Berkaca pada Masa Lalu

Perjalanan menjadi seorang konsultan relawan bukanlah hal mudah. Banyak hal yang harus direlakan untuk ditinggal, entahlah itu kebersamaan dengan keluarga, hidup pada zona nyaman, atau yang lainnya. Akan tetapi inilah jalan yang telah dipilih oleh saya beserta 23 kawan lainnya. Kami rela untuk mewakafkan satu tahun hidup di daerah penempatan. Besar harapan saya agar satu tahun ini berarti. Supaya saya bisa lebih banyak lagi belajar kepada para tokoh dan lingkungan sekitar, yang kelak akan mewarnai sebagian kisah kehidupan saya.

Saya ingin belajar. Hanya itu modal yang saya punya untuk bisa tetap bertahan. Terkait belajar apa, saya pun tidak tahu. Pokoknya saya percaya bahwa perjalanan saya di Ogan Ilir ini akan membuahkan banyak pelajaran hidup.

Setiap hari saya bersama rekan mengendarai sepeda motor untuk sampai dari sekolah ke sekolah. Kami bertemu dengan banyak sekali murid-murid dan guru-guru. Saat tiba di salah satu SD, saya mengobrol banyak dengan guru tersebut mengenai kisah perjalanan mengajar beliau yang telah puluhan tahun.

“Dik, Ibu sudah ngajar dari tahun ’89. Beragam karakter siswa udah Ibu pahami. Capek, Dik, ngajar anak SD tuh, apalagi kelas rendah.” keluhnya.

Aku hanya tersenyum sembari menanti kalimat beliau selanjutnya.

“Ujian Ibu ini lagi ini lagi…”

“Apa, Bu?” tanyaku penasaran.

“Suka dikasih murid-murid yang belum bisa baca. Bayangkan, Dik, dari tiga puluh siswa, hanya empat siswa yang bisa baca di awal pertemuan kelas dua sama Ibu. Ya Allah, itu 24 lagi gimana… Sedih Ibu, Dik.”

“Masya Allah, ‘PR’ Ibu nambah, dong, ya.”

“Makanya, Ibu bilang ke kepala sekolah untuk beri kesempatan Ibu 3 bulan tidak menyentuh RPP dan semacamnya. Mau bagaimana menggunakan butu tematik juga kalau semua anaknya belum bisa baca.”

Saya menemukan sebuah semangat yang menggebu dari ibu tersebut. Betapa seorang guru sekolah dasar berusaha dengan maksimal agar anak-anak didiknya dapat berhasil. Meski memang keberhasilan itu tidak selalu diukur dari kemampuan kognitif, akan tetapi dari semangatnya untuk bisa meningkatkan kualitas anak, dapat diketahui bahwa ibu tersebut tak pernah main-main dalam mengajar.

“Terserah mau dibilang galak juga sama orang tua. Yang penting anak-anak didik Ibu bisa berhasil. Ibu yakin, bukan anak kami bodoh, akan tetapi mereka hanya perlu didisiplinkan saja agar giat belajarnya.”

Saya semakin semakin setuju dengan kutipan dari Syaikh Ali Musthafa Tantawi, “Aku telah mengajar di banyak sekolah mulai dari jenjang sekolah dasar di perdesaan, di sekolah menengah pertama, menengah atas, hingga perguruan tinggi serta di berbagai jurusan. Aku juga mengajari para dosen di berbagai perguruan tinggi dan masjid-masjid. Namun aku katakan dengan penuh kejujuran, tak ada yang lebih banyak berkahnya, lebih banyak manfaatnya bagi orang, serta lebih banyak pahalanya dari mengajari anak-anak sekolah dasar.”

Peristiwa ini mengantarkanku pada nostalgia belasan tahun lalu ketika saya duduk manis di bangku kayu dengan berseragam putih merah. Kemudian seorang guru dengan teliti mengajari membaca satu-satu muridnya. Inilah salah satu refleksi saya. Terkadang seseorang lupa bahwa capaiannya yang telah pada puncak adalah berkat bimbingan guru SD di anak tangga pertamanya. Terima kasih, guru-guruku. (Nida Falilah, Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia wilayah Ogan Ilir)

Pasir di Tengah Laut itu Sekolahku

Oleh: Inda Dwi S. (Kawan SLI Angkatan 2, Penempatan Kab. Konawe Selatan)

Bungin adalah salah satu kampung di Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Bungin merupakan kampung yang terletak di tengah laut. Untuk menuju kampung tersebut, dari pelabuhan belakang pasar Tinanggea menyebrang kurang lebih 15 menit menggunakan perahu kecil bermuatan penumpang 4 orang menuju kampung Bungin. Dari pelabuhan Tinanggea ke Bungin cukup membayar Rp. 5000,00 saja. Untuk keselamatan? Percaya kepada Allah SWT adalah kuncinya. Karena perahu kecil dengan muatan penumpang 4 orang tidak dilengkapi dengan pelampung. Konon katanya masyarakat kampung Bungin kebanyakan adalah masyarakat suku Bajo yang terkenal pandai dalam hal berenang dan menyelam. Mungkin hal itulah yang menyebabkan perahu yang berlalu lalang disana tidak pernah dilengkapi dengan pelampung.

Kesan pertama saat menginjakkan kaki di kampung Bungin, nampak bahwa masyarakat disana sangat ramah. Banyak dari mereka menawarkan untuk singgah, menanyakan siapa kami, dan apa tujuan kami datang disini. Saat itu langsung saja kami menanyakan dimana lokasi sekolahnya. Sebelumnya kami sudah mendapatkan informasi bahwa di kampung tengah laut tersebut terdapat sekolah satu atap yaitu SD dan SMP. Sekedar informasi, bahwa sekolah di kampung Bungin bukan merupakan sekolah dampingan dri SLI. Namun demikian, berdasarkan wisata edukasi yang kami lakukan kemarin sangat menarik untuk diceritakan.

Di hari minggu pagi itu anak-anak banyak yang bermain di sekolah. Ada yang bermain bola bekel, mempersiapkan jaring untuk menangkap ikan serta ada yang bermain rumah-rumahan diatas tanah. Diatas tanah? Iya, karena saat itu air laut sedang surut sehingga tanahnya nampak. Mereka dengan lincahnya berlarian di tanah, kemudian naik keatas papan sekolahnya tanpa rasa takut dan canggung. Sempat kami menanyakan aktivitas mereka sehari-hari di sekolah, siapa guru mereka, di sekolah belajar apa aja, kemudian muncul satu pertanyaan menarik yang ingin saya ketahui dari mereka. “Ketika pelajaran olahraga biasanya belajarnya bagaimana dek?”, tanyaku pada mereka. Dengan polosnya mereka menjawab “kalau air surut kami main bola voli di lapangan”, ucap mereka sambil menunjuk arah lapangan bola. Lapangan yang mereka maksud adalah tanah biasa yang hanya dapat dilihat ketika air laut surut. Ketika air laut pasang, lapangan mereka hilang, dan olahraga diisi dengan berenang.

Mungkin banyak orang yang takut tinggal di pulau, dikelilingi laut lepas dengan berbagai resiko yang ada. Namun demikian, warga Bungin terlihat menikmatinya. Bahkan dari hasil wawancara, kebanyakan masyarakat yang tinggal di Kampung Bungin merupakan pendatang. Mereka menetap disana menjadi nelayan, petani rumput laut, dan pedagang. Mereka menjalaninya dengan senang hati. Tidak berbeda dengan anak-anaknya, anak-anak disana meskipun hidup terbatas namun semangatnya tetap tinggi untuk bersekolah. Bahkan ketika kami datang, yang notabene adalah orang asing bagi mereka, namun dengan ceria nya mereka bercerita bahwa mereka sudah sekolah, ada yang kelas satu, kelas dua, bahkan TK sekalipun dan itu tanpa kami menanya terlebih dahulu. Tetap semangat anak-anakku, semoga semangatmu tak pernah padam dalam menimba ilmu. Semoga kelak satu, dua, atau sekian dari kalian akan membangun peradaban di kampung kalian, memberi perubahan yang lebih baik di kampung kalian. Dan cerita sore itu ditutup dengan senja yang indah di kampung Bungin.

Trainventurer: Memberi Pelatihan Sambil Jalan-Jalan

9 April 2014

Untuk pertama kalinya, akhirnya kaki ini menginjak Bandara El Tari, Kupang. Sejak pertama menerima tawaran dari Makmal Pendidikan untuk memberikan pelatihan di Pulau Rote, tak henti-hentinya aku membayangkan kondisi alam dan sosial-budaya di Nusa Tenggara Timur khususnya di Pulau Rote. Meskipun aku sudah pernah ke Ternate, Labuan Bajo, dan Halmahera untuk waktu yang cukup lama namun tetap saja Pulau Rote membuatku penasaran. “Ini adalah pulau paling selatan dari gugusan Kepulauan Nusantara” pikirku dan aku akan ke sana untuk sebuah misi.

Aku berangkat sejak Subuh untuk menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta bersama kawan-kawan dari Makmal Pendidikan. Hani Karno, penanggung jawab program dari Makmal Pendidikan menjadi teman perjalananku ke Pulau Rote. Entah apa hubungan dirinya dengan Bung Karno atau tokoh cerita Mahabarata bernama Karno. Pembicaraan kami selama perjalanan tidak jauh dari persoalan politik terutama Pemilihan Umum Legislatif yang berlangsung pada hari itu. Yang jelas, saat itu kami terpaksa tidak memilih alias Golput.

Di Bandara El Tari, kami dijemput oleh teman-teman Makmal Pendidikan yang bertugas di sana. Melalui Andrika Rozalina (Ica), aku akhirnya mengetahui bahwa desa yang kami tuju bernama Papela. Ica adalah gadis Minang yang ditugaskan sebagai pendamping program pendidikan luar sekolah di Papela. Hari itu kami menginap di Kupang untuk kemudian menyebrang ke Pulau Rote esok pagi. Tidak banyak yang bisa kukatakan soal Kupang. Secara keseluruhan kondisi pembangunan kota ini mirip dengan Ternate namun Kupang terlihat lebih gersang, demografi penduduk Muslim yang lebih sedikit, dan tidak ada Gunung Gamalama yang menjulang indah.

10 April 2014

Kami harus mengejar pelayaran kapal cepat dari Terminal Kapal Pelni Kupang menuju Pelabuhan Ba’a di Pulau Rote. Aku bertekad untuk tidak tidur selama perjalanan meskipun badan masih terasa lelah. Dari deck kapal yang membawa kami menyebrang, kami melihat pemandangan laut dan gugusan pulau. Aku teringat penyebrangan dari Labuan Bajo menuju Pulau Rinca pada tahun 2012 lalu. Tak sia-sia menahan rasa kantuk karena semua  terbayar lunas ketika kami mendapatkan bonus sambutan dari sekawanan lumba-lumba yang berenang di samping kapal yang kami naiki. Setelah kurang lebih sejam berlayar, kami akhirnya berlabuh di Pelabuhan Ba’a, Pulau Rote.  Di pelabuhan, kami dijemput oleh kepala sekolah SDN 01 Papela dan pejabat dari dinas pendidikan daerah setempat. Kami harus melanjutkan perjalanan darat menuju Papela, Kelurahan Londalusi, Rote Timur dengan mobil. Sayangnya, tubuh ini tak kuat lagi menahan kantuk dan akhirnya tertidur.

Untuk Inilah Saya Kemari

Akhirnya tiba juga aku di Papela! Entah apa yang terjadi selama perjalanan darat tadi. Yang jelas aku merasakan beberapa kali benturan dengan jendela mobil yang membuat kepalaku terasa pusing. “pasti jalanan rusak,” pikirku saat itu. Beruntung aku masih bisa mengistirahatkan badan, berbeda ketika aku harus menempuh jalan darat dari Sofifi menuju Weda di Pulau Halmahera pada tahun 2011. Kami serasa off-road di dalam hutan, belum lagi kebiasaan mereka menyetel lagu dengan volume maksimal. Lagunya sampai terngiang-ngiang di dalam kepalaku “Beta su tau… Ale pung hati… Memang tabage dua…”

Di sini, kami tinggal di rumah salah seorang warga di mana Ica juga tinggal selama bertugas. Hari pertama di Papela, aku hanya sempat berkenalan sedikit dengan lingkungan sekitar sambil mempersiapkan keperluan pelatihan. Esok dan lusa, tanggal 11 dan 12 April 2014, kami sudah harus mengadakan pelatihan bertema “Pelatihan Guru Inspiratif dan Menata Pustaka” di SDN 01 Papela. 11 April 2014, pelatihan pertama mengenai guru inspratif yang dibawakan Hani berjalan dengan baik. Aku hanya dapat membantu semampunya sambil mengenali karakter para peserta. Para peserta sangat antusias, bahkan sebelum acara dimulai ada peserta yang mengajukan diri untuk membacakan puisi. Puisi ini menceritakan keadaan masyarakat di Papela dan masih berkaitan pula dengan Pemilihan Umum Legislatif yang baru saja berlangsung dua hari sebelumnya. Dari puisi tersebut, aku mengetahui bahwa dari setiap periode Pemilihan Umum selalu ada anggota DPRD yang terpilih dari daerah ini. Akan tetapi, tidak untuk periode kali ini.

12 April 2014

Akhirnya tiba saat untuk aku berbagi ilmu yang aku ketahui mengenai pengelolaan perpustakaan dan taman bacaan masyarakat. Pukul 09.00 WITA acara akan dimulai, aku rasa persiapanku sudah cukup matang. Rasanya aku sangat bersemangat karena untuk inilah aku jauh-jauh kemari. Tentu aku juga tidak boleh kalah dari Hani yang kemarin sudah berhasil membawakan pelatihan dengan sangat baik. Tiba-tiba hujan turun lebat disertai dengan angin yang cukup kencang. Hati mulai harap-harap cemas menanti kedatangan peserta pelatihan. Hampir putus asa rasanya menunggu mereka. Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 WITA lewat. “alamat gak bakal ada yang datang sepertinya,” pikirku saat itu.

“Assalamu’alaikum…” terdengar salam dari arah pintu. Akhirnya satu persatu peserta hadir walaupun hujan turun sejak hampir satu jam yang lalu. Meski peserta yang hadir tidak sebanyak hari sebelumnya, acara terpaksa kami mulai. Acara pun segera dibuka oleh Ica. Lalu, kami kembali memberikan kesempatan kepada seorang peserta untuk membacakan puisi karyanya sebelum materi pelatihan dibawakan. Hal yang positif di mana keresahan hati disalurkan ke dalam sebuah karya sastra. Sebuah standing applause pun aku berikan. Semangatku kembali berkobar setelah mendengar puisi yang mengisahkan tentang perjuangan seorang guru.

Ica memberikan isyarat agar aku segera memulai pelatihannya. Tanpa ragu lagi, aku langsung menyapa mereka “Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh…”. Pembukaan dan perkenalan diri berjalan dengan lancar. Aku pun langsung meneruskan “Baiklah Bapak/Ibu, hari ini kita akan membahas mengenai…”. Tiba-tiba semua menjadi gelap. Yak mati lampu!!!

“Ya Salaaaaam…” gumamku saat itu. Aku belum benar-benar mengerti apa yang dimaksud oleh Soe Hok-Gie dengan “Aku sudah biasa merasakan seolah-olah langit akan runtuh. Tapi kali ini rasanya seperti rumahku terbakar”. Saat itu bagiku rasanya seperti rumah terbakar. Rasa panik dan kesal berbaur. Ingin rasanya jongkok di sudut ruangan sambil mengorek-ngorek tanah. Hahaha…

Beruntung aku telah mencetak file presentasiku. Dengan bantuan cetakan file presentasi tersebut, aku melanjutkan pelatihan. Secara pribadi aku tidak puas dengan pelatihan yang telah aku berikan. Ada beberapa kegiatan praktik yang tidak dapat ditunjukkan karena listrik tidak kunjung menyala hingga malam hari. Akhirnya aku mengajukan diri untuk kembali memberikan pelatihan esok hari khusus untuk membahas soal praktik. Beruntung, aku masih diberi kesempatan untuk itu.  

Papela atau Pepela?
    
Saat kami mengadakan pelatihan di SD Negeri 1 Papela, ada satu hal yang menggelitik rasa keingintahuanku. Apa nama sebenarnya daerah ini? Lalu mengapa diberi nama demikian? Pertanyaan ini muncul ketika pelatihan hari pertama berlangsung. Ketika aku berkeliling melihat-lihat SDN 01 Papela, aku melihat papan nama SD tersebut tertulis SD NEG 1 PEPELA namun di papan lainnya tertuliskan PAPELA. Jadi PEPELA atau PAPELA?
 
Pertanyaan usil ini pun aku lontarkan saat pelatihan. Aku berharap hanya salah penulisan, tapi ternyata tidak. Para peserta pelatihan pun memiliki pendapat yang berbeda. Ada yang berpendapat Papela, ada yang berpendapat Pepela, dan ada yang mengatakan kedua nama tersebut sama-sama digunakan. Menurut cerita, “Papela” berasal dari kata “Pa” atau “Pale” yaitu semacam batu giling yang digunakan untuk menghancurkan jagung dan dari kata “Pela” yaitu jagung. Dahulu, di daerah ini banyak terdapat jagung dan sulit untuk mendapatkan beras. Akhirnya warga di sini menjadikan jagung yang dihaluskan menggunakan Pale sebagai makanan pokok pengganti nasi. Jadi kalau saya boleh menyimpulkan, Papela itu diambil dari kata “pale-pela” dan memiliki makna suatu daerah yang masyarakatnya memakan jagung yang dihaluskan dengan batu giling (pale), sedangkan “Pepela” memiliki makna banyak jagung.

Papela merupakan salah satu daerah “kantong” umat Muslim di Pulau Rote. Agama Islam masuk ke Papela dibawa oleh penduduk pendatang dari berbagai daerah. Para pendatang berasal dari Ternate, Sumba, Makassar, Bugis, Jawa, Sumatra, Ambon, dan beberapa daerah lain di Indonesia. Penduduk asli di Papela juga sudah banyak yang menganut agama Islam. Kebanyakan dari mereka menikah dengan pendatang yang beragama Islam hingga akhirnya masuk Islam.

Kondisi sosial ekonomi masyarakat di Papela tersampaikan seperti pendapat berikut ini:

Kehidupan masyarakat di NTT, khususnya Papela yang merupakan salah satu daerah di Rote rata-rata bermata pencarian nelayan, yang berbatasan dengan langsung dengan negara Australia. Dengan  pendapatan dibawah UMR, mereka berlayar dengan kapal yang mereka sewa dari para rentenir yang ada di daerah mereka, sehingga kemiskinan tidak jauh dari kehidupan mereka. Mungkin, Berangkat dari itulah Makmal pendidikan Dompet Dhuafa membuat program pemberantasan buta huruf. – Andrika Rozalina

Daerah ini sudah beberapa tahun didampingi oleh Dompet Dhuafa karena menurut survey yang mereka lakukan, indeks kehidupan di sana termasuk yang terendah di Indonesia. Beberapa program sudah berjalan di sana. Program-program tersebut menyentuh ke seluruh aspek kehidupan masyarakat. Program-program yang diadakan di sana antara lain program air bersih, peningkatan kesehatan, pendidikan dan beasiswa, pendidikan luar sekolah, dan ekonomi mandiri.

Oleh-Oleh Paling Berkesan
    
Setelah selesai memberikan pelatihan, aku memutuskan untuk tetap tinggal di Papela hingga tanggal 15 April 2014. Hal ini tentu menjadi kesempatan baik bagiku untuk mengenal lebih jauh mengenai daerah ini. Beruntung, aku tidak mengalami banyak kesulitan untuk beradaptasi di sini. Di Papela, umat muslim dapat dengan mudah melaksanakan Shalat karena di sini terdapat tiga masjid. Masjid yang paling tua di Papela adalah Masjid Al-Bahri yang dipimpin oleh Bapak Imam Rajab ‘Ain. Masjid berikutnya adalah Masjid Al-Muhajirin yang dipimpin oleh Bapak Imam Haji Saman Laduma. Masjid ini merupakan masjid yang dibangun atas program dari Presiden Suharto. Masjid yang ketiga adalah Masjid Al-Muhaajidiin yang dipimpin oleh Bapak Imam Buduhasan. Masjid ini merupakan masjid yang paling baru dan terletak di sekitar pemukiman nelayan Suku Bajo.
    
Cuaca di Papela sama seperti cuaca di daerah kepulauan Nusa Tenggara lainnya. Panas dan kering khas daerah pantai namun tidak sumpek seperti di Jakarta. Kita harus ingat pula kalau di sini masih sulit untuk mendapatkan air bersih. Menghemat air bukanlah sebuah pilihan. Masyarakat sekitar sini juga sudah terbiasa untuk menggunakan air hujan untuk persediaan air mereka. Program air bersih di sini belum sepenuhnya berjalan dengan baik. Beruntung, masyarakat Papela tidak kesulitan bahan makanan sebagaimana mereka kesulitan air bersih.
    
Papela dapat menjadi surga dunia bagi pencinta makanan laut. Hal ini dikarenakan sebagian besar masyarakat Papela adalah nelayan. Dari para nelayan inilah, ikan dan hewan laut lainnya didapatkan. Apabila cuaca bagus, hasil tangkapan yang mereka dapatkan cukup melimpah. Mereka biasa berlayar hingga ke perbatasan antara Indonesia dan Australia. Tidak sedikit cerita mengenai nelayan yang tertangkap oleh pihak keamanan laut Australia. Nelayan yang tertangkap akan dibina di lembaga permasyarakatan Australia dan biasanya kapal mereka akan disita atau dibakar. Selain mencari ikan, masyarakat pesisir di Papela juga membudidayakan rumput laut. Hasil laut seperti ikan, lobster, kerang, hingga rumput laut menjadi salah satu sumber pasokan makanan masyarakat Papela.
 
Salah satu makanan khas Papela yang saya suka adalah Babuik. Babuik adalah sejenis kerang. Cara membuatnya cukup sederhana, Babuik segar direbus hingga matang kemudian dibuang kulitnya. Setelah itu, campurkan Babuik dengan air perasan jeruk atau cuka. Tambahkan potongan kasar cabai dan bawang merah lalu jangan lupa berikan garam secukupnya. Sekilas, Babuik mengingatkan saya dengan makanan-makanan ala Prancis. Rasa manis dan kenyal daging kerang segar bercampur pedas cabai dan bawang merah juga segarnya perasan air jeruk sungguh menggugah selera. Selain itu juga ada Falaak. Falaak adalah makanan sejenis Yogurt yang terbuat dari susu kambing yang dicampur dengan bubuk halus kayu manis.

Tidak sulit untuk mencari susu kambing di daerah ini. Di Papela dan kebanyakan daerah di Nusa Tenggara Timur lainnya, Hewan ternak berkeliaran bebas di padang savanna dan jalan-jalan raya. Kuda, Sapi, Domba, Kambing, dan Kerbau lalu-lalang tanpa dijaga. Saat berlayar menuju Pulau Rote, saya pun sempat berbincang dengan salah satu pemilik Rumah Potong Hewan yang sengaja datang dari Malang hendak membeli hewan ternak. Potensi peternakan di Nusa Tenggara Timur memang cukup bagus. Hal ini akan maksimal apabila dikelola dengan manajemen yang benar.

Selain hasil laut dan peternakan, Papela juga memiliki potensi pariwisata dengan keindahan alam, budayanya, dan peninggalan sejarahnya. Melalui cerita Bapak Imam Rajab ‘Ain dan Bapak Adnan Azhari, aku mengetahui bahwa di Papela terdapat goa peninggalan tentara Jepang. Goa Jepang ini dahulu dijadikan sebagai basis pertahanan tentara Jepang dari serangan tentara sekutu. Ada beberapa kisah mistis yang menyelimuti Goa Jepang tersebut, namun menurut mereka itu hanya mitos belaka. Bapak Imam Rajab ‘Ain dan Bapak Adnan Azhari juga bercerita bahwa sewaktu zaman kemerdekaan ada pesawat tempur yang tertembak jatuh di bukit belakang sekolah SDN 01 Papela. Sayangnya, bangkai pesawat tempur tersebut sudah dipreteli dan tidak ada lagi. Aku sendiri belum sempat mengobservasi lokasi Goa Jepang dan lokasi bekas bangkai pesawat tempur tersebut.

Meskipun demikian, aku tetap mendapatkan banyak pengalaman menarik. Salah satu pengalaman yang paling menarik adalah ketika aku berkesempatan terlibat dalam kegiatan pendidikan luar sekolah bersama Ica dan Hani. Kami keluar-masuk pemukiman nelayan dan mencari anak-anak nelayan Suku Bajo untuk belajar baca-tulis.
 
Meskipun negara telah menjamin pendidikan gratis, akan tetapi banyak anak-anak nelayan Suku Bajo yang putus sekolah. Hal ini terjadi bukan semata karena masalah biaya. Menurut Ibu Kepala Sekolah SDN 01 Papela, pola hidup dan kesadaran orang tua anak nelayan Suku Bajo ikut mendorong tingginya angka anak putus sekolah di daerah tersebut. Misalnya, sifat hidup Suku Bajo yang selalu berpindah dan banyak dihabiskan di laut. Seringkali anak murid tersebut tidak masuk sekolah karena ikut melaut bersama bapak mereka hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Tidak sedikit pula murid yang tidak kembali lagi ke Papela. Persoalan lainnya adalah karena anak-anak ini tidak memiliki identitas diri yang resmi dan sah. Rata-rata orang tua mereka buta huruf dan tidak memahami pentingnya pengurusan administrasi kependudukan. Anak-anak suku bajo ini tidak memiliki akte kelahiran bahkan tidak diketahui umur pastinya. Orang tua mereka hanya ingat kalau anaknya lahir sekian minggu atau sekian bulan dari anak yang lain. Uniknya, kepala sekolah juga bercerita kalau terkadang mereka suka merubah nama mereka setelah kembali dari laut. Hal-hal seperti ini membuat pengurusan administrasi sekolah seperti buku raport, ijazah, dan sebagainya menjadi sulit.

Secara keseluruhan, aku melihat penerimaan masyarakat terhadap Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa di Papela sangat bagus. Hal ini terlihat dari bagaimana respon masyarakat dan cerita-cerita mereka terhadap para relawan Dompet Dhuafa yang pernah ditugaskan di Papela seperti Abang Wisyal misalnya. Aku melihat warga Papela sudah menganggap para relawan tersebut sebagai sahabat dan saudara. Aku memang pergi ke Papela dengan niat untuk berbagi sedikit ilmu yang aku miliki. Akan tetapi, kenyataannya justru akulah yang mendapat banyak pelajaran dari perjalanan tersebut. Bertemu dengan warga Papela seperti Bapak Imam Masjid, Para Guru SDN 01 Papela dan Madrasah Papela, Bibi Ne, Bibi Mu, Risal, Rifki dan Aci, juga Ari beserta kawan-kawannya anak Suku Bajo merupakan oleh-oleh paling berkesan bagiku.

{fcomment}

 

Rote, Pemuda Papela dan Semangat Mereka yang Tinggi

Teman-teman, saya ingin mengisahkan pertemuan saya dengan para pemuda Papela. Mereka adalah pemuda yang memiliki hati sangat tampan, akhlaknya menawan, dan hidup mereka selalu diisi dengan kebaikan.

Pertemuan saya dengan mereka diawali dari Pelatihan Perpustakaan yang diadakan kantor tempat saya berkarya, Dompet Dhuafa. Saya ditugaskan untuk mengaktifkan kembali Taman Literasi yang sudah dibangun di sana sejak tahun lalu.

Pada Sabtu (27/9) pagi, saya bersemangat sekali untuk bertemu para peserta pelatihan. Dalam benak saya, mereka pastilah orang-orang yang luar biasa dengan semangat membara. Ternyata prasangka saya terbukti, 15 pemuda dan pemudi yang hadir merupakan orang-orang yang luar biasa.

Seperti pada pelatihan kebanyakan biasanya peserta pelatihan mendadak menjadi sangat  pendiam dan belum mampu mengekspresikan diri mereka, pun sama halnya dengan para peserta Pelatihan Perpustakaan kali ini. Namun seiring berjalannya waktu para peserta Pelatihan Perpustakaan ini menjadi sangat hidup dan dipenuhi canda serta tawa. Terima kasih kepada Faqih, pemuda Papela yang hobi membuat kami semua tertawa.

Yang menarik dalam pelatihan kali ini ialah saat saya meminta mereka menggambarkan perpustakaan impian mereka, hasilnya mengagumkan dan membuat saya tercengang. Rata-rata mereka menginginkan perpustakaan dengan ruang hijau alias banyak tanaman  mengingat Rote memiliki cuaca yang panas, ada ruang khusus untuk bermusik karena ternyata para pemuda Papela ini memiliki talenta bermusik yang luar biasa. “Kami juga menginginkan perpusatakaan yang dapat digunakan untuk santai sambil ngupi-ngupi mbak”, harap Hairul.

Sepanjang pelatihan saya menangkap banyak impian-impian besar mereka mulai dari ingin bertemu dengan pemain sepakbola kelas dunia, ingin sukses menjadi pengusaha sampai ke impian paling mulia yakni membahagiakan orangtua dan menjadi pasangan yang sholeh dan sholehah. Kagum saya dibuatnya! (Kertas impiannya saya kubur di tanah Bogor ya, biar kalian segera datang ke tanah Jawa!). “Ingin bertemu Tuhan mbak”, ujar Suharto. Impian yang unik,  hebat, dan membuat kami yang mendengar sontak tertawa. Bukan menertawakan impian mulia tersebut, tapi lebih kepada terkesima dengan kepolosannya. Namun sangat disayangkan karena akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk menuliskan keinginan tersebut dalam kertas impiannya.

Saya semakin kagum dengan mereka saat saya melontarkan ide untuk membuat program Gerobak Ilmu di Papela. Ide tersebut ditangkap dengan cepat, maka tidak perlu menunggu berlama-lama program ini harus segera dilaksanakan. Keesokan harinya saya langsung berkoordinasi dengan sekolah-sekolah di Desa Papela. Saya sangat bahagia karena para Kepala sekolah menyambut baik dan sangat antusias dengan program ini.

Sabtu (29/9) pagi merupakan hari bersejarah yang sangat ditunggu dan hari paling menyenangkan dalam hidup saya dan para pemuda Papela tentunya. Setelah menyiapkan buku dan memasukkannya ke dalam gerobak, sekitar pukul 08.30 kami berkumpul di Taman Literasi dan langsung berjalan menuju sekolah. Gerobak Ilmu dikawal oleh Laskar Papela yang dikepalai oleh Bu Rizal, Laskar Papela merupakan kumpulan pemuda pemudi Papela yang membantu kegiatan ini, personelnya antara lain Bu Rizal, Bu Rifky, Bu Faqih, Bu Hairul, Bu Alfian, Bu Anggi, Bu Barley, Bu Suharto, Bu Armin, Bu Abdus, Susi Nila, Susi Mega, Susi Siti, Susi Imelda, dan Susi Aci. Sekadar informasi, Bu merupakan panggilan untuk kakak laki-laki sedangkan Susi merupakan panggilan untuk kakak perempuan.

Tibalah kami di SD Papela, rupanya Gerobak Ilmu sudah dinanti oleh anak-anak. Maka ketika kami datang gerobak yang merupakan pinjaman dari salah seorang anggota Laskar Papela, Susi Aci, disambut dengan penuh antusias. Seketika gerobak tertutup anak-anak yang sibuk memilih dan mengambil buku bacaan. Seperti orang yang kelaparan, anak-anak di sini begitu ”ganas” “melahap” buku-buku yang kami bawa. “Ibu..ibu…beta juga mau buku, tapi beta tak bisa ambil”, kata salah seorang anak yang mengeluh sambil menarik-narik baju untuk minta diambilkan buku.  Setelah puas membaca, kunjungan Gerobak Ilmu bersama para Laskar Papela ini saya tutup dengan mengajari tepuk Banana kepada anak-anak. Open banana 3x, Slice banana 2x, eat banana 2x, shake banana 2x, exit banana 2x, I love banana.

Karena kunjungan berikutnya baru akan dilaksanakan pukul 11 siang di salah satu MTS, maka Gerobak Ilmu kami parkir di depan warung salah satu warga. Kami tak menyangka kalau Gerobak Ilmu kami diserbu para warga. Para warga mendatangi gerobak kami dan mulai memilah-milah buku untuk dipinjam.  “Ini bayar kah? Berapa lama beta bisa pinjam buku Cara Mendidik Anak Menjadi Shaleh ini?”, tanya salah satu ibu sambil memegang buku pilihannya.

Selesai sudah kegiatan mulia para Laskar Papela tersebut. Selanjutnya pada sore hari, kami bersama-sama melakukan Team Building ke Pantai Ve, pantai yang benar-benar membentuk huruf Ve. Kami bermain-main bagai anak kecil lupa pulang, mulai dari bermain benteng sampai rujakan, kami sangata senang. Acara hari itu ditutup dengan foto-foto bersama ala kami, loncat-loncatan! Hahaha.

Sabtu yang indah di Papela, Rote, akan menjadi kenangan yang selalu saya ingat. Para pemudanya, semangatnya, senyum ramah, pantainya dan tentu saja anak-anaknya! Saya berdoa dengan khusyuk dalam hati kepada Tuhan, pencipta Bumi Rote agar aku bisa kembali lagi dan saling berbagi inspirasi!

Hatiku tertambat di Rote! [Dini].

{fcomment}

Mengentas Buta Aksara di Bumi Reog

Antara tahun 1904 – 1905, Jepang terlibat perang melawan Rusia. Dalam sebuah pertempuran di Selat Tsushima 27 – 28 Mei 1905, Jepang berhasil mengalahkan Rusia. Penyebab kekalahan Rusia adalah hanya 20% dari tentara Rusia yang berperang dalam pertempuran itu yang bisa membaca dan menulis. Akibatnya, banyak di antara tentara itu yang tidak bisa mengoperasikan secara benar persenjataan modern (saat itu), serta seringkali serangan Rusia salah sasaran karena salah membaca peta dan salah mengoperasikan jaringan komunikasi. Sementara itu hampir semua tentara Jepang bisa membaca dan menulis.

* * *

Tiga pasang mata tua itu nampak serius memandangi lembaran-lembaran kertas di hadapannya. Sebulan yang lalu, tulisan pada lembaran-lembaran tersebut sama sekali tidak memiliki makna bagi mereka. Hanya coretan-coretan tanpa arti yang dapat dipahami. Namun kini, pun masih terbata, dari lisan mereka dapat terucap potongan-potongan kata yang tertulis dalam buku yang mereka pegang. Secara perlahan, mereka mulai melek aksara, huruf demi huruf, suku kata hingga terangkai menjadi kata. Usia yang mulai merangkak senja tidak menyurutkan minat mereka untuk terus menimba ilmu. Kelelahan seharian bekerja sebagai buruh tani tidak menjadi alasan bagi mereka untuk berhenti belajar.

Jawa Timur merupakan provinsi dengan indeks pendidikan yang tergolong rendah di Indonesia. Data BPS menunjukkan bahwa lebih dari 35 ribu anak usia 16-18 tahun (jenjang SMA/ SMK) di Jawa Timur putus sekolah, tertinggi di antara provinsi lain di Indonesia. Di Jawa Timur juga terdapat lebih dari 1,5 juta penduduk yang masih buta huruf, terbanyak di Indonesia. Dari 33 kabupaten/ kota di Indonesia dengan jumlah buta aksara terpadat, Jawa Timur memberikan sumbangan terbesar dengan menempatkan 13 kabupaten yang masuk zona merah. Persentase kasus buta aksara tertinggi di Jawa Timur ada di Kabupaten Sumenep yang mencapai 24,66%, sementara jumlah penduduk buta aksara tertinggi ada di Kabupaten Jember dengan 181.384 jiwa.

Kabupaten Ponorogo, bersama Tuban, Ngawi dan Lamongan masuk ke zona kuning, dimana jumlah penduduk buta huruf sudah di bawah 50 ribu jiwa. Kemiskinan dan kesempatan bersekolah menjadi faktor penyebab utama tingginya angka buta huruf ini. Ibu Watemi, salah seorang peserta pembelajaran tematik untuk pengentasan buta huruf yang diselenggarakan oleh Makmal Pendidikan – Dompet Dhuafa menceritakan bahwa dirinya tidak dapat membaca dan menulis karena memang tidak pernah sekolah. Dari kecil sudah bekerja. Hal tersebut juga diamini Ibu Nganti, warga Desa Sambilawang, Kecamatan Bungkal, Kabupaten Ponorogo yang tidak dapat membaca karena putus sekolah sejak kelas 1 SD. Kala itu ibunya meninggal, ayahnya menikah lagi dan pindah ke luar Ponorogo sehingga ia putus sekolah dan memilih untuk membantu orang tua bekerja.


Selain dikenal sebagai Kota Reog, Ponorogo juga dikenal sebagai pemasok Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri. Salah satu efek negatif dari pengiriman TKI ke luar negeri adalah pada tingginya angka perceraian di Ponorogo. Pengadilan Agama mencatat bahwa setiap bulannya ada ratusan pengajuan perceraian, puncaknya adalah ketika lebaran. TKI yang status ekonominya meningkat, datang bukan hanya membawa uang namun juga mengurus perceraian. Ada juga yang mampir pulang untuk menyelenggarakan pernikahan. Dampak negatif pun dirasakan oleh anak-anak di Ponorogo yang harus tinggal bersama kakek neneknya karena orang tua mereka di luar negeri atau bercerai. Pendidikan di Ponorogo pun cenderung stagnan. Anak-anak yang dididik oleh ‘orang tua’ yang buta aksara, bersekolah dengan impian menjadi TKI. Pulang kampung untuk menikah, pulang kampung untuk bercerai dan meninggalkan anak yang memiliki impian sama dengan mereka.

Program Klaster Mandiri yang digagas Dompet Dhuafa di beberapa wilayah kantong kemiskinan yang potensial di Indonesia dirancang untuk memutus rantai kemiskinan ini dengan integrasi intervensi pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Di Ponorogo, permasalahan ekonomi masyarakat yang merambat ke pendidikan keluarga dapat coba dituntaskan dengan menghasilkan produk ekonomi unggulan masyarakat, baik pertanian maupun peternakan. Sejalan dengan upaya tersebut, pemberantasan buta huruf dan parenting masyarakat menjadi penting untuk terus dilakukan guna memperbaiki kualitas pendidikan, pemikiran, dan kehidupan masyarakat.

* * *

Tiga pasang mata tua itu nampak cerah di tengah keremangan malam. Pembelajaran malam ini dicukupkan, buku-buku mereka tutup dengan seulas senyuman. Mereka mungkin termasuk segelintir penduduk buta aksara di Indonesia yang mau dan berkesempatan untuk kembali belajar mengenal huruf. Sebagian besar lainnya tidak mau karena merasa malu, atau tidak berkesempatan karena minimnya akses untuk dapat belajar. Semangat mereka untuk belajar itu begitu terpancar, tak lekang oleh usia, tak goyah walau mereka harus melewati jalanan gelap penuh bebatuan untuk hadir di ruang belajar. Ada secercah harapan untuk masa depan yang lebih baik, tidak lagi terlilit oleh belenggu kebodohan dan kemiskinan. Semoga.

Purwa Udiutomo
Manajer Laboratorium Pengembangan Mutu Pendidikan
Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa
0818 0804 4286
purwa.udiutomo@gmail.com