Candaan Saat Sahur

Hari pertama. Tak terasa sudah terlalui. Malam pun tiba. Saatnya diskusi dan materi untuk para peserta. Di balik layar, para panitia juga mendiskusikan performance untuk keesokan harinya. Vikram yang sudah terlihat lelah pun mendahului panitia lainnya untuk berpindah alam. Setelah selesai berdiskusi, para peserta dan panitia kembali ke tempat mereka tidur. Saat peserta akhwat masih di paviliun dan panitia akhwat di Pintu Air, tempat Kak Dini tinggal. Yang ikhwan juga bersemayam di paviliun. Tentu terpisah antara ikhwan dan akhwat. Yang ikhwan di paviliun I dan yang akhwat di pavilion II.

Sampai di pavilion Azmi malah berselancar Bukan sembarang berselancar. Bukan air yang dia butuhkan. Bukan pula papan selancar. Dia hanya membutuhkan gawai dan kuota serta jaringan internet. Dia pun mengambil gawai Vikram dan mulai berselancar. Sedang enak berselancar, tiba-tiba WA masuk.

Kling…” bunyi petanda ada pesan masuk di WA

“Vikram, Jais, dan Azmi, tolong ambil nasi kotak di Pintu Air ya! Buat sahur,” pesan Kak Dini di grup WhatsApp Duta Gemari Baca 2016.

“Siap!” jawab seorang panitia menggunakan WA temannya.

Pagi pun tiba. Vikram sudah bangun sejak pukul satu dini hari. Pada pukul tiga, Vikram membangunkan dua panitia ikhwan lainnya; Jais dan Azmi. Mengingat pesan WA dari Kak Dini saat malam itu, Vikram pun mengajak salah satu diantara mereka berdua untuk mengambil nasi kotak. Dikarenakan masih mengantuk, dengan enaknya Jais meminta Azmi berdua dengan Vikram untuk mengambil santapan kami kala itu. Azmi bangun dengan sempoyongan dan langsung menuju kamar mandi untuk berwudhu. Lalu, kami pun berangkat.

Sesampainya di depan rumah kontrak yang ditempati panitia akhwat, Azmi dan Vikram melihat ada dua orang akhwat dewasa di depan sebuah rumah. Mereka berdua menghampiri rumah itu. Ternyata, dua orang akhwat itu adalah Kak Dini dan ibu pemilik rumah yang juga menyiapkan santapan sahur untuk para peserta pesantren literasi.  Sebelum membawa makanan itu, mereka menghitung terlebih dahulu jumlah makanannya. Dikarenakan peserta akhwat masih tinggal di paviliun, Vikram dan Azmi pun juga harus membawakan makanan untuk para peserta akhwat.

Sampai di Paviliun. Vikram mengantarkan jatah untuk akhwat, Azmi langsung ke tempat ikhwan. Para peserta ikhwan pun langsung menyerbu makanan itu, tak terkecuali Jais. Rupanya, Jais mengambil jatah dua kotak. Saat para peserta ikhwan sedang menikmati hidangan sahur, ada peserta akhwat yang memanggil. Ternyata, jatah makan mereka kurang satu kotak. Beruntung Jais belum memakan semua nasi kotak itu, masih tersisa tiga buah di dalam katung plastik. Diam-diam Azmi mengambil satu kotak lagi. Tersisa dua. Keduanya pun diberikan kepada akhwat yang meminta itu.

Menu makan sahur pada saat itu adalah telur rebus berbumbu kecap dengan tambahan tempe orek. Saat sedang memakan jatah tambahan, Vikram pun iseng memotret Jais dan mengirimkan gambarnya ke WA. Si Azmi juga iseng. Dia meminjam gawai yang dipegangang Vikram untuk membuat syair yang cukup aneh. Si Azmi menyinggung Jais dalam Syairnya. Rupanya si Jais juga iseng mengambil gambar Azmi yang sedang beradu jari dengan keypad gawai. Jais sudah lebih dulu mengirimkan gambar itu sebelum Azmi selesai membuat syair. Memang, perseteruan antara dua orang itu cukup tegang, walau mereka hanya bercanda. Absurd, namun seru.

Komentar

komentar