan khusus. Selain bicaranya tidak jelas, ia juga memiliki pendengaran yang sangat kurang. Jika kami bernyanyi bersama-sama, Aulia suka memukul-mukul meja. Untungnya, teman-teman Aulia sudah paham keadaannya.

Sebagai guru kelasnya, saya biasa menggunakan bahasa isyarat bila berkomunikasi dengan Aulia. Saat meminta Aulia untuk diam, saya meletakkan jari di depan mulut. Begitu pula ketika bernyanyi, saya menggunakan gerakan tangan agar ia mengerti apa yang saya maksud sehingga bisa kompak dengan teman-temannya.

Lain lagi dalam pembelajaran. Awalnya Aulia menuliskan setiap tulisan saya di papan tulisan. Mengikuti persis apa yang tertulis. Padahal, yang saya tulis sering berupa soal-soal yang seharusnya ia jawab. Persoalan berikutnya, tulisan Aulian juga susah dibaca orang lain, termasuk saya.

Akhirnya saya menuliskan di dalam bukunya agar Aulia Wardani bisa menulis. Beberapa waktu kemudian, Aulia Wardani bisa mengikuti apa yang saya inginkan.

Terlepas dari keterbatasannya, Aulia tergolong siswa yang sangat rajin datang ke sekolah. Semangatnya untuk terus belajar sudah mulai tertanam. Tinggal butuh sentuhan kesabaran dan kreativitas wali kelas ataupun gurunya agar potensi Aulia tumbuh berkembang menjadi anak yang hebat dan luar biasa.

Belajar Kelompok, Solusi Jitu untuk Siswa yang Dikucilkan

Di kelas saya ada siswa perempuan bernama Bunga (bukan nama sebenarnya).

Awal saya masuk menjadi wali kelas Bunga,anak ini selalu saja dikucilkan. Setiap hari ia hanya bermain sendiri. Teman-temannya selalu menghindar dari Bunga.

Setiap proses pembelajaran di kelas, Bunga se-perti tidak leluasa dan bebas belajar. Dia seperti selalu terpojokkan. Saya yang menemukan kejanggalan ini terheran-heran.

Beberapa minggu saya mengajar, nilai-nilai ulangan harian maupun pekerjaaan rumah Bunga semua di bawah rata-rata. Satu bulan berlalu ternyata belum juga ada perubahan dalam prestasi akademisnya.

Sebagai guru yang baru kembali mengabdi dari se-kolah lain, jelas saya tidak tahu kondisi siswa di SDN 2

Maluk, Sumbawa Barat (Nusa Tenggara Barat) ini. Maka, saya pun mencari informasi tentang Bunga, baik melalui teman-temannya maupun rekan-rekan guru.

Informasi yang saya dapat menyebutkan bahwa Bunga memiliki masalah cukup serius. Ia kadung dicap pembohong karena pernah mengaku-ngaku dihadapan teman sekelasnya sebagai orang kaya (padahal kenyataannya, untuk jajan di sekolah saja tak sanggup). Ia juga dikenal selalu mengingkari janji. Saat yang sama, Bunga tidak begitu memerhatikan penampilannya yang tidak rapi. Akibat semua ini, tidak ada yang mau mendekati Bunga. Sekelompok belajar pun tak ada yang mau.

Saya mengunjungi rumah Bunga. Ternyata ia tinggal bersama bibi dan pamannya. Saya pun menjelaskan keadaan Bunga. Tidak lupa saya meminta izin bila ke depannya Bunga sering kerja kelompok di luar rumah.

Bersama Pendamping Sekolah dan guru-guru, kami bekerja sama memberikan perhatian khusus dan tanggung jawab, serta tak lupa selalu memberikan pujian ter-hadap hal baik yang dilakukan Bunga. Kami juga terus mengingatkannya agar selalu menjaga kebersihan badan. Untuk menghindarkan Bunga dari berperilaku ‘panjang tangan’, terkadang kami memberikan uang saku seperlunya.

Agar pembauran berlangsung terus-menerus, saya memberikan sanksi tegas kepada siswa yang berusaha memojokkan atau berbuat semena-mena pada Bunga. Adanya kelas literasi di sekolah amat membantu kami dalam membimbing Bunga. Adanya kelas menulis, membaca, dan pidato membuat Bunga mulai berbaur dengan teman-temannya. Untuk meningkatkan kualitas belajarnya, saya kadang meluangkan beberapa hari untuk pulang lebih sore membuka sesi untuk anak-anak bertanya atau belajar kembali, tak terkecuali bagi Bunga.

Hasil semua usaha di atas, perubahan demi perubahan mengiringi Bunga meski terkadang ada saja kendala kecil yang ikut ambil bagian. Tidak mengapa, yang penting ada perubahan dan ini harus terus ditingkatkan ke depannya agar Bunga bisa menjadi siswa yang berguna pada masa mendatang.

Umar Bin Khattab Cilik2

Ajarkan Pada Siswa Kalau Setiap Perbuatan Ada Tanggung Jawabnya

Siang itu, setelah istirahat kedua pada jam pelajaran terakhir, saya melihat seorang siswa kelas 5A SDN 060932 Bangun Mulia, Medan (Sumatera Utara) menangis.

“Ada apa?” Tanya saya heran.

Ia pun menjawab, “Rok saya ditempeli permen karet, bu.”

Penyebabnya adalah salah satu temannya menempelkan permen karet di kursi duduknya. Ramai suara di kelas awalnya, hingga tersebut tiga orang pelaku. Saya pun menjewer ketiganya.

Ternyata, saya salah menghukum. Di antara ketiga siswa itu ada anak yang tidak merasa bersalah. Anaknya pun menangis. Padahal, ia tahu betul siapa pelakunya. Dia tidak terima saya menjewernya.

Ada perasaan bersalah juga di hati saya. Tanpa menanyakan kronologi kejadian, saya langsung menjewer.

Untungnya, si pelaku mengakui perbuatannya. Saya lalu menyilakannya untuk mempertanggungjawabkan diri, yakni membersihkan rok dari permen karet. Saya juga meminta maaf kepada siswa yang telah terjewer itu.

Saya ingin mengajarkan bahwa semua tindakan yang kita lakukan ada per-tanggungjawabannya. Setiap kita melakukan sesuatu, perlu tahu apa konsekuen-sinya. Usai membersihkan bagian rok yang terkena permen karet, saya juga mengumpulkan mereka dan memberikan nasihat. Nasihat tentang perlunya meminta maaf kepada orang yang telah tersakiti, dan berjanji supaya tidak lagi mengulangi perbuatan yang tak menyenangkan itu.

Dengan memberitahukan untuk meminta maaf dan tidak mengulangi per-buatan tidak terpuji itulah mereka belajar sikap jujur. Di lain pihak, saya pun sebagai guru belajar untuk berkomunikasi lebih hati-hati. Cari tahu dulu akar penyebab, dan sampaikan kepada siswa dengan bijak. Bukan langsung menghakimi, melainkan terlebih dulu menghadirkan saksi dan pengakuan dari pelaku sendiri. Siang itu terik, dan kami juga seolah tersulut api panas. Tapi, akhirnya bisa reda. Selain belajar sesuai jadwal pelajaran, setiap penghuni di ruang kelas dapat kembali semangat untuk menuntut ilmu dengan lebih nyaman.

Anak Nakal, ini sumbernya sekolah literasi indonesia

Peran Penting Guru dan Orang Tua Terhadap Anak Disleksia yang Makmalian Harus Tahu

Peran Penting Guru dan Orang Tua Terhadap Anak Disleksia yang Makmalian Harus Tahu

 

“Sungguh, alangkah hebatnya kalau tiap–tiap guru didalam perguruan taman siswa itu satu persatu adalah rasul kebangunan! Hanya guru yang dadanya penuh dengan jiwa kebangunan yang dapat “menurunkan” kebangunan kedalam jiwa sang anak (presiden soekarno).

Dari kutipan sang orator ulung bapak bangsa kita presiden soekarno dapat diambil kesimpulan bahwa guru mempunyai peranan penting dalam membentuk pribadi seorang anak karena, guru adalah orang tua kedua bagi  anak setelah ibu dan bapaknya.

Guru, terkhususnya kelas 1, 2 dan 3 senantiasa melihat pertumbuhan dan perkembangan anak  dari waktu kewaktu. Setiap ada kemampuan baru yang dicapai anak merupakan prestasi tak ternilai bagi anak, maupun guru dan orang tua, tapi sebaliknya, setiap hambatan dalam tumbuh kembangnya merupakan hal yang sangat merisaukan orang tua dan guru. Kemunduran dalam prestasi belajar termasuk salah satu diantara hal yang cukup mengkhawatirkan orang tua dan guru, Apalagi jika si anak mengalami hambatan dalam belajar, sehingga anak mengalami stress atau depresi akibat masalah yang dihadapi. Oleh karena itu guru dan orang tua harus mengenali penyebab gangguan tersebut.

Hal yang sering penulis temui dilapangan terkhususnya SD N 09 ULAKAN TAPAKIS adalah anak yang tidak bisa membaca atau menulis, yang biasanya disebut dengan disleksia. Disleksia berasal dari bahasa Greek, yakni dari kata “dys” yang berarti kesulitan, dan kata”lexis” yang berarti bahasa. Jadi disleksia secara harafiah berarti “kesulitan dalam berbahasa”. Anak disleksia tidak hanya mengalami kesulitan dalam membaca, tapi juga dalam hal mengeja, menulis dan beberapa aspek bahasa yang lain. Disleksia (atau disebut juga sebagai gangguan membaca spesifik) pada anak dilaporkan pertama kali pada tahun 1896 dan merupakan salah satu bentuk gangguan belajar yang paling sering, yaitu mengenai sekitar 80% dari kelompok individu dengan gangguan belajar.

Adapun tanda-tanda tanda disleksia yang mungkin dapat dikenali oleh orang tua atau guru adalah (1) Kesulitan mengenali huruf atau mengejanya, (2) kesulitan membuat pekerjaan tertulis secara terstruktur misalnya essay, (3) Huruf tertukar tukar, misal ’b’ tertukar ’d’, ’p’ tertukar ’q’, ’m’ tertukar ’w’, ’s’ tertukar ’z’, (4) membaca lambat lambat dan terputus putus dan tidak tepat misalnya menghilangkan atau salah baca kata penghubung (“di”, “ke”, “pada”), (5) Daya ingat jangka pendek yang buruk, (6) Kesulitan memahami kalimat yang dibaca ataupun yang didengar, (7) Tulisan tangan yang buruk, (8) Mengalami kesulitan mempelajari tulisan sambung, (9) Ketika mendengarkan sesuatu, rentang perhatiannya pendek, (10) Kesulitan dalam mengingat kata-kata, (11) Kesulitan dalam  diskriminasi visual, (12) Kesulitan dalam persepsi spatial, (13) Kesulitan mengingat nama-nama, (14) Kesulitan / lambat mengerjakan PR, lima belas Kesulitan memahami konsep waktu, enam belas, dan kesulitan membedakan kanan dan kiri, masih banyak lagi gejala yang lainnya.

Namun Tidak semua anak disleksia menampilkan seluruh tanda/ciri/karakteristik seperti yang disebutkan di atas. Oleh karena itu terdapat gradasi mulai dari disleksia yang bersifat ringan, sedang sampai berat. Selain itu disleksia bukanlah suatu penyakit yang perlu ditakuti karena disleksia hanya merupakan keterlambatan dalam membaca dan menulis karena kebanyakan anak–anak disleksia adalah anak anak yang cerdas seperti  ilmuan terkenal dunia yaitu albert ensteins, Tom Cruise (aktor), Muhammad Ali (petinju), Walt Disney (pencipta karakter animasi Disney), Thomas Alfa Edison, penemu bola lampu Winston Chrunchill (Perdana menteri Inggris) dan John F. Kennedy (Presiden Amerika Serikat) dan masih banyak lagi yang dulunya merupakan anak disleksia namun akhirnya menjadi orang- orang penting.

Guru dan orang tua sangat berperan untuk perkembangan anak–anak disleksia, karena apabila anak merasa berbeda dan apalagi mendapat lebel-lebel dan cap yang tidak baik, maka hal ini berpengaruh terhadap emosi si anak – anak bisa menjadi pemurung, pendiam, selalu bersedih, menyendiri dan kadang –kadang bersifat brutal.

Kadang guru disekolah merasa serba salah khususnya kelas satu, disatu sisi guru meliat potensi yang lain bagi anak seperti imajinasi yang kuat sehingga menjadi pertimbangan untuk kenaikan kelas namun guru merasa terikat dengan peraturan kalau murid kelas rendah untuk naik kekelas selanjutnya harus bisa baca tulis, hal ini diaminkan oleh wiwik krismita guru SD 09 Ulakan tapakis kelas satu “ saya menjadi dilemma untuk kenaikan kelas ini, ada anak yang menonjol dibidang lain, tapi karena tidak bisa membaca membuat saya bingung….. karena saya paham masa mereka adalah masa bermain, jadi saya tidak terlalu memaksanakan mereka untuk harus bisa menulis baca, jadi waktu ujian bagi yang tidak bisa menulis saya tes dengan lisan, itu yang menjadi pertimbangan saya, agar karakter mereka tidak mati”.

Karena demikian kompleknya keadaan disleksia ini maka guru dan orang tua harus berperan aktif terhadap anak, guru dan orang tua bisa melihat potensi lain dari anak, bisa saja anak lebih berbakat dibidang seni dan olah raga, dan berikanlah  nilai plus untuk mereka untuk potensi ini. Untuk itu diperlukan seorang guru yang kreatif dan inovatif untuk membantu anak-anak disleksia, karena anak adalah hal paling berharga dan merupakan generasi penerus akan kelangsungan bangsa ini.

Motivasi Hadiah Menguatkan Karakter Anak Didik

Sudahkah Makmalian Memberikan Rewards untuk Siswa Hari Ini?

Sudahkah Makmalian Memberikan Rewards untuk Siswa Hari Ini?

Mendidik anak merupakan sebuah kewajiban bagi orang tua. Namun peran itu kian memudar berdalih pada kesibukan orang tua untuk memenuhi tuntutan biaya kehidupan, tidak sedikit orang tua yang menyerahkan tanggung jawab tersebut kepada pihak tertentu, sebutlah sosok guru dalam lembaga pendidikan. Peran guru bukan hanya sebagai transfer knowladge, menjadi fasilitator untuk perkembangan anak, namun guru berperan penting dalam mendidik, mengarahkan dan menyiapkan anak menjadi pribadi mandiri dan bertaqwa.

Menghadirkan prilaku anak mandiri dan bertaqwa tentu butuh pembiasaan yang terpola dan terprogramkan. Beririsan dengan hal tersebut Jairingan Sekolah Indonesia Dompet Dhuafa Pendidikan, melalui program Sekolah Literasi Indonesia memiliki program yang mendukung pembentukan karekter anak, terdapat tiga lingkup  yang dikembagkan untuk optimalisasi kualitas sekolah, yaitu Lingkup Kepemimpinan Sekolah, Lingkup Budaya Sekolah, dan Lingkup Sistem Pembelajaran. Penegakan pembiasaan yang baik melalui pengelolaan lingkungan kelas, berupa budaya positif dapat mendorong anak tetap termotivasi berprilaku sesuai harapan,  salah satu hal yang dapat dilakukan melalui pemberian hadiah.

Dengan sebuah janji akan diberikannya hadiah, anak akan termemotivasi  untuk melakukan sebuah perbuatan baik. Namun, tetap harus diingat bahwa ada tata cara tersendiri dalam hal pemberian hadiah agar tidak menjadi bumerang yang merugikan diri sendiri. (Irawati Istadi:2016)

Sejalan dengan pendapat tersebut, penanaman karakter pada perilaku anak dapat dikuatkan melalui motovasi hadiah, namun perlu dicermati tatacara memberikan hadiah pada anak sedikitnya dapat memperhatikan enam hal berikut yaitu: Menghargai Perilaku Anak. Berilah anak hadiah karena perilakunya bukan sifatnya, seperti keberhasilan mereka untuk selalu membuang sampah pada tempatnya, berbagi makanan kepada temannya, atau ketika anak mau mengakui kesalahannya dengan jujur.

Tidak Untuk Selamanya. Bahwa pemberian hadiah hanya bersifat sementara, hanya sebagai perangsang motivasi saja, tegaskan pada anak bahwa suatu saat kelak, ketika anak pandai tanpa hadiah juga harus melakukan hal-ha itu. Pengertian tersebut sebaiknya disampaikan ketika anak dalam kondisi hati sedang gembira.

Dimusyawarakhan Perjanjiannya. Buat kesepakatan bersama hal apa yang jadi aturan bagi kebaikannya, ditulis secara jelas, perilaku yang diharapkan bisa ditumbuhkan pada anak. Berapa jangka waktunya, dan apa hadiahnya.

Bukan Berupa Barang. Bukan berupa barang adalah alternatif  bentuk hadiah terbaik bagi anak. Jadi, bisa berupa perhatian, pujian,  atau bentuk-bentuk kasih sayang lainnya seperti belaian, pelukan, dan sebagainya. Model hadiah ini disesuaikan dengan tingkat usianya. Untuk anak sekolah dasar, lebih tepat diberi banyak pujian, perhatian, dan komunikasi aktif.

Hadiah bintang prestasi, tertangkap dalam pikiran anak adalah kebanggaan karena perhatian dan pujian guru baginya. Misalnya pada rentang waktu yang disepakati, apresiasi dari akumulasi bintang dapat berupa piagam penghargaan yang merekam nama anak dan perikalu baik yang berhasil dicapainya.

Bila Berupa Barang. Nilainya, bukan harganya. Ditekankan kepada anak tentang manfaatnya. Pilih barang yang edukatif dan mungkin dibutuhkan anak. Rancang peristiwa pemberian hadiah tersebut menjadi istimewa, berikan dengan cara istimewa. Meskipun hanya sebatang pensil seharga lima ratus rupiah, namun diberi pita indah dan diberikan dengan memuji terus menerus keitimewaan hadiah dan alasan pemberiannya, bagi anak sudah sangat membanggakan.

Bertahap. Dicanangkan program tahapan capaian perilaku yang diharapkan serta pemberian hadianya. Hadiahnya bisa digabung antara non-barang dan hadiah barang. Misalnya guru ingin anak mampu menegakkan kebersihan.  Ajak anak membuat perjanjian dengan beberapa tahapan. Pertama setiap anak membuang sampah pada tempatnya mendapatkan satu bintang, ketika jumlah bintang mencapai 50, ia dijanjikan hadiah sebingkisan jajanan menarik. Tahap kedua, anak mampu menjaga kebersihan kelas dengan terlibat piket pada jadwalnya, yang melaksanakanya mendapat dua bintang,  ketika jumlah bintang mencapai 50 dijanjikan hadiah sebingkisan jajanan menarik dan mendapatkan kesempatan menonton kisah menarik diperpustakaan.

Agar hadiah dapat mejadi motivasi bukan bumerang bagi diri dengan memperhatikan tatacaranya. Melalui hal ini menjadikan upaya memotivasi anak didik berjalan dengan mudah dan menyenangkan. Sehingga pola yang tepat menggunakan hadiah sebagai motivasi dapat mengutkan karakter positif yang diinginkan terbentuk pada anak. (AL)

 

 

____________

*Penulis adalah Konsultan Relwan Sekolah Literasi Indonesia, Dompet Dhuafa Pendidikan.

 

Daftar Pustaka:

Istadi, Irawati. 2016. Mendidik dengan Cinta. Yogyakarta:Pro-U Media

Semangat Itu Masih Ada di Sekolah Kami

 

Pada saat sekarang sedang ngetren pemimpin muda. Kinerja pemimpin muda yang semangat, visioner dan progresif membuat berbagai gebrakan dalam kepemimpinan di negeri ini. sebut  saja pemimpin muda itu Ridwan Kamil, Walikota Kota Kembang Bandung yang sedang giat-giatnya membangun wajah kota bandung dengan program Bandung juara. Salah satu programnya yaitu membuat taman-taman kota yang layak untuk warga kota Bandung.

Begitupun di sekolah kami, SDN Lalareun Bandung. Sosok guru muda yang aktif dan progresif bagaikan oase di gurun sahara yang kering akan air. Kehadiran mereka sungguh membuat saya kagum akan gerakan guru muda yang aktif dan pekerja keras. dalam berbagai kegiatan program green school di sekolah SDN Lalareun, guru muda ini merespon dengan cepat berbagai kegiatan yang disodorkan kepada mereka.

Namun, dibalik itu semua ternyata ada seorang guru yang memiliki komitmen tinggi dan kerja keras tinggi dalam memajukan sekolah, dan beliaulah menjadi kiblatan para guru muda dalam bekerja di sekolah. dialah Ibu Imas Teti S.Pd.SD.

Menurut mereka (red- guru muda) yang saya ajak wawanacara mengenai keadaan sekolah pada saat ini. hampir semuanya menunjuk kepada beliau, “ dulu, sekolah ini tidak seperti sekarang pak, gedung sekolahnya pun tidak seperti sekarang, masih kumuh. Kemudian Ibu Imas datang pada tahun 2000 dan mengabdi di sekolah ini, kemudian sekolah ini terus membangun sampai sekarang” ujar seorang guru.

Sosok guru muda yang murah senyum namun tegas dan pekerja keras terlihat dalam keseharian beliau di sekolah. setiap hari beliau mengajar di kelas 2. Dalam berbagai hal, beliau selalu mengajak siswanya untuk belajar di luar kelas. Semisal belajar matematika, Ibu Imas mengajak anak-anaknya untuk mengumpulkan kerikil kecil untuk dijadikan media belajar penjumlahan. Dan anak-anakpun terlihat  enjoy tanpa diceramahi seperti di sekolah-sekolah klasikal.

Dalam manajemen sekolah pun, beliau  tidak pernah takut kepada siapa pun termasuk kepada kepala sekolah dalam merencanakan kebijakan sekolah. “ selama kita berbuat baik dan niatan kita baik untuk kepentingan sekolah serta tidak memiliki kepentingan pribadi, kenapa kita harus takut” kata kata itulah yang selalu beliau katakana ketika berdiskusi dengan saya di sela-sela istirahat sekolah. dan kata-kata itulah yang membuat saya merenung akan sebuah kebanaran yang hilang di negeri ini. sesuatu yang benar kadang disamarkan menjadi tidak benar, pun demikian sebaliknya, yang tidak benar disamarkan menjadi benar.

Ketika istirahat tiba, biasanya saya ngobrol dengan para guru termasuk dengan beliau, dan Beliau pun  menceritakan suka dukanya membangun sekolah dari kumuh menjadi sekolah yang hijau, bersih dan bagus seperti sekarang. “pak Irmanm, untuk membangun sekolah ini saja, berbagai LSM dan wartawan datang untuk meliput kegiatan pembangunan gedung baru di sekolah ini. tapi saya hadapi dengan penuh kejujuran sehingga LSM dan wartawan yang meliput mengetahui dengan jelas pengeluaran biaya untuk pembangunan sekolah” ucapnya.

Salah seorang rekan guru beliau pun pernah berkata “Ketika sekolah ini masih membangun, beliau selalu standby di sekolah dari pagi sampai sore hari untuk menunggui para pekerja yang membangun sekolah. tidak ada kelelahan yang beliau tampakkan setiap hari ketika membangun sekolah, yang ada adalah semangat dan kerja keras yang beliau lakukan untuk sekolah. bahkan sampai malam hari beliau belum pulang ke rumah. Semua beliau lakukan untuk sekolah SDN Lalareun”.

“ kalau bukan oleh kita, terus oleh siapa sekolah ini akan diurus?” selalu keluar dari ucapan beliau kepada guru-guru ketika rapat sekolah. menurut saya, hal ini tentu berkaitan dengan manajemen kalau keluar kata urus mengurus sesuatu. Dan sebuah manajemen perlu seorang leader yang menggerakkan agar sekolah ini tertata dengan baik dan sesuai dengan keinginan pendiri bangsa yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.

Leadership dan membangun tim work sekolah yang solid, itulah yang menjadi titik tolak dari kemajuan sekolah di negri ini. meskipun beliau bukan seorang kepala sekolah, namun kalimat atau kata-kata yang terucap dari beliau bagaikan ucapan seorang pemimpin. Dan beliau memang pemimpin di kelasnya dan bukan pemimpin di sekolah. Berbagai kebijakan sekolah selalu datang dari ide dan saran beliau, sehinggga guru-guru yang lain dan kepala sekolah menyetujuinya.

Kasus-kasus yang terjadi di negeri ini, seperti korupsi dan bencana alam bisa jadi merupakan sebuah isyarat bagi kita bahwa ada yang kurang beres dalam pendidikan di negeri ini. ketidak beresan itu bisa jadi muncul dari sikap para pembuat kebijakan pendididikan kita yang cendrung acuh tak acuh dalam mengelola pendidikan di negeri ini. namun di sekolah ini, saya melihat, beliau benar-benar menjaga sekolah dan anak-anak daripada berbuat yang menyimpang dari ajaran pancasila dan agama.

Dalam hal trasparansi keuangan pun beliau sering tunjukan kepada saya perihal pengeluaran sekolah dari bulan ke bulan. Tidak ada satupun yang beliau tutupi dalam hal pengelolaan keuangan, karena selain menjadi guru kelas 2, beliaupun diamanahi sebagai bendahara BOS di sekolah. berbagai laporan keuangan bertumpuk di sekolah, sehingga siapapun bisa mengecek pengeluaran sekolah dari hari ke hari. hal ini mungkin yang belum bisa dilakukan sekolah lain, sehingga ketika keterbukaan dalam pengelolaan dana tidak dipublikasikan ke public sering menimbulkan kecurigaan dari public terhadap sekolah tersebut.

Ketika keterbukaan dalam segala hal telah dipublikasikan, membuat public semakin percaya akan kinerja sekolah ini. sehingga berbagai bantuan datang silaih berganti ke sekolah ini, mulai dari bantuan computer, leptop dan infokus serta sekolah iklusif dan green school.

Walhasil, Perkataan yang tidak diikuti dengan perbuatan dan hati yang ikhlas hanya akan membuat seseorang kecewa. Itulah yang tidak tampak dari beliau. Begi beliau, bekerja keras dan memajukan sekolah menjadi prioritasnya kali ini. tidak ada kepentingkan pribadi, namun kepentingan bersama yang menjadi ukurannya. Selamat bekerja keras kawan-kawan.

Pendidikan (Katanya) Prioritas

Pendidikan (Katanya) Prioritas

Pendidikan adalah salah satu tiang terpenting dalam kehidupan umat manusia sehingga sudah sewajarnya seluruh Negara di Dunia ini menjadikannya sebagai prioritas bagi seluruh penduduknya, demikan juga dengan Indonesia. Melalui berbagai program pemerintah Indonesia mencoba memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia, mulai dari program wajib belajar sembilan tahun, penyaluran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), sampai dengan membebaskan biaya bahkan sampai pendidikan menengah atas atau dengan peningkatan kualitas guru dengan mengadakan program sertifikasi bagi guru-guru di Indonesia, tentunya dengan harapan generasi penerus bangsa nantinya dapat menjadi induvidu unggul untuk menyongsong dunia global yang sudah di depan mata.

Semua program yang telah di lakukan pemerintah ternyata juga mengalami kendala-kendala salah satunya dikarenakan wilayah Indonesia yang sangat luas, dimana setiap daerah memiliki permasalahan masing-masing seperti kurangnya guru, jarak sekolah yang sangat jauh, bahkan tidak jarang kekurangn murid juga menjadi permasalahan disekolah-sekolah.

Salah satu contoh lain yang bisa kita ambil untuk melihat ketimpangan ini adalah untuk masuk Sekolah Dasar (SD) diperkotaan maka calon murid harus mengikuti tes atau ujian masuk, sedangkan untuk masuk SD pedesaan maka guru dan sekolah harus berusaha keras agar kuota minimal jumlah murid dapat terpenuhi. Sayangnya perjuangan yang dilakukan sekolah-sekolah di desa untuk mendapatkan murid juga tidak serta merta dikarenakan ingin meningkatkan kualitas individu di desa tersebut tetapi mereka malah hanya ingin mendapat dana BOS yang lebih besar dari pemerintah. Permasalahan tadi hanya bagian dari sekian banyak permasalahan lain yang harus dihadapi untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Desa Gaji merupakan salah satu Desa yang juga ikut terkena permasalahan-permasalahan tersebut. Desa yang terletak di Kecamatan Kerek Kabupaten Tuban Jawa Timur ini juga menyimpan berbagai persoalan pendidikan. Permasalahan terbesar yang mengrogoti wajah pendidikan di desa ini adalah kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan. Bagi mereka yang hidup desa sekolah menjadi tidak terlalu penting dikarena hanya menjadi ritual pergi pagi pulang siang saja, karena nantinya mereka hanya tinggal menunggu waktu untuk berhenti sekolah dengan berbagai alasan, baik itu ekonomi, pernikahan, atau merasa lebih baik untuk turun kesawah, atau mencari kayu bakar untuk dijual.

 

Panggil Saja Ia Jodi

Adem, rambut merah, tubuh bongsor dan kalau tertawa terlihat gigi putih yang menonjol, itulah kata kata yang tepat untuk menggambarkan sosok murid ku Jodi. Jodi, merupakan salah satu muridku yang paling menonjol diantara siswa lain yang ikut belajar dengan ku. setiap kali belajar selalu bilang “ibuk,… beta pintar ko… su bisa baca,… ya diantara murid lain, jodi yang paling cepat dan paling gigih untuk membaca, disaat murid lain pengen cepat selesai untuk belajar, jodi masih tekun menatap buku yang diberikan, mengeja setiap kata yang tertulis, setelah siswa lain selesai membaca langsung pulang, jodi masih ingin membaca buku yang diberikan, dengan tertatih dan semangat menyelesaikan bacaan yang diberikan.

Salah satu hal yang membuatku senang dengan sosok Jodi adalah sikapnya yang sopan dan selalu ingin menjadi terdepan. Walaupun Jodi masih muda, tetapi ia bisa menjadi pemimpin dan berani menegur teman teman nya yang lebih tua jika ada yang salah, bahkan alasan sakit pun tidak menghalanginya untuk tetap hadir belajar, 3 kali dalam seminggu.

Semangat belajar anak – anak Papela untuk bisa membaca tidak bisa diremehkan, karena pada dasarnya mereka pada semangat untuk belajar, namun hanya karena perhatian orang tua yang tidak perduli dengan pendidikan mereka menyebabkan mereka tidak bersekolah, termasuk Jodi.

Kadang dibutuhkan tenaga yang ekstra untuk mengajar mereka, dibutuhkan kesabaran dan ketekunan untuk melatih mereka, mengecek sholat, mandi, gosok gigi bahkan mengaji, karena orang tua mereka tidak mendidik mereka untuk membentuk kepribadian mereka. Mereka lebih senang mencari ikan, bermain dan berenang sepanjang hari. Namun hal itu tidak menjadi alasan untuk maju, karena kemajuan Papela berada ditangan mereka.

Menjadi Guru Idola

5 tips jadi Guru Idola Siswa Jaman Now

Banyak cara menjadi idola. Tidak selalu dengan mengikuti ajang idol yang marak di televisi akhir-akhir ini, seperti Indonesian Idol, Indonesia Mencari Bakat, Indonesia’s Got Talent dan lain sebagainya. Tidak juga dengan mengupload video kita di youtube, seperti yang banyak terjadi sekarang. Sebagai guru kita juga bisa menjadi seorang idola, khususnya idola bagi murid-murid kita. Tapi, tak ada guru yang langsung menjadi idola di hadapan anak didiknya, meskipun guru tersebut berwajah tampan dan cantik. Sebab penampilan fisik semata tidak menjadi jaminan guru itu menjadi guru idola.

Hal yang perlu diperhatikan dan dipraktekkan (dilaksanakan) oleh guru untuk dapat menjadi guru idola antara lain :  Pertama yang perlu kita lakukan adalah dari diri kita sendiri. Kesan pertama apa yang akan kita munculkan ketika pertama kali bertemu dengan mereka? Apakah anda seorang guru yang suka bercerita lucu, tak banyak bercanda, senang memberikan motivasi, belajar lewat cerita motivasi, sangat disiplin dan tegas, senang berbaur dengan mereka, mau terbuka untuk mendengarkan keluh kesah mereka, atau ingin disegani oleh mereka? Maka jadilah diri sendiri. Percaya diri adalah kunci segalanya. Jadilah guru yang selalu unik di mata murid kita . Kedua,murid-murid identik dengan jiwa kekanak-kanakan. Oleh karena itu guru diharapkan mengetahui apa-apa saja yang disenangi murid-muridnya, mengajak mereka bernyanyi sebelum mulai belajar, bisa juga dengan membacakan dongeng kepada mereka. Ketiga, guru itu harus bisa menanamkan sifat disiplin kepada anak muridnya. Disamping itu seorang guru mesti disiplin terlebih dahulu. Jika seorang guru selalu datang terlambat, maka murid-murid tidak akan respek dan tidak akan mau melakukan apa yang disuruh gurunya terkait dengan kedisiplinan. Keempat, seorang guru harus kreatif, tidak sombong, rendah hati, selalu melemparkan senyum termanisnya, tidak pilih kasih, mampu bersabar ketika peserta didiknya bandel, dan senantiasa bersyukur pada Allah SWT

Sayangnya dalam proses belajar mengajar masih ada sebagian guru memiliki sikap  ingin menguasai dan secara otoriter mamaksa murid-murid agar patuh terhadap perintahnya. Kecintaan terhadap anak didik telah berkurang, mengancam anak didik bila melanggar aturan, sehingga pada saat proses belajar mengajar membuat mereka menjadi merasa takut dan membuat suasana  kelas menjadi tegang.  Seorang guru yang baik mestinya harus  bijaksana dalam mempertimbangkan dan memperlakukan siswa sesuai dengan karakternya, karena setiap  peserta didik memiliki keunikan dan kepribadian yang berbeda.

Hal yang harus dipahami oleh guru adalah tidak semua murid punya daya tangkap yang sama ketika menerima pelajaran. Ada yang cepat dan ada yang lambat. Dengan adanya kondisi ini guru harus bisa memahami kelebihan dan kelemahan muridnya, sehingga muridnya mampu berkompetensi sesuai dengan potensinya masing-masing. Untuk menjadi  guru yang diidolakan oleh murid-,muridnya, ia mesti terlebih dahulu menanamkan dalam dirinya untuk tetap komitmen dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai guru. Kecintaan terhadap tugas diwujudkan dalam bentuk curahan tenaga, waktu dan pikiran, dan bersikap professional. Bila guru memahami dan mengenal kepribadian murid-muridnya, maka guru yang bersangkutan akan disenangi oleh murid-muridnya. Itu artinya, jika sudah disenangi maka apa yang disampaikan di kelas akan mudah ditangkap oleh murid-muridnya.  Otomatis dia akan menjadi idola di hadapan murid-muridnya, karena mereka merasa dihargai dan merasakan kenyamanan dalam belajar

Selain itu, guru juga harus mampu menguasai bermacam-macam metode mengajar secara mendalam, karena proses pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh guru dalam menyampaikan materi yang diajarkan kepada murid agar dapat mempengaruhi  tujuan dari pendidikan dapat tercapai dengan baik. Guru dituntut untuk terus mengadakan pembaharuan.  Terutama yang berhubungan dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Berbagai teknik pembelajaran, baik itu metode, pendekatan, maupun tata cara atau aturan dalam pembelajaran yang dirancang untuk menghasilkan transfer ilmu pengetahuan dari guru ke siswa harus terus dievaluasi

Sebagai seorang guru maka harus mampu mengamalkan 5 paradigma berikut : (1) Menjadikan 3 sasaran bidang garap pendidikan (koginitif-psikomotor-afektif) berkembang secara optimal, (2) Mengakui dan menghargai kecerdasan anak yangberbeda, (3) Menyesuaikan gaya belajar siswa, (4) Menfokuskan pada aktifitas siswa, (5) Menfokuskan pada penguatan kemampuan bukan ketidakmampuan siswa

Salah satu prinsip belajar adalah aktivitas yang menyenangkan dan menantang. Prinsip ini dapat dipenuhi. Salah satunya dengan kemampuan menghidupkan suasana. Suasana yang menggairahkan dalam belajar dapat ditempuh dengan ice breaking yang bisa kita sisipkan dengan game/permainan dalam pembelajaran di dalam atau di luar kelas. Dengan demikian, kita telah berusaha untuk menyatukan pikiran dan jiwa kita dengan siswa hingga terjalin kebersamaan dan saling memahami satu dengan yang lainnya.  Nah..sebagai guru, marilah kita memberikan pelayanan terbaik dan memuaskan kepada murid agar mereka senang belajar. Usahakan pula mereka mendapat learning by doing atau belajar sambil mempraktikkan sehingga belajar jadi lebih menyenangkan dan menggairahkan.  Selamat berjuang Bapak/Ibu guru. Semoga kita bisa mengantarkan anak didik ke gerbang kesuksesan dan jadilah idola bagi murid-murid kita. Wallahualam

Penulis : Santun Awi Jasica (Guru SDN 07 Nan Sabaris, Padang Pariaman)