Sebuah Alasan Berliterasi

Oleh: Ika Pahliawati, S.Pd

 

Akhir-akhir ini dalam perkembangan dunia pendidikan kata literasi menjadi topik terhangat yang selalu diperbincangkan. Literasi dianggap menjadi salah satu upaya pendorong bangkitnya kemajuan sebuah bangsa. Hal ini terkait dengan kemampuan masyarakat dalam menyerap berbagai informasi dan menjadikan mereka berpikir lebih kritis dan pada akhirnya diharapkan masyarakat khususnya para pelajaran menjadi lebih kreatif dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

 

Miris sekali bila melihat kenyataan bahwa bangsa kita menduduki peringkat bawah dalam budaya literasi. Hal ini terbukti di lapangan, pelajar tidak menyukai kebiasaan membaca. Dan tentunya untuk menggiatkan mereka untuk mau mebaca atau mebuadayakan kegiatan literasi diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dan sifatnya harus berkelanjutan.

 

Telah dipaparkan di atas bahwa pembiasaan budaya literasi tidak dapat hanya dijadikan sebuah jargon atau sekedar pemanis yang hanya dijadikan tulisan, yang dipajang di dinding sekolah. Peran seorang guru dalam kegiatan literasi mempunyai peran penting. Pemberian contoh atau uswah atau keteladanan seorang guru diharapkan mampu membuat para siswa tergugah atau termotivasi untuk lebih giat dalam berliterasi.

 

Uswah seperti apa yang mampu menjadi motivasi bagi siswa? Uswah ini dapat diwujudkan dengan adanya bukti nyata berupa karya tulis misalnya, guru membuat tulisan yang berbentuk puisi, artikel, opini dan sebgainya. Hal yang lebih baik lagi yang baik lagi adalah tulisan yang dikaryakan menjadi sebuah buku.
Selain menjadi salah satu bentuk keteladanan literasi, pembuatan karya tulis ini dapat menjadi daya penguat kepercayaan diri seorang guru dalam kegiatannya dalam mengembangkan budaya literasi di lingkungan sekitarnya, khususnya di lingkungan sekolah.

 

Lalu, apakah cukup hanya pembuatan karya tulis saja? Tentu saja tidak, pengembangan budaya literasi mengharapkan perubahan paradigma guru dalam kegiatan belajar mengajarnya. Paradigma yang selama ini mengaharuskan siswa untuk tetap mengikuti aturan hukum-hukum keilmuan secara baku sekarang diharpkan siswa mampu mengembangkan keilmuan tersebuat dengan bahasanya sendiri. Misalnya saja, seorang siswa tidak harus menghapal sebuah definisi kebudayaan sesuai dengan teks yang terdapat dalam sebuah buku. Tapi siswa diharapkan mampu mengembangkan pemahamannya terhadap definisi kebudayaan dengan menggunakan bahasanya sendiri.

 

Selain itu, budaya literasi mencoba mendidik siswa untuk lebih banyak bertanya, menganalisis terhadap masalah keilmuan. Yang nanti pada akhirnya mereka akan lebih berpikir kritis bahkan memicu mereka untuk dapat menciptakan sebuah karya yang inovatif.

 

Budaya literasi di sekolah, tidaklah mungkin terwujud jika tidak didukung oleh sistem dan kepemimpinan sekolah yang kuat. Jika di sekolah hanya ada satu dua orang saja yang gemar membaca, budaya di sekolah tersebut belum dikatakan literasi. Literasi di sekolah harus dijalankan oleh semua secara sistemik bukan oleh orang per-orang. Untuk menjalankan itu semua butuh kepemimpinan yang kemudian mengarahkan semua sumber daya untuk terlibat.

 

Untuk mencapai hal tersebut, tentu saja seorang guru harus lebih membuka diri terhadap perubahan-perubahan keilmuan. Salah satu cara mengimbangi perubahan tersebut yaitu dengan melakukan upgrade diri dengan banyak membaca buku atau media informasi lainnya, mengikuti berbagai pelatihan dan tentu saja dengan membuat sebuah karya tulis atau produk lainnya sebagai wujud aplikasi dari hasil budaya literasi.

 

Diharapkan uswah dan perubahan paradigma guru ini menjadi pemicu motivasi masyarakat sekitarnya khususnya rekan sejawat dan siswa untuk lebih giat lagi dalam kegiatan literasi. (red-mSg)

Makmalian, Jangan Lupa Berbagi ya

Alhamdulillah, hari gajian yang ditunggu telah tiba. Sudah siap check out keranjang belanja yang mana nih Makmalian?

Jangan boros-boros ya. Tapi kalau kebutuhannya sudah dipenuhi, jangan lupa berdonasi, supaya hidup makin berkah dan kita bisa terus bergandengan tangan membentang kebaikan untuk pendidikan Indonesia lebih baik

Yuk donasi sekarang juga ke nomor rekening BSI 2881 2881 26 a.n. Yys Dompet Dhuafa Republika.
Informasi dan konfirmasi donasi melalui wa.me/6281288338840

Semoga kebaikan Makmalian diterima oleh Allah Subhanahu wata’ala. Aamiin.

 

Tumbuhkan Budaya Literasi di Keluarga, SLI Berbagi Praktik Baik Melalui Bincang Literasi Keluarga

Bogor – Minggu (19/9) Sekolah Literasi Indonesia (SLI) mengadakan Bincang Literasi Keluarga bertajuk “Sinergi Ayah Bunda dalam Membangun Budaya Literasi di Keluarga”. Bincang Literasi Keluarga merupakan agenda terakhir dari rangkaian kegiatan Hari Aksara Internasional 2021.

 

Meengusung tema pendidikan, Bincang Literasi Keluarga menghadirkan Derry Oktriana, Praktisi Parenting Islami dan creator @yamaibrahim.id, serta M. Syafi’ie El Bantanie, Direktur Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa (LPI DD) dan penulis buku 52 buku.

 

Manajer Sekolah Literasi Indonesia, Muh. Shirli Gumilang menyampaikan, dalam segitiga pendidikan para pendidik kerap kali menitikberatkan pendidikan literasi pada sekolah, jarang sekali membahas bagaimana menumbuhkan literasi di keluarga. “Keluarga merupakan pendidikan pertama bagi anak. Oleh karena itu SLI berupaya membangun kesadaran keluarga menumbuhkan budaya literasi di keluarga melalui sinergi ayah dan bunda,” ujar Shirli.

 

Para pemateri menyampaikan praktik baik yang dapat dilakukan untuk membangun budaya literasi di keluarga. M.Syafi’ie menjelaskan jika tujuan utama meningkatkan literasi anak adalah membangun rasa cinta terhadap ilmu. Bukan seberapa banyak melakukan aktivitas, tetapi seberapa kuat penanaman nilai-nilai melalui aktivitas literasi.

 

Selaras dengan M.Syafi’ie, Derry Oktriana menyampaikan pentingnya menyamakan visi antara ayah dan bunda ketika menyusun kurikulum literasi di keluarga. “Kami menanamkan visi mencintai ilmu kepada anak-anak di rumah. Kami berharap setiap keluarga bisa membuat visi sejenis meski tak serupa, sehingga mampu membawa anak-anak mengenal Sang Maha Pencipta,” kata Derry.

 

Kegiatan Bincang Literasi Keluarga merupakan bentuk kontribusi LPI DD menumbuhkan budaya literasi. Pasalnya, rata-rata Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca) Indonesia berada di angka 37,32% dengan kategori rendah. Melihat kondisi tersebut dibutuhkan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat guna menciptakan masyarakat Indonesia berbudi pekerti unggul dan literat.

 

Selain itu LPI DD juga berupaya ambil bagian meningkatan kualitas literasi melalui Sekolah Literasi Indonesia (SLI). SLI berfokus pada pengembangan budaya literasi di seluruh ekosistem pendidikan meliputi formal, informal, dan nonformal. Tujuannya menumbuhkan serta mengembangkan budaya literasi di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat sebagai upaya membentuk pribadi berakhlak mulia dan berkualitas.

LPI DD Berbagi Inspirasi di WISH Online 3

Jakarta – Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa (LPI DD) sebagai lembaga yang peduli pada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui program-program beasiswa mumpuninya didapuk meramaikan perhelatan WISH Online 3 yang dihelat World Indonesia Scholarship pada Sabtu (18/09). Pada perhelatan nasional ini Guru Agung Pardini, GM Sekolah Kepemimpinan Bangsa LPI DD dan Muhammad Syafi’ie el-Bantanie, Direktur LPI DD akan berbagi inspirasi sekaligus meramaikan sesi Scholarship Talkshow serta Softskill Training: Productivity Technique.

Dalam materinya Guru Agung menyampaikan pentingnya meningkatkan kualitas hidup masyarakat, sebab itulah perlu investasi sumber daya manusia jangka panjang sebagai langkah strategis.

 

“LPI DD sangat peduli akan kualitas sumber daya manusia terutama para pemuda. Melalui pemberdayaan dana zakat, infak, sedekah, wakaf (ZISWAF) dan dana halal lainnya kami percaya dapat mewujudkan standar kehidupan normal bagi masyarakat marginal, standar kehidupan yang membuat mereka dapat mengemban amanah kepemimpinan dan mengisi ruang-ruang strategis,” ungkap Guru Agung.

 

Selain itu ia juga menjelaskan empat langkah strategis Sekolah Kepemimpinan Bangsa LPI DD dalam memaksimalkan kompetensi penerima manfaatnya yakni Reskilling Revolution, Collaboration Networking, Digital Transformation, dan Transformative Role Modelling. Ia berharap empat langkah strategis tersebut dapat menginspirasi puluhan lembaga beasiswa di Wish Online 3.

 

Setali tiga uang dengan Guru Agung, Muhammad Syafi’ie el-Bantanie dalam sesi Softskill Training: Productivity Technique menekankan pentingnya produktif selama hidup agar tak ketinggalan di era serba cepat seperti sekarang.

 

“Kenapa kita harus produktif?” tanya Syafi’ie kepada ratusan peserta WISH Online 3. “Karena waktu itu terbatas, waktu tak dapat diputar kembali, waktu tak dapat dibeli. Maka satu-satunya jalan ialah memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, melakukan hal produktif dan bermanfaat,” ujarnya.

 

Ia memaparkan delapan teknik agar hidup lebih produktif antara lain membuat rencana, menulis target capaian harian, membuat catatan terstruktur, mengidentifikasi masalah, meminimalkan pemborosan waktu, fokus pada prioritas, menggunakan reminder, disiplin, dan memastikan target terukur. (AR).

 

Tambah Wawasan Pendidikan Kala Pandemi, CESA LPI DD Gelar Diskusi Produktif

Bogor – Pada Sabtu (18/09) Center of Educational Studies and Advocacy (CESA) Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa (LPI DD) menggelar Diskusi Produktif (Dispro) bertajuk “Kemerdekaan Pendidikan, Revitalisasi Pendidikan dalam Islam di Masa Pandemi”. Dispro merupakan ikhtiar CESA LPI DD menghasilkan wawasan dalam pengembangan gagasan pendidikan berkualitas di jagat pendidikan tanah air.

 

 

“Lewat Dispro, CESA LPI DD ingin mengedukasi publik seputar dinamika serta isu populer dalam perspektif Islam dan memberikan solusi menyikapi kebermanfaataan teknologi di masa pandemi,” kata Dian Sumantri, Panitia Dispro.

 

 

Dr. Dede Rubai Misbahul Alam, M.Pd, Konsultan Pendidikan Islam didapuk menjadi pembicara di hadapan tujuh puluh peserta yang berasal dari kalangan pendidik, akademisi, pelajar dan insan LPI DD. Dede menyampaikan, pandemi telah meluluhlantakkan sendi kehidupan dan pendidikan bangsa. Menurutnya tak ada cara yang dapat dilakukan dalam mengatasi belajar di masa pandemi, kecuali menggunakan teknologi informasi dan komunikasi berbasis internet.

 

 

“Teknologi digadang-gadang dapat memberi solusi belajar di masa pandemi. Namun di sisi lain teknologi juga menghadirkan dampak dan resiko yang cukup tinggi terhadap perkembangan karakter anak. Dilema teknologi menjadi sesuatu yang sangat dikhawatirkan,” ungkap Dede.

 

 

Sebagai konsultan pendidikan Dede menyampaikan pandangannya seputar dampak pandemi dan teknologi,  “kedua hal ini  mendisrupsi kehidupan masyarakat. Pandemi dan teknologi bahkan telah mendisrupsi iman dan akhlak umat Islam. Pilihannya hanya ada dua; berubah atau punah,” jelasnya.

 

 

Dalam pemaparannya Dede mengingatkan para peserta untuk lebih kuat menghadapi tantangan pendidikan di masa pandemi, lebih cerdas memanfaatkan tekonologi supaya anak didik selamat dari efek “radiasi karakter”, dan menguatkan pendidikan agama sebagai tuntunan ideal agar dapat bertahan dalam menghadapi ujian disrupsi. (DS/AR)

 

Kurangi Sampah di Bogor, LPI DD dan Eco Enzyme Nusantara Resmikan Bank Eco Enzyme Bogor

Bogor – Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa (LPI DD) bekerjasama dengan Eco Enzyme Nusantara melalui Komunitas Eco Enzyme Bogor meresmikan Bank Eco Enzyme Bogor yang dihelat pada Jumat (17/09) sebagai solusi mengurangi sampah organik di Bogor.

 

Inisiator Bank Sampah SPIRIT LPI DD dan Pimpinan Cabang Bank Eco Enzyme Bogor, Aang Hudaya, mengatakan Bank Eco Enzyme Bogor akan menjadi wadah penyedia eco enzyme bagi aktivitas lingkungan. Ia menyampaikan, Bank Eco Enzyme Bogor akan mengajak masyarakat terlibat dalam memilah, mengolah, dan menabung eco enzyme.

 

“Untuk mendukung gerakan eco enzyme di seluruh wilayah maka dibentuklah Bank Eco Enzyme yang bertujuan menyediakan stok, memberikan edukasi, menyediakan sampel ketika ada pelatihan, serta menjadi pusat edukasi eco enzyme,” ungkap Aang..

 

 

Eco enzyme merupakan hasil fermentasi limbah dapur organik seperti ampas buah dan sayuran yang dicampurkan gula merah dan didiamkan dalam air sekitar tiga bulan. Eco Enzyme bisa menyuburkan tanah sebagai dekomposer, filter air, menurunkan asap dalam ruangan, menurunkan efek gas rumah kaca, filter udara dan bisa dimanfaatkan sebagai sabun cuci piring, cuci baju, sampo dan lainnya.

 

“Di masa pandemi penggunaan eco enzyme semakin meluas, terutama digunakan sebagai bahan disinfektan alami. Bahkan berbagai wilayah di Indonesia telah melakukan penyemprotan disinfektan menggunakan eco enzyme,” jelas Aang.

 

 

Peresmian Bank Eco Enzyme Bogor dilaksanakan di kantor LPI DD, Parung, Jawa Barat, dan dihadiri Nur Haryanti S.Si., Kepala Seksi Pengurangan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor; Muhammad Syafi’ie el-Bantanie, Direktur LPI DD; dr. Muhamad Zakaria, Direktur RST DD; Udhi Tri Kurniawan, Direktur Zona Madina; Wawan Hermawan, Kepala Desa Jampang; Supriadin, Satgas Lingkungan Hidup Kemang; Camat Kemang, Edi Suwito; dan insan LPI DD.

 

 

Aang menyebutkan jika Bank Eco Enzyme Bogor akan mendukung komunitas yang membutuhkan stok dalam program kegiatannya dan mendukung pengadaan sampel bagi komunitas eco enzyme baru. “Kami berharap adanya Bank Eco Enzyme Bogor dapat membangun komunikasi, kerja sama, kebersamaan, dan edukasi untuk para pegiat maupun masyarakat di sekitar,” tutupnya. (AR).

Mengelola Sampah Berarti Menjaga Alam

Aang Hudaya, Global Ecobrick Alliance, Inisiator Bank Sampah SPIRIT LPI DD, mengatakan jika sampah adalah ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup manusia dan alam. Perlu adanya langkah konkret mengurangi konsumsi sampah dimulai dengan mencegah, memilah, menyalurkan, mengolah, dan memanfaatkan sampah.

 

Tanggung jawab mengelola sampah, menurutnya, harus dimulai dari diri sendiri, dari rumah, dari yang paling mudah, dan dilakukan secara bertahap serta konsisten. Sebab baginya, dengan mengelola sampah maka kita telah menjaga alam.

 

“Apa yang kita lakukan akan berdampak pada alam. Kalau kita baik ke alam, alam juga akan baik ke kita, begitu pun sebaliknya,” kata Aang kepada dua ratus peserta World Clean Up Day (WCD) 2021 LPI DD x DD Volunteer. (AR).

Memecahkan Masalah Sampah Tak Bisa Sendirian

Kita tak bisa memecahkan masalah sampah sendirian, tegas Agustina Iskandar, Ketua World Clean Up Day (WCD) Indonesia. Menurutnya perlu adanya kolaborasi, perlu menggandeng banyak pihak, dan perlu komitmen tinggi untuk menyelesaikan masalah tersebut.

 

“Kita perlu menjaga alam Indonesia bersih bebas sampah, kami di WCD percaya dengan semangat kolaborasi maka permasalahan sampah bisa diatasi. Sebab kalau bukan kita siapa lagi?” kata Agustina.

 

Ia menambahkan jika butuh aksi nyata dan masyarakat tak boleh diam saja, sebab ini adalah PR bersama. Ke depannya WCD ingin menciptakan gerakan serta membuat fasilitas pilah sampah dan olah sampah mumpuni demi mendukung pengelolaan sampah di Indonesia. (AR).

Iqra! Read! Lesen! Lire! Letto! Yomu! Il-gi! Chitat’!

Iqra! Read! Lesen! Lire! Letto! Yomu! Il-gi! Chitat’!

Oleh Dini Wikartaatmadja

 

Iqra! Read! Lesen! Lire! Letto! Yomu! Il-gi! Chitat’! Artinya adalah Bacalah! Kata yang mengandung perintah yang menghendaki sebuah perubahan dari pasif menjadi aktif,dari diam menjadi bergerak, dari tidak bisa menjadi bisa dan dari tidak tahu menjadi tahu. Perubahan ini menunjukkan telah terjadinya sebuah kemajuan dengan bukti bertambahnya ilmu dan keahlian. Dengan demikian, siapapun yang ingin ilmu dan keahliannya bertambah berarti ia harus membaca.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI] baca,membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati). Selain itu, baca membaca juga diartikan sebagai mengeja atau melafalkan apa yang tertulis,mengucapkan, meramalkan dan menduga.

Dengan kata lain, kegiatan membaca terbukti bukan sebuah kegiatan pasif yang menangkap serangkaian huruf kata dan kalimat melainkan secara aktif memasukkan kata dan serangkaian kalimat tersebut ke dalam otak. Ada proses yang rumit ketika seseorang membaca. Setidak-tidaknya minimal ada tiga indera yang berperan dalam melakukan aktifitas ini, yakni mata untuk menangkap kata dan kalimat, mulut yang terkadang ikut melafalkan terutama saat menemukan kata yang sulit dipahami dan telinga ikut melakukan kerjanya,mendengarkan lalu tangan yang sibuk membalikkan ke halaman berikutnya.

Setelah semua indera itu selesai kemudian ada otak yang mengolah semua informasi yang masuk dengan kerja syaraf yang tentu saja begitu ajaib. Otak kemudian menghubung-hubungkan berbagai sensasi seperti kabel-kabel dan transistor menghubungkan aliran listrik. Karena itu tidak heran saat membaca buku yang sedih,sang pembaca pun bisa ikut menangis, atau saat menemukan bacaan yang lucu,sang pembaca pun bisa tertawa hingga terpingkal-pingkal. Dengan demikian, membaca juga tidak hanya sekedar aktivitas otak saja melainkan hati yang ikut tersambung di dalamnya. Karena itu, tidaklah heran, saat seseorang telah mengahabiskan satu bacaaan maka sang pembaca akan memperoleh “pencerahan” baik secara intelektualitas maupun mentalitas.

 

Pemimpin dan Membaca

‘Not all readers are leaders, but all leaders are readers.’ [Harry S. Truman]

Tidak berlebihan jika presiden Amerika yang ke 33 ini mengatakan demikian. Jika ditilik lebih jauh memang semua pemimpin besar baik di Indonesia maupun di dunia adalah seorang yang gila baca.

Sebut saja, Bung Karno yang begitu piawai berpidato berkat kegemarannya melahap pemikiran mulai dari timur hingga barat. Bung Hatta yang begitu cintanya dengan buku sampai mengatakan bahwa buku sebagai istri pertamanya. Juga ada Karl Marx seorang gila baca yang mampu bertahan di kamar selama 12 jam hanya untuk membaca tanpa makan dan minum.

Selanjutnya ada, Mahatma Gandhi yang merupakan seorang yang kutu buku yang suka merenung dan menuangkan pikirannya ke dalam tulisan yang jika dikumpulkan dapat mencapai 80 jilid. Tak ketinggalan, Barrack Obama yang disebutkan saat masih menjadi mahasiswa di Universitas Harvard, Obama adalah seorang kutu buku yang mendalami masalah kemiskinan dan hukum. Ia mendalami pemikiran para mantan hakim agung seperti John Marshall, seorang negarawan tersohor AS, Oliver Wendell Holmes. Pendek kata ia menjadi seorang yang rakus membaca. Lalu, Steve Jobs, seorang inovator yang berhasil mengawinkan sastra dengan teknologi. Semua inspirasinya datang karena kesukaannya membaca karya sastra dan seni.

Dari beberapa pemimpin besar di dunia tersebut ada lagi kesamaan mereka selain menjadi pembaca yang gila adalah pengenalan aktivitas membaca sejak usia dini. Mereka dikenalkan buku baik oleh orangtua maupun teman di lingkungannya. Kemudian, membaca menjadi sebuah kebiasaan dan kebutuhan dalam menemukan jati diri dan inspirasi dalam kehidupan.

 

WCD 2021, Aksi Nyata LPI DD dan DD Volunteer Menjaga Lingkungan

Bogor – Hingga detik ini sampah masih menjadi momok menakutkan, terlebih total produksi sampah nasional di Indonesia tahun 2020 mencapai 67,8 juta ton atau setara dengan rata-rata 0,68 kilogram sampah per hari untuk setiap penduduk. Masalah sampah adalah tantangan yang harus segera diselesaikan.

 

 

Mengejawantahkan hal tersebut Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa (LPI DD) dan Dompet Dhuafa Volunteer (DD Volunteer) berkolaborasi mengadakan World Clean Up Day (WCD) 2021. WCD ialah gerakan sosial terbesar di dunia yang menggerakkan masyarakat di banyak negara terlibat aktif dalam menjaga dan membersihkan bumi dari tumpukan sampah.

 

 

“Di Indonesia WCD dimulai pada 2018 dan tercatat menjadi negara dengan jumlah relawan terbanyak  yakni 7.6 juta orang,” ujar Pandu Satrio, Pelaksana WCD 2021. “Tahun ini WCD difokuskan pada aksi pilah sampah dari sumbernya yang diikuti 203 siswa SMART Ekselensia Indonesia serta santri eTahfizh, 135 insan Dompet Dhuafa, 50 relawan DD Volunteer dan umum. Aksi pilah sampah dilakukan sesuai protokol kesehatan dan dibatasi jumlah pesertanya mengingat saat ini pandemi masih membersamai,” tambahnya.

 

 

Guna meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat akan lingkungan, LPI DD dan DD Volunteer menggelontorkan berbagai aktivitas menarik dan inspiratif di antaranya Aksi Gerakan 5R (Ringkas Rapi Resik Rawat Rajin), Aksi Pilah Sampah dari Rumah bersama relawan DD Volunteer, Aksi Bebersih Kantor, Aksi Bebersih Sekolah & Susur Sungai, dan Webinar “WCD from Home: Aksi Kelola Sampah dari Rumah” yang akan digawangi Agustina, Ketua WCD Indonesia; Tyasning Permanasari, Kepala Seksi Daur Ulang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia; Aang Hudaya, Global Ecobrick Alliance, Inisiator Bank Sampah SPIRIT LPI DD; Arif Rahmadi Haryono, GM Advokasi & Aliansi Strategis Dompet Dhuafa; dan Muhammad Syafi’ie el-Bantanie, Direktur LPI DD.

 

 

Pandu menuturkan, rangkaian aktivitas WCD akan dilakukan luring dengan menerapkan protokol kesehatan ketat dan juga daring. “Ini adalah momentum terbaik memberikan gambaran tentang kondisi kebijakan dan regulasi persampahan di Indonesia, kami juga ingin meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta mengedukasi mereka tentang aksi cegah, pilah, dan olah sampah dari rumah,” jelasnya. (AR).