Anak Adalah Amanah, Sudahkah Makmalian Jaga?

Oleh: Abdul Kodir

Anak merupakan titipan dari Allah Swt. yang harus dirawat dengan sebaik-baiknya, karena dengan merawatnya akan mengantarkan kita pada surga-Nya, namun sebaliknya jika kita menyia-nyiakannya maka tunggulan pertanggungjawaban kita di hadapan Allah Swt.

Salah satu cara orangtua merawat amanah ini salah satunya dengan mendidiknya agar menjadi pribadi yang berakhlak. Tentu, mendidik anak bukanlah perkara yang sepele, bukan pekerjaan yang dilakukan dengan asal-asalan, mendidik anak sama halnya dengan kebutuhan pokok yang harus terpenuhi karenanya dibutuhkan ilmu agar penanganan yang dilakukan tepat dan memberikan dampak yang positif. Ditambah lagi dengan pengaruh negatif dari luar yang dapat merusak pertumbuhan anak.

Seperti kita ketahui bersama pergaulan anak-anak saat ini sudah dalam titik memprihatinkan, sehingga orang tua dituntut ekstra waspada. Polda Metro Jaya mengatakan kasus kenakalan remaja  mengalami peningkatan yang cukup tinggi.

Keluarga merupakan Madrasatul Ula yang jadi benteng pertama untuk membentuk anak yang kuat; kuat iman, kuat kognisi dan afeksi, untuk mendapatkan hasil yang baik diperlukan proses yang baik pula. Menurut Abdullah Nashih ‘Ulwan ada  lima metode pendidikan anak yang saya singkat dengan Wadah Mahabah; 1. al- QudWAH, 2. Al-‘AaDAH, 3. Al-MulahAdzoh, 4. Al-NashiHAh, 5. Al-UquBAH.

 

Alqudwah (keteladanan)

Children See Children Do, anak adalah peniru yang ulung sehingga membutuhkan sosok yang menjadi teladan dan panutan. Jika yang dilihat prilaku baik maka menjadi baiklah perilaku anak, pun sebaliknya jika yang dilihat buruk maka menirulah anak pada perilaku buruk itu. Seorang ayah akan kesulitan untuk memerintahkan anaknya sholat sementara ayahnya tidak melaksanakan sholat atau contoh lainnya seorang ayah yang perokok besar kemungkinan anaknya perokok juga. Maka dari itu orangtua harus menjadi teladan atau model yang baik untuk pendidikan anaknya. Tahapan ini harus dipenuhi agar proses pendidikan anak dapat berjalan dengan baik sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw.

Keteladanan yang harus dicontohkan pada anak meliputi; aspek ibadah, akidah dan penanaman karakter yang menjadi bekal bagi kehidupannya pada masa yang akan datang.

 

Al-‘Aadah (pembiasaan)

Setelah proses keteladanan berjalan dengan baik, maka metode berikutnya adalah dengan pembiasaan, tanpa pembiasaan, nilai-nilai tidak kuat mengakar dalam benak anak. Islam telah mengajarkan bagaimana proses pembiasaan menjadi penting untuk diperhatikan, agar nilai-nilai yang dibangun dapat menancap kuat.

Menumbuhkan kebiasaan yang baik tentu tidaklah mudah, perlu proses dan waktu yang panjang. Contoh dalam hal pembiasaan shalat, Rasulullah SAW memerintahkan kepada para orang tua agar mereka menyuruh anak mengerjakan shalat pada usia tujuh tahun dan mulai diberlakukan punishment pada usia 10 tahun. Dari usia 7-10 tahun ada jarak 3 tahun, ini artinya selama tiga tahun tersebut adalah proses pembiasaan anak untuk mengerjakan sholat, hingga akhirnya sholat menjadi kebutuhan bukan kewajiban. Di rentang waktu tersebut orang tua hendaklah bersabar dan berkomitmen untuk mengingatkan anak untuk sholat.

Jadi dalam proses pembentukan akhlak anak tidak diperoleh dengan instan, mesti ada proses pembiasaan sebelumnya, dan tugas orang tua mengawasi proses ini dengan serius.

 

Al-Mulahadzoh (pengawasan)

Untuk menghasilkan padi yang baik, maka Petani melakukan pengawasan yang ketat pada sawahnya, menjaga dari serangan hama, memerhatikan pengairannya, dan memberikannya pupuk agar tumbuh menjadi berkualitas. Begitulah juga orang tua memberikan pengawasan kepada anak-anaknya, orang tua hendaknya mencurahkan perhatiannya pada perkembangan anak, memerhatikan perkembangan aspek akidah, akhlak, akal dan sosialnya.

Begitu banyak anak yang baik namun tanpa pengawasan yang kuat dari orang tuanya terkontaminasi dengan pergaulan bebas dan orang tua baru tersadar ketika anaknya sudah dihadapkan pada masalah. Tentu hal ini tidak kita inginkan, untuk itu berilah pengawasan yang kuat namun jangan sampai mengekangnya sehingga anak menjadi terhambat perkembangannya.

 

Al-Nashihah (Nasihat)

Sebelum orang tua memberikan nasihat pada anaknya, sebaiknya orang tua sudah memberikan teladan terlebih dahulu agar apa yang disampaikan dapat diterima oleh anak. Pemberian nasihat juga harus dilakukan berulang-ulang agar anak merekam dengan baik dan dapat menjadi perisai bagi dirinya, sehingga anak dapat menyaring setiap keburukan yang datang padanya. Dalam memberikan nasihat sebaiknya disampaikan dengan lemah lembut, dan memerhatikan situasi dan kondisi yang ada.

 

Al-‘Uqubah (Hukuman)

Perlu diingat, bahwa metode al-‘Uqubah hanya dapat dilakukan di akhir setelah empat proses sebelumnya sudah dilaksanakan dengan baik, jadi jangan coba-coba dibalik. Sebetulnya jika proses peneladanan, pembiasaan, pengawasan dan nasihat dilaksanakan dengan baik anak tidak akan sampai pada tahapan hukuman, karena dengan empat tahapan tersebut anak sudah terbentuk dengan baik. Namun jika dalam perkembangan sosialnya anak melanggar kesalahan, yang harus diperhatikan adalah bahwa hukuman tidak  harus berupa kekerasan fisik, namun bisa juga dengan cara lain yang lebih lembut, misalnya menghilangkan kegiatan kesukaannya, seperti; anak tidak boleh menonton TV selama seminggu atau uang jajannya dikurangi selama beberapa hari.

Lima metode semoga dapat membentuk anak dengan kepribadian insan kamil sehingga dapat menjadi investasi dunia dan akhirat.

Menjadi Guru Berkualitas Memerlukan Komitmen Tinggi 

Menjadi Guru Berkualitas Memerlukan Komitmen Tinggi

 

Pendidikan, sudah menjadi wacana umum untuk dibicarakan khususnya di Indonesia membahas pendidikan memiliki makna yang sangat luar biasa. Baik dalam ruang lingkup Nasional hingga lokal daerah, dalam hal ini tentunya adalah mekanisme yang sifatnya berpusat sampai pada turunan tingkat daerah sudah menjadi satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Namun ada hal yang unik apabila kita lihat fakta di lapangan, ada hal banyak perbedaan ketika kita lihat sistem atau mekanisme pendidikan yang diterapkan belumlah sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal ini dikarenakan faktor turunan di setiap daerah yang berbeda-beda, sehingga memungkinkan pada setiap daerah sulit untuk menyesuaikan standar Nasional. Contoh kasus misalnya adalah Pemerintah pusat menetapkan nilai standar ujian Nasional rata untuk seluruh Indonesia, hal seperti ini menjadi sebuah beban bagi Sekolah-sekolah di setiap daerah terlebih adalah guru-guru.

Disisi lain misalnya, fakta siswa kelas 6 di suatu daerah yang belum bisa membaca sama sekali harus tetap diikutsertakan dalam ujian Nasional. Tentunya hal ini sangat memprihatinkan, siswa mendapat sebuah tekanan, pendidik menjadi sebuah pacuan dan Sekolah mendapatkan ancaman. Artinya pemerintah pusat boleh saja melakukan standar pendidikan nasional, namun harus mempertimbangkan hal-hal lain. Khususnya adalah tentang standar atau karakter yang harus dimiliki oleh pendidik atau guru, meskipun pemerintah sudah memiliki standar bagi para pendidik namun fakta di lapangan sangat berbeda untuk bisa disesuaikan. Dalam hal ini tiga kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh para pendidik sesuai perundang-undangan yang ada diantaranya:

1. Keterampilan paedagogik,

2. Kepribadian,

3. Sosial dan

 

Tiga hal mendasar itulah yang menjadi landasan bagi para pendidik, namun ada hal yang harus ditambahkan ketika empat hal tersebut sudah bisa dijalankan dengan baik yaitu; kesadaran dan komitmen yang tinggi. Sebab  menjadi pendidik saat ini seperti hanya menjadi sebuah batu loncatan saja, maksudnya adalah keterpaksaan dikarenakan keterbatasan lowongan pekerjaan misalnya sehingga menjadi pendidik adalah pilihan yang tepat meskipun terkadang fakta di lapangan tidak memenuhi kriteria untuk menjadi seorang pendidik tanpa harus dilatih terlebih dahulu. Hal ini tentunya akan berdampak meskipun hal sepele, namun sekali lagi kembali kepada kesadaran dan komitmen yang tinggi untuk bisa menjadi guru yang berkualitas agar menciptakan generasi yang cerdas.

 

Maka, pada hakikatnya adalah ketika seseorang sudah terjun menjadi seorang pendidik pada saat itu harus sudah memiliki tekad yang bulat tidak setengah-setengah untuk menjadi guru yang berkualitas agar menciptakan generasi yang cerdas. Karakter guru yang berkualitas bisa kita lihat dari  empat tahapan:

1. Persiapan yang matang,

2. Pelaksanaan penuh dengan ketelitian,

3. Evaluasi dalam meningkatkan mutu atau kualitas diri,

4. Dukungan masyarakat dan efektifitas manajemen sekolah yang baik. Apabila empat hal tahapan tersebut dijalankan dengan baik dimungkinkan para pendidik menjadi guru yang berkualitas sehingga menciptakan generasi yang cerdas, standar pendidikan nasionalpun bukan menjadi sebuah hambatan tapi menjadi sebuah tantangan.

Makmalian Perlu Tahu Seberapa Besar Potensi Anak-Anak

Makmalian Perlu Tahu Seberapa Besar Potensi Anak-Anak

 

Proses atau tahapan yang harus dilakukan dalam hal apapun tidak terlepas dari sebuah perencanaan, begitu pula dalam hal pendidikan. Ada hal yang harus kita ketahui bersama mengenai pilar-pilar pendidikan yang harus dibangun atau dijalankan dalam membentuk karakter peserta didik atau putra-putri kita semua, sebab tanpa adanya sebuah pilar atau batu pijakan kita seperti berada diatas awan yang terbang tanpa ada sebuah lintasan untuk mendarat dengan baik.

Pilar pendidikan sangat penting dalam membentuk karakter anak, setidaknya ada tiga pilar yang harus kita ketahui mengenai pilar-pilar pendidikan tersebut. Pilar pendidikan yang Pertama adalah keluarga, keluarga menjadi pilar yang sangat penting untuk membentuk karakter anak. Sebab melalui pendidikan keluarga, orang tua lah yang mengetahui sifat anak-anak yang dibimbingnya. Contohnya adalah cermin sikap ayah kepada ibu akan terlihat langsung oleh sang anak, bagaimana berkata yang baik, sopan santun, ramah tamah, lemah lembut dsb. Orang tua menjadi pilar pendidikan pertama bagi anak, dimana akan ada banyak rasa keingintahuan anak tidak terlepas dari informasi yang dimiliki oleh orang tuanya. Kita dapat ketahui bersama, masa anak-anak adalah masa dimana segala informasi atau hal-hal yang baru akan dia cari, maka inilah pentingnya komunikasi antara ayah dan ibu agar berkomunikasi dengan baik dan mencari informasi yang baik pula karena anak selalu melihat kebaikan diantara keduanya.

Pilar pendidikan yang kedua adalah masyarakat, masa perkembangan anak setelah mendapatkan bimbingan yang baik dari orang tuanya maka sudah saatnya masa perkembangan anak mulai tumbuh dan berkembang. Maka, pada saat itu pula proses pengetahuan anak akan terus berkembang. Keberadaan lingkungan tempat anak bermain sangat penting untuk dijadikan pendidikan bagi anak-anak, sebab anak-anak akan mulai mengenal lingkungan dan teman sekitar dimana tempat ia berada. Dalam hal inipun pendidikan masyarakat sangat penting, harus adanya pengelolaan yang baik dalam menjalankan sebuah hubungan ditengah-tengah masyarakat. Baiknya individu bergantung seberapa besar dukungan masyarakat sekitar, begitu pula pendidikan tidak bisa terpisahkan.

Pilar pendidikan yang ketiga adalah Negara, dalam hal ini Negara menjadi sebuah pengayom atau yang memfasilitasi diadakannya sekolah-sekolah untuk tempat anak-anak menimba ilmu. Sudah menjadi sebuah kewajiban dalam hal belajar, maka Negara sifatnya wajib memfasilitasi sekolah-sekolah bagi anak-anak. Agar anak-anak bisa diwadahi untuk meningkatkan prestasi yang dimiliki, sehingga ketika Negara memfasilitasi dengan baik akan bisa terlihat seberapa besar potensi anak-anak yang sudah melakukan tahapan pendidikan dengan baik dan yang belum. Ketiga pilar pendidikan tersebut memiliki satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, karena diantara ketiganya memiliki kontroling dan monitoring yang seharusnya bersinergi tidak terpisah-pisah atau berjalan sendiri-sendiri. Maka sudah saatnya membangun negeri dengan tiga pilar pendidikan bagi putra dan putri Indonesia untuk menjadi generasi terbaik pada masanya (Noly).

 

Jadilah Pendidik Sejati.

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie.

 

“Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”

Rasanya kita masih ingat dan paham dengan peribahasa di atas. Peribahasa tersebut sejatinya sindiran yang sangat keras bagi guru-guru yang tidak layak menjadi guru. Kita tidak memungkiri, jika kita mau jujur, berapa banyak guru yang mestinya diberhentikan menjadi guru. Karena, mereka tidak memiliki kompetensi sebagai guru. Kompetensi utama guru itu dua, yaitu pertama, dia diteladani murid-muridnya karena kemuliaan akhlak dan keistiqamahan ibadahnya; kedua, dia dikagumi murid-muridnya karena keluasan ilmunya.

Mari kita bahas satu persatu. Jika guru tidak mampu mendidik dan mengajar dirinya menjadi manusia baik, maka bagaimana bisa dia mendidik dan mengajari murid-muridnya? Guru haruslah selesai dengan dirinya dalam segi akhlak dan ibadahnya. Hal ini bukan berarti guru dituntut menjadi manusia sempurna dalam aspek akhlak dan ibadah. Tentu saja proses menjadi manusia baik (baca: bertakwa) adalah proses tiada henti. Namun, setidaknya seorang guru haruslah terlihat kemuliaan akhlaknya dan keistiqamahan ibadahnya.

Contoh sederhana, seorang guru yang mengajarkan kepada murid-muridnya agar shalat fardhu berjama’ah ke masjid. Namun, sang guru sendiri di lingkungan masyarakatnya jarang shalat fardhu ke masjid, bagaimana bisa proses pendidikan ini akan berhasil? Seorang guru yang mengajarkan kejujuran kepada murid-muridnya, tetapi dia sendiri berlaku tidak jujur dalam proses administrasi keguruan demi mengejar tunjangan profesi, bagaimana bisa internalisasi kejujuran itu akan berhasil? 

Dalam hal ini, kritik saya terhadap kampus-kampus keguruan adalah kampus terlalu sibuk menyiapkan tenaga guru dari aspek skill, tetapi mengabaikan aspek akhlak dan integritas. Tidak ada intervensi program pembinaan mahasiswa keguruan pada aspek ini. Akibatnya, kampus keguruan hanya menghasilkan tenaga guru yang mungkin kompeten keilmuannya, namun miskin akhlak dan integritasnya.

Kedua, aspek keilmuan. Mari kita telisik secara jujur. Apakah guru-guru kita memiliki kompetensi keilmuan memadai? Hasil penilaian Kemendikbud menyatakan, 77.85% guru SD tidak layak menjadi guru (KOMPAS, 29/10/2009). Tak perlu rumit-rumit menilai guru dari aspek ini. Tanya saja kepada guru berapa buku yang dibacanya dalam sebulan? Jika guru jarang membaca, tidak meng-upgrade pengetahuan dan wawasannya, apa yang akan diajarkan kepada murid-muridnya? Hanya itu-itu saja tiap tahunnya. Mengajar sudah 10 atau 20 tahun, tapi ilmu yang disampaikan tidak bertambah.

Oleh karena itu, perlu ada reorientasi dalam mengkader guru-guru. Karena, guru adalah garda terdepan dalam proses pendidikan dan pengajaran. Baik atau buruknya seorang murid tergantung gurunya. Seorang guru hebat akan melahirkan murid lebih hebat lagi. Namun, seorang guru yang rusak, bisa melahirkan murid yang lebih rusak. 

Kerja Peradaban

Kita mesti menginsyafi bahwa mendidik dan mengajar adalah kerja peradaban. Pekerjaan besar menyiapkan generasi yang siap menjadi pewaris peradaban. Mewarnai zaman dengan rupa-rupa dan lika-liku prestasi dan karya. Maka, perlu guru-guru hebat dengan kompetensi akhlak dan keilmuannya. 

Dalam perspektif pendidikan Islam, guru memiliki posisi dan peran yang sangat strategis. Islam memandang aktifitas mendidik dan mengajar adalah aktifitas mulia. Maka, orang-orang yang mendidik dan mengajar haruslah orang yang mulia kualitas dirinya. Jika mengkaji Al-Qur’an, kita akan menemukan bahwa aktifitas mendidik (mengajar) bahkan dinisbatkan kepada Allah dan rasul-Nya.

Kita simak surat Ar-Rahman ayat 1 dan 2, “(Allah) Maha Pengasih. Yang telah mengajarkan Al-Qur’an.”

Lalu, saksamailah surat Al-Jumu’ah ayat 2, “Dialah yang mengutus seorang rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (sunnah) meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” 

Bayangkan, aktifitas mendidik dan mengajar dinisbatkan langsung kepada Allah dan rasul-Nya. Setiap apapun yang dinisbatkan kepada Allah, maka aktifitas itu adalah mulia. Dengan demikian, mendidik dan mengajar adalah aktifitas mulia. Maka, orang-orang yang melakukannya haruslah menghiasi dirinya dengan akhlak mulia. Lebih dari itu seorang guru yang menjaga kualitas diri dan kemuliaan akhlaknya, maka kata-katanya akan powerful dan mampu menembus hati murid-muridnya. Nasihatnya mampu mencairkan hati muridnya yang beku.

Dalam konteks inilah kita memahami nasihat Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, “Hanya suara hati yang mampu menembus hati.”

Nasihat Imam Syafi’i rahimahullah kepada gurunya, putra-putra Khalifah Harun Al-Rasyid, Imam Abu Abdisshamad, sangat patut kita resapi.

Mari kita perhatikan kalimat Imam Syafi’i. Kalimat beliau menjadi jawaban mengapa kualitas generasi kita saat ini biasa-biasa saja, tidak istimewa. Ternyata salah satu kuncinya ada pada guru.

“Hendaklah upayamu untuk mendidik anak-anak Amirul Mukminin adalah dengan memperbaiki dirimu sendiri. Karena, pandangan mereka (paradigma dan sikap hidup) terikat pada pandanganmu. Apa-apa yang baik menurut mereka adalah apa-apa yang kau anggap baik. Dan, apa-apa yang dipandang buruk oleh mereka adalah apa-apa yang kau tinggalkan (tidak lakukan).”

Dengan demikian, upaya pertama memperbaiki kualitas pendidikan adalah dengan memperbaiki kualitas gurunya. Tidak boleh lagi ada penerimaan guru asal-asalan. Mal praktik dalam kedokteran saja bisa berakibat fatal bagi nyawa seseorang, terlebih lagi mal praktik dalam pendidikan bisa menghancurkan masa depan anak didik, bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat. Maka, wahai para guru, jadilah pendidik sejati.

Terima Kasih Makmalian

Makmalian, Iduladha merupakan momen pengingat betapa pentingnya melakukan kurban untuk membantu sesama dan pengingat tentang bentuk pengorbanan serta ketakwaan kita pada Allah Swt., sebab rida Allah  ialah tujuan tertinggi selama hidup di dunia.

Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa menghaturkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para donatur dan Makmalian yang telah memercayakan 27 kambing dan 1 sapi untuk kami kelola. Di momen Iduladha yang dilaksanakan pada 20 Juli 2021 lalu Alhamdulillah sebanyak 334 penerima manfaat telah menerima daging kurban.

Terima kasih telah memberi senyum terindah unuk 28 santri eTahfizh, 166 siswa SMART Ekselensia Indonesia, 110 masyarakat di lingkungan Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa, dan 30 panitia kurban. Semoga Allah membalas kebaikan Makmalian dengan pahala berlipat ganda, aamiin.

 

 

Selamat Iduladha 1442H Makmalian

Di tengah ujian pandemi ini kami mengajak Makmalian semua untuk terus bersyukur sebab masih diberikan kesempatan bertemu Hari Raya Iduladha, masih bisa mencicipi manisnya berkurban, bersedekah serta berbagi.

 

 

Makmalian, Iduladha mengajarkan kita bahwa ibadah kurban ialah bentuk pengorbanan dan ketakwaan kita pada Allah Swt. Sebab rida Allah  adalah tujuan tertinggi selama kita hidup di dunia.

 

 

Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa juga ingin mengucapkan banyak terima kasih, karena Sahabat Pendidikan telah memercayakan pengelolaan hewan kurbannya kepada kami. Terima kasih, meski kondisi ekonomi sedang tak pasti namun Sahabat Pendidikan tetap memiliki semangat berbagi, InsyaAllah kami akan menyalurkan daging kurban kepada mereka yang berhak.

 

 

Semoga pandemi lekas berlalu dan semoga Allah memberikan kita kesabaran, kekuatan, dan keluasan rezeki. Aamiin.

 

 

Selamat Iduladha 1442 Hijriah Makmalian!

Menggapai Impian

Cara Kita Menggapai Impian

Melompat lebih tinggi adalah bagian dari upaya untuk meraih apa yang kita inginkan. 

Mari, bagi yang sudah melompat, namun belum juga bisa meraih apa yang menjadi impiannya, jangan pernah menyerah, tetaplah melompat dan lompatlah lebih tinggi. 

Belajar dari Belalang

Untuk menumbuhkan semangat dan inspirasi, saya ada sebuah cerita tentang seekor belalang  yang  telah lama terkurung di dalam sebuah kotak.  Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak tersebut.  Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati kebebasannya.

Diperjalanan, ia bertemu dengan seekor belalang lain, namun ia keheranan, mengapa belalang itu bisa melompat labih tinggi dan lebih jauh darinya. Dengan penasaran ia mengahampiri belalang itu dan bertanya:” mengapa kamu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh, padahal kita tidak jauh berbeda dari usia ataupun bentuk tubuh? “

Dengan tersenyum belalang lain itu pun menjawabnya dengan pertanyaan lain: ” dimanakah kamu selama ini tinggal? karena semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan. ”   Akhirnya belalang baru sadar bahwa selama dirinya terkurung di dalam kotak, dan  kotak itulah yang membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.

Kadang-kadang kita sebagai manusia tanpa sadar pernah juga mengalami hal yang sama dengan si belalang.

Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan, dan perkataan atau pendapat teman, seolah membuat kita terkurung dalam kotak semu yang membatasi semua kelebihan kita.   Tidak ada cara lain, agar kita bisa melewati apa yang selama ini menjadi target impian kita kecuali ‘melompat lebih tinggi dan lebih jauh’  dan singkirkanlah ‘kotak’ itu.

Kontributor : Munzir (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia) 

Kita masih sangat beruntung,  dibekali kemampuan untuk berjuang, tidak hanya menyerah begitu saja pada apa yang kita alami. Dengan segala kelebihan yang kita miliki, dengan segala akal dan pikiran yang kita punya. Karena itu, teruslah berusaha mencapai apa yang ingin kamu capai.

Tahapan Pendidikan Memiliki Satu Kesatuan Tak Dapat Dipisahkan

Tahapan Pendidikan Memiliki Satu Kesatuan Tak Dapat Dipisahkan

 

Proses atau tahapan yang harus dilakukan dalam hal apapun tidak terlepas dari sebuah perencanaan, begitu pula dalam hal pendidikan. Ada hal yang harus kita ketahui bersama mengenai pilar-pilar pendidikan yang harus dibangun atau dijalankan dalam membentuk karakter peserta didik atau putra-putri kita semua, sebab tanpa adanya sebuah pilar atau batu pijakan kita seperti berada diatas awan yang terbang tanpa ada sebuah lintasan untuk mendarat dengan baik.

Pilar pendidikan sangat penting dalam membentuk karakter anak, setidaknya ada tiga pilar yang harus kita ketahui mengenai pilar-pilar pendidikan tersebut. Pilar pendidikan yang Pertama adalah keluarga, keluarga menjadi pilar yang sangat penting untuk membentuk karakter anak. Sebab melalui pendidikan keluarga, orang tua lah yang mengetahui sifat anak-anak yang dibimbingnya. Contohnya adalah cermin sikap ayah kepada ibu akan terlihat langsung oleh sang anak, bagaimana berkata yang baik, sopan santun, ramah tamah, lemah lembut dsb. Orang tua menjadi pilar pendidikan pertama bagi anak, dimana akan ada banyak rasa keingintahuan anak tidak terlepas dari informasi yang dimiliki oleh orang tuanya. Kita dapat ketahui bersama, masa anak-anak adalah masa dimana segala informasi atau hal-hal yang baru akan dia cari, maka inilah pentingnya komunikasi antara ayah dan ibu agar berkomunikasi dengan baik dan mencari informasi yang baik pula karena anak selalu melihat kebaikan diantara keduanya.

Pilar pendidikan yang kedua adalah masyarakat, masa perkembangan anak setelah mendapatkan bimbingan yang baik dari orang tuanya maka sudah saatnya masa perkembangan anak mulai tumbuh dan berkembang. Maka, pada saat itu pula proses pengetahuan anak akan terus berkembang. Keberadaan lingkungan tempat anak bermain sangat penting untuk dijadikan pendidikan bagi anak-anak, sebab anak-anak akan mulai mengenal lingkungan dan teman sekitar dimana tempat ia berada. Dalam hal inipun pendidikan masyarakat sangat penting, harus adanya pengelolaan yang baik dalam menjalankan sebuah hubungan ditengah-tengah masyarakat. Baiknya individu bergantung seberapa besar dukungan masyarakat sekitar, begitu pula pendidikan tidak bisa terpisahkan.

Pilar pendidikan yang ketiga adalah Negara, dalam hal ini Negara menjadi sebuah pengayom atau yang memfasilitasi diadakannya sekolah-sekolah untuk tempat anak-anak menimba ilmu. Sudah menjadi sebuah kewajiban dalam hal belajar, maka Negara sifatnya wajib memfasilitasi sekolah-sekolah bagi anak-anak. Agar anak-anak bisa diwadahi untuk meningkatkan prestasi yang dimiliki, sehingga ketika Negara memfasilitasi dengan baik akan bisa terlihat seberapa besar potensi anak-anak yang sudah melakukan tahapan pendidikan dengan baik dan yang belum. Ketiga pilar pendidikan tersebut memiliki satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, karena diantara ketiganya memiliki kontroling dan monitoring yang seharusnya bersinergi tidak terpisah-pisah atau berjalan sendiri-sendiri. Maka sudah saatnya membangun negeri dengan tiga pilar pendidikan bagi putra dan putri Indonesia untuk menjadi generasi terbaik pada masanya (Noly).

 

Makmalian Perlu Tahu Dari Mana Sumber Karakter Pendidikan

Makmalian Perlu Tahu Dari Mana Sumber Karakter Pendidikan

Oleh: Hodam

Umar bin Khathab adalah salah satu sahabat Nabi yang sangat teguh pada pendirian. Ia selalu gigih dalam mempertahankan apa yang diyakininya baik sebelum masuk Islam atau sesudahnya. Misalnya kebudayaan suku Quraisy ketika itu, dimulai dari tradisi, ritual peribadatan, hingga sistem sosial ia yakini sepenuh hati. Demi itu semua ia rela mengorbankan seluruh jiwanya. Maka pantas jika ia menentang Islam dengan keras dan kejam pada awal masa dakwah, bahkan sepertinya tidak ada ampun bagi para pengikut agama Islam waktu itu.

“Aku ingin mencari orang yang berpindah agama itu (Nabi Muhammad saw.) yang telah memecah belah bangsa Quraisy, menghina impian Quraisy, mencela agama dan menghina tuhan-tuhannya. Aku ingin membunuhnya.”

Jiwanya merasa khawatir kalau kedatangan Islam akan meruntuhkan sistem sosial, politik dan budaya Mekah yang sudah mapan. Saat itu, Mekah memang memiliki posisi yang sangat strategis di kalangan bangsa Arab. Di kota ini terdapat rumah Tuhan (Ka’bah), yang selalu dikunjungi oleh orang-orang Arab. Hal inilah yang membuat suku Quraisy memiliki posisi strategis di kalangan bangsa Arab dan menjadikannya memiliki kekayaan spiritual dan material. Hal ini pula yang menjadikan Mekah menjadi maju dan berkembang. Sebab itu orang-orang kaya Mekah menentang keras agama Islam dan menyiksa orang-orang lemah dari pengikutnya. Umar bin Khathab termasuk di antara penduduk Mekah yang paling kejam.

Kita selalu berbicara tentang pendidikan karakter hampir setiap saat, sehingga kurikulum pendidikan di Indonesia terus berganti. Tapi jarang sekali dibahas dari mana sumber karakter tersebut dan apa ukuran kebenaran sebuah karakter. Dari kisah Umar bin Khathab di atas setidaknya kita dapat mengambil dua pelajaran yaitu sebagai berikut:

Pertama, manusia itu dikendalikan oleh apa yang diyakininya. Kita tahu bahwa manusia adalah unsur pertama dalam pembentukan sebuah negara. Sedang jiwa adalah ruang kendali perasaan dan inderanya manusia. Baik buruknya perjalanan hidup, benar salahnya sikap, kokoh dan lemahnya manusia, tergantung pada kebenaran dan kualitas konsepsi yang tertanam di dalam jiwanya. Seperti akar, ia adalah penentu, seperti apa jiwanya, maka seperti itulah pohon kepribadian dan arah hidup yang terbentuk padanya.

Inilah salah satu hikmah mengapa ketika hendak membangun masyarakat baru di atas puing-puing jahiliyah, Rasulullah saw. tidak mengawali perubahan itu dari perbaikan infrastruktur atau kekuatan politik. Sebab kelak ia bisa menjadi pemicu terjadinya benturan antar peradaban. Tapi pembangunan itu diawali dengan mengubah apa yang ada di dalam jiwa mereka. Rasulullah saw. menanam konsepsi sempurna yang sering kita sebut aqidah, ke dalam jiwa mereka, mengarahkan pandangan dan pikirannya, membangkitkan akal dan mengingatkan fitrahnya, serta merawat  tanaman itu dengan pendidikan dan pengembangan hingga mencapai kesuksesan.

Aqidah adalah mata air yang mengalirkan kebaikan. Seperti yang dijelaskan oleh Sayyid Sabiq dalam Aqidah Islamiyah, aqidah adalah sumber berbagai perasaan yang mulia, lahan untuk menanam berbagai perasaan yang baik, dan tempat tumbuhnya perasaan yang luhur. Tidak ada satupun keutamaan dan kebaikan, kecuali pasti bersumber darinya.

Tidak ada karakter yang kokoh tanpa aqidah yang benar. Jika aqidah atau keimanan itu hilang maka yang akan terjadi adalah krisis moral. Salah seorang ulama pernah mengatakan, krisis yang menimpa bangsa Indonesia adalah krisis keimanan dan ketaqwaan. Berawal dari krisis yang fundamental tersebut, maka terjadilah krisis susulan, seperti pembunuhan manusia tanpa hak, pemerkosaan, perzinahan, seks bebas dan aborsi, penggunaan narkotika dan minuman keras, pencurian hutan dan perusakan alam, perampasan hak orang lain, korupsi, penganiayaan dan kezaliman serta pelanggaran lainnya. Oleh karenanya penghentian atas krisis tersebut dimulai dari akar krisis dan akar permasalahannya. Jadi mari pendidikan karakter itu kita mulai dari penanam aqidah yang benar ke dalam jiwa anak didik kita.

 

Kedua, ukuran benar atau tidaknya suatu karakter adalah wahyu. Bagaimana cara kita hidup dan atas nama apa menjalaninya tidak bisa dinilai dengan ukuran manusia atau cara pandang manusia karena akal manusia yang tak sempurna. Itulah yang terjadi pada Umar bin Khathab sebelum masuk Islam ia bersikap atas cara pandangnya. Dalam konteks pembangunan karakter manusia muslim proses ditempuh melalui konsep-konsep Ilahiyah. Hanya Dia-lah yang memiliki kebenaran mutlak dan seluruh konsepsinya secara pasti akan sesuai dengan fitrah manusia serta seluruh kebutuhannya. Saya kira sudah saatnya kurikulum pendidikan nasional berdasarkan atas wahyu membentuk generasi sesuai dengan yang diinginkan oleh Sang Pencipta. Keberhasilan kurikulum tersebut sudah dibuktikan oleh generasi Islam terdahulu. Nah, sekarang kita bisa membedakan bagaimana Umar bin Khathab sebelum dan setelah masuk Islam, karakternya sama tapi nilainya berbeda. Wallahu’alam

Memperbaiki Kualitas Pendidikan Berarti Memperbaiki Kualitas Guru

Memperbaiki Kualitas Pendidikan Berarti Memperbaiki Kualitas Guru

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie.

“Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”

Rasanya kita masih ingat dan paham dengan peribahasa di atas. Peribahasa tersebut sejatinya sindiran yang sangat keras bagi guru-guru yang tidak layak menjadi guru. Kita tidak memungkiri, jika kita mau jujur, berapa banyak guru yang mestinya diberhentikan menjadi guru. Karena, mereka tidak memiliki kompetensi sebagai guru. Kompetensi utama guru itu dua, yaitu pertama, dia diteladani murid-muridnya karena kemuliaan akhlak dan keistiqamahan ibadahnya; kedua, dia dikagumi murid-muridnya karena keluasan ilmunya.

Mari kita bahas satu persatu. Jika guru tidak mampu mendidik dan mengajar dirinya menjadi manusia baik, maka bagaimana bisa dia mendidik dan mengajari murid-muridnya? Guru haruslah selesai dengan dirinya dalam segi akhlak dan ibadahnya. Hal ini bukan berarti guru dituntut menjadi manusia sempurna dalam aspek akhlak dan ibadah. Tentu saja proses menjadi manusia baik (baca: bertakwa) adalah proses tiada henti. Namun, setidaknya seorang guru haruslah terlihat kemuliaan akhlaknya dan keistiqamahan ibadahnya.

Contoh sederhana, seorang guru yang mengajarkan kepada murid-muridnya agar salat fardu berjamaah ke masjid. Namun, sang guru sendiri di lingkungan masyarakatnya jarang salat fardu ke masjid, bagaimana bisa proses pendidikan ini akan berhasil? Seorang guru yang mengajarkan kejujuran kepada murid-muridnya, tetapi dia sendiri berlaku tidak jujur dalam proses administrasi keguruan demi mengejar tunjangan profesi, bagaimana bisa internalisasi kejujuran itu akan berhasil? 

Dalam hal ini, kritik saya terhadap kampus-kampus keguruan adalah kampus terlalu sibuk menyiapkan tenaga guru dari aspek skill, tetapi mengabaikan aspek akhlak dan integritas. Tidak ada intervensi program pembinaan mahasiswa keguruan pada aspek ini. Akibatnya, kampus keguruan hanya menghasilkan tenaga guru yang mungkin kompeten keilmuannya, namun miskin akhlak dan integritasnya.

Kedua, aspek keilmuan. Mari kita telisik secara jujur. Apakah guru-guru kita memiliki kompetensi keilmuan memadai? Hasil penilaian Kemendikbud menyatakan, 77.85% guru SD tidak layak menjadi guru (KOMPAS, 29/10/2009). Tak perlu rumit-rumit menilai guru dari aspek ini. Tanya saja kepada guru berapa buku yang dibacanya dalam sebulan? Jika guru jarang membaca, tidak meng-upgrade pengetahuan dan wawasannya, apa yang akan diajarkan kepada murid-muridnya? Hanya itu-itu saja tiap tahunnya. Mengajar sudah sepuluh atau dua puluh tahun, tapi ilmu yang disampaikan tidak bertambah.

Oleh karena itu, perlu ada reorientasi dalam mengader guru-guru. Karena, guru adalah garda terdepan dalam proses pendidikan dan pengajaran. Baik atau buruknya seorang murid tergantung gurunya. Seorang guru hebat akan melahirkan murid lebih hebat lagi. Namun, seorang guru yang rusak, bisa melahirkan murid yang lebih rusak. 

Kerja Peradaban

Kita mesti menginsyafi bahwa mendidik dan mengajar adalah kerja peradaban. Pekerjaan besar menyiapkan generasi yang siap menjadi pewaris peradaban. Mewarnai zaman dengan rupa-rupa dan lika-liku prestasi dan karya. Maka, perlu guru-guru hebat dengan kompetensi akhlak dan keilmuannya. 

Dalam perspektif pendidikan Islam, guru memiliki posisi dan peran yang sangat strategis. Islam memandang aktifitas mendidik dan mengajar adalah aktifitas mulia. Maka, orang-orang yang mendidik dan mengajar haruslah orang yang mulia kualitas dirinya. Jika mengkaji Alquran, kita akan menemukan bahwa aktifitas mendidik (mengajar) bahkan dinisbatkan kepada Allah dan rasul-Nya.

Kita simak surat Ar-Rahman ayat 1 dan 2, “(Allah) Maha Pengasih. Yang telah mengajarkan Alquran”.

Lalu, saksamailah surat Al-Jumu’ah ayat 2, “Dialah yang mengutus seorang rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (sunnah) meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” 

Bayangkan, aktifitas mendidik dan mengajar dinisbatkan langsung kepada Allah dan rasul-Nya. Setiap apapun yang dinisbatkan kepada Allah, maka aktifitas itu adalah mulia. Dengan demikian, mendidik dan mengajar adalah aktifitas mulia. Maka, orang-orang yang melakukannya haruslah menghiasi dirinya dengan akhlak mulia. Lebih dari itu seorang guru yang menjaga kualitas diri dan kemuliaan akhlaknya, maka kata-katanya akan powerful dan mampu menembus hati murid-muridnya. Nasihatnya mampu mencairkan hati muridnya yang beku.

Dalam konteks inilah kita memahami nasihat Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, “Hanya suara hati yang mampu menembus hati.”

Nasihat Imam Syafi’i rahimahullah kepada gurunya, putra-putra Khalifah Harun Al-Rasyid, Imam Abu Abdisshamad, sangat patut kita resapi.

Mari kita perhatikan kalimat Imam Syafi’i. Kalimat beliau menjadi jawaban mengapa kualitas generasi kita saat ini biasa-biasa saja, tidak istimewa. Ternyata salah satu kuncinya ada pada guru.

“Hendaklah upayamu untuk mendidik anak-anak Amirul Mukminin adalah dengan memperbaiki dirimu sendiri. Karena, pandangan mereka (paradigma dan sikap hidup) terikat pada pandanganmu. Apa-apa yang baik menurut mereka adalah apa-apa yang kau anggap baik. Dan, apa-apa yang dipandang buruk oleh mereka adalah apa-apa yang kau tinggalkan (tidak lakukan)”.

Dengan demikian, upaya pertama memperbaiki kualitas pendidikan adalah dengan memperbaiki kualitas gurunya. Tidak boleh lagi ada penerimaan guru asal-asalan. Mal praktik dalam kedokteran saja bisa berakibat fatal bagi nyawa seseorang, terlebih lagi mal praktik dalam pendidikan bisa menghancurkan masa depan anak didik, bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat. Maka, wahai para guru, jadilah pendidik sejati.